
Baru sebentar berlari, kelompok Zet tiba di depan sel isolasi Nina. Tampak sel itu tak lagi dijaga ketat karena para penjaganya sedang ikut bertempur melawan musuh. Singh menjebol pintu sel, Zet masuk dan melihat Nina di dalam sana, sedang terbelenggu rantai sambil terus tertunduk, rambut ikalnya yang amat panjang terjuntai dan menutupi wajahnya.
Singh lantas dengan mudah membuka dan memutuskan rantai yang membelenggu Nina, seraya berkata, “Ayo, Nina, kau sudah bebas! Kembalilah bersama teman-temanmu ke Universitas Langit Angkasa, selesaikan studimu di sana! Segala konflik di sini bukan urusan kita!”
Nina berdiri limbung sejenak, mungkin hendak mengumpulkan kembali kekuatan, kesadaran dan konsentrasinya. Tapi tiba-tiba gadis penyihir itu merangsek maju dan mengamuk. Sasaran amuk Nina jelas adalah salah seorang musuh sektenya, yaitu Kimiko Maru.
“Semua Kalajengking Hitam harus mati! Bayar siksaan pada diriku seribu kali lipat dengan nyawa kalian semua, dimulai dari Kimiko Maru!” teriak Nina. Jelas ia sedang kalap dan kehilangan akal sehat. Tanpa tongkat sihirnya yang entah dirusak atau disita Kalajengking Hitam, ia mengulurkan tangannya dan merapal mantra sihir, “Pyroagnios!”
Selarik Sambaran Api Besar ditembakkan dari telapak tangan Nina dan mengenai tubuh Kimiko yang kali ini salah langkah. Si gadis ninja mengerang pilu, ia berusaha bergerak menghindari tembakan api yang berkesinambungan itu, tapi api Nina terus mengikutinya. Saat itulah Kimiko merasa dirinya amat bodoh karena tak memposisikan dirinya dekat pintu keluar koridor saja.
Api yang dahsyat itu nyaris menjebol hawa tenaga dalam pertahanan Kimiko. Namun dengan sigap Singh pasang badan dan menahan daya api itu dengan tenaga dalamnya sendiri. Tembakan Nina membuat Kimiko terluka parah dan jatuh terkapar di lantai.
“Kimi!” Zet bergerak hendak membantu, tapi Singh menghardiknya, “Tidak usah! Biar kutangani si penyihir kalap itu! Ini, ambil semua arcanum milikmu dan gunakanlah untuk keluar dari markas Kalajengking Hitam ini! Sebentar lagi aku akan menyusulmu!”
Sambil mengatakannya, Singh melemparkan kalung, sabuk dan gelang arcanum dengan daya telekinesis, sehingga Zet menangkap ketiganya dengan cepat dan mulus.
Dengan cepat pula Zet memakai ketiga pusaka arcanum air, kayu dan tanah itu. Lalu sambil menatap sejenak Singh yang masih menahan serangan Nina, Zet berkata, “Hati-hati, Guru!”
Lalu, dengan mempercayakan nasib kedua kawannya di tangan gurunya, Zet berbalik dan bergegas meninggalkan koridor sel isolasi.
Berjalan tak begitu cepat, Zet menyusuri koridor-koridor monoton, seragam dan seperti labirin. Yang dicarinya jelas adalah jalan keluar dari markas yang tengah jadi medan tempur ini. Namun tanpa petunjuk Kimiko atau Singh yang sepertinya sudah diberitahukan jalannya oleh Giovanni, Zet merasa seperti sedang berputar-putar saja tanpa tahu koridor mana yang harus ia pilih.
“Bodoh sekali aku, seharusnya aku menunggu saja dulu sampai Pak Singh selesai menangani Nina. Setidaknya aku bisa mencoba menyembuhkan Kimi dengan arcanum kayu dan bisa keluar dari tempat jahanam ini dengan cepat, tak perlu harus serepot ini,” pikir Zet.
Terbersit niat untuk mencoba mencari Singh, Kimiko dan Nina saja dulu. Namun niat itu terpaksa tertunda karena Zet melihat ada dua pembunuh gelap Kalajengking Hitam tengah bertarung sengit dengan tiga penyihir Salju Putih. Sepertinya pertarungan mereka seimbang, tapi karena mereka sama sekali menghalangi koridor, apakah Zet harus ikut campur bertarung hanya untuk melewati mereka? Apa akal?
“Maaf, tapi terpaksa kalian harus menyingkir!” Sambil menyerukan itu, Zet lantas mengaktifkan arcanum air. Dua gelembung air besar yang ia ciptakan berbentuk seperti dua telapak tangan raksasa yang menghalau kelima petarung itu hingga membentur tembok. “Minggir semua!”
Ada celah yang terbuka, Zet cepat-cepat lari lewat celah itu, tak peduli lagi dengan teriakan-teriakan bernada menghina yang ditujukan padanya, bahkan serangan-serangan energi dan senjata terbang yang nyasar ke arahnya.
Terpaksa Zet mencoba koridor demi koridor satu per satu. Di koridor kedua, Zet dihadang oleh kelompok penyihir Salju Putih yang lain. “Hei, berhenti kau, Kalajengking Hitam!” teriak si ketua kelompok. “Bertarunglah dengan adil dengan kami di sini!”
“Kalau aku benar-benar anggota Kalajengking Hitam, kalian pasti sudah mati sebelum ketua kalian selesai bicara,” ancam Zet. “Aku ini netral, tolong minggir!” Ia lalu mengaktifkan arcanum kayu, menembakkan dua sulur yang amat panjang dan lurus ke celah di titik tengah kerumunan pasukan lawan itu. “Kalau hendak mengacau, lebih baik berpisah saja!”
Satu sulur kayu besar Zet melecut ke kiri dan satu lagi ke kanan, menghalau para penyihir dan tak siap meladeni sulur kayu yang datang tiba-tiba. Semuanya membentur dinding dan dua di antara mereka bahkan tak sadarkan diri.
“Orang itu berbahaya, habisi dia!” seru salah seorang penyihir yang sepertinya adalah komandan pasukan sambil menunjuk ke arah Zet.
Melihat itu, Zet memaksa diri berdiri, berbalik dan ambil langkah seribu. Ia meringis menahan nyeri dari luka-luka barunya.
Walaupun serangan sulur kayu Zet tadi tak bisa dibilang mematikan, bagi para ekstrimis fanatik seperti Sekte Salju Putih itu tetap dianggap perlawanan, dan setiap perlawanan harus diganjar dengan serangan balik yang mematikan.
Ini gila. Zet kini berlari secepat kakinya melangkah, menghindar dari kejaran para penyihir dan tembakan-tembakan sihir. Ia ingin menyerang balik dengan sesuatu yang tak berbahaya dan mendapat ide. Dikerahkannya arcanum air berkekuatan rendah. Ia sengaja membuat lantai koridor amat becek. Alhasil, banyak penyihir yang jatuh terpeleset.
Sambil masuk ke koridor berikutnya, Zet menebar semak berduri dengan arcanum kayunya. Para penyihir yang tak sempat menghindar tergores-gores duri-duri rumpun semak berduri itu. Namun beberapa penyihir lain merapal sihir api, membakar seluruh semak berduri sampai hangus dan luluh total, dan semuanya mengejar Zet lagi.
Makin jauh Zet berlari, ia malah melihat penghalang yang paling parah, yaitu sepasukan pembunuh gelap yang berlari ke arahnya.
Zet tak ingin para anggota Kalajengking Hitam itu salah paham dan menyerang dirinya. Ia lantas melihat satu percabangan koridor itu lalu mengerahkan arcanum tanah. Bebatuan dari lantasi markas itu seakan tumbuh dan mencuat sampai membuat dinding yang menutupi koridor pilihan Zet itu sepenuhnya.
Alhasil, para pembunuh gelap yang mengejar malah terhadang tembok batu buatan Zet. Jalan buntu memaksa mereka berbalik dan berpapasan dengan para penyihir yang juga sedang mengejar Zet. Bentrokan di antara kedua pasukan meletus dan berlangsung dengan amat cepat, suara-suara pertarungan mereka menembus tembok batu dan dapat didengar oleh Zet yang kini sudah lari jauh.
Mengira dirinya sudah “aman”, Zet tak sengaja tersenyum sendiri. Apalagi ada cahaya terang yang masuk lewat sebuah ambang pintu besar di depannya. “Itu pasti jalan keluar”, pikir Zet.
Tanpa pikir panjang Zet berlari menuju cahaya besar itu. Lagipula tak ada percabangan lain di koridor itu, jadi Zet hanya bisa berlari terus ke depan.
Melewati ambang pintu, Zet tiba di sebuah ruangan yang amat luas, bahkan dua atau tiga kali lebih luas daripada balairung utama markas besar Kalajengking Hitam. Ia menduga ini pasti lapangan tertutup yang dikhususkan untuk rapat umum, pelatihan pasukan atau semacamnya.
Suara-suara pertarungan yang amat bising, pedang beradu dengan pedang memancing Zet untuk mendekat. Namun tak ayal Zet tercengang melihat pemandangan di hadapannya.
Tampak Giovanni, Ketua Kalajengking HItam sedang bergerak namun tak terlalu cepat. Tubuhnya tampak luka-luka, wajahya pucat, berkeringat dingin dan napasnya memburu. Sepertinya ia tengah terdesak.
Yang lebih mengejutkan Zet adalah lawan yang menggunakan pedang panjang yang mendesak Giovanni itu. Sekali lihat, Zet cukup mengenali pria yang kini berambut pirang panjang dan bermata biru safir itu.
Pria itu adalah kakak kandung Putri Catriona Lewis dari Negeri Kubah Malam.
Pangeran Barra.
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-