
Hawa berubah drastis dari sejuk menjadi dingin ketika Zet memasuki area hutan yang berkabut. Jalanan juga semakin meruncing menuju sebuah tebing terbuka, sementara di depan sana masih terdapat area hutan yang dipenuhi kabut. Zet merasa, satu-satunya cara ke sana adalah melewati jembatan dari tanah dengan bebatuan tidak rata, tidak terlalu lebar juga, sementara kiri kanannya jurang—yang bahkan sama sekali tak kelihatan punya dasar. Tempatnya berdiri sekarang penuh dengan bongkahan es menyerupai patung yang hancur. Zet heran bagaimana mereka tidak mencair, lalu mencoba mengamati satu per satu, sampai ia dikagetkan oleh salah satu patung yang tiba-tiba bergerak.
Wajah patung wanita itu tak tampak jelas, tertutupi rambut yang seperti terus memberontak. Baru Zet sadari bahwa kepalanya dipenuhi ular dalam berbagai ukuran.
“Ini adalah pintu pertama.” Wanita itu berbicara dengan datar. Tanpa berupaya untuk menggerakkan badan, si wanita berambut ular melanjutkan, “Kau harus memilih, apakah kembali dengan tenang, atau melanjutkan perjalanan dan jatuh ke jurang.”
Ingin rasanya Zet kembali saja ke rumah, karena pilihan itu sangat jelas. “Bagaimana jika aku tidak memilih keduanya? Aku ingin sampai di hutan itu.”
Wanita itu terkekeh sebentar. “Baiklah, kalau itu maumu. Sekarang jawab pertanyaanku. Apa tujuanmu datang ke mari, wahai manusia?!” Barulah si wanita ular itu menampakkan matanya yang bersinar terang. Zet kaget dan hampir terjungkal ke belakang. Namun ada yang aneh—kakinya. Kedua kakinya tak bisa merasakan apa-apa kecuali dingin yang membekukan. Zet tak bisa bergerak ke mana-mana, bekuan es itu merambat semakin ke atas.
“Kau tak bisa menunjukkan tujuanmu yang sebenarnya kepada Medusa. Atau dia akan mengubahmu menjadi patung.” Yun Lao berbisik di belakang. Zet baru menyadari sekelilingnya, ketika es telah merambat di pahanya. Bongkahan patung-patung es di sekitar tempat itu sejatinya adalah manusia dengan mata melotot dan mulut menganga. Zet tahu legenda tentang Medusa; yang ia khawatirkan sekarang hanya jika wanita ular itu mendengar Yun Lao. Namun, barangkali Yun Lao memang hanya bisa diketahui oleh pikiran Zet yang nyatanya sudah tidak waras.
“A–aku... aku... hanya ingin lewat dan memeriksa apakah legenda itu benar?”
“Legenda apa?”
Zet masih berusaha tenang, saat perut bawahnya sudah mulai kaku. “Legenda bahwa akan ada manusia yang kembali menjadi Master of Arcanum.”
Yun Lao menepuk jidat di belakang. Zet tak hanya payah dalam berpedang, tetapi juga payah dalam berbohong. Medusa tersenyum sinis, tawanya menggeliat di dalam kerongkongan. “Kau akan menguasai dunia dengan kelima Arcanum itu. Kau masih bocah.”
“Ya, benar...,” jawab Zet dengan suara bergetar.
Mata Yun Lao melebar, ia menyiagakan kuda-kuda hendak mengeluarkan jurus angin panas. Namun Zet meneruskan kalimat, begitu es merambat di dadanya. “Aku akan menguasai negara-negara di dunia, untuk menghentikan perang di antara mereka.”
Es berhenti di bawah jakun Zet. Dan mulai bergerak pelan lagi ke atas. “Hmm ..., lalu kau akan dianggap sebagai orang yang paling kuat. Pemimpin dari segala jenis manusia. Mereka akan mengagungkan bahkan menyembahmu. Kau akhirnya akan tenggelam dalam kekuatan itu. Lebih baik kau tenggelam sekarang.”
Zet menjawab dengan suara tertahan. “Tidak. Sebelum itu terjadi, aku akan menghancurkan kelima Arcana. Agar tak ada lagi yang bisa mencari dan menguasainya. Selamanya.”
Es berhenti bergerak. “Dengan begitu, kau tak harus menjaga hutan ini lagi, Medusa. Kau bisa menjadi apa saja yang kau mau.” Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Zet. Medusa kembali merunduk, dan seketika mencairkan seluruh es yang menyelimuti badan pemuda di depannya. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, tubuh wanita itu pun ikut mencair, dan lenyap terserap ke dalam tanah.
“Memangnya benda pusaka bisa dihancurkan, ya?” tanya Zet sembari tersenyum cerdik. “Oh, jadi aku tadi terdengar seserius itukah?” Hantu pria itu bahkan tertahan sejenak memikirkan gumaman tersebut, yang membuatnya bingung sendiri. Mungkin Zet memang punya sesuatu yang lebih, entah apa itu.
Beberapa langkah dari ujung jembatan, hutan pun mendadak berubah menjadi tempat yang sunyi. Zet heran siapa yang mencuri semua suara, sampai-sampai telinganya jadi berdenging tidak nyaman.
“Jangan tutupi telingamu, atau kau akan tuli selamanya,” jelas Yun Lao dengan muka serius. Walaupun ia cuma berjarak lima jengkal dari Zet, suaranya seolah terdengar sejauh lima kaki. “Ini hanyalah ilusi yang diciptakan oleh para Siren.”
Zet menarik napas dan membiarkan telinganya menangkap sayup-sayup paduan suara. Nyanyiannya terkadang terdengar seperti hanya bergumam lembut, lalu melengking di akhir rima. Tiap vibrato mengangkat dan menggetarkan bulu roma. Kabut menyelimuti badan hutan, dan kini melingkupi badan Zet. Rasanya basah dan dingin seperti tercebur ke dalam danau es. Zet hanya melapisi pakaiannya dengan zirah dan pelindung betis yang sama sekali tidak membantu, justru membuatnya merasa ngilu tiap kali kulitnya tersentuh logam.
Pandangan Zet menjadi agak rabun. Lamat-lamat, ia melihat beberapa cahaya terang di depan sana. Semakin dekat, dan akhirnya tampaklah lentera-lentera yang amat banyak, berjajar di sebelah kanan dan kiri jalanan hutan yang bercabang tiga.
“Jadi ..., aku harus memilih?” Suara pemuda itu bergema. Dan entah sejak kapan Yun Lao lenyap. Zet kini sendirian dan terpaksa mencari benda yang bisa ia jadikan petunjuk berikutnya. Setengah meraba-raba, Zet menemukan sebuah piala di atas bebatuan. Ia mengendus dan menyeruaklah bau kuat hasil fermentasi anggur.
“Minumlah ... kau akan menemukan jalan.”
Suara tersebut hampir membuat Zet menumpahkan minuman tersebut. Zet tidak tahu apakah itu instruksi yang bisa dipercaya. Namun pada akhirnya, ia pun meneguk cairan di dalam piala tersebut dengan cepat. Pahit menuruni kerongkongan seolah nyawanya ikut luntur bersama alkohol itu. Ini bukan pertama kalinya Zet mendapati minuman keras dalam gelasnya. Ia masih ingat Deon pernah memaksanya sampai mabuk tahun lalu. Katanya, Zet akan dicoret dari daftar keluarga Dionisos kalau tidak bisa minum anggur. Bagaimana pun juga, Dionisos adalah dewa anggur dan pesta, bukan? Maka dari itu, Zet mencoba yang terbaik di ulang tahunnya yang ketujuh belas itu. Akan tetapi, muntah di gaun gemerlap seorang perempuan jelita adalah hal yang sangat tidak patut, terutama jika perempuan tersebut adalah Miona. Zet yakin Miona tidak akan mau menikahinya. Sudah pasti.
Oke, pikiran Zet mulai kacau dan melantur ke mana-mana. Ia bahkan tak yakin apakah ia masih ada di hutan yang sama sekarang. Yang jelas kakinya terus berjalan, walau Zet tidak memerintahkannya. Ia mengikuti suara para Siren, menyusuri jalanan putih penuh kabut dan salju yang di samping kanan kirinya berjajar banyak lentera. Zet tertawa melihat Siren beterbangan seperti bulu kucing. Dengan manja, mereka menutupi mata Zet hingga terpejam. Kecupan wanita-wanita itu begitu lembut, sampai-sampai kulit di pipi Zet hanya merasakan kebas, dan stimulus yang lain tak bisa ia tangkap dengan jelas.
“Zet! Kau tak boleh lengah, mereka sedang mencuri kelima indramu!”
Saat tubuhnya tersungkur di atas tanah, Zet sadar penuh. Peringatan Yun Lao telah terbukti. Tinggal telinganyalah yang tersisa sekarang. Hidungnya tak dapat mencium apa–apa selain bau alkohol, lidahnya masih kelu sejak menyentuh arak tadi, kabut tebal telah menyelimuti mata Zet, dan sekujur kulitnya bergelenyar. Giliran rasa panik sekarang yang menyeruak, menghajar pikiran dan kesadaran.
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-