The Master Of Arcana

The Master Of Arcana
23 : BERTEMU KEMBALI



Jeruji besi tak hanya memisahkan Zet dari dunia luar, tetapi dari impian terbesarnya untuk masuk ke perguruan tinggi. Para dekan pasti tidak akan melewatkan lembar riwayat kriminal Zet. Dan meski ia berhasil menginjakkan kaki di universitas sekalipun, sudah bisa dipastikan para murid akan mengenalnya sebagai orang yang pernah punya masalah dengan kerajaan besar.


Pemuda itu tampak depresi. Meringkuk di pojok ruang sempit yang pengap dan sedikit bau pesing. Yun Lao duduk tenang di atas tempat tidur.


“Apa yang harus aku lakukan?”


Yun Lao tak segera menjawab, barangkali Zet punya jawaban sendiri yang lebih bagus darinya. Namun pemuda itu malah bertanya lagi. “Kau adalah roh pembimbingku, seharusnya kau bisa melakukan lebih dari ini.”


“Aku pun berharap kau tak mendapat kesulitan seperti ini, Zet. Hanya saja, aku tak bisa terus-terusan berada di sisimu, atau membantumu lepas dari masalah tertentu.”


“Itulah alasan kenapa kau sangat tak berguna!”


Seseorang memergoki Zet sedang berteriak kepada bantal, kemudian memandang pemuda itu dengan penuh tanda tanya. “Apa?!” Zet membentak penjaga penjara tersebut. “Iya, aku memang sudah gila. Jadi, pergi sana!” Pria itu menggelengkan kepala sambil mendecap, lantas pergi.


Zet sadar bahwa tabiatnya barusan sangat buruk. Ia kembali membenturkan punggung ke dinding, seraya melirik Yun Lao yang masih duduk dengan canggung. “Aku minta maaf. Aku hanya marah kepada diriku sendiri, yang terlalu egois dan seolah mengabaikan semua larangan dari keluargaku, terutama Ayah, hanya untuk kebanggaan hidupku sendiri.”


“Tidak. Kau sudah berlaku benar, Zet. Kau adalah pengendali arcana yang mengikuti naluri untuk tetap bersama dengan benda pusaka itu. Hanya saja, bahwasanya memang kejahatan bisa terjadi di mana pun dan kapan pun ia mau.”


Hening selanjutnya dimanfaatkan Zet untuk merenung. Yun Lao pergi setelah menyuruh Zet mengistirahatkan pikiran dan juga badannya yang letih.


[...]


 


 


Ada tugas kerja paksa yang membuat penjara menjadi kian buruk. Zet disuruh untuk memegang kapak bermata runcing dan ikut dengan gerombolan penambang batu ke arah depan. Ia akui ia tak lagi peduli dengan tertawaan orang-orang karena tak becus menggunakan alat. Memang faktanya baru kali ini ia melakukannya.


Zet memanfaatkan kesempatan keluar dari sel untuk mencari Rhea, tentu setelah memastikan dua penjaga di depan sana itu lengah. Dia meninggalkan kapak dan helmnya. Setelah beberapa menit mencari, akhirnya dia menemukan ibunya di ruang belakang, memutar gilingan yang terbuat dari batu sangat besar, bersama wanita lain. Zet tak akan salah mengenali sosok itu, walaupun rambut dan pakaiannya begitu lusuh. Pemuda itu kemudian menyeruak masuk dan membuat ibunya terkaget-kaget. “Apa yang kau lakukan di sini?” bisiknya, nyaris berteriak.


Mata ungu Rhea menatap sekitar, takut kalau-kalau ada penjaga yang menemukan ia berhenti dari tugasnya. Lalu Zet segera dibawanya menuju lorong sempit. “Apa yang terjadi?” ulangnya, setelah mereka berpelukan sebentar. Rhea tentu ingin lebih lama memeluk Zet, tetapi ia tak punya waktu banyak sebelum penjaga mulai menyadari kealpaannya.


“Aku dipenjara karena telah menuduh Pangeran Barra.”


“Apa? Menuduh bagaimana maksudmu?” Rhea berbisik dengan wajah bingung.


“Arcanum.” Mata Rhea membulat, sementara Zet melanjutkan ceritanya, “Aku menggunakan arcanum air dari hutan terlarang. Pangeran Barra ingin merebutnya dariku, dan karena tidak ada bukti yang kuat, akhirnya aku malah berakhir di sini. Raja Taraghlan menuduhku hendak berkhianat kepada Kerajaan Kubah Malam karena telah mengaktifkan arcanum. Mereka sama sekali tak percaya padaku.”


“Bukan, bukan. Aku tahu dengan sendirinya—maksudku, tahu dari ... seseorang,” Zet bingung menjelaskan soal Yun Lao. Ia pun berbicara dengan cepat. “Intinya, ia mengatakan bahwa arcanum adalah benda pusaka terlarang yang seharusnya tidak disembunyikan. Dan Master Arcana harus bangkit kembali, sebab akan terjadi peperangan besar yang memerlukan kekuatannya. Ibu adalah Master Arcana, bukan? Kenapa tidak berbuat sesuatu? Aku sebetulnya masih tidak mengerti dengan ini semua. Takdirku, kekuatan itu, apa yang harus aku lakukan?”


Wajah panik itu membuat Rhea harus memegang pelipis Zet, sembari mengusap air yang menetes keluar dari mata pemuda tersebut. “Dengar, anakku. Aku akan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, tetapi tidak sekarang. Kita akan bertemu di tempat ini besok. Sekarang kembalilah ke depan, sebelum mereka mulai mencarimu. Ya?”


Zet mengangguk, memeluk ibunya sekali dengan haru, kemudian ia pergi sambil sesekali masih menoleh ke arah penjaga. Rhea menghela napas pelan, menenangkan batinnya yang ikut bergejolak begitu mengetahui fakta bahwa putranya adalah pengendali arcanum air.


[...]


Begitulah yang dilakukan Zet setiap hari. Bekerja sebentar, lalu pergi mencari ibunya saat orang-orang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Di lorong yang sama, Rhea menceritakan kepada putranya mengenai perang besar yang pertama.


Semua berawal dari kemenangan Bangsa Ular Pasir dalam Perang Raja Utara. Mereka berhasil mendapatkan lahan subur demi kebutuhan penduduk yang jumlahnya kian banyak. Namun, di bawah kepemimpinan Sultan yang ke-IV, para penduduk asli Padang Sabana banyak yang dibunuh dan diancam karena membangkang, dan akhirnya sebagian dari mereka kabur, terdiaspora menjadi imigran di kerajaan-kerajaan lain, karena merasa tidak kuat hidup di bawah kepemimpinan tirani tersebut. Akhirnya, sampai sekarang banyak sekali penduduk Padang Sabana yang ada di kerajaan digdaya seperti Kubah Malam dan Empat Musim.


Ular Pasir menguasai lahan di Utara selama puluhan tahun. Dan selama itu pula, sebagian dari penduduk Padang Sabana membuat taktik dan rencana serangan balas dendam terhadap Ular Pasir. Mereka ingin merebut kembali desa yang telah dirampas, kemudian diam-diam mengadu domba Kerajaan Kubah Malam, agar menyerang Kerajaan Ular Pasir.


Namun, pengungsi Padang Sabana yang berada di Empat Musim berbeda pendapat, dan lebih religius dalam menyikapi hal ini. Mereka memutuskan untuk tidak membuat serangan balas dendam, terutama setelah Sultan ke-V menggantikan posisi ayahnya yang meninggal dalam bencana penyakit kusta. Sebab mereka menganggap Dewa telah membalaskan dendam dan menghapus dosa itu lewat bencana tersebut. Dan barangkali ini adalah takdir terbaik dari Dewa, karena telah membuat para Padang Sabana berpindah tempat, sehingga terhindar dari penyakit kulit yang sudah menewaskan ratusan warga tersebut. Malahan, mereka berpikir seandainya mereka kembali ke kampung halaman, mereka telah melawan kehendak para Dewa.


Selain itu, Sultan ke-V sebetulnya bersikap lebih lemah lembut, mengakui dan meminta maaf akan kesalahan ayahnya, lalu membuka diri dengan peraturan baru, yang mana setiap bekas penduduk Padang Sabana berhak kembali ke kampung halamannya, dan mereka akan diberikan hak yang sama dengan penduduk Ular Pasir, sekaligus dijanjikan kompensasi yang lebih tinggi. Namun tentu saja, sebagian penduduk Padang Sabana yang telanjur sakit hati tidak akan sudi menginjakkan kaki di kampung halamannya, apabila di sana masih berkeliaran para penduduk dari Ular Pasir. Terlebih lagi, ada teori yang bilang bahwa penyakit kusta belum benar-benar bersih, sehingga Ular Pasir memang sengaja membuat para penduduk Padang Sabana datang supaya mereka terjangkit penyakit menular itu. Yang mana, sama saja dengan bunuh diri.


Namun tentu saja hal tersebut hanya kabar burung yang membuat warga semakin paranoid. Yang terjadi sebenarnya adalah Ular Pasir kehilangan banyak warga, dan kekuatan prajurit mereka otomatis melemah akibat bencana tersebut. Sehingga mau tak mau mereka harus menarik perhatian para Padang Sabana untuk bergabung, walaupun itu suatu hal yang mustahil.


Keadaan terpuruk dari Kerajaan Ular Pasir ini dimanfaatkan pihak lain untuk membakar ladang-ladang mereka dengan bantuan para penunggang naga. Lembah Naga—habitat para naga—dikuasai oleh para penyihir dari Sekte Salju Putih, yang ternyata bersekongkol dengan sebagian anggota dari Padang Sabana.


Adu domba Padang Sabana di berbagai wilayah pun terbukti berhasil, termasuk di Kubah Malam. Saat Raja Taraghlan berniat menyerang, Kerajaan Ular Pasir sadar bahwa mungkin sejarah mereka akan berakhir sampai di sini jika sampai Kubah Malam ikut campur. Mereka segera datang, mencari bantuan ke Kerajaan Empat Musim. Di situlah Rhea dan Aeron sama-sama menjadi saksi keanggunan dari sebuah perdamaian. Saat Sultan ke-V dari Ular Pasir secara resmi menjabat tangan pemimpin Padang Sabana. Mereka sama-sama ingin mengubur masa lalu dan menulis masa depan yang baru. Kala itu, Rhea telah mengumpulkan kelima arcana, dan sebagai simbol persatuan dan perdamaian dunia, ia pun sependapat dengan Raja Damian, Raja Empat Musim, untuk menghentikan Kerajaan Kubah Malam.


“Jadi, ibu bertarung bersama Ayah dalam pertempuran itu?” tanya Zet terkesima dengan cerita tersebut, yang dijawab dengan anggukan Rhea. Mendengar para penjaga berteriak, Zet kaget, dan buru-buru beranjak. Saatnya ia keluar dari lorong dan kembali ke tempat. Rhea berjanji, besok ia akan melanjutkan cerita yang baru setengah selesai tersebut.


 


 


[...]