The Master Of Arcana

The Master Of Arcana
44: MENGAJARI KIMIKO



Gadis bermata amat sipit itu berkata, “Panggil aku Kimi saja. Jangan bicara di koridor ini. Kita cari tempat sepi saja.”


Zet mengangguk. Walau tangannya sudah siap hendak mengaktifkan arcanum, ia dan Filian ikut berjalan di belakang Kimiko.


Setibanya mereka di sebuah sudut yang sepi dekat taman, ketiga orang itu duduk dan Kimiko mulai bicara, “Nah, kecuali kalian ini imigran atau informasi yang kudengar tadi salah, kampung halaman kalian adalah Negeri Empat Musim dan nama kalian Amazeta dan Filian. Benarkah?”


“Benar,” jawab Zet. “Kau boleh panggil aku Zet.”


“Dan aku Fili,” sahut Filian.


“Zet dan Fili, baiklah. Kalau tak salah kalian ini adalah Elementalis atau pengendali elemen yang murni, bukan? Kalaupun kalian menggunakan ilmu tambahan untuk menggerakkan elemen itu, ilmu itu tergolong sihir, karena kalian mengambil energi dari ‘mana’, yaitu sumber energi gaib dari luar tubuh.”


“Itu benar. Tapi apa maksudmu bertanya tentang Elementalis?” tanya Zet.


Filian menimpali, “Bukankah kau adalah seorang pengguna tenaga dalam, prana, chi, chakra, atau apalah istilahnya? Bukankah menurut Pak Gordon pengguna tenaga dalam lebih unggul dari Elementalis?”


“Dalam faktor-faktor tertentu, ya. Tapi aku memiliki tiga masalah pelik, satu dari luar dan dua dari dalam diriku sendiri.”


“Ah, tak usah berbelit-belit!” hardik Filian. “Langsung saja ke pokok masalahnya.”


Zet mengulurkan telapak tangannya ke hadapan sepupunya itu, mengisyaratkan agar Filian tetap sabar dan mendengarkan keseluruhan cerita Kimiko dulu.


“Aku baru saja menyebutkan masalahku, kan? Masalah pertama yang berasal dari diriku sendiri, aku sama sekali tidak memahami cara pengendalian elemen. Aku mungkin sudah cukup mumpuni dalam hal penguasaan tenaga dalam dan teknik tarung ninjutsu, tapi aku tidak bisa mengendalikan elemen dari sumbernya langsung. Masalah dari luar diriku adalah, tak ada perguruan untuk Elementalis di Kekaisaran Sakura Ungu.”


Benar juga, pikir Zet. Kalau perguruan tenaga dalam amat jarang di Negeri Empat Musim, pasti perguruan Elementalis juga amat langka, bahkan katanya tidak ada di Negeri Sakura Ungu.


“Masalah ketiga, aku salah ambil mata kuliah di universitas ini. Seharusnya aku mengambil mata kuliah Elementalis, tapi aku malah memilih Ilmu Tenaga Dalam yang dasar-dasarnya notabene telah kukuasai. Sudah terlambat untuk mengganti mata kuliah. Karena itulah, satu-satunya jalan adalah aku belajar les dari seorang Elementalis yang mumpuni agar aku bisa mengambil mata kuliah Elementalis tingkat dua, tidak harus mulai dari awal di tahun kedua nanti.”


“Oh, begitu rupanya,” kata Fili sambil mengangguk. “Jadi kau ingin les pada kami?”


“Ya, tapi aku hanya ingin Zet yang mengajarkan Ilmu Elementalis padaku. Aku akan bayar mahal biaya lesnya....”


“Tak perlu,” ujar Zet sambil mengangkat telapak tangan. “Bagaimana kalau kau mengajari kami berdua Ilmu Tenaga Dalam ala Sakura Ungu sebagai imbalan saja?”


“Kalian berdua?” Kimiko mendelik. “Yang mengajariku kan hanya Zet saja!”


“Itulah perjanjiannya,” timpal Filian. “Silakan pilih antara kau setuju atau lupakan saja.”


Ini memang sebuah taktik untuk menguji ketulusan dan keseriusan Kimiko. Namun, bisa pula kata-kata kedua pemuda asal Empat Musim itu ditafsirkan sebagai mengambil kesempatan dalam kesempitan. Zet dan Filian tak menyadari bahwa Kimiko bisa saja tersinggung dan memperkarakan urusan ini, menambah musuh bagi keduanya.


Namun di sisi lain, Kimiko-lah yang dapat dianggap berusaha ingin mencuri belajar rahasia Ilmu Elementalis. Mengingat Zet adalah seorang pengguna arcanum, bukan tak mungkin ia bakal tanpa sengaja mengajarkan cara pengendalian arcanum, tingkatan tertinggi Ilmu Elementalis yang ia dapatkan berkat bimbingan Yun Lao.


Jumlah orang yang menguasai Ilmu Arcanum hanya sehitungan jari tangan. Bila Kimiko juga bisa mengendalikan arcanum, persaingan antara mereka akan makin ketat dan keras, akhirnya akan timbul pergesekan dan pertentangan-pertentangan baru. Parahnya, anak-anak muda kurang pengalaman seperti Zet dan Filian tak berpikir sejauh itu, sehingga menimbulkan kesalahan yang manusiawi ini. Andai yang diminta mengajar itu Filian, masalah pelik mungkin bakal terhindarkan.


Ditantang seperti itu, rasa kehormatan tinggi khas Sakura Ungu yang dijunjung tinggi oleh Kimiko Maru kini bagai pohon yang sedang digoyang-goyang batangnya. Masalahnya, akankah pohon bernama “kehormatan” itu masih tetap berdiri atau tumbang sampai akar-akarnya ikut tercerabut? Apakah yang bakal gugur hanya daun dan ranting saja?


“Ya sudah, kalau kau tak setuju dengan syarat kami, lupakan sajalah pembicaraan ini. Toh waktu jeda sudah hampir habis dan kami harus mengikuti kuliah berikutnya,” kata Zet sambil berbalik dan melangkah pergi, Filian pun ikut berbalik dan mengikutinya.


“T-tunggu!” seru Kimiko. “Aku setuju!”


Filian dan Zet menghentikan langkah dan berbalik.


Zet berkata, “Baiklah kalau begitu. Latihan sesi pertama akan dimulai besok jam lima pagi. Kalau kau mangkir tanpa alasan jelas, kami akan membatalkan perjanjian ini, tentunya setelah dua kali peringatan. Ingat, kami akan mencatat semuanya!”


Kimiko hanya bisa mengagguk dan menghela napas.


\==oOo==


Hari pertama latihan berjalan cukup lancar, walau sedikit tersandung-sandung karena masing-masing pengajar belum pernah mengajar les sebelumnya.


Dalam waktu satu jam sesi les tambahan, Zet dan Kimiko selang-seling saling mengajar. Malah Kimiko yang lebih banyak mengajari Zet dan Filian cara mengatur napas, memusatkan tenaga dalam di ulu hati dan menyalurkannya ke bagian-bagian tubuh yang membutuhkannya, termasuk ke tangan, kaki, dan kepala.


Tentunya yang dipelajari dalam sesi-sesi awal ini adalah tahap-tahap paling dasar dari masing-masing ilmu, baru sebatas teori dan latihan pertama. Entah karena si murid kurang berbakat atau si guru kurang tahu cara mengajar, entah siapa pun dia, perkembangan jadi terasa lamban, tapi konstan dan bertahap seperti tunas yang baru tumbuh dari akar dan mencuat ke permukaan tanah.


Namun, tanpa mereka sadari – atau mungkin Kimiko sendiri saja yang menyadarinya – tunas yang tumbuh dari percepatan lewat “jalan pintas” itu mungkin bakal menjadi pohon yang akan berbuah bencana.


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-