The Master Of Arcana

The Master Of Arcana
13 :JURUS TERLARANG



“Baiklah. Setelah menunggu lama, akhirnya, kita telah sampai pada pertarungan babak yang terakhir! Langsung saja, dengan bangga kami mempersembahkan, Zet ... melawan Rylon!”


Penonton gaduh menyambut kedatangan Zet yang menghunus pedang, membawa perisai, dan mengenakan baju zirah barunya mengilat berwarna putih metalik. Sedangkan di sisi satunya, Rylon memakai baju perang buatan sendiri, yang tampak lebih mutakhir. Perpaduan warna merah, cokelat, dan hijau tua adalah kesukaannya.


Ketika tanda pertarungan dibunyikan, Zet langsung berlari mendekat, mencoba mencari tahu kelemahan dari baju itu. Pedang Zet berdesing dengan lengan baju Rylon yang terasa sangat solid. Tak seperti dirinya yang harus menenteng tameng ke mana-mana, Rylon punya pertahanan yang sangat portabel dan mudah digunakan.


“Tenang saja, aku akan membiarkanmu menang, sepupu. Tapi kita harus membuat pertunjukan dulu biar semua orang senang,” ucap Rylon teredam di balik helm yang hanya menampakkan mata ungu di balik kaca transparan.


“Oh, menurutmu begitu? Tapi maaf, aku tidak butuh belas kasih darimu ..., sepupu.”


Merasa telah cukup mengukur kekuatan lawan, Zet menolakkan badan dan melompat menjauh ke belakang.


Rylon tertawa. “Kalau begitu, coba terima ini.”


Tiga buah roket beterbangan dari ransel di balik punggung Rylon menuju Zet, dan langsung meledak di depannya. Setelah jeda sejenak, Zet muncul di balik asap hitam, meloncat dan menyabetkan pedangnya berkali-kali, memukulkan perisai, dan berusaha menggores sela-sela baju robotik milik Rylon. Ayolah, baju zirah jenis apa pun tetap punya kelemahan. Hanya saja Rylon pintar membaca gerakan Zet.


Pukulan telak di helm membuat Zet terguling ke belakang. Pusing menyerang kepalanya. Namun Rylon tak memberinya kesempatan untuk bangun. Ia meninju helm, dada, dan perut Zet bertubi-tubi, sampai tubuh pemuda itu bergulung-gulung di tanah.


“Ke mana perginya kemampuan supermu tadi? Ayo, aku belum mandi sejak kemarin.”


Zet mengabulkan permintaan Rylon. Dengan segera, vorteks menyambar tubuh robot merah itu dan melemparnya ke samping. Rylon mencengkeram tanah dan merunduk, mencoba bertahan dari hantaman air yang cukup gila. Giliran Rylon sekarang membalas Zet dengan roket yang lain. Bersamaan dengan itu, ia menyiapkan tinju. Mesin uap membantunya untuk bergerak dengan sangat cepat, bahkan melebihi kemampuan pelari sekali pun. Saat Zet berusaha menghindari roket yang meledak, ia mendapati tangan besar Rylon yang tahu-tahu meluncur ke mukanya.


Zet memutar otak, sementara Rylon mengejarnya dengan roket lain. Ledakan demi ledakan di belakang tubuhnya membuat telinga Zet berdenging. Ia tak boleh lengah, walaupun matanya agak kabur dan kepalanya pening sekarang.


Hampir saja Rylon berhasil menghabisinya dalam satu kali pukulan dari depan, tubuh robot itu terhenti di dalam air yang diciptakan Zet. Bola air itu melayang rendah, sementara Rylon berusaha berenang dan keluar dari sana. Namun hasilnya sia-sia, air itu terlalu licin dan terus bergerak mengikuti tubuh Rylon.


Melihat kesempatan yang bagus, Zet bergegas mengaktifkan arcanum untuk menyedot kekuatan Rylon. Rylon bukanlah elementalis seperti musuh-musuh sebelumnya. Sama seperti ketika mengalahkan Deon, Zet mendapatkan semacam tenaga fisik, yang rasanya sama sekali berbeda dengan mana. Tenaga fisik ini tidak akan membuat Zet bisa meningkatkan kekuatan elemen air apalagi membuat es raksasa seperti saat melawan Oxi, tetapi ia bisa menggunakannya untuk memukul Rylon sampai pemuda itu pingsan, sehingga babak final ini pun akan selesai dengan cepat.


Namun, lain dengan yang Zet harapkan, Rylon punya kejutan lain. Ransel di punggungnya itu mengeluarkan semacam sulur logam berwarna hitam yang berubah menjadi padatan berbentuk seperti kaki-kaki raksasa, sejumlah empat pasang kanan dan kiri. Dengan begitu, Rylon bisa mengangkat tubuhnya lebih tinggi dan keluar dari bola air milik Zet dengan mudah. Bentukan seperti laba-laba besar itu tampak sangat mengerikan, sekaligus membuat penonton berdecak kagum dan bertepuk tangan.


“Sial,” gerutu Zet. Ia baru setengah jalan mengisap tenaga Rylon. Dan sebelum tenaga yang ia kumpulkan itu menguap lagi, Zet memfokuskan dan mengerahkannya untuk melukai—serta kalau bisa—memutus kaki-kaki laba-laba itu satu per satu. Tentu saja Rylon tak akan membiarkan Zet melakukannya. Dengan mudah, Rylon menendang Zet dengan kakinya yang panjang, dan bersiap menembakkan meriam api dari balik tangannya sendiri.


Kaki kanan Zet nyaris kena ledakan. Kalang kabut, ia menyingkir, dan dengan susah payah menghindari tembakan yang mengikuti. Rylon sepertinya benar-benar mengeluarkan senjata pamungkasnya sekarang.


Diburu waktu, akhirnya Zet menggunakan sebagian besar mana-nya untuk membuat gelombang air, dengan lapisan es tipis di bawah kaki—membuat ia bisa berdiri di atasnya. Lalu Zet berseluncur mendekat kepada Rylon. Apabila Zet tidak bisa menyerang kaki, satu-satunya jalan adalah langsung menyerang dari badannya.


Zet harus membuat gelombang air baru lagi, karena Rylon dengan segera menghancurkan es di kakinya itu sehingga Zet oleng dan nyaris jatuh. Baru pada gelombang air yang ketiga, Zet berhasil mendarat dan bergelantungan di punggung Rylon. Si gendut Rylon meronta-ronta, lantas berusaha melepaskan Zet dari sana, termasuk menembakkan meriam dan berusaha meninju Zet berkali-kali.


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-