The Master Of Arcana

The Master Of Arcana
59: SEMI FINAL



Memasuki Babak Semi Final, keempat tim Odyscus yang tersisa bakal menghadapi pertandingan yang makin ketat, sengit dan bisa jadi keras.


Pertandingan pertama hari ini adalah Fajar Emas lawan Naga Nirwana. Agar menghemat stamina dan tenaga untuk pertandingan kedua nanti, Zet dan timnya memutuskan untuk menonton pertandingan ini.


Seperti dugaan semula, karakter Tim Fajar Emas terlihat nyata sepanjang pertandingan. Terdiri dari dua pengguna telekinesis dan dua penyihir, mereka menyajikan cara bermain yang unik. Di dimensi lain, tepatnya Bumi Zaman Modern olah raga ini dikenal dengan nama Rugby.


Peran-peran dalam Tim Fajar Emas ini adalah pelari, pengumpan, penahan dan penjaga gawang. Rick, si bintang lapangan adalah pelari merangkap pengumpan yang amat piawai.


Di sisi lain, para pemain Tim Naga Nirwana adalah pengguna tenaga dalam yang piawai. Gerakan mereka pun lincah, cepat dan luwes, berdasarkan ilmu bela diri khas negeri itu yang sepertinya dikuasai pula oleh Yun Lao. Yang jelas, Yun Lao sangat mungkin berasal dari Kekaisaran Naga Nirwana pula.


Kedua tim bertanding dengan sangat ketat, namun Zet tidak melihat formasi atau serangan rahasia apapun yang dikerahkan. Permainan juga berlangsung relatif bersih, tak banyak pelanggaran yang dilakukan oleh para pemain dari kedua tim itu. Saat waktu pertandingan berakhir, skor antara kedua tim itu seri dua lawan dua.


Ini berarti pemenang harus ditentukan dari adu penalti. Caranya adalah melemparkan cakram yang dilayangkan sambil berdiri di titik yang telah ditentukan ke arah gawang. Bilamana penjaga gawang tak berhasil “menangkap” atau menghalau cakram itu dengan ilmunya dan cakram masuk ke gawang, berarti skor bertambah satu angka. Setiap tim diberi kesempatan tiga kali percobaan, di akhir percobaan itu tim yang mendapat skor terbanyak menang.


Dalam adu penalti itu, masing-masing tim melesakkan satu gol dan menggagalkan satu lemparan penalti. Lalu tampillah Rick yang dengan brilyan memasukkan gol lewat lemparan cakram yang terbang melengkung, bukan lurus seperti biasa.


Gol Rick ini memberi tekanan lebih pada eksekutor ketiga Tim Naga Nirwana. Sebenarnya lemparannya cukup kuat dan cepat, namun sayangnya penjaga gawang Fajar Emas berhasil menepisnya sehingga melenceng sedikit dan membentur tiang gawang.


Skor akhir adalah empat lawan tiga, Fajar Emas berhasil melangkah ke Babak Final.


\==oOo==


Sebenarnya Zet agak kecewa dengan permainan kedua tim di pertandingan pertama tadi. Baik Fajar Emas dan Naga Nirwana amat berhati-hati dan cenderung defensif. Mungkin pula itu taktik untuk menghemat energi, mengingat lawan yang akan dihadapi di final nanti bukan lawan sembarangan, entah itu Kubah Malam atau Empat Musim.


Entah apapun itu, sudah saatnya Zet mengalihkan perhatian dan memusatkan segenap konsentrasi untuk pertandingan semi final kedua. Tampil dengan seragam ungu hijau timnya, mau tak mau ia merasa sedikit risih ketika melihat para pemain Kubah Malam berbaris rapi, mengenakan seragam berwarna hijau muda dari dada ke atas dan biru tua dari dada ke perut, dengan celana cokelat muda. Hijau muda adalah “kubah” dari Pohon Hayat, biru tua mewakili “malam” dan cokelat muda “tanah atau negeri”.


Berikutnya adalah perkenalan ulang dari para anggota tim masing-masing. Entah demi kesopanan belaka atau didorong semangat sportivitas, Simon, Zet, Miguel dan Hailey dari Empat Musim berjabat tangan dengan para anggota Tim Kubah Malam, yaitu gadis atletis bernama Brynn sebagai kapten, Argyle, Janos dan gadis manis penjaga gawang, yaitu Kjelde.


Kedua tim lantas berdiri siap di posisi masing-masing. Saat aba-aba pertandingan dimulai, tiba-tiba Argyle, seorang pemuda bertubuh kecil dan berwajah tampan kekanak-kanakan berlari luar biasa cepat, menyeruak melewati Brynn. Ia lantas melayangkan cakram di tengah lapangan dengan telekinesisnya dan berlari ke sisi samping lapangan bersama cakram itu.


Miguel dari Empat Musim bersiap hendak menghadang Argyle. Gilanya, tanpa menoleh Argyle melemparkan cakram ke samping agak ke belakangnya. Lebih gilanya lagi, ada Janos, si pemuda tinggi langsing berkaki dan bertangan panjang yang sudah siap di posisi dan menyambut cakram dengan telekinesisnya juga.


Zet yang belum paham betul cara tim unggulan teratas itu menyerang bersedekap. Ia lantas teringat sesuatu. “Oh ya, taktik khusus dari Pelatih Zoe itu, apa sudah boleh digunakan sekarang? Belum ada aba-aba dari Simon,” batinnya.


Saat Zet fokus lagi ke pertandingan sedetik setelah memikirkan itu, tampak cakram sudah berpindah tangan ke Brynn. Tanpa menunggu Zet atau Simon menghadangnya, Brynn sudah mengoper ke Argyle. Argyle lalu ke Brynn dan Brynn ke Janos. Para pemain Empat Musim jadi dibuat kebingungan ingin menghadang yang mana. Taktik ini hampir sama dengan Formasi Khamsin Tim Ular Pasir, tapi dengan posisi lebih menyebar dan lebih terang-terangan, bukan berbaris sejajar.


Mengira sudah terlalu dekat, Hailey mengulurkan tangan hendak menghalau cakram dari Brynn. Namun tanpa diduga Brynn malah mengoperkannya ke Janos dan langsung diteruskan ke Argyle. Hailey, Zet, Miguel dan Simon yang hendak mencuri cakram jadi mati langkah semua. Terlambat sudah, Argyle melemparkan cakram sampai melesak ke dalam gawang Empat Musim.


“Yaa! Sungguh spektakuler!” Suara si komentator bergema ke seluruh stadion. “Baru gebrakan pertama, Kubah Malam sudah membuat Empat Musim mati kutu dan berhasil mencetak gol. Satu nol untuk Kubah Malam!”


Tubuh Zet bergetar hebat, posisi berdirinya goyah.


“Ternyata Rick benar,” pikirnya. “Kubah Malam lebih mengerikan daripada Ular Pasir, bahkan mungkin Fajar Emas juga. Harus bagaimana ini?”


Zet menoleh ke arah Simon, menunggu aba-aba, isyarat atau apa pun. Namun Simon sang kapten tetap bergeming, matanya tetap menatap lurus ke depan sambil tetap berdiri dalam formasi.


Saat peluit dibunyikan, giliran Miguel yang menggiring cakram. Tim Zet malah mencoba formasi segitiga sederhana, dengan Simon dan Zet berlari sejajar di depan Miguel.


Anehnya, Tim Kubah Malam tak segera maju menghadang. Para pemain hanya berdiri di posisi formasi masing-masing. Baru setelah Miguel mendekat, Janos maju untuk merebut cakram.


Dengan satu gerak tipu, Miguel berhasil melewati Janos, namun ia menoleh ke kiri-kanan dengan wajah seperti orang kebingungan. Pasalnya, Brynn mengawal Simon dan Argyle, pemain tercepat dan terlincah di Tim Kubah Malam – atau mungkin di antara semua atlit Odyscus di Universitas Langit Angkasa – menjaga Zet.


Miguel harus mengoperkan cakram ini pada siapa? Atau sebaiknya ia giring saja dulu sendiri dan baru mengoper saat Argyle dan Brynn bergerak ke arahnya. Tanpa menunggu lama, agar Janos tak sempat merebut cakram Miguel melemparkan cakram itu ke arah... Simon.


Simon menangkap cakram dan hendak menggiringnya maju melewati Brynn.


Tiba-tiba Argyle melesat seperti bayangan dari posisi menghadang Zet, lalu membelokkan cakram yang melayang di atas tangan Simon. Ia bahkan sempat berkata, “Kuambil ini, ya.” Cakram melesat mulus dan diterima oleh Kjelde si gadis penjaga gawang dengan sihir levitasi.


Zet baru saja hendak merebut cakram itu, tapi Kjelde malah berdiri bertolak pinggang dan menggenggam cakram di pinggang itu. Memang hanya penjaga gawang saja yang boleh menggenggam langsung cakram setelah melayangkannya dulu sedetik, untuk menahannya. Saat itu dilakukan, tidak boleh ada pemain lawan yang merebut cakram dan harus menunggu sampai lemparan bebas dari gawang dilakukan.


Satu tangan Kjelde lantas diacungkan lurus ke depan, lalu ia menggoyang-goyangkan jari telunjuknya ke arah Zet. Itu isyarat agar Zet tidak melakukan pelanggaran dengan merebut cakram yang sudah tergenggam tangan.


Zet menghentikan langkahnya seketika dan menatap Kjelde dengan wajah memberengut. Sesaat kemudian ekspresi wajah Zet berubah menjadi terperangah. Setelah memperhatikan dengan seksama, wajah gadis berambut dikepang panjang itu mirip...


... Putri Catriona Lewis.


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-