
Saat Zet mulai menggapai-gapai dengan kekuatan batinnya, ia mendengar sayup-sayup sebuah suara yang hendak menjangkaunya lewat telepati. “Zet! Lawan Yun Lao dengan kekuatan batinmu, Zet! Zet, dengarkan aku!”
“Ya, aku mendengarmu, Guru Singh!” batin Zet berseru menjawab panggilan itu. “Tapi Yun Lao bisa mendengarkan pembicaraan kita!”
“Dia tak bisa melakukan itu, karena aku telah menghalangi batinnya,” jawab Singh. “Pokoknya lawan dia, Zet! Kami hanya bisa menangkis dan menghindar. Semua serangan balik kami dimentahkan dengan arcanum tanah dan logam! Korban makin banyak berjatuhan!”
“Tapi bagaimana caranya, Guru?”
“Kau yang paling mengenal Yun Lao, Zet. Dia mantan gurumu sebelum ada diriku, bukan? Buat dia marah dan gelap mata. Lebih bagus lagi, biarlah pikiranmu bertarung dengan pikirannya dalam alam bawah sadarmu. Jerat dia dalam perangkap kenangannya yang paling menyakitkan.”
“Kurasa aku tahu dua di antaranya, dan aku akan pakai salah satunya, yaitu saat Yun Lao kalah dari ibuku, Rhea. Bantulah aku berperan di sana kalau bisa, Guru, karena Guru yang paling ingat pada kenangan yang satu itu.”
“Akan kucoba. Tapi aku harus menyingkir dulu ke tempat yang aman.”
“Ya. Cepatlah, Guru.”
Setelah mengatakan itu, Zet mengalihkan mata batinnya dari mata jasmaninya yang sedang digunakan Yun Lao untuk “menggila”. Roh Zet kini sedang berjalan menyusuri kegelapan yang adalah alam bawah sadarnya sendiri. Tak lama kemudian, ia melihat secercah cahaya di ujung kegelapan itu.
Zet maju beberapa langkah lagi dan ia tiba di sebuah ruangan yang atap, dinding dan lantainya serba putih bersih. Saking putihnya nuansa dan cahaya di sana, bahkan bayangan Zet sendiri tak kelihatan bagai di bawah matahari tengah hari.
Tak ada apa pun di ruangan itu. Zet berjalan terus hingga ia menemukan Yun Lao sedang duduk dengan amat santai di sebuah singgasana yang putih bersih, lebih putih daripada gading gajah, pualam atau bahkan salju.
“Wah, wah, ternyata si pemilik lama tubuh ini berkunjung ke alam bawah sadarku,” kata Yun Lao sambil menyeringai. Wajahnya yang berkumis dan berjanggut tipis jadi menyeramkan. “Selamat datang, Zet. Semula aku berencana mengusir rohmu setelah aku selesai mengurus gerombolan pecundang tak berguna itu. Tak kusangka, kau sudah begitu bosan hidup sehingga kau nekat menemuiku lebih awal.”
“Aku tak mengerti dan tak mau tahu atas dasar apa kau berasumsi buta seperti itu. Mungkin kepala besarmu sudah terlalu membengkak hingga hampir meledak.” Zet melontarkan ejekannya yang pertama.
“Salah sendiri kau berlagak sok suci dan sok cinta damai, persis seperti ibumu.” Yun Lao mendengus, masih tersenyum. “Andai kau punya separuh saja ambisiku, seperti halnya Barra, aku tak akan perlu mengusirmu dari ragamu sendiri.”
Zet malah tertawa. Ia berujar, “Aku tak perlu mengumbar ambisi yang terlalu berlebihan, toh akhirnya aku berhasil menjadi Master of Arcana. Justru aku senang karena sempat terbebas dari guru yang amat menyebalkan seperti kau, Yun Lao.”
“Aku juga senang karena menemukan pengganti yang lebih baik dan lebih cerdas daripada dirimu, yaitu Barra. Sayang tekniknya belum matang betul dan ia tak memegang arcanum tanah. Andai kunci dari segala arcanum itu ia pegang, ia pasti menang darimu.”
“Belum tentu. Aku masih punya arcanum air dan kayu. Asal memahami sifat elemen dan cara penerapannya dengan tepat, juga kombinasinya, jangankan Fasid’afa, Behemoth saja takluk, apalagi Pangeran Barra!”
Pernyataan terakhir Zet itu membuat Yun Lao bangkit dari singgasana dan menghunus pedang yang entah muncul dari mana. “Kalau begitu, ayo kita buktikan siapa di antara kita yang lebih baik dalam penguasaan lima unsur arcanum lewat teknik berpedang dan semua jurus yang kita kuasai! Jangan hanya bisa sesumbar saja kau!”
Zet juga menghunus pedang pendeknya yang terbentuk dari kenangannya sendiri dan menjawab, “Ya, ini akan menentukan siapa di antara kita berdua yang berhak atas tubuhku dan kekuatan lima arcanum di dalamnya. Walau bagaimanapun juga, akan kurebut kembali tubuhku darimu!”
“Huh, berhentilah bertele-tele, ayo kita... mulai!”
Yun Lao mungkin terkesan mencuri serang, tapi Zet bergerak dengan lebih lincah, sehingga si mantan guru tak bisa mengambil keuntungan dari mantan muridnya sama sekali.
Yang terjadi berikutnya adalah adu sabetan, hunjaman dan tangkisan pedang yang terlalu banyak untuk digambarkan dengan kata-kata. Bedanya dengan saat beradu pedang dengan Barra, kali ini Zet tak merasakan kegembiraan ataupun kepuasan dari pertarungan habis-habisan.
Yun Lao yang dihadapi Zet ini bagaikan iblis yang menyamar menjadi manusia, lalu hantu dan kini berlagak jadi dewa. Iblis itu telah merenggut tubuh Zet, jadi ini adalah kesempatan satu-satunya bagi Zet untuk merebut kembali apa yang hilang dari dirinya, atau terusir dan gantian menjadi hantu selamanya.
Hingga di satu titik, Yun Lao berkata, “Kalau begitu, pelajaran kedua dan terakhir dariku adalah untukmu, Amazeta Dionisos! Seorang murid tak akan pernah melampaui gurunya! Jurus pamungkas segala pamungkas, Dewa Arcana Mencipta Ulang Dunia!”
“Hei, kau bukan guruku lagi! Jadi ini jurus pamungkas variasi baru ciptaanku sendiri, Dewa Arcana Melindungi Dunia!”
“Pelajaran ketiga untuk murid murtad, jangan harap lawan selalu bertarung jujur!” Disusul satu teriakan, Yun Lao tiba-tiba mengubah jurusnya. Ia menyatukan energi lima arcanum dalam satu sabetan diagonal dari bawah ke atas.
Roh Zet yang tak menduga itu terkena telak. Ia terpelanting jauh ke belakang dan tersuruk di lantai putih. Walaupun tak langsung musnah, tubuh rohnya mulai mengabur. Zet telah kalah dan pasti bakal terusir dari tubuhnya sendiri.
“Nah, itulah pelajaran terakhir sebagai tanda perpisahan dariku,” kata Yun Lao sambil tersenyum menyeringai. “Selamat tinggal Amazeta Dionisos, si murid durhaka!”
Dalam situasi amat genting itu Zet membatin, “Guru Singh, cepatlah datang sekarang!”
Yun Lao maju untuk menghabisi Zet. Tampak lima warna arcanum berpendar di tubuhnya. Tapi pendaran itu tidak cerah, melainkan berkedip-kedip. Pertanda apakah itu?
Putus asa, batin Zet berteriak, “Tolong aku, Guru Singh!”
Hampir seketika, pemandangan serba putih dan kosong di sekitar Zet berubah drastis menjadi sebuah balairung besar. Dinding, langit-langit dan lantai balairung itu juga serba putih walau tak seputih ruang sebelumnya yang juga bagian dari alam bawah sadar Yun Lao. Ada banyak jendela di balairung itu dan pemandangan hamparan puncak pegunungan bersalju tampak dari dalam.
Dengan tiba-tiba pula sesosok pria berkulit agak gelap pasang badan, menghalangi Yun Lao yang akan beraksi terhadap Zet. Ia ternyata adalah Singh. “Tunggu dulu, Yun Lao,” katanya. “Apa kau masih ingat tempat ini?”
“Ini markas besar Sekte Salju Putih!” bentak Yun Lao. “Dasar tukang ikut campur kau, Singh!”
Singh tersenyum. “Persis. Di tempat inilah nasibmu seharusnya berakhir, tempat aku, Rhea, Aeron dan teman-teman seperjuangan lain akhirnya menumpas biang prahara. Nah, sekarang situasinya hampir sama. Ada putra Rhea, Zet yang kubantu untuk melawanmu. Kau sudah mengalahkan Zet, bagus. Tapi energi batinmu habis, dan untuk mengusir aku kau harus melepaskan kelima arcanummu dan menggunakannya untuk menghancurkan aku, yang sudah tidak berhak lagi memegang arcanum walau hanya sebatas jadi pengantar saja. Bagaimana, apa kau mau mencobanya sekarang? Silakan, toh aku takkan bisa menghindarinya.”
“Jurus silat lidah lagi! Jangan coba-coba menipuku dengan omong kosong picisan itu! Aku tak akan mengulangi kesalahan yang sama dua kali! Aku tak akan melepaskan semua arcanum itu, biar kubasmi kalian semua dengan kekuatan batinku saja!”
“Silakan serang aku, aku tak akan melawan sama sekali.” Singh merentangkan kedua tangannya seolah pasrah. Tapi ia tetap tersenyum dan bahkan menoleh dan mengedipkan sebelah mata ke arah Zet. Zet mendelik balik pada Singh tanda tak paham, tapi ia memilih untuk diam saja.
Sekali lagi Yun Lao merangsek maju sambil mengerahkan energi batinnya, hendak mendaratkan tusukan-tusukan maut ke arah Singh. “Matilah kau, Singh! Semua titisan dewa dan musafir akan kubasmi dari dunia ini!”
Tetapi rasa nyeri luar biasa muncul dan menghentikan langkah Yun Lao. Ia merengkuh dadanya dan mengerang kesakitan. “A-apa yang terjadi padaku?” Yang jelas tampak adalah kelima sinar arcanum kini berkedip makin cepat dan makin membesar, sehingga warna-warnanya bercampur menjadi... hitam.
Tak berhenti di sana, gejala itu memicu reaksi berantai di antara kelima sinar arcanum yang sudah jenuh sehingga meledak-ledak, menebar energi perusak maha dahsyat ke seluruh tubuh Yun Lao. “Tidaak! Akulah Master of Arcana terbesar di Terra Revia! Akulah dewa tuan rumah di dunia ini! Aku tak terima semua arcanum itu melawanku! Aku menolak! Aku melawan!”
Tapi terlambat. Ledakan-ledakan berentetan itu membuat roh Yun Lao menyerpih hingga musnah tanpa bekas. Berhubung roh tak bisa musnah, ia hanya berpindah ke alam baka saja. Dan bisa ditebak, tempat tujuan Yun Lao yang selanjutnya adalah neraka.
“Nah, begitulah akibatnya bila terlalu mengumbar ambisi gila, sehingga semua arcanum pun dipaksa melebihi batas kejenuhan mereka,” kata Singh. “Waktunya aku keluar dari tubuhmu, kau cepat ambil alih kendali tubuhmu, Zet!”
“Baik, Guru!”
Begitu citra Singh menghilang, Zet kembali memusatkan mata batinnya untuk mengambil alih kendali pada mata jasmaninya. Ia jelas tak mau berlama-lama hingga terperangkap dan ikut musnah dalam ruang kenangan orang lain yang runtuh perlahan setelah pemilik kenangan itu, Yun Lao meninggalkan dunia fana.
Untunglah usaha Zet berhasil seketika. Ia kini menemukan dan melihat dirinya sendiri terduduk, bersandar di dinding lapangan kubah tertutup di markas besar Sekte Kalajengking Hitam.
Yang Zet lihat berikutnya adalah sosok-sosok yang ia kenal, yaitu Singh, Nina, Kimiko, Barra, Giovanni dan Kashmir. Wajah-wajah mereka tampak tersenyum lega, bahkan Nina dan Kimiko berlinang air mata haru. Entah mereka bangga pada Zet yang akhirnya menjadi Master of Arcana, lega karena ancaman besar bagi dunia Terra Revia yang bernama Yun Lao akhirnya telah dibasmi tuntas, atau keduanya.
Namun, pertarungan habis-habisan secara lahir dan batin dengan Pangeran Barra dan Yun Lao telah menguras seluruh energi batin, tenaga dalam dan energi arcanum yang dimiliki Zet. Walau kini memiliki kekuatan bak dewa, Zet tetaplah manusia. Kelelahan luar biasa seketika merasuki tubuh Zet sehingga pemuda itu jatuh pingsan di lantai balairung.
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-