
Jadi, Zet terpaksa harus mencuri uang ayahnya sendiri? Si gila Oxi membuatnya jadi penjahat betulan. Oxi langsung balik badan dan menengadahkan tangan. “Lima puluh persen, dan mulutku akan tertutup rapat.”
Zet mendengus sinis, “Terserah kau sajalah.” Ia kemudian kembali menyibak-nyibak lemari, sementara Oxi sibuk menelusuri dinding. Entah apa yang dilakukan bocah itu, yang jelas Zet malas memedulikannya. Namun bunyi berderus di belakang membuatnya mau tak mau menoleh.
Oxi menemukan pintu yang tersembunyi di balik pigura foto ayah dan ibunya. Gadis itu menyelonong masuk, dan Zet tak bisa membiarkan ia mengacaukan rencana.
“Sejak kapan Ayah punya ruang rahasia?” gumam Oxi sambil menelusuri lorong yang gelap dan bergaung. Tiba–tiba ia menjerit ketika ada tikus mencicit di bawah kakinya. Zet buru-buru menutup mulut anak itu. “Tempat macam apa ini?!”
“Ssst..., jangan berisik!”
Keduanya menelusuri dinding kayu yang cukup sempit, dan berakhir di dalam ruangan berpenerangan buruk dari lampu parafin. Ada beberapa gulungan dan buku tersusun rapi di atas meja. Zet membuka satu per satu. Kebanyakan hanyalah surat-surat tidak penting, sampai pemuda itu menarik gulungan yang cukup besar. Ia terkesima begitu membukanya. Mata hijaunya hampir berkaca-kaca, dan ingin rasanya Zet berteriak keras-keras.
Arcanum!
Sementara Oxi masih berusaha mencari uangnya. “Di sini tidak ada apa-apa!” tukas Oxi dengan nada kesal.
Zet diam-diam menyimpan gulungan arcanum di balik bajunya, lalu buru-buru mengajak Oxi untuk pergi.
“Eh, kita kan belum dapat uang?!” ujar gadis itu tidak terima.
Uang menjadi urusan remeh-temeh bagi Zet sekarang. Namun, anak ini pasti akan tetap bertanya-tanya kalau tidak mendapatkan apa yang dia mau. Akhirnya, Zet mengeluarkan uang koinnya sendiri dan berpura-pura kalau ia mendapatkannya dari bawah meja. “Aku dapat.”
“Hanya ini?!”
“Setidaknya kau mendapat semua bagian.”
Gadis itu tersenyum pada akhirnya. Mereka segera keluar dan mengunci pintu sebelum kena pergok.
[...]
Butuh alasan yang bagus untuk pergi ke hutan yang letaknya harus membuat Zet menunggang kuda. Membaca puluhan buku di perpustakaan selama beberapa hari pun ada untungnya juga. Selain tahu lokasi hutan terlarang, Zet juga bisa mengatakan bahwa buku-buku di perpustakaan keluarga Zet tidak diperbarui sejak sepuluh tahun terakhir, dan sekarang ia butuh mencari buku di perpustakaan kota. Dengan begitu, Deon tidak akan sudi menemaninya. Zet pun mencari jadwal latihan Oxi, saat ia sibuk dengan Guru Florentia di rumah.
Setelah melewati berbagai pemukiman warga, Zet kini tiba di bibir hutan. Ada hawa yang seolah menolaknya, bahkan kuda Zet pun merasakan gentar. Namun, tentunya ia tidak akan jauh-jauh ke sini hanya untuk pulang dengan tangan kosong.
Keingintahuan membuat Zet hampir tak bisa berhenti sekarang. Namun semakin ke dalam, udara semakin terasa pekat. Dan matahari semakin bersembunyi di antara dedaunan yang rapat. Kuda itu terengah-engah, Zet turun dan membiarkannya minum di sungai kecil. Airnya yang jernih, membuat Zet tergoda untuk ikutan membuka tempat minumnya di samping batu besar. Saat itulah Yun Lao muncul seperti—ya, secara harfiah dia memang—hantu. Mulut Zet menyembur saat ia hampir tersedak gara-gara kehadiran Yun Lao.
“Bisakah kau tidak muncul seenak jidat? Dan pergi ke mana saja kau selama ini?!”
“Kau harus menyiapkan pedangmu. Sekarang!”
“Untuk ap—”
Tiba-tiba Zet merasakan semacam gempa bumi. Sekitar seratus meter dari arah depan, rombongan kijang berlarian dan melompat menyeberangi sungai. Tak siap, pemuda berambut pendek itu jungkir balik, lalu menyaksikan puluhan hewan bertanduk berlari meninggalkannya. Sedetik kemudian, barulah ia paham apa yang membuat mereka berlari ketakutan. Getaran suara horor membuat Zet menolehkan leher dengan kaku. Seekor harimau putih berhenti, mengaum dengan sangat keras, seolah Zet cukup tuli untuk mendengarnya. Si harimau putih telah menemukan mangsa baru yang lebih jinak, lebih lemah, dan lebih lambat. Sementara kuda Zet sendiri meringkik dan berlari tunggang-langgang meninggalkan tempat itu.
Sialan!
Zet mengacungkan pedangnya, sembari menelan ludah. Ia tentu tidak bisa berteriak minta tolong kepada Deon atau ayahnya. Apalagi berharap lebih kepada seorang hantu atau bahkan kemampuannya sendiri. Saat si harimau melompat, Zet justru menutup matanya. Namun yang ia rasakan berikutnya bukan tabrakan, justru serbuan angin dari arah samping kanan. Yun Lao kini bergerak maju, dan mengganggu pergerakan si kucing besar dengan tembakan angin yang bertubi-tubi, keluar dari telapak tangannya. Harimau itu tampak kesusahan untuk bangun. Sejenak Zet terpukau, hingga Yun Lao harus berteriak, agar Zet melakukan sesuatu dengan pedangnya. Saat harimau masih terjebak di bawah pusaran angin, Zet menghunjamkan senjata ke dada sang predator. Namun sayang, dengan kekuatan terakhir, hewan itu berhasil menerkam Zet, dan mencabik pipi dan lengannya hingga berdarah-darah. Zet meronta dan menarik pedangnya. Harimau itu mengerang kesakitan saat daging perutnya terkoyak. Perih di tubuh Zet membuat pemuda itu berteriak berang sekaligus mengayunkan pedangnya dengan kekuatan penuh. Ujung logam itu menembus rahang hingga kepala si harimau putih.
Sejenak Zet terpukau, hingga Yun Lao harus ditangkap, agar Zet melakukan sesuatu dengan pedangnya. Saat harimau masih terperangkap di bawah pusaran angin, Zet menghunjamkan senjata ke dada sang predator. Namun sayang, dengan kekuatan terakhir, hewan itu berhasil menerkam Zet, dan mencabik pipi dan lengannya hingga berdarah-darah. Zet meronta dan menarik pedangnya. Harimau itu mengerang kesakitan saat daging perutnya terkoyak. Perih di tubuh Zet buat pemuda itu berteriak berang sambil mengayunkan pedangnya dengan kekuatan penuh. Ujung logam itu menembus rahang hingga kepala si harimau putih.
Angin topan memudar bersamaan dengan menguapnya nyawa si harimau putih. Yun Lao merapikan kembali baju kekaisarannya, sementara Zet dengan baju zirah dan pedang berlumuran darah beringsut, berusaha melepaskan diri dari jasad harimau yang terasa berat. Pemuda itu masih tampak tak percaya dengan kejadian yang serba mendadak barusan. Amis dan anyir bau darah seketika membuat perutnya teraduk-aduk. Ia pun memuntahkan sarapannya di semak-semak.
“Pembunuhan pertamamu,” simpul Yun Lao sambil tertawa kecil. Pria itu sepertinya tahu betul, Zet tak akan pernah melukai siapa pun—atau apa pun—sebelumnya. Barangkali semata-mata karena ia tak bisa memainkan pedangnya dengan baik.
Jadi beginikah rasanya ketika berhasil? Dada Zet masih saja bergejolak, napasnya memburu, tetapi pikirannya merasa puas sekaligus lega. Tak jadi mati mungkin adalah hal terbaik yang Zet dapatkan hari itu. Namun tak lama, ia merasakan iba dan penyesalan, tatkala melihat mayat harimau tergeletak di tanah dan mulai dikerumuni lalat. Darah dari bekas tusukan pedang Zet membuat aliran air sungai menjadi merah.
“Kita harus menguburnya,” ucap Zet saat Yun Lao mengajaknya jalan lagi.
“Tidak. Tak perlu buang-buang waktu, Nak. Biarkan air memilih kuasanya sendiri. Banyak hewan lain yang membutuhkan santapan makan malam mereka di hutan ini. Ayo, kita punya misi sebelum petang.”
Zet masih merasakan sisa-sisa gemetar di kaki, saat berdiri dan berusaha mengikuti langkah Yun Lao. Setelah membersihkan cetak darah di wajah dan pedangnya dengan air sungai, ia kembali ke jalur pencariannya.
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-