The Master Of Arcana

The Master Of Arcana
6 : DUNIA LAIN



Zet terjebak dalam dunia putih yang serba memusingkan. Ia tak bisa mengenali lagi bagian tubuhnya. Namun, bagian yang terburuk adalah pikirannya masih terus aktif, membuat waktu seolah melar menjadi tak terhingga. Pemuda itu hampir meyakini bahwa seperti inilah hidupnya setelah ini. Yang ternyata jauh lebih menyeramkan dibandingkan diserang satwa liar. Mungkin Dewa tidak pernah menginginkannya menilik kekuatan alam. Lalu memutuskan bahwa kisah Zet harus berhenti di tempat ini.


Akhirnya, suara gemeresak kaki mulai berjalan mendekat. Zet berusaha mencari pegangan, tetapi tak ia dapati apa pun di sana.


“Tolong! Siapa pun ... bantulah aku. Aku ingin pulang,” ujarnya memelas dengan suara dangkal.


“Kau datang jauh-jauh hanya untuk menyerahkan semua indra yang kau miliki kepada Siren. Padahal kau sudah hidup serba berkecukupan, Zet. Apakah masih ingin sesuatu yang lebih?”


Suara itu adalah suara seorang lelaki tua, tetapi jelas bukan Yun Lao. Itu suara yang asing. Lalu bagaimana dia bisa mengenali Zet?


“Kumohon, aku akan pulang saja.”


Lelaki tua itu tertawa geli, dan tawanya semakin puas selama beberapa detik. “Kau tidak bisa hidup hanya setengah-setengah, Zet. Apakah kamu mau makananmu berhenti di kerongkongan?”


“T–tapi, aku tidak bisa hidup di sini, dengan keadaan seperti ini. K–kau pasti tahu, bagaimana caranya?”


“Hmmm, aku akan mengembalikan keempat indramu yang telah dicuri oleh para Siren. Tapi dengan satu syarat, kau harus bisa menerima apa pun yang kuberikan. Dan kau tak boleh meminta lebih. Setuju?”


Setelah apa yang ia jalani barusan, Zet tak bisa membayangkan hal yang lebih buruk. Ia pun mengangguk seperti anak kecil.


Perlahan kulitnya kembali merasakan lingkungan yang dingin, lidahnya tak lagi kaku, penghidunya mulai mengenali bau lain, dan kabut dari matanya perlahan menyingkir. Zet hampir bisa bangkit lagi, sampai ia kembali terjerembap ke tanah karena merasakan nyeri yang luar biasa. Dingin mendadak menjadi es runcing yang menancapi tiap ujung sarafnya. Matanya segera menangkap puluhan mayat manusia, tulang dan tengkorak, serta organ dalam yang berceceran di sekeliling kakinya. Yang menjelaskan mengapa hidung Zet mengendus bau bangkai yang begitu menyengat. Lidahnya pun juga terasa amat pahit, seolah Zet baru saja menelan bangkai tersebut.


“Apa-apaan ini?” rutuk Zet sembari mengusap lengan, menutupi hidung, dan beringsut menjauh.


“Aku telah mengembalikan semua indramu, Zet. Dan kau tak boleh meminta lebih. Hehehe.” Suara lelaki itu ternyata berasal dari seekor kura-kura yang besarnya melebihi ukuran harimau yang menyerangnya tadi.


“Maksudku, apa yang telah terjadi di sini?”


“Oh, ini hanyalah orang-orang tersesat yang dulunya mencoba datang ke sini. Dan kebetulan kau menginjaknya. Hahaha.”


Zet tak bisa bertanya lagi. Ia hanya mengerang dan mendesis, akibat semua sensasi buruk yang ia terima di indranya luar biasa mengganggu.


“Kau sedang merasakan sensasi dari dunia yang sesungguhnya, Zet. Manusia kerap kali mencegah hadirnya benda dan perasaan yang jelek lagi menyakitkan bagi dirinya. Menutup kelima indra dengan celak dan perhiasan gemerlap, minyak wangi, musik, kain sutera, dan permen gula. Sampai mereka tak bisa lagi menghargai sakitnya orang melahirkan, baunya kotoran mereka sendiri, rasa pahit dari obat, hilangnya warna-warna alam, dan suara teriakan minta tolong dari sesama. Mereka membuat tembok-tembok dan dunia sendiri, semata-mata karena tak mau ikut mengurus dunia yang bobrok. Kau tidak boleh memilih. Kau harus menerimanya. Menerima semua yang telah diberikan dewa.”


Zet menutup mata dan menarik napas. Ia mulai mengendurkan otot-ototnya. Rasa nyeri di kulitnya tetap ada, walaupun tidak senyata yang tadi. Ia mulai terbiasa dengan bau busuk dan pemandangan di sekelilingnya, sehingga lidahnya pun juga mulai mengecap rasa manis.


Si kura-kura menghela napas lega. “Lihat? Betapa sensasi itu sesungguhnya hanya terjadi di dalam pikiranmu dan bersifat sementara. Ketika kau bisa menerima suatu keburukan dan membiarkannya lewat, maka tubuhmu akan mulai merasakan sensasi yang lain—sensasi yang lebih menguntungkan.”


[...]


Udara di hutan semakin terasa nyaman. Zet sampai di telaga yang airnya berwarna biru kehitaman. Seperti inilah seharusnya yang disebut hutan. Tempat naungan kupu-kupu dan hewan kecil lain berkumpul dan bercengkerama dengan suara-suara lucu mereka. Zet jadi ingin tinggal di tempat itu lebih lama lagi. Tentu kalau ia tidak harus mengkhawatirkan keluarganya yang pasti akan kebingungan mencari. Sebentar lagi matahari akan terbenam.


“Kau bisa berenang, Nak?”


Zet mengangguk ragu.


“Yang kau cari ada di dasar air ini. Sesuatu yang berkilauan. Pergilah sebelum bulan datang dan menyembunyikan kalung itu.”


Zet melepas baju zirah, mengambil napas banyak-banyak, dan mencebur ke dalam telaga. Ia tak tahu pasti harus menyelam ke arah mana. Seingatnya, dari gulungan Ayah, arcanum air adalah kalung dengan liontin berbentuk setengah lingkaran. Seharusnya dia memang berkilauan, tetapi sejauh yang Zet lihat hanya ada ikan, bebatuan, terumbu karang, dan tanaman laut. Zet tidak merasakan bahaya, setidaknya sampai ia melihat ada bayangan hitam yang tahu-tahu muncul dari samping kiri. Bayangan itu meluncur dengan cepat ke kanan, menimbulkan gelombang besar dan gelembung yang sangat banyak. Paru-parunya yang sesak adalah alarm bagi Zet untuk segera naik kembali ke permukaan. Namun naas, kakinya terjerat tanaman rumput yang entah sejak kapan mulai melilitnya. Bayangan itu bergerak mendekat, dan yang pertama kali terlihat adalah moncong berkulit keras.


Kulit buaya menggores lengan Zet, sampai pemuda itu berputar. Darah manis yang mengucur bak aroma roti yang baru dikeluarkan dari oven, malah semakin menggugah selera sang buaya. Zet tak bisa banyak bergerak, kepalanya pusing sementara dadanya mau meledak. Buaya itu datang lagi, kali ini dengan mulut terbuka. Dengan sekuat tenaga, Zet mengentakkan kakinya dan berenang lari. Beruntung si buaya kalah gesit. Namun, ada yang membuat Zet terpana selama beberapa detik. Sebuah liontin bersinar di sela-sela gigi taring sang buaya. Yang Zet pikirkan sekarang hanyalah berenang ke atas, membuat buaya lapar itu terpaksa ke darat. Pedang akan membuat Zet jauh lebih unggul.


[...]


Pertarungan Zet dan sang buaya telah berlangsung selama lima menit. Zet memutar otak, tidak mungkin menusuk kepala sang buaya dengan pedang. Pemuda itu mengambil beberapa batu yang cukup besar, melemparkannya sampai buaya itu pingsan.


Dengan hati–hati, Zet menyumpal rahang buaya itu dengan batu, sehingga ia bisa leluasa menarik kalung dari geligi-geligi yang runcing. Liontin itu berwarna biru lazuardi, menyala seperti kristal safir yang memesona, seukuran tiga jari tangan Zet. Di dalamnya terdapat air hitam yang bergerak ke sana kemari saat Zet menggoyangkannya.


Matahari benar-benar tenggelam, dan liontin itu pun mendadak jadi redup seperti batu biasa.


Sang kura-kura datang lagi. “Ini saatnya kau pulang, Nak.”


Zet berterima kasih, dan segera mengenakan pakaiannya kembali.


“Tunggu, siapa nama—”


Ketika Zet menoleh, tak ada siapa pun di sana. Termasuk si buaya. Yang ada hanyalah kunang-kunang, bunyi jangkrik dan katak.


[...]


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-