
Jenderal Pan tahu-tahu datang, membuat Zet kelabakan dan langsung merapikan posisi kakinya. Barulah Pangeran Barra bisa berdiri dan mengusap rambutnya yang masih basah oleh bekas air.
“Apa yang kalian lakukan di sini?!”
“Dia menyerangku!” tukas Pangeran Barra menunjuk Zet.
Zet tak habis pikir dengan tuduhan yang dilontarkan kepadanya itu. Yang benar saja! “T-tidak! S-saya hanya berusaha menghindari serangannya saja, Tuan. Lagi pula untuk apa saya—”
Jenderal Pan mendekati Zet dengan tatapan nyalang. Fakta bahwa pakaian Zet masih rapi seolah berbanding terbalik dengan apa yang barusan ia katakan. Sial, Pangeran Barra melempar senyuman licik di belakang tubuh Jenderal.
Mendapati gelagat Zet hendak menyerang pangeran lagi, Jenderal Pan menahan bahu Zet. “Kau seharusnya beristirahat dan siap-siap, bukan malah berkelahi di sini,” tutur Jenderal Pan selanjutnya. “Raja Taraghlan sudah menyatakan kesetujuannya. Sebentar lagi kau akan kuantar menemui ibumu.”
Kejengkelan Zet mendadak sirna. Ada kelegaan tersendiri saat mendengar kabar baik tersebut. Namun, seolah ia tak dibiarkan merasa senang barang sejenak saja, Pangeran Barra melempar isyarat mata kepada Zet, saat Jenderal Pan mengajaknya pergi. Rahasia Zet akan menjadi tujuan perburuan Barra berikutnya.
[...]
Dada Zet bergemuruh ketika ia diantar Jenderal Pan menuju penjara bawah tanah. Jantungnya berdetak kencang saat menuruni lorong gelap. Tak sekali pun Zet pernah bertemu, bahkan tahu-menahu mengenai kabar ibunya, sejak sepuluh tahun terakhir. Apa yang harus ia katakan. Apakah ibunya akan pangling?
Sampailah mereka di depan jeruji besi. Jenderal Pan memerintahkan penjaga untuk membukanya. Suhu di bawah sini menurun drastis dibandingkan saat masih di atas tadi. Setelah melewati lima jeruji berisi narapidana, Jenderal Pan akhirnya berhenti.
Seolah dilempar kembali ke masa lalu, wajah Rhea yang kini tampak lebih tirus, menatap mata Zet dengan binar harapan yang tiba-tiba menguat. Wanita itu tampak masih tak percaya melihat putranya ada di sini. “Zet!” pekiknya dengan semringah. Perasaan senang dan sedih kini tercampur aduk jadi satu. “Kau tak apa-apa, kan? Bagaimana dengan Ayah, Deon, dan Oxi?”
Zet menyeka matanya yang berkaca-kaca, lalu menangkap jemari ibunya yang keluar sebagian di antara dinding sel. Jenderal Panthera membiarkan keduanya menghabiskan waktu kunjung yang sangat singkat itu.
“Kami baik-baik saja,” jawab Zet. Ujung matanya menangkap makanan yang belum tersentuh. “Di sini dingin sekali. Apa kau makan dan tidur dengan baik, Bu? Sehat-sehat saja, kan?”
“Syukurlah kalau begitu. Ah, ya, aku tidak apa-apa, Zet, jangan khawatir.” Rhea meraih dan mengelus rambut pendek Zet. Ingin sekali rasanya mencium dan memeluk darah dagingnya itu seperti dulu. Sayangnya jeruji besi membuat harapannya itu mustahil. “Kau tidak dapat masalah, kan?”
Seperti pepatah bilang, tak ada yang bisa disembunyikan seorang anak kepada ibunya. Zet sebenarnya sangat ingin bercerita mengenai arcanum, kepada orang yang pernah mengendalikannya secara langsung. Namun, ia khawatir kalau dinding di tempat ini punya telinga. Banyak penjaga, termasuk Jenderal Pan di luar sana yang bisa saja merekam percakapan dalam ingatan mereka, lalu melapor bila ada yang menarik perhatian.
Tawa kecil mereka sempat mewarnai sudut penjara yang abu-abu. “Oh, ya, barangkali Ibu bertanya-tanya kenapa Raja membolehkanku datang menjenguk. Jadi, aku dapat kesempatan untuk masuk Perguruan Langit Angkasa dan jadi Prajurit Bintang. Raja Taraghlan sendiri yang memilihku.”
Sejenak raut muka Rhea tampak terkejut, tetapi senyuman yang sempat pudar tersebut segera tersungging kembali. Matanya berbinar bangga. “Betulkah? Kau memang putra kesayangan Ibu yang paling hebat!”
Zet menerima pujian dengan senang hati, tak peduli jika percakapan itu tak lebih seperti seorang ibu yang bicara kepada anak kecil berusia delapan tahun. Faktanya, Zet memang sedang ingin mengulang kembali masa-masa itu. Masa di mana dunianya masih terasa lengkap.
Bayang-bayang itu dihentikan oleh aba-aba dari para penjaga. Setelah pertemuan singkat itu, Zet berjanji akan lebih sering pergi ke Kerajaan Kubah Malam dan menengok ibunya.
[...]
Kunjungan Zet di Kubah Malam ditutup dengan sarapan sederhana yang hanya ia lakukan bersama sang ayah. Saat meninggalkan pintu gerbang, Zet kembali menengok ke belakang. Merasakan kesedihan karena dua hal. Pertama, karena tentu saja ia tak bisa membawa ibunya turut serta. Kedua karena Putri Catriona yang tak pernah muncul lagi. Zet hanya takut kalau kemarin itu adalah pertemuan terakhirnya dengan sang putri.
“Bagaimana kondisi ibumu?”
Zet melempar muka sambil berjalan menuju kereta. Sejak kapan Ayah peduli dengan Ibu? Bahkan saat Zet berusaha menemui ibunya kemarin, pria itu sepertinya sama sekali tak berusaha untuk ikut serta. Itu membuat daftar kesedihan Zet bertambah menjadi tiga.
“Dia masih hidup kok,” jawab Zet singkat.
Aeron mendesah pelan sambil agak kesusahan mengambil tempat duduk. Kereta mereka jauh lebih sempit dari kemarin. Zet sampai sekarang masih bertanya-tanya, mengapa Aeron bersikap dingin dan setega itu kepada ibunya. Dengan perasaan buruk yang campur aduk, Zet menopang dagu melihat keluar jendela. Sementara Aeron tak berkata apa-apa lagi, dan membiarkan suara kaki kuda melebur dengan riuhnya kota di pagi hari.
Namun tanpa sepengetahuan mereka, pengemudi kereta sesekali melirik ke belakang, memastikan bahwa kedua penumpang itu tak menaruh curiga pada dirinya, yang menutupi wajah dengan kain hitam dan mengenakan topi lebar dan juga jubah panjang. Setelah yakin akan hal itu, pengemudi itu tersenyum licik sambil kembali melihat jalan. Ia akan pastikan kali ini Zet tidak akan lolos darinya.
[...]
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-