
Empat jam dihabiskan hanya untuk mencari gua yang dilihat Zet dalam mimpi. Sesekali rombongan itu harus berhenti, sebab Zet harus kembali mencari jalan menuju ke tujuan. Saat menemukan bebatuan besar di tanah gersang, mereka hampir tidak percaya seorang pangeranPERSEN akan bersembunyi di tempat seperti ini.
“Keluarlah!” teriak Zet, “Aku tahu kau ada di dalam sana.”
Tak ada jawaban setelah beberapa detik. Beberapa orang prajurit maju, tetapi Zet menyergah mereka. Zet ingin menemui pangeran tersebut dan berbicara baik-baik. Kehadiran prajurit hanya akan mempersulit negosiasinya. Pangeran Barra akhirnya keluar dengan hati-hati. Tatapan matanya liar seperti orang gila. Tangan kanannya segera mengacung, ada belati yang ujungnya mengarah kepada Zet. “Pergi! Atau aku akan menghancurkan arcanum ini.”
Zet menggeleng, sambil mundur selangkah. “Jangan. Kau sendiri tidak tahu apa yang terjadi kalau arcanum dihancurkan, Barra.”
“Oh, ya?” Pangeran Barra tersenyum frustrasi. Matanya menatap Zet, seakan mau menelannya bulat-bulat. “Aku tahu apa yang akan terjadi! Kau tidak akan menjadi master Arcana! Tidak akan ada lagi yang bisa!”
“Tidak. Bukan itu yang engkau inginkan, Pangeran Barra,” ucap Zet pelan. Pada akhirnya mereka hanya berdialog, meskipun disaksikan oleh beberapa pasang mata di tempat itu. “Putri Catriona telah mengatakan semuanya kepadaku. Kau ..., tidaklah lemah seperti apa yang kaupikirkan. Kenyataannya, kau bisa jauh lebih kuat. Tapi kau salah jalan, bukan begini caranya menjadi kuat.”
Air mata Pangeran Barra mulai meleleh. Tangan kanannya gemetaran memegang pisau, sementara genggaman di tangan kiri pada liontin biru gelap itu mengeras, seperti hatinya. “Tahu apa kau, dasar sialan! Seumur hidupku, Ayah dan Ibuku selalu mengatakan kalau aku bodoh, pecundang, dan mengecewakan. Aku tak akan bisa jadi raja seperti dia. Kenyataannya, aku cuma bisa menghancurkan segala sesuatu saat menggenggamnya, termasuk kerajaan ini.”
Zet ikut merasakan kepedihan itu. Pada akhirnya, mereka berdua adalah sama-sama si payah yang berusaha menolak kenyataan. “Tidak, Putri Catriona saja percaya padamu. Kau juga harus percaya pada dirimu sendiri, Pangeran. Aku, kami semua percaya kepadamu.”
Pangeran Barra bergumam, matanya melamun, “Kau berbohong. Bahkan Catriona sendiri meninggalkanku. Dia tak sudi menemuiku di sini. Mundur, atau aku akan menghancurkan benda tak berguna ini!”
Zet mulai geram. “Kau yang mencampakkan adikmu lebih dulu! Kau melupakannya, bahkan tak mengakui pemberian darinya. Sekali-kali, coba pikirkan orang lain, dan bukan hanya dirimu sendiri!”
Air mata berhenti. Pangeran Barra tetap menyiapkan tangan kanan untuk menusuk liontin di tangan kirinya. “Tidak, kau memang tak tahu apa-apa, Zet. Seumur hidupku telah kuhabiskan waktu untuk belajar bagaimana menyenangkan orang lain. Memenangkan hati rakyat, seperti yang Ayah selalu bilang. Tapi, tak ada yang peduli, dan bertanya, apa aku mau melakukannya? Tidak ada! Tidak ada yang peduli, ‘kan?!”
“Kau memang tidak berguna!” Suara Zet berubah menjadi berat, seolah ditimpa oleh suara orang lain. “Kau hanya akan menghancurkan apa yang kau pegang, sama sekali tak layak menjadi raja!”
“Kumohon ...,” Pangeran itu menangis di bawah kaki Zet yang terangkat. Beberapa jam terakhir, ia telah memikirkan cara untuk mengakhiri ini semua. Namun, dalam detik yang terlipat cepat tersebut, ada keinginan di hati kecilnya untuk melihat kembali adiknya, Catriona.
“Aku akan menghabisimu, sebelum ambisimu sendiri yang melakukannya.”
Tak ada harapan lagi. Pangeran Barra hanya bisa memejamkan mata sembari mulutnya meringis. Alih-alih ada bongkahan es raksasa yang menancap di dada Pangeran, Zet masih menunjukkan belas kasihan. Kekuatan mengerikan itu surut perlahan, dan Pangeran Barra memberanikan diri untuk membuka mata beberapa saat kemudian.
Tangan terulur, Pangeran Barra masih ragu untuk menerimanya. “Kenapa kau tidak membunuhku saja.”
“Agar kau belajar lebih banyak lagi.” Sang Pangeran berdiri dengan kekuatannya sendiri. Ia melihat para Prajurit Bintang yang akan mengawalnya pulang, salah seekor kuda meringkik. “Ayo, kita pulang.”
Zet sudah berbalik, tetapi Pangeran Barra tetap bergeming di tempatnya. “Tidak, biarkan aku pergi. Aku tak mau lagi kembali ke rumah. Mereka akan mengurungku di sana dan membuatku semakin gila.”
Suara itu terdengar jauh lebih kuat dan lebih hidup dari yang sebelumnya. Zet berpikir, mungkin memang pilihan itulah yang terbaik bagi Barra. Sesekali, ia harus merasakan bagaimana keluar dari kastel dan benteng-benteng yang membatasi pandangan. Dunia adalah arena belajar yang amat luas. Suatu saat, ia akan kembali dengan cakrawala yang semakin terbuka. Barra berangkat dengan seekor kuda putih saat senja datang. Zet percaya kepadanya.
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-