
Seumur hidupnya, belum pernah zet segelisah ini saat menumpang kapal layar udara.
Pasalnya, kapal layar udara ini berbendera Ular Pasir dan memang sedang terbang menuju negeri yang sedang bersitegang dengan Negeri Empat Musim itu.
Kalau sampai Zet setegang itu, itu berarti hubungan antara Ular Pasir dan Empat Musim sungguh tengah memanas, bukan isapan jempol dan isu palsu yang disebarkan Rick Oakes saja.
Itu sebuah perang rahasia yang amat singkat di mana Zet bangkit sebagai pahlawan yang amat terkenal. Sedangkan Pasukan Ular Pasir pulang dengan menanggung aib, rasa malu dan dendam yang amat mendalam.
Serangan diam-diam Ular Pasir itu terjadi dua bulan setelah Zet kembali ke negerinya. Kasusnya dengan Pangeran Barra sudah tuntas dan ia mendapat bea siswa penuh dari Raja Taraghlan dari Negeri Kubah Malam untuk kuliah di Perguruan Tinggi Langit Angkasa. Itu berarti tujuh bulan sebelum ia mulai sibuk di bangku kuliah.
Waktu itu, Zet sedang sibuk-sibuknya mengejar pelajaran sekolah, yang sempat terbengkalai karena ia tengah melakukan perjalanan ke Negeri Kubah Malam dan segala peristiwa dan kasus yang terjadi di sana.
Tanpa deklarasi perang, tanpa peringatan atau apa pun, tiba-tiba saja Sultan Jalaluddin dari Ular Pasir mengirimkan pasukan kecil berjumlah dua ratus orang untuk menyerbu Pilar Pualam, kota tempat tinggal Zet dan Keluarga Dionisos di Negeri Empat Musim.
Kota yang semula adalah negeri mandiri dan jadi taklukan Empat Musim itu tak terlalu siap menghadapi serbuan dua ratus penunggang kuda bersenjata lengkap itu. Musuh dengan mudah berhasil menerobos lewat gerbang tembok kota.
Pemimpin pasukan Ular Pasir, Mukhtar berseru, “Cepat, cari kediaman Keluarga Dionisos! Obrak-abrik dan geledah setiap rumah bila perlu! Sasaran kita adalah Rhea dan putranya Amazeta. Bunuh mereka, lalu rebut arcanum air dari tangan salah satunya!”
“Siap, Komandan!” seru para anak buahnya hampir serempak.
Maka, serangan kecil yang disebut skirmis itu meletuslah.
Pasukan Ular Pasir berpencar ke seluruh kota untuk mencari sasaran mereka. Tapi karena mereka tak kunjung menemukan kediaman Zet, akhirnya seluruh pasukan berkumpul kembali dan menyerbu sekalian ke tiap gedung besar di kota.
Entah didorong keberanian anak muda, kenekatan atau teringat kisah saat Rhea pasang badan di antara pasukan Ular Pasir dan Kubah Malam dan mencegah pertempuran berdarah, Zet bertindak sendirian menghadapi pasukan Ular Pasir sendirian, bermodalkan arcanum air.
Zet lantas berseru, “Berhenti kalian! Apa-apaan ini? Apa kalian tak sadar, serangan diam-diam dan mendadak seperti ini sama saja merusak perdamaian yang telah diciptakan lewat pengorbanan besar ibuku?”
Mukhtar menghardik, “Memangnya kau ini siapa? Nekat sekali anak ingusan sepertimu cari mati, menantang dua ratus orang sendirian!”
“Namaku Amazeta Dionisos! Tarik mundur pasukanmu sekarang, kalau tidak jangan salahkan aku bertindak kejam!”
“Amazeta?” Si komandan tersentak. “Oh, kebetulan! Sasaran utama datang sendiri mengantar nyawa dan arcanum air. Tentu kau membawa itu, bukan?”
“Tentu saja! Aku takkan begitu gila menantang satu pasukan kalau tak yakin menang,” jawab Zet. “Dasar biadab, mengerahkan satu pasukan dan mengacau kota demi arcanum menyebalkan ini.” Ia menunjuk ke dadanya sendiri, di posisi tempat kalung arcanum air berada.
“Serahkan saja nyawamu dan arcanum itu baik-baik, supaya tak ada lagi yang dirusak dan tak ada darah yang tertumpah.”
“Enak saja,” jawab Zet, menodongkan pedangnya lurus-lurus ke arah si komandan. “Kalian orang Ular Pasir tak tahu malu, memakai cara pengecut untuk mengeroyokku dengan dua ratus orang. Padahal ibuku pernah mengampuni kalian dan Sultan kalian sekaligus! Kalian bilang Kubah Malam amat berbahaya, tapi ternyata kalian Ular Pasir tak lebih baik daripada mereka! Mau merebut arcanum ini? Langkahi dulu mayatku kalau kalian sudah ingin jadi mayat!”
“Kurang ajar!” Mukhtar berseru sekuat suara. “Justru kaulah orang paling berbahaya di dunia ini, karena kau menguasai arcanum! Tak salah. Sultan Jalaluddin terpaksa harus mengerahkan pasukan, karena kalau kau tak terlalu berbahaya, satu orang Kalajengking Hitam saja sudah cukup untuk melenyapkanmu! Pasukan Ular Pasir, serbu dan bunuh Amazeta Dionisos!” Seluruh pasukan maju serempak.
Lagipula Zet tak sendirian. Ia didampingi hantu Yun Lao yang berseru, “Sekarang, kerahkan jurus Gelora Ombak Samudera!”
“Baik, Guru!” Seketika, Zet mengaktifkan arcanum air dan menyabetkan pedang pendeknya dari bawah ke atas secara vertikal. Sebentuk ombak raksasa membubung dan menerjang lurus ke arah kerumunan pasukan Ular Pasir.
Daya kinetik dari terjangan ombak dan energi air arcanum tak ayal menghantam dan melontarkan Mukhtar beserta para prajurit, mulai dari barisan terdepan.
Namun karena tenaga dalam dan energi sejati, Zet sendiri masih di tingkat tiga, gelombang air itu hanya menjatuhkan saja prajurit-prajurit di barisan tengah dari kuda masing-masing saja dan memukul sebagian pasukan di barisan belakang.
Alhasil, tinggal kira-kira separuh pasukan musuh saja yang masih bisa berdiri dan kembali duduk di pelana dari dua ratus penunggang kuda Ular Pasir itu.
Layaknya seorang komandan yang memang seharusnya tangguh, Mukhtar bangkit dengan susah payah, lalu muntah darah. Melihat kudanya sudah ikut bangkit pula, secepat mungkin ia menungganginya lagi.
Melihat Zet masih berdiri tegak, Mukhtar si komandan berteriak amat murka, “Serbu lagi! Pantang pulang tanpa membawa kepala seluruh Keluarga Dionisos!”
Kali ini giliran wajah Zet yang pucat. Energi yang ia pakai habis untuk mengerahkan jurus dahsyat tadi belum terisi kembali, dan ia harus melakukan itu lewat pergerakan dan bertarung mengandalkan kekuatan fisik saja.
Masalahnya, fisik Zet tak begitu kuat, jadi andalannya tinggal arcanum air saja.
Untunglah Zet tak harus mengerahkan seluruh energi arcanum yang belum terisi penuh sejak “diledakkan” dua bulan yang lalu saat menghadapi Pangeran Barra. Ia memilih mengalirkan energi arcanum itu pada bilah pedangnya.
Target Zet hanya satu, yaitu pemimpin pasukan.
Mukhtar berderap dengan kudanya di depan, berjarak dua tombak dari pasukan di belakangnya. Masuk jarak serang, ia menyabetkan pedang berbilah lengkungnya yang disebut skimitar ke arah Zet sambil berseru, “Mati kau, penghina Ular Pasir!”
Alih-alih menangkis, Zet memilih berkelit. Bilah pedang Mukhtar sempat menyerempet sisi kanan tubuh Zet dan meninggalkan luka goresan di kulit dada Zet. Itu harga yang pantas, karena Zet langsung mengkompensainya dengan berputar sambil melompat. Bilah pedang pendeknya berputar selaras dengan putaran tubuhnya, lalu menyabet secara horisonal tepat di leher Mukhtar.
Walau lehernya tak sampai terpenggal, si pemimpin pasukan Ular Pasir itu jatuh lagi dari kudanya dan tertelugkup, terkapar di tanah. Yang bergerak hanya darah yang menggenang dari posisi lehernya saja.
Melihat Mukhtar tewas dengan satu sabetan pedang saja, nyali para anak buahnya ciut seketika, mereka menghentikan derap kuda masing-masing dengan mendadak. Dua penunggang bahkan jatuh dari kuda akibat entakan yang terlalu keras.
“Kembali ke negeri asal kalian sekarang juga! Kalau tidak, kalian pasti akan bernasib sama dengan komandan dan rekan-rekan kalian, jadi arwah penasaran!”
Dihardik sekeras itu, kehilangan pemimpin, apalagi melihat bilah pedang Zet yang masih penuh energi dan darah, mau tak mau para prajurit Ular Pasir yang tersisa berputar balik seketika dan memacu kuda-kuda mereka ke segala arah, melarikan diri dengan formasi kacau balau. Akibatnya, sedikitnya dua orang yang tak sempat atau tak bisa menunggangi kuda-kuda mereka terinjak-injak sampai tewas oleh kuda-kuda para rekannya.
Pada akhirnya, tinggal Zet sendirian yang masih berdiri di “medan tempur”. Ia menghela napas lega sejenak, tapi lagi-lagi napasnya sesak. Gara-gara arcanum air, seumur hidupnya Zet baru sekarang membunuh orang sebanyak ini. Termasuk komandan Mukhtar, jumlah prajurit Ular Pasir yang gugur akibat serangan Zet itu lebih dari dua puluh orang.
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-