
Tanpa bisa Zet duga, ibunya telah merencanakan untuk kabur sejak lama. Sepuluh tahun memang bukan waktu yang singkat. Kedatangan Zet, yang membawa serta berita ancaman perang dari dunia luar, membuat Rhea semakin memantapkan diri. Motivasi dan optimisme Zet untuk kabur pun semakin bertambah tatkala tahu mereka juga sudah merencanakan perahu, yang akan menjemput dan membawa mereka kabur ke pulau tak berpenghuni di sebelah Barat Laut dari peta.
Pukul tujuh lewat dua menit malam hari, keributan terjadi di bagian Barat penjara. Zet tahu itu adalah sinyal untuknya berdiri, dan dia pun menunggu Singh datang membawa kunci untuk membuka pintu selnya. Sambil mengendap-endap, ia dan ibunya ikut dengan beberapa rombongan orang yang kabur. Para penjaga sibuk menenangkan huru-hara di Barat, ditambah lagi penjaga yang baru belum datang.
Berkat kunci duplikat milik Singh, pintu penjara berhasil dibuka. Satu per satu dari mereka keluar dari penjara tersebut. Mereka merayakan secara singkat kebebasan itu dengan bersorak dan berpelukan. Walaupun tak bisa lama-lama. Saat Zet keluar, seorang perempuan berpakaian serba putih datang sambil melontarkan tanah dan mengenai salah satu narapidana. Dari arah lain, tersembur pula api yang menyala kebiruan.
“Penyihir!” pekik mereka sembari berusaha lari dari kobaran api dan lemparan batu.
Rhea melompat sembari menggulungkan air dengan volume yang sangat masif. Kekuatannya langsung kembali selepas keluar dari penjara. Zet sempat terkesima, lalu tersentak, begitu ibunya berteriak, “Lari!”
Zet sebenarnya ingin ikut bergabung ke rombongan yang sudah sampai di perahu, tetapi ia tak mau meninggalkan ibunya. Ia menoleh, berniat membantu Rhea yang bertarung melawan dua orang penyihir. Namun, para penjaga tampaknya sudah sadar kalau mereka sedang ditipu. Mereka segera menyerbu Zet dari samping. Pemuda itu jatuh terjerembap, lantas menghindari sabetan dan tusukan tombak dari penjaga.
Es membekukan tombak dan membuat para penjaga terpental. Rhea datang membantu Zet berdiri, kemudian mereka sama-sama lari menuju perahu. Sayangnya, betis Rhea terkena panah. Ia mendesis kesakitan dan kesusahan bergerak. Saat Zet mencoba membopongnya, Rhea menolak dan menyuruhnya untuk pergi saja. Mata Zet berkaca-kaca. Ibunya berencana mengorbankan diri lagi. Bangunan-bangunan es muncul dari tanah dan menyapu para penyihir yang mulai berdatangan. Zet didorong lengan air dari Rhea ke arah perahu. Orang-orang meneriakinya agar segera naik, karena mereka akan berangkat. Namun Zet, bersikeras untuk membantu ibunya.
Saat ia mulai merapal mantra, tiba-tiba saja ada panah yang memelesat menancap di leher. Tak lama, pandangan Zet pun kabur. Ia tak bisa menahan kantuk yang luar biasa menyerang. Terakhir yang ia dengar adalah teriakan dari segala arah, yang bercampur aduk. Menggema di permukaan kegelapan.
[...]
“Putri Catriona?!”
“Zet, maaf aku harus memberimu ramuan tidur tadi.”
Pemuda itu merapikan postur duduknya. “A—apakah Anda sendirian?”
“Ya, aku menyelamatkanmu.”
Zet segera ingat sesuatu, kemudian ia berusaha untuk merangkak ke tepi. “Aku harus membantu ibuku!”
Putri Catriona menahan tubuh Zet agar pemuda itu tak dengan ceroboh menceburkan diri ke tengah perairan. Sang Putri menarik Zet yang tengah berusaha menahan tangis. Air mata menggenang di pelupuknya, tetapi ia berusaha untuk menyembunyikannya dari Tuan Putri. Putri Catriona memberikan pelukannya sepenuh hati. Rasa malu Zet kini terkalahkan oleh kepedihan yang tiba-tiba menggelayut. Dan akhirnya, terisaklah pemuda itu di balik kepala Catriona. “Aku minta maaf, aku turut berduka, Zet.”
Zet tak ingin membiarkan hatinya tergerus dan makin hancur. Ia tak ingin tampak lemah di hadapan Putri Catriona. Disekanya air mata itu, saat Tuan Putri menatap mata ungunya. Tak berselang lama, perahu sampan mereka bergoyang. Air bergejolak. Dan dari dalam danau itu muncullah kepala binatang yang sangat tinggi dan besar. Ombak mengguyur tubuh Zet dan Catriona. Tuan Putri menjerit ketakutan di balik kaki Zet. Tak ia sangka, monster air bukan hanya isapan jempol atau mitos semata. Monster itu berbentuk ular raksasa yang mempunyai sayap mengembang seperti buntut merak. Hewan itu menatap keduanya dengan mata kuning yang membelalak lebar.
Dengan tatapan penuh amarah, Zet melampiaskan emosinya dan membentuk badan air yang sangat besar. Bahkan tanpa arcana sekalipun, Zet bisa mengendalikan air sebanyak itu. Hampir sebuah kemustahilan. Putri Catriona menyaksikannya dengan mata nanar dari perahu kecilnya yang ikut terombang-ambing. Kaki Zet mulai terangkat naik bersamaan dengan badan air yang pemuda itu buat. Zet menciptakan naga dari air berukuran lima belas kaki, bermaksud membuat lawan yang setara.
Dari atas kepala naga air tersebut, ia pun menyemburkan tembakan pertama, mengenai sirip si monster ular laut. Monster pun memekik keras-keras. Zet tak akan membiarkan monster itu lolos, ia mendekat, seraya menyemburkan air secara berkala. Namun monster itu menghindari serangannya yang terakhir. Dengan kecepatan yang tidak Zet duga, ular laut menyelam dan menghancurkan badan air milik Zet dari dalam air. Lelaki itu hampir saja masuk ke dalam mulut sang monster yang membuka lebar. Gigi yang runcing membuat punggung Zet menggelenyar, membayangkan betapa tajamnya benda itu jika sampai mengenai kulit.
Berkas air yang besar membuat mulut ular itu terkatup dengan paksa, lantas terlempar menjauh. Zet membuat naga air baru, dengan tangan yang satunya. Namun, ia tak bisa membuat sebesar yang tadi. Tanpa arcanum, kekuatannya sangat terbatas. Ia pun berencana untuk kabur saja dengan mana yang tersisa. Zet menghampiri perahu Catriona yang tidak stabil. Sialnya monster ular air diam-diam membuntutinya dari dalam. Monster ular itu tahu-tahu muncul sebelum Zet berhasil meraih tangan Sang Tuan Putri. Zet terpental di udara, sementara matanya menangkap perahu yang terbalik, Putri Catriona tercebur ke air. “Sial!” pekik Zet, lantas membiarkan tubuhnya masuk ke air.
Mata Zet mencari-cari tubuh Tuan Putri di tengah gelapnya malam, dan dinginnya air laut. Ia berenang melingkari si monster ular, secepat yang ia bisa. Zet menemukan Tuan Putri yang tubuhnya mulai tenggelam. Sudah Zet duga, Putri Catriona tidak bisa berenang. Zet mempercepat gerakan tubuhnya, meraih tangan ringkih perempuan itu, dan menarik tubuh keduanya ke atas.
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-