The Master Of Arcana

The Master Of Arcana
67: KEMBALI KE HUTAN REGENERASI



Zet duduk dengan mata terbelalak di kantor Guru Kashmir, tak bisa mempercayai pendengarannya.


“Benarkah itu, Guru Kashmir?” tanya Zet. “Bagaimana bisa?”


“Biar kujelaskan duduk perkaranya,” jawab Kashmir. “Tapi sebelum aku mulai, jawablah dulu pertanyaanku ini. Apakah benar kau dan Filian pernah membantu Nina Gnossis dalam misi di Hutan Regenerasi?”


Zet tak segera menjawab. Ia sebenarnya tak pernah ingin ikut campur dalam masalah-masalah paling pelik di Universitas Langit Angkasa saat ini, apalagi yang berbahaya. Tapi Nina menyeretnya ke dalam masalah di Hutan Regenerasi. Misi mereka ternyata gagal, namun Zet berkesempatan untuk berkenalan dengan Rektor Universitas Langit Angkasa, Minerva Kaleos.


Zet akhirnya menjawab, “Ya.”


“Baguslah kalau kau jujur,” sambut Kashmir. “Jadi aku tak perlu lagi menjelaskan panjang-lebar tentang kasus pembusukan di Hutan Regenerasi. Nah, ternyata sampai sekarang pembusukan itu belum teratasi, malah makin menggila dan meluas.”


“Apakah sumber masalahnya belum ditemukan?”


Kashmir menggeleng. “Belum. Karena ini sudah amat berlarut-larut, Minerva untuk pergi sendirian ke hutan itu. Karena ia adalah sosok paling sakti di Langit Angkasa saat ini, seharusnya kekuatannya sendiri sudah cukup untuk mengatasi krisis yang ada.


Tapi sejak dua hari yang lalu sampai sekarang belum ada kabar darinya. Kami berasumsi Rektor telah menghilang, jadi terpaksa kami mengutus sosok nomor dua paling sakti di Langit Angkasa untuk menolongnya.”


“Siapakah sosok itu?”


“Itu adalah kamu, Amazeta Dionisos.”


Zet terkesiap. “Bagaimana bisa? Dalam misi yang lalu, aku benar-benar kewalahan. Lagipula dalam kuliah sihir atau apapun, kemampuanku hanya biasa-biasa saja.”


“Itu karena kau tak menggunakan arcanum air milikmu,” jawab Kashmir. “Ya, aku tahu sepak-terjangmu sebelum kau masuk Universitas Langit Angkasa. Termasuk saat kau memberi pelajaran pada Pangeran Barra yang manja itu.”


“Berita memang cepat tersebar. Apalagi berita bohong tentang serangan diam-diam Ular Pasir ke Empat Musim dan aku yang mencegahnya. Padahal ceritanya jauh berbeda.”


“Aku juga menyadari itu, karena aku juga berasal dari negeri sekutu Kubah Malam, yaitu Seribu Tangan. Aku terlalu sibuk untuk menyelidiki siapa penyebar isu palsu dan musuh-musuh baru itu, jadi kau sendirilah yang harus meluruskan itu semua kelak. Tapi sekarang misi teramat penting inilah yang harus kaujalani.”


“Ya, Guru,” tanggap Zet sambil tertunduk dan menegadah lagi. “Tapi apa boleh aku mengajak Filian dan satu orang teman lagi untuk membantuku? Dari pengalaman kali lalu dan Bu Minerva sampai menghilang, misi ini pasti bakal sangat berbahaya.”


“Silakan ajak Filian,” jawab Kashmir. “Tapi siapakah temanmu yang satu lagi?”


“Namanya Kimiko Maru. Ia adalah seorang ninja asal Negeri Sakura Ungu.”


“Ah, rupanya mahasiswi favorit di kelas Ilmu Tenaga Dalam Gordon Bleumont. Aku setuju. Tapi kukira tadi kau akan menyebut nama seorang temanmu yang lain lagi.”


Zet terkesiap. “S-siapa?”


“Kau boleh tampil sekarang, Nina,” kata Kashmir tanpa menoleh. Dari balik tirai di sisi lain kantornya, keluarlah seorang gadis berambut jingga, ikal dan mengembang seperti semak-semak, berkacamata dan berwajah lumayan manis. Ia adalah Nina Gnossis.


Zet tak terlalu heran melihat Nina, jadi ekspresi wajah dan reaksinya tak kentara.


“Tak kusangka kau tak berniat mengajakku, Zet,” ujar Nina ketus. “Padahal sihir api milikku pasti bakal amat berguna untuk misi kita nanti. Kan aku yang mengajakmu dalam misi ke Hutan Regenerasi kali lalu. Tega sekali kau.”


Zet memilih tak menanggapi Nina. Toh selama ini ia merasa dirinya tak cocok bergaul dengan gadis sok tahu segalanya, serba serius dan serba logis itu. Kesimpulannya, Nina menyebalkan. Walau masih bisa diajak bekerja sama, sikap Nina itulah yang membuat Zet enggan mengajak gadis itu dalam misi kali ini.


Tapi tetap saja Guru Kashmir menghadirkan Nina, jadi “si pengganggu” itu muncul lagi. Sesakti apapun Nina sebagai penyihir, kecerewetan dan sikapnya yang suka mengatur-atur itulah yang amat mengganggu bagi teman-temannya yang lain.


Sambil menggelengkan kepala, Kashmir melanjutkan arahannya. “Aku tak mau tahu apa yang terjadi di antara kalian berdua. Yang terpenting, selamatkan Rektor Minerva, baru mencoba mengatasi kasus Hutan Regenerasi bilamana mungkin.”


“Bagus. Terserah apakah Kimiko dan Filian menerima ajakanmu atau tidak, kalian, Zet dan Nina harus bekerjasama. Datanglah ke Gerbang Timur Laut pagi-pagi sekali besok. Petugas akan menunggu sampai kalian datang, lalu membuka gerbang sebentar saja. Kita tak mau pembusukan itu menjalar sampai masuk ke dalam kompleks kampus dan menjangkiti para mahasiswa, kan?”


“Benar, Guru Kashmir,” kata Nina. “Hutan Regenerasi sudah entah berapa lama terisolasi. Para mahasiswa Mata Kuliah Botani sudah lama pula mengeluh karena mereka tidak bisa praktek, jadi sayang kan kalau sampai tak ada lulusan baru calon ahli botani tahun ini.”


Zet tak sepenuhnya menyimak kata-kata Nina itu. Hanya ada dua hal dalam pikirannya, yaitu bagaimana ia dan regunya bisa menyelamatkan Minerva Kaleos dan mengatasi potensi ancaman bencana bagi Langit Angkasa itu. Menurut firasatnya, ini jauh lebih besar dan lebih mematikan daripada sekedar membantu para mahasiswa botani saja.


Mencegah bencana pandemi biologis.


 


 


\==oOo==


 


 


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali...


Empat sosok manusia tengah melangkah di jalan setapak, menyusuri rerimbunan pohon-pohon yang tinggi nan lebat di Hutan Regenerasi. Langit nyaris tak kelihatan dan udara sedikit lembab, namun tak ada tanda-tanda pembusukan sejauh mereka berjalan.


“Jadi hanya itu saja misinya, bukan?” tanya Filian sambil menoleh takut-takut ke kiri-kanan. “Mencari Rektor Minerva dan membawanya pulang ke kampus?”


“Ya,” jawab Zet. “Kecuali bila ada kesempatan untuk mengatasi masalah pembusukan di Hutan Regenerasi ini. Mau tak mau kita harus mengambil kesempatan itu.”


Kimiko Maru setuju membantu Zet tanpa protes sedikitpun.. Ia berkata, “Supaya lebih cepat, biar aku maju lebih dahulu untuk mengamati keadaan di depan kita. Kalau aku menemukan Bu Rektor atau apapun yang penting atau berbahaya, aku akan langsung kembali dan memberitahu kalian.”


Nina protes, “Tunggu dulu, Kimiko! Kau harus tetap berada dalam formasi regu kita. Kalau musuh menyerang mendadak, bantuanmu pasti akan diperlukan!”


Zet menghardik penuh wibawa, “Nina! Apa kau lupa kalau Guru Kashmir telah menunjuk aku sebagai pemimpin regu, bukan kamu! Kau boleh saja memberi saran dan usulan strategi, mengingat kau yang paling paham kondisi hutan ini. Tapi keputusan akhir tetap di tanganku, dan kau tak berhak untuk melangkahiku!”


“Jadi apa keputusanmu, wahai ‘pemimpin regu’?” sergah si gadis berkaca mata bulat itu.


“Silakan lakukan pengintaian, Kimiko. Berhati-hatilah, kami mengandalkanmu,” ujar Zet.


Kimiko mengangguk cepat sambil tersenyum. Ia lantas menaikkan semacam cadar yang menyatu dengan bagian leher kostum ninjanya, menutupi wajahnya dari pangkal hidung ke bawah. Lalu ia melesat lari bagaikan angin ke depan sampai sosok mungilnya lenyap dari pandangan mata.


Tinggal Nina yang menggerutu. “Kau salah, Zet! Belajarlah dulu dari orang yang berpengalaman, jangan...!”


Malah Filian yang menyeret Nina ke belakang bersamanya. Teguran darinya malah lebih keras lagi, cenderung kasar. “Nina, kalau kau masih ingin jadi teman kami dan bekerja sama dengan kami, tutup mulut pedasmu itu. Sekali lagi kau bertingkah, aku akan melumpuhkanmu dan melaporkan dirimu pada Guru Kashmir.”


Nina hanya bisa menggerutu sendiri. Setelah beberapa saat ia berkata, “Kurasa ada yang aneh di sini. Guru Kashmir berkata bahwa pembusukan di Hutan Regenerasi sudah menyebar amat luas. Tapi coba kalian lihat ke sekeliling, pepohonan di sini tampak masih segar dan udaranya pun masih segar, tak ada bau busuk yang tercium. Aneh, bukan?”


Zet dan Filian melihat ke sekeliling dan mengendus-endus udara.


“Benar juga,” kata Filian. “Tapi tak mungkin Guru Kashmir berbohong pada mahasiswanya sendiri... atau jangan-jangan memang itu yang terjadi?”


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-