
Memasuki pintu batu berpahatan runik tadi, Zet, Nina dan Singh menemukan diri mereka dalam sebuah ruangan gua yang cukup luas. Dalam ruangan itu, sosok Ahmed dalam wujud Ahriman menyambut mereka. “Bagus sekali, kalian sudah melewati pelbagai tantangan fisik sehingga sampai ke sini.”
“Itu semua berkat kerjasama Nina dan petunjuk Singh,” tanggap Zet dengan jujur. “Tanpa mereka, belum tentu aku bisa sampai kemari.”
“Bagus, kau sungguh rendah hati, pertanda kau bisa menjadi Master of Arcana yang budiman,” kata Ahriman. “Tapi, seperti yang kukatakan di pintu masuk, kerendahan hati saja tak cukup untuk menjadi pewaris arcanum tanah sejati. Lagipula, ujian fisik saja juga tak cukup untuk lulus. Jadi, dalam tahap berikutnya, fisik dan mentalmulah yang akan diuji sekaligus.”
“Aku siap,” kata Zet penuh percaya diri.
Dewa Ahriman berkata, “Aku suka semangatmu itu. Nah, ruangan-ruangan berikut ini sengaja dibangun untuk tujuan ujian ini. Di ujung tiap ruangan ada pintu keluar yang terkunci secara ajaib. Untuk membuka kuncinya, kau harus menekan terus tombol-tombol pola yang diinginkan yang terpahat di prasasti batu. Ada batu-batu besar panjang di sana yang saling menghalangi satu sama lain. Jadi kau harus menggeser batu-batu itu dulu, baru kau bisa menindih semua tombol yang diinginkan dengan batu-batu itu. Semua tombol ditekan, semua pintu air terbuka. Saat keran sudah diputar, air baru bisa mengalir untuk membuka tuas pintu di dekat titik akhir.”
“Teknologi itu dinamakan hidrolik,” celetuk Singh. “Kau bisa mempelajarinya di Fakultas Teknik Universitas Langit Angkasa setelah kau kembali nanti.”
Walau kata-kata Singh itu belum tentu dijalankan Zet nantinya, Zet merasakan asupan semangat dan harapan yang tersirat dalam kata-kata pria setengah baya itu. Entah Zet jadi Master of Arcana atau tidak, ia harus kembali ke Universitas Langit Angkasa. Itulah mimpi terbesarnya yang jadi nyata, yang harus dipertahankan walau bagaimanapun juga.
Ahriman menutup penjelasannya, “Nina boleh membantumu dengan memberi petunjuk dari prasasti batu nanti. Satu hal lagi, jangan coba-coba pakai cara lain untuk membuka pintu batu, atau kau pasti akan membayar kecuranganmu itu dengan nyawamu.”
Zet menelan ludah. Sejak awal Ahriman tak pernah main-main. Zet sendiri juga harus sudah sadar bahwa kehilangan nyawa adalah salah satu resiko dalam ujian arcanum kali ini. Lain dengan arcanum air yang memang seakan sudah jadi haknya, yang ia dapatkan berkat petunjuk Yun Lao langsung. Dan ujian ini lebih berat daripada misi menolong Minerva Kaleos, yang membuat Zet terpilih menjadi pewaris baru arcanum kayu.
Jadi, petualangan Zet kali ini tak ubahnya seperti ujian kenaikan tingkat di kampus. Bedanya, dalam studi untuk gelar Master of Arcana ini Zet sudah di tingkat ketiga. Wajar saja kalau tingkat kesulitannya lebih tinggi daripada dua tingkat sebelumnya.
“Bagaimana, Zet? Apa kau tetap ingin menjalani tantanganku ini, atau kau ingin menyerah saja?” tantang sang dewa, Ahriman.
\==oOo==
Sudah kepalang tanggung, Zet jelas terus maju menjalani tantangan Ahriman.
Tanpa buang waktu lagi, Zet, Nina dan Singh memasuki ruangan teka-teki pertama dalam gua bawah tanah. Di sini, ia melihat sebuah prasasti batu dan sebuah keran berbentuk roda besar di tempat semacam panggung yang tinggi.
Di bawah panggung itu, terhamparlah batu-batu yang besar dan panjang, juga tombol-tombol yang tersebar di pelbagai titik. Seperti kata Ahriman, ada bongkahan-bongkahan batu besar berbentuk persegi panjang yang saling silang, saling menghalangi satu sama lain. Dan tak ada satu pun dari batu-batu besar itu yang menindih tombol di lantai.
Melihat situasi yang ada, Zet berseru, “Ah, batu-batu itu lebih besar dari dugaanku. Kurasa tenagaku sendiri tak akan cukup kuat untuk memindahkan itu semua!”
“Itu pasti, tapi sebagai kandidat arcanum kau pasti punya cara lain untuk memindahkan batu besar sendirian, bukan?” sergah Nina. “Pikirkan dulu itu!”
Zet tak perlu memikirkannya lagi. Jawabannya segera terpampang dalam ingatannya. “Oh ya, aku punya kemampuan telekinesis yang telah kulatih selama menjadi anggota tim Odyscus Empat Musim dalam kejuaraan antar mahasiswa yang lalu! Kok bisa tak terpikirkan olehku ya?”
Nina menepuk dahi. “Itu karena sejak dulu kerja otakmu memang lamban, Zet. Begini saja, biar aku yang memberi kamu petunjuk dari panggung, sementara kau yang menggeser batu-batu itu dengan telekinesismu.”
“Ya sudahlah, aku setuju. Cara seperti itu diperbolehkan bukan, Guru Singh?”
Singh hanya mengangkat bahu. “Entahlah, Ahriman tak bilang tak boleh bekerja sama, entah antara kandidat dan asistennya ataupun antara sesama kandidat. Kurasa kerja sama sah-sah saja, selama mereka sama-sama berusaha.”
“Baiklah kalau begitu,” kata Zet sambil maju ke pelataran bawah. “Mohon petunjuknya, Nina. Batu mana yang harus digeser dan ke arah mana.”
Teka-teki di ruangan pertama ini ternyata cukup mudah. Zet hanya perlu menggeser empat batu, dua di antaranya diarahkan ke dua tombol lantai dengan arah saling berjauhan satu sama lain.
Pertama, batu penghalang digeser lurus ke satu sisi, membuka jalan untuk batu kedua. Lantas, Zet menggeser batu kedua lurus sampai menekan dan menindih tombol lantai yang pertama.
Zet menggeser batu pertama penghalang tadi ke tempat semula. Lantas, Zet menggeser batu ketiga yang sejajar dengan batu pertama. Ini membuka jalan untuk batu keempat. Zet menggeser batu keempat itu hingga menindih tombol batu kedua. Terdengarlah suara derak logam.
“Buka keran airnya, Nina!” seru Zet.
Nina memutar keran dan air mengalir melalui parit di lantai. Air itu melewati dua pintu air yang sudah terbuka oleh dua tombol lantai, terus ke titik akhir dekat dinding ujung, tempat pintu keluar berada. Terdengarlah lagi derak-derak logam dan suara klik, layaknya kunci pintu rumah yang terbuka.
“Silakan lewati pintu keluar,” kata Singh, telapak tangannya menunjuk ke arah pintu hidrolik.
Zet dan Nina bergegas ke ruangan berikutnya. Seperti dugaan, kali ini ada tiga tombol lantai yang harus ditekan terus. Proses untuk “membuka kunci” kali ini lebih lamban daripada sebelumnya, namun tetap lancar berkat otak encer Nina.
Keluar dari ruangan tiga tombol, Zet dan Nina lolos pula di ruangan empat tombol. Tapi begitu sampai di ruangan yang ada lima tombol lantainya, Nina hampir pingsan kepusingan. Pasalnya, batu-batu penghalang di sana sudah begitu rumit susunannya seperti benang kusut.
Anehnya, Zet malah berkata, “Nah, kurasa aku tahu pemecahan teka-teki yang ini. Ini mirip permainan ‘Urai Sulur Anggur’ khas Pilar Pua... eh, maksudku Empat Musim!”
Singh berujar, “Kalau begitu, kau bergantian saja dengan Nina. Kau bisa Sihir Pelayang Benda seperti Zet juga, kan?”
Nina menjawab, “Tentu saja, itu ilmu sihir paling dasar yang...”
Singh memotong Nina sebelum jadi bertele-tele. “Nah, tunggu apa lagi? Laksanakanlah!”
Yang mengejutkan, justru Zet berhasil mengurai “Formasi Batu Benang Kusut” ini. Tak bisa dipungkiri lagi, Zet memang pemikir yang lamban. Tapi bila ia diberi waktu dan suasana yang cukup hening, saat ia merasa tenang dan tak terganggu oleh apa pun, gagasan-gagasan yang terbit dari benak Zet itu bisa jadi malah lebih brilyan daripada buah pikiran Nina.
Satu fakta lain juga bicara, yaitu sihir levitasi Nina ternyata lebih kuat daripada telekinesis Zet. Jadi, keduanya keluar dari ruang bertombol lima hanya sedikit lebih lama daripada dari ruang bertombol empat.
Saat memasuki ruangan paling luas dengan enam tombol di lantai, Zet agak sedikit kewalahan. Ia harus mengurai formasi batu yang luar biasa kusut dan kompleks, seakan-akan hampir seluruh ruang kosong dalam balairung itu terisi oleh batu-batu besar.
Namun, dengan bantuan sumbang saran Nina dan air putih penenang jiwa dari Singh, akhirnya Zet berhasil mengurai teka-teki paling kompleks yang pernah ia hadapi seumur hidupnya ini.
Begitu Zet, Nina dan Singh melangkah keluar dari ruang teka-teki enam tombol, mereka memasuki ruangan berikutnya yang jauh lebih luas, lapang namun lebih remang-remang lagi.
Di sini, lagi-lagi mereka disambut oleh Ahriman. Sang dewa bertepuk tangan dan berkata, “Luar biasa, Amazeta Dionisos! Kau berhasil memecahkan keenam ruang teka-teki dariku. Tapi yang lebih luar biasa lagi, kau melakukannya dengan bekerja sama dengan Nina dan mematuhi saran dari pemandumu, Singh.”
“Terima kasih,” kata Zet. “Tapi masih adakah ujian lagi yang harus kami lewati? Atau apakah cukup sampai di sini dan aku lulus?”
“Masih ada satu ujian terakhir, yang mana kekuatan, kecerdasan, mental dan hatimu akan diuji sekaligus di ujung sana,” jawab sang mantan dedengkot kejahatan dan kegelapan sambil menunjuk ke kejauhan di belakangnya. “Tapi, untuk menyeberang ke sana ada satu ujian fisik lagi. Kali ini tak ada ampun, satu kesalahan saja dalam ujian ini dan nyawa pasti melayang.”
Wajah Zet pucat pasi seketika.
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-