The Master Of Arcana

The Master Of Arcana
SPECIAL MASTER OF ARCANA



Tak sampai satu bulan kemudian...


Setelah melalui perjalanan panjang yang sunyi, yang separuhnya dilalui dalam keadaan tak sadarkan diri, Zet akhirnya menapakkan kaki lagi di lorong-lorong indah nan asri dalam kompleks Universitas Langit Angkasa.


Rasanya seperti baru kembali dari neraka dan tiba di surga.


Zet sempat beristirahat dulu satu-dua hari, membiarkan semua urusan administrasi kampus diurus oleh sang Rektor sendiri, Minerva Kaleos. Kabar buruknya, Zet terlambat hampir dua bulan sejak kegiatan perkuliahan dimulai. Kabar baiknya, karena Zet berada dalam situasi, kondisi dan mendapatkan status paling istimewa sebagai Master of Arcana, ia tak perlu dianggap cuti kuliah. Zet tak mau dianggap sudah lulus karena ia masih ingin belajar hal-hal lain seperti Studi Hubungan Internasional, Politik, Filsafat dan lain sebagainya.


Kini, di pagi hari yang cerah, Zet berjalan santai bersama sepupu sekaligus sahabat karibnya, yaitu Filian di sepanjang lorong di Fakultas Supranatural. Keduanya berbincang amat santai dan lepas, karena memang jadwal kuliah pertama hari itu masih dua jam lagi.


“Astaga, kau sudah menceritakan semua yang kau alami di Negeri Ular Pasir!” Mata Filian terbelalak, kepalanya menggeleng sedikit seperti baru diguyur dengan satu tong besar penuh hal-hal aneh tapi nyata, sulit dicerna akal sehat.


“Jadi, Zet, kau melewati banyak sekali ujian berbahaya, melawan Behemoth dan berhasil mendapatkan arcanum tanah. Tapi di perjalanan pulang kau terjebak dan terlibat dalam konflik berdarah antara Sekte Kalajengking Hitam dan Sekte Salju Putih. Yang paling gila, kau mengalahkan Pangeran Barra dari Kubah Malam, ketua baru Salju Putih, merebut dua arcanum terakhir darinya dan menjadi Master of Arcana. Lalu ketua sepuh Salju Putih merebut semua arcanummu dan akhrinya kau berhasil merebutnya kembali?”


“Ya, singkatnya kurang lebih seperti itu,” kata Zet sambil nyengir kuda.


“Tapi di mana semua arcanum itu sekarang?”


Zet pasang wajah muram dan menjawab, “Aku telah menitipkan arcanum air, kayu dan tanah pada Bu Rektor Minerva untuk disimpan di tempat paling aman. Sedangkan arcanum api dan logam kukembalikan pada Guru Narayanan Singh. Bila arcanum-arcanum milikku diperlukan suatu hari nanti, aku akan mengambilnya. Tapi bila Master of Arcana dibutuhkan lagi untuk tampil dan menumpas prahara, aku akan pergi ke Kubah Malam dan Fajar Emas untuk diuji sebagai calon penyandangnya yang sejati, tak terbantahkan.”


“Wah, sayang sekali,” Filian mengatakan hal yang pasti akan dikatakan oleh siapa pun. “Menjadi Master of Arcana kan impian setiap orang. Tapi seperti halnya ibumu, Rhea, kau pasti punya alasan kuat untuk melepaskannya.”


“Yap, tentu saja,” jawab Zet sambil mengedipkan sebelah mata. “Nah, cukuplah cerita dari diriku untuk sekarang. Ada berita apa saja dari tanah air, Fili?”


“Dengar baik-baik ya, Zet, karena ini adalah berita luar biasa besar. Kira-kira tiga bulan yang lalu ayahmu, Aeron melakukan kudeta. Berkat dukungan seluruh tentara dan Rhea, ia berhasil menggulingkan Raja Damian dari takhta Empat Musim, menjadi raja baru, mengganti nama negerinya menjadi Pilar Pualam dan mengembalikan wilayah-wilayah jajahan Empat Musim ke negeri asal masing-masing, termasuk Tirai Mirah juga. Selamat, Zet. Kau kini jadi pangeran!”


Zet hanya bisa ternganga, ini kejutan yang sungguh mencengangkan sekaligus menggembirakan. Dengan status sebagai pangeran, kini ia bisa berhubungan dengan Putri Catriona dari Kubah Malam lebih daripada sekadar teman biasa saja.


Untuk menutupi keterkejutannya, Zet bertanya lagi, “Terima kasih, Fili. Ini berarti kau juga jadi bangsawan, dan hidup kita tak akan sama lagi. Nah, apa ada berita lain lagi?”


Filian berkata, “Aku dititipi pesan oleh Nina Gnossis. Katanya, dosen Ilmu Sihir, Pinkesh Kashmir menjadi ketua umum Sekte Salju Putih yang baru. Penggantinya sebagai dosen adalah seorang pria bernama Fachri Hussein. Kabarnya dia luar biasa sakti seperti dewa dan Fachri bukanlah nama aslinya.”


“Ah, si Nina itu, dia memberi petunjuk bahwa dosen baru kita itu adalah titisan Dewa Ahriman, orang yang mengujiku untuk mendapatkan arcanum tanah. Oh ya, memangnya ada apa dengan Nina? Bukankah lebih baik ia menyampaikan pesannya sendiri saja pada kita?”


“Sekarang Nina sedang amat sibuk dengan tugas-tugasnya sebagai ketua Sekte Salju Putih cabang Langit Angkasa yang baru. Dengan begitu, aku kini mendapatkan pacar baru.”


“Ah, kebetulan kau datang. Kami baru saja sedang membicarakanmu, Kimi.”


Dua mata Zet melotot melihat Kimiko Maru datang dan langsung menggandeng Filian. “Apa? Wah, cepat sekali jadiannya! Selamat ya, semoga kalian berdua tetap bersama sampai tua.”


“Haha, terima kasih, Zet,” kata Kimiko sambil tersenyum semanis-manisnya. “Nah, aku dan Fili akan ke kantin dulu untuk sarapan. Nanti kita ketemu lagi di kelas ya. Daah, Zet!”


Zet hanya bisa menggeleng saja melihat Kimiko dan Filian Dionisos melenggang pergi. Zet juga ingin sarapan, jadi ia hanya mengikuti kedua sejoli itu dari jauh ke kantin, tak mau mengganggu.


Pikiran Zet lantas melayang, memikirkan ayahnya, Aeron, ibunya, Rhea, kakaknya, Deon dan adiknya, Oxi. Mereka pasti sedang menikmati hidup yang damai kini.


Tiba-tiba Zet bertabrakan dengan seorang mahasiswi, dan mahasiswi itu jatuh. “Oh, maaf,” kata Zet sambil membantu gadis itu berdiri. Tapi betapa terkejutnya ia saat mengenali wajah gadis itu. “P-Putri Catriona?!” serunya.


Bukannya marah, Catriona malah tersenyum manis. “Hai, apa kabar, Zet? Kudengar kau sempat cuti kuliah, tapi ternyata kau ada di sini. Aku senang sekali!”


Zet masih gelagapan, salah tingkah. “T-tapi kok Tuan Putri kuliah di Langit Angkasa? Bukankah...?”


“Aku ini satu tahun lebih muda darimu, Zet, karena itulah aku baru masuk kuliah sekarang di tahun pertama. Aku mendapat kabar dari pengawalku, Kjelde bahwa kau menanyakan kabarku, Zet. Maka aku memilih untuk kuliah di Langit Angkasa daripada menyewa guru privat kerajaan seperti untuk kakakku, Barra. Jadi, jangan panggil aku ‘Tuan Putri’, ya. Panggil ‘Cat’ saja.”


“Ya, Tuan Putri, eh, Cat. Ngg, aku sedang ingin sarapan di kantin sekarang. Maukah kau menemaniku?” tanya Zet.


“Tentu saja,” kata Catriona Lewis sambil menggandeng lengan Zet seperti sahabat dekat atau lebih daripada itu. “Ayo, kau pasti punya banyak sekali cerita untukku, bukan? Lagipula kini kau adalah seniorku, jadi kupilih kau sebagai pemanduku untuk orientasi kampus di sini.”


“Setuju. Ayo!”


Tak perlu kekuatan tak terbatas laksana dewa untuk meraih kebahagiaan.


Namun, bila suatu hari kebahagiaan itu hendak direnggut oleh prahara angkara murka, sang pemilik kekuatan lima arcanum dewata akan bangkit kembali sebagai pelindung segala kebaikan di dunia Terra Revia. Ada satu gelar untuk sang pelindung itu.


Halo, terima kasih atas dukungannya untuk cerita Master of Arcana. Jangan lupa like dan komennya^^


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-