The Master Of Arcana

The Master Of Arcana
51: MEWAKILI NEGARA



Agak berbeda dari hari-hari Zet yang melelahkan, pagi ini ia melangkah lebih bersemangat dari pada biasa.


Pertemuan Zet dengan Rektor Minerva telah membuka mata batinnya. Sikapnya terhadap Yun Lao kini lebih kooperatif. Zet pun lebih fokus melatih tenaga dalam dan sihir Aliran Langit Angkasa. Di bawah bimbingan Guru Kashmir dan Dosen Gordon, dengan guru sebanyak ini, Zet lebih yakin dirinya akan lebih sukses mengendalikan arcanum dibanding kandidat-kandidat lainnya, bahkan mungkin bakal melampaui ibunya sendiri, Rhea.


Di hari libur kuliah di akhir minggu ini, Zet baru sempat memikirkan satu hal penting yang telah bergelantung dalam benaknya selama minggu ini.


Karena urusan itu, sesi les bersama Kimiko Maru dan Filian harus diakhiri lebih cepat hari ini.


"Lho, kok selesai lebih awal?" Kimiko pasang wajah kebingungan sambil ikut lari bersama kedua pemuda itu. "Kalian ada urusan apa?"


"Masa' kau tak tahu?" sergah Filian. "Uji coba tim-tim Odyscus yang akan berpartisipasi dalam kejuaraan antar negara intra kampus itu hari ini, lho!"


"Ngg, tidak. Aku 'kan sudah masuk Tim Sakura Ungu tanpa harus lewat uji coba. Jadi kalau kalian masuk Tim Empat Musim, siap-siap saja, mungkin kalian akan berhadapan dengan kami."


Zet tak menanggapi Kimi. Ia merasa miris karena nama negeri asalnya yang sebenarnya, Pilar Pualam tak disebut, seolah telah terlupakan oleh dunia. Ia sudah dicap warga Empat Musim.


"Wah, saingan berat ini!" Wajah Filian jadi kecut.


"Entah bagaimana kalau ada Zet di kejuaraan. Kurasa pasti bakal amat seru." Gadis bertubuh mungil itu tertawa renyah. Melihat sikap kekanakan seperti itu, Zet jadi curiga jangan-jangan usia Kimi bukan delapan belas tahun, melainkan kurang lebih lima belas tahun.


Setidaknya kini Kimi menampilkan watak aslinya karena sudah makin akrab dan percaya pada Zet dan Fili.


"Apa kau ingin menonton uji cobanya, Kimi?" tanya Zet.


Kimi tersenyum nakal. "Oya tentu saja. Aku pasti bakal dapat hiburan di sana, entah itu atraksi yang memukau atau lawakan kocak." Ia tertawa kecil lagi.


Zet melengos. "Pantas saja kau semangat. Dasar!"


\==oOo==


Zet, Filian dan Kimiko tiba di lapangan besar di sektor selatan kampus, dekat pintu masuk utama. Di sanalah Zet dulu pernah "dikerjai" oleh Rick dan timnya. Itu memang lapangan latihan, tapi sungguh layak digunakan untuk uji coba tim Odyscus.


Saat hendak melapor hadir di meja petugas, Zet dan Filian ditemui oleh seorang wanita berambut jingga pendek dan berpakaian seragam ungu dan hijau.


“Kalian Amazeta dan Filian Dionisos, bukan?” tegur wanita berotot kekar itu.


“Ya, saya Zet dan dia Filian,” jawab Zet.


“Oh, bagus. Namaku Zoe Aprendos, pelatih tim Odyscus Empat Musim. Silakan ikut aku ke lapangan, kami sengaja menunggu kalian sebelum uji coba dimulai.”


“Oh, benarkah?” tanya Fili. “Apa itu berarti kami...?”


“... Diprioritaskan untuk ikut uji coba, atas rekomendasi Rick Oakes, kapten Tim Fajar Emas sekaligus Tim Inti Odyscus Langit Angkasa. Tapi itu bukan berarti kalian otomatis lolos uji coba dan bergabung dalam Tim Empat Musim.”


“Tak apa,” ujar Zet. “Kalau memang kami belum lulus uji coba tahun ini, kami akan ikut lagi tahun depan.”


“Bagus. Mari!”


Zoe mendelik, lalu menjawab dengan wajah serius, “Ya. Nama negeriku yang sebenarnya adalah Tirai Mirah. Tapi asal kalian tahu, sekali aku menyebutkan nama negeri asliku di depan orang lain dan orang itu melaporkan aku pada Raja Empat Musim dengan bukti yang kuat, aku akan diganjar hukuman berat. Tentu kalian tak akan melaporkan aku, ‘kan?”


“Tentu tidak. Kami warga Pilar Pualam juga punya kehormatan, pemikiran dan perasaan yang sama dengan Tirai Mirah, sesama negeri tertindas. Kami jelas tidak lebih istimewa dari sesama warga kerajaan-kerajaan taklukan Empat Musim lainnya.”


“Bagus, aku suka semangatmu itu.” Zoe mengangguk. “Coba, aku ingin lihat apakah kalian juga bisa memancarkan semangat yang sama selama uji coba tim.”


Zet melihat ke sekeliling, baru sadar bahwa kini ia sedang dikelilingi oleh beberapa mahasiswa dan mahasiswi. Tiga dari mereka mengenakan seragam ungu hijau, sisanya mengenakan pakaian olahraga bebas atau pakaian biasa.


“Nah, kita bisa mulai uji coba sekarang,” kata Pelatih Zoe sambil bertepuk tangan, minta perhatian dari semua peserta.


“Seperti yang kalian lihat, tim kita butuh lima orang anggota baru lagi. Itu karena dua orang sudah lulus dan satu mengundurkan diri. Setelah lengkap empat orang tim utama dan empat cadangan, baru kita bisa melakukan latihan intensif untuk kejuaraan yang akan datang.”


“Kejuaraan apa itu?” tanya salah seorang peserta wanita.


“Kejuaraan Odyscus antar negara di kalangan mahasiswa Langit Angkasa, itu akan diadakan tiga bulan dari sekarang.”


Zet mengangguk. Pembagian tim berdasarkan negeri asal mahasiswa ini membuat ajang kompetisi ini seakan-akan adalah Kejuaraan Dunia Yunior Odyscus. Ini akan jadi ajang prasyarat untuk mengikuti Kejuaraan Dunia Senior setelah lulus kuliah nanti.


Zoe menutup sesi pengarahannya. “Silakan lakukan pemanasan di tempat. Setelah itu, aku dan para senior akan menguji kemampuan dasar Odyscus kalian sebagai ujian tahap pertama. Setelah itu kita akan berlatih-tanding antar peserta seleksi, anggota-anggota tiap tim akan ditentukan berdasarkan nilai dari seleksi tahap satu.”


Zet memperhatikan setiap kata dari arahan Zoe selanjutnya sampai selesai. Ia lantas melakukan pemanasan ala kadarnya, karena ia masih “panas” setelah les dua arah dengan Kimiko tadi.


Berikutnya adalah seleksi tahap pertama yang harus dilakukan sederhana saja, yaitu mengangkat cakram dari tanah dengan sihir levitasi atau telekinesis, lalu membawanya maju dan lurus hingga melewati salah satu garis lapangan.


Karena pernah dan bahkan sering menggunakan telekinesis sebelumnya, apalagi setelah “latihan ekstrim” melayangkan bola lendir raksasa berbau busuk melintasi kompleks kampus waktu itu, melayangkan cakram jadi sama mudahnya seperti membawa bola dalam pelukan atau genggaman tangan saja.


Sebaliknya, karena hanya menguasai teknik berpedang dan tenaga dalam seadanya, cakram Filian jatuh dua kali sebelum mencapai garis akhir.


Penentuan para anggota tim-tim untuk uji coba tahap dua akhirnya tiba. Satu tim terdiri dari para peserta yang ditentukan dari nilai hasil seleksi tahap pertama. Berdasarkan jumlah peserta seleksi, terbentuklah empat tim. Jadi, para peserta yang tidak termasuk dalam tim-tim itu otomatis gugur dalam seleksi kali ini.


Kenyataan berkata, Zet dan Filian akan saling berhadapan karena tergabung dalam tim-tim yang berbeda.


“Heh, anggaplah ini tanding ulang dari pertarungan kita di pertandingan Marga Dionisos dulu,” ujar Filian sambil mengepal-ngepalkan kedua telapak tangannya.


“Jangan salah sangka, sepupu. Kali ini pun aku tak akan mengalah padamu,” balas Zet.


“Yang pasti, aku tak akan kalah lagi darimu.”


“Buktikan saja, tak usah sesumbar.”


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-