
Misi Zet untuk mendapatkan arcanum tanah sejati telah tuntas dan berhasil dengan gemilang. Kenyataan ini dipertegas dengan bukti nyata, yaitu kristal arcanum kuning yang tersemat di gelang yang dipakai di pergelangan tangan kiri Zet. Selanjutnya, gelang Zet itu akan berfungsi pula sebagai perisai bilamana ia telah sepenuhnya menguasai arcanum tanah kelak.
Setibanya di permukaan tanah, yaitu rumpun kaktus kuning di luar lubang gua menuju ujung gua bawah tanah, Zet mengamati kembali kalung, ikat pinggang dan gelang arcanum air, kayu dan tanah yang dipakainya.
“Nah, ada apa lagi setelah ini?” batin Zet. “Apakah aku harus langsung terus melangkah untuk mendapatkan arcanum api dan logam, meraih kekuatan setara dewa dengan status sebagai Master of Arcana? Atau sebaliknya aku istirahat dulu sejenak dan memusatkan perhatian pada kuliahku di Universitas Langit Angkasa?”
Seolah-olah membaca pikiran Zet, sang guru dan musafir pembimbingnya yang baru, Narayanan Singh berkomentar, “Tak perlu terburu-buru, Zet. Lagipula, arcanum api ada di Negeri Kubah Malam dan arcanum logam di Negeri Fajar Emas. Supaya kuliahmu tak terbengkalai, kau bisa mencari arcanum lagi satu per satu saat dua liburan musim panas berikutnya. Dengan demikian, kau punya lebih banyak waktu untuk melatih tenaga dalam dan energi sihir, juga menguasai betul semua arcanum yang kauwarisi, khususnya arcanum tanah beserta kombinasinya dengan arcanum air dan kayu.”
“Kau benar, Guru. Kita harus bersiap-siap untuk segala sesuatu sematang mungkin. Untuk itu, perlu ketekunan dan kesabaran yang tinggi,” kata Zet.
“Baguslah kalau kau memahaminya, Zet.”
Singh lalu menoleh ke arah Ahmed. Ternyata si musafir titisan dewa itu ikut dalam rombongan, meninggalkan gua bawah tanah yang ia jaga.
“Senangnya mau bergabung dengan kami, Ahmed,” sambut Singh. “Sekalian membawa perbekalan yang cukup untuk satu rombongan pula.”
“Tentu saja,” ujar Ahmed, tangannya terulur pada karung-karung bahan makanan yang baru saja ia ikat pada unta Singh. Tentunya rombongan harus kembali ke bukit tebing dulu untuk menjemput unta, baru mereka bisa melanjutkan perjalanan melewati gurun. “Sudah tak ada arcanum tanah lagi untuk kujaga di sini, jadi sekaranglah saatnya untuk berpetualang di dunia luas lagi. Lagipula, aku tak mau semua perbekalan untuk diriku itu mubazir.”
Giliran Kimiko angkat bicara, “Cukup masuk akal, Pak Ahmed. Apa Bapak punya rencana tertentu setelah ini?”
Mendua ke mana arah pertanyaan Kimiko itu, Nina menyela dengan ketus, “Apa maksudmu, hei antek Kalajengking Hitam? Apa kau berniat untuk merekrut titisan dewa untuk sektemu, hah?!”
“Aduh, mulai lagi.” Zet menepuk dahinya sendiri. Ia hendak melerai, tapi Singh mengulurkan tangan dan menghalanginya.
“Biar kita lihat bagaimana Kimiko mengatasi ini,” ujar Singh. “Walau badannya mungil, kurasa si gadis ninja itu lebih dewasa daripada si gadis kacamata.”
Seperti kata Singh, Kimiko membela diri dengan bersilat lidah, “Aku tak punya maksud apa-apa, Nina! Huh, andai klan kami tak terikat sumpah darah dengan pusat, sudah sejak setahun yang lalu aku keluar dari Sekte Kalajengking Hitam! Persahabatanku dengan Zet dan Filian lebih manis daripada kepahitan hidup sebagai pembunuh gelap!”
“Aah, alasan!” hardikan Nina bertambah kasar. “Mumpung tugas membantu Zet sudah tuntas, ayo kita selesaikan perhitungan di antara kita berdua di sini, sekarang juga!”
“Aku menolak,” jawab Kimiko. “Alasannya, pertama, kondisimu tak memungkinkan untuk bertarung. Dan kedua, ada dua orang musafir dewata yang sedang mengawasi kita. Jadi jangan macam-macam kalau tak ingin mereka turun tangan dan ikut campur.”
“Oh ya, tentu saja,” kata Ahmed sambil berpangku tangan dan menatap tajam pada Nina.
Sebaliknya Nina merinding sendiri. Menilik pengalaman tarungnya yang baru lalu, ia tak akan berani lagi memancing amarah Ahmed yang bisa berubah wujud menjadi raksasa-raksasa Ahriman dan Behemoth itu.
Singh dan Zet menutupi senyum masing-masing dengan tangan. Lalu Singh bicara lagi pada Ahmed, “Nah, menyambung pertanyaan Kimiko, bagaimana rencanamu setelah meninggalkan gua bawah tanah?”
“Kupikir aku akan mengganti namaku menjadi Faikar, lalu mengunjungi rekan kita, Minerva Kaleos di Universitas Langit Angkasa. Mungkin ada pekerjaan untukku di sana.”
“Semoga beruntung, ya,” kata Zet. Tapi ia merasa akan menyesali kata-katanya itu nanti.
\==oOo==
“Yah, setidaknya kita bisa menambah perbekalan dan beristirahat sejenak di Kota Oase Kurma ini,” kata Ahmed setibanya rombongan di kota kecil berlatar oase padang pasir dengan pohon-pohon palem yang menjulang tinggi.
“Baguslah, aku bakal tidur selama berhari-hari kialau begini,” kata Zet sambil menguap. Jelas tampangnya kini sudah tak keruan, seakan ia bisa jatuh pingsan di mana saja, kapan saja.
Namun Ahmed bertepuk tangan sekali saja. “Nah, kurasa sudah saatnya aku berpisah dulu dengan kalian. Ada urusan penting yang harus kutangani di tempat lain dulu, baru setelah itu baru pergi ke Langit Angkasa.”
Singh bicara denga nada menyindir, “Wah, urusan musafir atau pribadi nih?”
“Kau sudah tahu apa jawabanku, kan? Hanya orang berakal pendeklah yang menanyakan hal yang sama dua kali pada orang yang sama.”
“Hahaha, hanya bercanda saja, kok,” kata Singh, tangan kekarnya menepuk punggung Ahmed keras-keras sehingga pria ramping berparas agak kemayu itu blingsatan. “Kalau memang urusanmu amat penting, aku tak bisa menahanmu lagi untuk membantuku mengawasi tiga orang remaja labil ini.”
“Baiklah kalau begitu. Sampai jumpa lagi di Langit Angkasa... atau tidak. Daah!” Dengan gaya sok akrab, Ahmed meninggalkan rombongan tanpa menoleh ke belakang, hanya mengangkat telapak tangan dan melambai saja, membawa barang-barangnya dan perbekalan jatahnya.
Sepeninggal Ahmed, Singh bicara pada Zet, Nina dan Kimiko, “Jujur, aku belum pernah ke Kota Oase Kurma sebelumnya. Aku juga baru tahu, kota ini berada di jalur yang tak melenceng jauh dari jalur menuju Palem Hijau, ibukota Kesultanan Ular Pasir. Tapi aku merasa ada sesuatu yang tidak beres. Sepertinya sejak tadi ada seseorang, tidak, beberapa atau bahkan banyak orang yang sedang mengawasi kita.”
“Benarkah?” tanggap Zet. “Aku juga merasa tak enak, karena para penduduk kota ini memandang ke arah kita dengan tatapan tajam dan ekspresi masam. Tapi aku tak tahu apa arti tatapan atau sikap itu.”
“Sebaiknya kita menjauh dari jalan besar, selesaikan urusan kita dan cepat-cepat pergi dari kota ini,” kata Kimiko. “Kalau gelagat penduduk kota memang seperti itu, itu sudah pertanda jelas bahwa kita telah mendatangi tempat yang salah.”
Nina malah berkomentar, “Tak perlu. Kita tetap di jalur ini saja, berjalan dengan sikap biasa. Aku yakin, asalkan kita tak berulah macam-macam, urusan kita di kota ini akan lancar.”
Zet, Kimiko dan Singh mendelik ke arah Nina sambil mengerutkan dahi. Sikap percaya diri si penyihir yang muncul tiba-tiba dan tak seperti biasanya itu sungguh mengherankan.
Walau demikian, kali ini keputusan ada di tangan Singh. “Ayo kita cepat-cepat cari penginapan dulu, karena biasanya tempat itu ada di jalan besar. Baru setelah itu bila ada yang ingin keluar membeli perbekalan, baru menyelinap lewat jalan-jalan tikus. Tapi hati-hati, kita tak mau sampai tersesat atau dicegat penjahat yang hendak mengeroyok, bukan?”
“Ya, kurasa begitu lebih baik,” kata Zet sambil menguap lagi. Jalannya juga tak terlalu lurus, ia harus cepat-cepat merebahkan diri di ranjang sebelum...
Terdengar seruan seorang pria, “Berhenti, kalian berempat! Ikut kami tanpa banyak ribut, kalau tidak kami takkan segan-segan menggorok leher si penyihir ini!”
Mata Zet yang setengah terbuka mencari-cari siapa yang berseru itu. Ia terkesiap melihat beberapa pria dan wanita sedang menghadang, bahkan mengepung mereka berempat dari segala arah. Salah seorang di antara mereka, pria yang menyerukan peringatan tadi menempelkan ujung bilah belatinya tepat di leher Nina sehingga mengeluarkan sedikit darah.
Cukup sudah, tekanan yang tiba-tiba ini telah mendorong Zet melewati ambang batas ketahanan fisik dan mentalnya. Ia tak sempat lagi melihat reaksi Singh, Kimiko dan Nina sendiri dan ia jatuh ke tanah jalanan yang bercampur pasir, entah pingsan atau hanya ketiduran.
\==oOo==
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-