The Master Of Arcana

The Master Of Arcana
16 : SANG TERPILIH



“Yun—Yun Lao?!” teriak Zet ragu di dalam kamarnya. Ia sekali pun belum pernah memanggil arwah misterius itu secara sengaja seperti sekarang. Apakah ia harus membaut persembahan atau menyalakan lilin?


Tahu-tahu, Yun Lao sudah duduk di sampingnya. Zet hampir melonjak jatuh dari tempat tidur. Bahkan, setelah sekian kali, kehadiran hantu tersebut masih bisa begitu mengagetkan.


“Aku tahu kenapa kau memanggilku, Zet.” Yun Lao merunduk. “Maaf, karena aku sudah berbohong. Aku bukanlah utusan ibumu, melainkan orang lain yang ingin membantunya, juga membantu dirimu, keluargamu.”


Zet mengernyit tidak percaya. “Kenapa? Kenapa kau mau membantu kami? Siapa sebenarnya dirimu?”


Yun Lao berdiri. “Bisa dikatakan kami ini adalah sekte, perkumpulan yang membantu para Master Arcana untuk bangkit lagi, saat dunia membutuhkannya. Saat ini, pertempuran besar akan kembali terjadi, Zet.”


“Pertempuran? Pertempuran apa? Ibuku menyerahkan diri dan membuang semua kekuatannya agar dunia tidak jadi berperang seperti di masa lalu.”


“Hmm, dengan ada atau tidaknya kekuatan dari Master Arcana, dunia manusia tetap—dan akan selalu—mengalami peperangan. Tugas dari Master Arcana adalah mengendalikan alam yang jauh lebih besar dari manusia itu sendiri. Supaya mereka belajar, seberapa kecilnya diri mereka di hadapan alam. Bukan malah disembunyikan dan ditutup-tutupi seperti sekarang.”


“Jadi, Master Arcana seharusnya bertindak sebagai ... Dewa Perdamaian?”


“Terserah mau disebut sebagai apa. Yang jelas, Master Arcana adalah tangan kanan Tuhan. Mereka punya misi, dan kami punya tugas pula untuk ikut andil dalam membantu mereka. Maaf tidak mengatakannya sejak awal, karena aku yakin kau akan menolak jika tahu yang sebenarnya.”


Kepala Zet terasa berdenyut. Yun Lao benar, Zet memang tidak suka mengetahui berita besar semacam ini. Awalnya, ia berburu arcanum hanya karena tidak ingin dianggap lemah. Akan tetapi kalau sekarang ia disuruh menyelamatkan dunia, tentu sudah beda lagi ceritanya. Jangan-jangan beban besar ini adalah balasan buat Zet yang sudah melakukan kecurangan demi kepentingan pribadi.


“K–kenapa harus aku? Ibuku masih hidup, kan? Dia pasti masih bisa melakukannya. Aku akan membantu mengumpulkan lima arcana dan memberikannya kepada dia.”


“Sayangnya Arcana telah memilihmu, Nak. Kau tak bisa menolak kehendak alam.”


Yun Lao pun langsung pergi begitu saja. Ia tahu, Zet sedang butuh waktu untuk mengusir kepanikannya.


[...]


 


 


Kantong mata Zet tampak semakin tebal. Semalam adalah tidur terburuknya sepanjang sejarah. Bukan hanya karena Filian dan Rylon berisik dan terus membicarakan pertandingan kemarin, melainkan juga karena kegilaan dunia dan arcanum.


Zet pergi menuju kolam ikan untuk menenangkan diri. Dari sekian hektar area rumah, tempat itu telah menjadi favoritnya sejak kecil. Jika rumahnya diserang dan dihancurkan sekalipun, Zet cuma berharap mereka sudi menyisakan kolam ikan tersebut. Tempat memorinya bersama Ibu terus hidup di bawah rindangnya pohon Kersen.


Namun siapa sangka, di sana sudah duduk duluan seorang bocah berkepang melingkar. Gadis itu tampak sedang menyusun batu di tepian kolam ikan. Zet sebenarnya masih belum ingin memaafkannya. Namun, ada bagian kecil di hatinya yang bilang bahwa semua ini adalah salah Zet sendiri, meski ia tidak ingin mengakui hal tersebut.


Zet berdiri agak jauh, memalingkan muka dan tidak menanggapi.  “Kau bisa berbohong untuk melindungiku. Seandainya saja Ayah tidak tahu, aku mungkin masih bisa menggunakan arcanum sesekali.”


Tahu-tahu Oxi terisak. “Kau memang tidak pernah memikirkan apa-apa selain dirimu sendiri, Zet! Coba pikir, kalau kau sudah diterima di perguruan, Ayah dan Deon pergi bekerja, lalu ... aku akan....” Suara Oxi mengeras sejenak, lalu melirih di kata-kata terakhir. Mata anak itu tampak berkaca-kaca.


Zet tertohok. Ternyata di balik pengakuannya kemarin, Oxi ingin agar Zet dilarang pergi oleh keluarganya, hanya karena tidak ingin ditinggal sendirian di rumah. Zet jadi ingin memeluk gadis mungilnya itu, tetapi yang ia lakukan justru hanya diam dan tersenyum kecil. Kicau burung dan desau angin mengisi keheningan berikutnya.


[...]


 


 


“Jadi, bagaimana keputusannya?” Tuan Putri Catriona bertanya kepada Aeron sebelum ia dan rombongan bersiap untuk pulang.


“Aku terima tawaran dari kalian,” jawab Zet mantap.


Tuan Putri Catriona tersenyum. “Bagus. Kalau begitu kau bisa berkemas. Ayah akan senang melihatmu di arena pertandingan.”


“A-arena? Zet akan bertanding lagi di sana?” Mata Aeron nanar tidak mengerti. Ia mengira bahwa Zet akan langsung masuk menjadi murid universitas. Zet sendiri juga merasakan hal yang sama.


“Bukan untuk seleksi, cuma unjuk kebolehan saja. Biar Ayah dan yang lain melihat langsung dan percaya, bukan hanya karena kami berdua yang bicara.”


Zet melirik ayahnya yang kelihatan berpikir keras. Bagaimana ini? Tanpa arcanum, sama saja Zet bunuh diri di arena itu. Setidaknya di sini ia bisa mengenal musuh-musuhnya dengan baik, tapi hal itu jelas tidak berlaku di Kerajaan Kubah Malam nanti.


“Kalau begitu, saya akan ikut mengantar Zet ke sana,” ucap Aeron, yang langsung mendapat persetujuan dari Tuan Putri. Zet tak bicara apa-apa lagi. Pikirannya penuh dengan rasa was-was. Apa yang bisa ia lakukan di sana?


Akhirnya, siang itu, rombongan kereta berangkat menuju Kubah Malam. Zet memandang kembali Oxi dan Deon yang tampak sangat kontras. Deon melambaikan tangan dengan senyum lebar, sementara Oxi menyembunyikan wajah. Zet tak tahu apakah ia masih bisa melihat mereka lagi setelah ini. Ia meremas liontin arcanum yang tersembunyi di dalam kantong cokelat miliknya.


[...]


 


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-