
Tim Empat Musim unggul satu angka dari lawannya. Ini jelas memberi tekanan baru pada Tim Fajar Emas.
Betapa tidak, Rick, Bonnie, Clyde dan Seth pasang wajah dan sikap tegang. Ditambah waktu pertandingan tinggal kurang dari lima menit lagi, sudah pasti Tim Fajar Emas akan habis-habisan atau menelan pil pahit kekalahan.
Saat Zet berdiri di tempatnya dalam formasi, tampak Rick dan teman-temannya berdiri dengan posisi kepala agak tertunduk. Namun semua mata mereka tetap menyorot ke depan, membuat mereka kelihatan seperti sekelompok prajurit bayaran yang menebar nafsu membunuh.
Gejala ini hampir sama dengan Argyle saat akan “menggila”. Bedanya, yang bakal “menggila” kali ini adalah keempat anggota Tim Fajar Emas.
Peluit dibunyikan dan Tim Fajar Emaslah yang maju. Saat Seth mengoper bola ke depan, langkah-langkah mereka lamban. Namun lama-lama jadi lebih cepat dan makin cepat saja.
Melihat gelagat ini, Simon berseru, “ Semua, pertahanan total!” Serta-merta ketiga anggota timnya berdiri dengan kaki agak terentang, seperti pagar betis.
Cakram kini digiring oleh Clyde di tengah, Fajar Emas kini menerjang lurus seperti tiga banteng gila menyeruduk bersama-sama. Segala teknik canggih yang mirip Rugby modern seakan terlupakan begitu saja. Mereka seakan sudah tak peduli lagi apakah akan diganjar hukuman atau tidak bila menarak pemain lawan.
“Rebut cakram dari mereka, tapi kalau gagal cepat menyingkir!” teriak Simon, nada bicaranya seperti orang panik. Jelas ia sendiri belum pernah melihat Tim Fajar Emas senekad ini selama kiprahnya dalam olah raga Odyscus di kampus ini.
Simon sendiri mencoba mempraktekkan petunjuknya itu dengan mencoba merebut cakram dari Clyde. Namun Clyde tiba-tiba mengoper cakram pada “pasangan”-nya, Bonnie. Terpaksa Simon cepat-cepat berkelit secara refleks. Keseimbangannya sempat hilang, sehingga ia terjatuh sendiri di tanah lapangan.
Giliran Zet yang posisinya paling dekat dengan Bonnie mencoba merebut cakram. Mengetahui kalau kekuatan sihir dirinya, begitu pula telekinesis Clyde sekelas di bawah kekuatan Zet, tanpa pikir panjang Bonnie langsung mengoper cakram pada sang kapten, Rick Oakes.
Mendapatkan cakram, wajah Rick jadi makin garang. Larinya makin cepat, siap menerjang maju terus ke gawang Empat Musim.
Di sisi lain, Mirran Balski terpaksa harus membuat keputusan cepat, apakah akan menantang pemain berjulukan “Ox Oakes” itu atau mundur ke dekat gawang untuk membantu Luis Zigo yang masih belum berpengalaman.
Dengan manuver cepat, Mirran memutuskan untuk mundur sedikit untuk mencegat Rick di posisi yang menurutnya lebih baik. Tanpa diduga, berbelok sambil berputar dengan bertumpu pada satu kaki, lalu dengan percaya diri mengambil jalur memutar yang lebih jauh. Mirran mencoba menghadangnya, namun Rick cepat mengoper pada Clyde.
Mirran berbalik lagi, kali lini mati langkah dan terlalu jauh meraih ke arah Clyde. Namun Clyde kembali cepat mengoper ke arah Rick. Mirran jadi mati langkah karena tak bisa meraih ke arah Rick lagi. Rick melenggang ke arah gawang, tapi ia dihadang oleh pemain terakhir yang bukan penjaga gawang, yaitu Zet.
Zet mencoba menghadang Rick, tapi Rick sudah melompat dan berputar lagi di udara. Kali ini Rick tak mengoper, melainkan melemparkan cakram yang dilayangkannya dengan arah yang melengkung ke gawang lawannya. Luis sama sekali tak bisa menepis, apalagi menangkap lemparan keras Rick itu. Cakram melesak dalam gawang Empat Musim.
Tak ayal, Zet hanya bisa ternganga melihat “keganasan” Rick itu. Lebih ternganga lagi ia saat mendengar peluit panjang dibunyikan, tanda pertandingan seharusnya berakhir. Sebenarnya ini belum benar-benar berakhir, karena, seperti ocehan para komentator, skor seri satu sama dan Fajar Emas berhasil memaksakan babak adu penalti dengan Empat Musim.
Seharusnya Zet tak pesimis dulu, karena itu berarti sama saja kalah sebelum berperang. Namun kenyataan bahwa gawang timnya dibobol dengan mudah oleh Rick memperjelas kondisi berat sebelah yang merugikan Empat Musim. Titik lemah timnya jelas ada pada Luis Zigo.
Lebih miris lagi Zet membayangkan wajah si hantu menyebalkan, Yun Lao yang tersenyum lebar sambil berkata, “Nah, apa kubilang? Kembalilah fokus untuk mengembangkan kekuatan irimu, jadilah Master of Arcana! Itulah takdir yang harus kau pastikan, karena takdir-takdir lain jelas bukan jalanmu.”
Lamunan Zet buyar saat Simon menegurnya, “Cepat bersiap-siap, Zet! Adu penalti sebentar lagi, kita harus susun strategi!”
Ternyata Mirran melempar cakram lurus ke satu sudut gawang. Seth salah melangkah ke sisi lain gawang sehingga cakram bersarang di jaring gawangnya. Satu angka untuk Empat Musim.
Giliran Bonnie dari Fajar Emas melempar cakram sambil melakukan gerak tipuan. Luis belum terlatih untuk gerakan khas lemparan samping yang amat cepat dan arahnya menipu seperti hendak ke kiri padahal ke kanan. Kedudukan jadi seimbang, satu-sama.
Untuk mengurangi tekanan dan mengangkat semangat timnya, giliran Simon melempar cakram. Kali ini ia beruntung, Seth bergerak ke arah yang berbeda dari arah lemparannya. Dua-satu untuk Empat Musim.
Sebenarnya Clyde menggunakan trik yang sama dengan Bonnie, yaitu gerak tipu dengan kecepatan tinggi. Namun tetap saja Luis gagal membaca arah lemparan Clyde sehingga kedudukan jadi dua-sama.
Akhirnya, giliran Zet yang berhadap-hadapan dengan Seth “Si Laba-Laba”. Sebenarnya ia tertekan bukan oleh kedudukan sama kuat, melainkan karena Luis yang tampaknya jadi bulan-bulanan para pemain timutama Fajar Emas. Jadi mau tak mau ia harus mencetak gol agar masih ada harapan untuk menang.
Zet sudah melakukan gerak tipu dengan membidik ke kiri, padahal tangannya mengayun ke kanan. Seth sempat bergerak ke kanan dari sudut pandang Zet, tapi cepat-cepat berganti arah ke kiri lagi. Ternyata cakram Zet melyang ke sisi kiri gawang dan Seth tak dapat meraihnya.
Gilanya, cakram Zet malah membentur tiang gawang dan memantul kembali ke dalam lapangan. Zet jatuh berlutut. Wajahnya pucat-pasi seketika. Ia gagal mencetak gol.
“Habis sudah!” Zet menjambak rambutnya sendiri. Ia sebenarnya yakin betul arah cakramnya sudah benar, tapi mengapa malah melenceng?
Namun yang datang malah teguran keras Simon. “Kau ini bagaimana, Zet? Pecah konsentrasi dan melakukan kesalahan fatal di saat penentuan seperti ini! Tambahan pula, kau melemahkan moral rekan-rekan satu tim lain dengan teriakan frustrasimu itu! Kalau kelakuanmu seperti itu terus, kau tak akan pernah jadi atlit Odyscus profesional! Keluar lapangan, tenangkan dirimu dan pikirkan sikapmu itu baik-baik!”
Zet tak menanggapi teguran itu. Ia hanya berjalan keluar lapangan dengan kepala tertunduk dan langkah-langkah gontai.
Lalu terdengarlah oleh Zet seruan-seruan dari lapangan. Seperti yang ia duga, pelempar terakhir dari Fajar Emas tak lain dan tak bukan adalah Rick Oakes
Zet tak berani menoleh ke belakang, juga tak berani melihat ke dalam lapangan saat ia duduk di bangku panjang Tim Empat Musim dan tertunduk, menutupi wajahnya.
Yang berikutnya Zet dengar adalah sorak-sorai, luapan kegembiraan dan dari kursi penonton yang memenuhi stadion. Benaknya dengan cepat mencoba mencerna arti suara itu.
Kesimpulannya sederhana saja. Andai yang terjadi adalah Luis berhasil menghalau atau menangkap cakram, atau lemparan Rick yang kurang akurat sehingga tak terjadi gol, suara-suara sorakan itu tak mungkin bergema sampai membahana seperti ini.
Jadi yang terjadi sudah bisa ditebak. Rick Oakes berhasil melesakkan cakram ke gawang Luis, sehingga kedudukan skor menjadi tiga lawan dua.
Fajar Emas berhasil menjadi juara dalam Kejuaraan Odyscus Antar Mahasiswa Universitas Langit Angkasa tahun ini.
Zet membenamkan kepalanya lebih dalam di bawah handuk dan kedua telapak tangannya.
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-