
Tak biasanya pekarangan rumah Aeron dan keluarga dipasang hiasan bendera segitiga dan gantungan lampion. Bau cat tembok yang masih baru, serta tambahan patung air pancur adalah contoh lain dari keanehan di tempat itu. Arak-arakan kereta mulai terlihat dari jauh, di antara warga sekitar yang ikut menonton. Deon di depan pagar rumah menyuruh Oxi berdiri tegap dan tersenyum anggun seperti geladi resik kemarin. Sementara Zet masih berusaha menahan tawa melihat wajah gadis imut-imut itu dilumuri bedak dan gincu tebal seperti badut. Ayah menyikut perut Zet supaya lebih memerhatikan suasana.
Pasukan kuda putih yang ditunggangi prajurit berpakaian mengilap berhenti di depan halaman rumah Aeron. Seseorang berpakaian rapi turun dari kereta. Pria itu mengenakan jubah tipis pendek, yang menjadi bagian luar dari pakaian kulit, khas Kerajaan Kubah Malam.
“Selamat pagi,” ucapnya sopan sambil membungkukkan badan secukupnya. “Saya Jenderal Pan. Bersama kami, turut serta Tuan Putri Catriona, mewakili Kerajaan Kubah Malam.”
Josen sebagai kepala keluarga Dionisos memperkenalkan diri, dan Aeron sebagai tuan rumah segera menunjukkan jalan. Zet hanya terkesima memperhatikan orang-orang yang menuntun kuda mereka, sampai mata ungunya terpana ketika melihat seseorang di dalam bilik kereta kuda itu. Sosok bermata merah tersebut menatapnya balik, dan seolah ada panah yang menusuk jantung Zet, dengan cara yang indah. Oxi yang berdiri di samping Zet merasa jengah dan menepuk mata kakaknya itu dengan kipas, membuatnya berkedip. Zet pun menggerutu dan memarahi Oxi, merasa kikuk karena Putri Catriona langsung menahan tawa di dalam bilik kereta tersebut.
Orang-orang yang semula menonton arakan dari jalan pun kini mulai masuk. Pekarangan rumah Zet memiliki jalan setapak menuju sebuah arena cukup luas dengan tribun melingkar dan berundak-undak. Tidak biasanya mereka mau menonton pertandingan keluarga. Namun, tamu dari Kerajaan Kubah Malam punya efek tersendiri dalam menarik massa.
Pertandingan akan dimulai lima menit lagi. Setelah semua tamu kehormatan mendapatkan jamuan, mereka segera duduk berjajar di tribun. Di ruang tunggu peserta, Zet mondar-mandir sambil sesekali mengecek liontin yang ia sembunyikan di balik baju hitam. Ia menghafalkan catatan mantra yang pernah diberi tahu Oxi. Rylon menepuk pundaknya, menyuruhnya duduk dan menenangkan diri.
“Sebentar lagi, kita akan menyaksikan pertandingan keluarga Dionisos.” Paman Josen berdiri di atas panggung kecil. “Pertandingan rutin ini diadakan setiap tahun, untuk terus melatih dan mengembangkan kemampuan bertarung dari putra-putri kita, sekaligus mempererat tali persaudaraan di antara mereka.”
Mempererat tali persaudaraan apanya, Zet justru berpikir sebaliknya. Namun anak muda itu jadi sadar, kompetisi mungkin adalah satu-satunya hal yang bisa menyatukan semua anggota keluarganya. Perselisihan seolah selalu mengalir dalam darah mereka. Mungkin dulu kakek–nenek buyut betul–betul sudah memikirkan hal tersebut.
“Pertandingan kali ini sangat spesial, karena dihadiri oleh Putri Catriona Lewis, dan juga Jenderal Panthera dari Kerajaan Kubah Malam.”
Zet di antara tiang besar, melirik gadis cantik yang kini berdiri bersama Jenderal untuk memperkenalkan diri. Baru kali ini ada perempuan yang menawan hati Zet dalam satu kali pandang.
“Bagus,” ucap Deon di samping telinga Zet tiba-tiba, “kau akan salah fokus dan gagal mendapat rekomendasi dari mereka kalau terus melirik ke atas sana. Fokus, Nak!” Kepala Zet digoyang-goyang seperti celengan. Deon benar, ini bukan waktunya untuk mencari pacar baru.
“Baiklah, tanpa berlama-lama lagi, kita langsung saja menyaksikan pertandingan pertama!” Josen membuka acara dengan confetti. Genderang ditabuh oleh beberapa pemain musik. Zet sampai lupa kalau ia sedang berada di rumahnya sendiri, bukan di Colosseum. Perayaan ini sudah mulai berlebihan.
Oxi keluar menuju lapangan diiringi sorak-sorai dari penonton. Gadis itu melambai dengan muka riang. Zet tidak kaget kalau ia sangat senang menjadi pusat perhatian. Tahun ini, Asmodius menjadi lawannya. Ternyata ia sudah diperbolehkan ikut. Tanpa basa-basi, Dius menarik lengannya ke atas, membuat percikan yang tampak seperti kilat di udara, kemudian membawanya ke tanah. Percikan kilat itu menjalar ke arah Oxi yang nyaris lengah. Oxi spontan melompat ke samping, dan ternyata kilat tersebut mengejarnya. Air yang dikendalikan Oxi tak bisa menghentikan kilatan tersebut. Justru dengan adanya air yang menggenang, kilatan itu menjadi berubah menakutkan, semacam laba-laba yang kakinya bisa menjilat kulit siapa saja hingga terbakar. Kilat itu membuyarkan orang-orang di tribun paling bawah, dan mereka bergegas naik dengan wajah ketakutan.
Oxi melompat ke sana ke mari sambil terus melempar es. Dius menunggu gadis itu menginjak genangan air, dan sekaranglah saat yang tepat untuknya. Serabut berwarna putih kebiruan terlempar dari tangan Dius menuju kaki Oxi, membuat gadis itu terkena sengatan listrik, dan roboh terpental ke tanah.
Semua orang tercengang, Aeron berdiri, refleks hendak menyelamatkan putrinya. Josen bersiap untuk menghentikan pertandingan. Namun Oxi masih bisa bergerak. Saat Dius men-charge listrik di tangannya, gadis itu segera membekukan genangan air di bawahnya, membuat es itu merambat ke kaki Dius, seraya membuat perisai tebal untuk melindunginya dari serangan Dius. Mendapat kesempatan yang cukup bagus, Oxi berlari mengelilingi pemuda itu, menembaknya dengan air yang langsung membeku ketika menyentuh badan Dius. Dari depan, samping kiri, belakang, samping kanan, hingga hanya tersisa kepala Dius yang mengerang berusaha untuk lepas.
Oxi tersenyum miring dan menunggu Paman Josen menghentikan pertandingan, karena pemenangnya sudah jelas. Namun Oxi dibuat kaget, ketika Dius berteriak dan menghancurkan bangunan es miliknya. Oxi dengan cepat menghindari letupan-letupan listrik dari tangan Dius.
“Kurang ajar, kau, monster kecil!” Oxi lama-lama menjadi berang sendiri. “Aku masih tidak terima kau menghancurkan bola kristalku kemarin!” sungutnya sembari membuat perisai dari es, kemudian mendorongnya dengan cepat menuju Dius. Anak laki-laki itu terpental menuju tembok, ia sempat hampir pingsan, tetapi bangkit lagi. Oxi tampak terengah-engah, tetapi ia punya ide yang tidak mungkin akan gagal. Bola kristal air kemarin membuatnya seolah mendapatkan inspirasi.
Oxi menunggu Dius menyerang lagi. Kali ini anak itu menggunakan kombinasi dua tangan untuk membentuk cakram halilintar, yang tahu-tahu terlempar seperti gasing yang mengeluarkan listrik. Oxi meringis karena betisnya sempat terkena sengatan. Tanpa menunggu Dius men-charge kekuatannya, gadis itu memborgol tangan Dius dengan bekuan es.
“Μπάλα νερού.” Oxi segera membuat bola air yang sangat besar, dan membuat sepupunya tersebut terperangkap di dalam. Anak itu tak mungkin akan membuat listrik di dalam air, kecuali jika ia mau bunuh diri.
Membuat dan mempertahankan bola air sebesar ini membuat Oxi kesusahan sendiri, makanya tidak akan cukup bertahan untuk waktu lama. Sementara Dius sendiri di dalam air juga sudah mulai kehabisan napas. Gadis itu segera berteriak ke Paman Josen, “Kalau kau tidak menghentikan pertandingan, anak ini bisa mati!”
Akhirnya pertandingan babak pertama pun usai. Dius terbatuk-batuk saat Oxi menghancurkan bola airnya. “Nah, itu tadi pembalasan dariku, anak nakal!”
Para penonton berteriak senang akan pertunjukan Oxi. Putri Catriona yang semula enggan, tampaknya mulai menikmati acara tersebut. Zet menarik napas menenangkan diri, karena sebentar lagi, namanya akan dipanggil.
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-