The Master Of Arcana

The Master Of Arcana
87: AIR KERAS DAN PINTU BATU



Menyusuri jalan setapak dalam gua kota bawah tanah di bawah Gurun Kaktus Kuning, Zet, Nina dan Singh tiba di sebuah lorong yang lumayan lebar. Itu jalan setapak yang sama dengan yang sedang mereka tapaki ini, bedanya lorong ini dibatasi dinding batu di sisi kiri dan kanannya.


Masih dalam penerangan kristal gaib, Zet hendak melangkah melalui lorong itu. Namun Singh mencegahnya dengan berseru, “Tunggu dulu, Zet! Perhatikan jalan di depan matamu baik-baik!”


Zet mendelik, “Apa ada jebakan, Guru? Kelihatannya lorong ini lengang-lengang saja, tak ada yang mencurigakan.”


“Lihat lebih teliti!” tegur Singh. “Ada air yang sering menetes dari langit-langit gua, bukan?”


“Iya, tapi apa masalahnya?”


Giliran Nina menimpali, “Bisa jadi itu bukan air biasa, melainkan air raksa atau semacamnya, yang telah tercampur dengan mineral-mineral tertentu saat merembes dalam dinding gua, sehingga jadi beracun. Bahkan itu bisa jadi korosif, ‘memakan’ kulit dan logam apapun yang terkena tetesannya.”


“Bagus, aku tak perlu menerangkan panjang-lebar lagi,” ujar Singh sambil bertepuk tangan. “Jadi kesimpulannya, hindarilah tetesan-tetesan air dari rembesan langit-langit lorong itu. Atau, kalaupun sempat kau akan terpaksa memboroskan energi arcanum kayu untuk memulihkan tubuh yang terpapar air yang entah apa efeknya itu.”


“Baik, Guru!” Langkah-langkah Zet yang semula cepat berganti menjadi lamban dan hati-hati. Lorong yang seharusnya bisa dilalui dalam beberapa menit saja kini membutuhkan waktu sedikitnya setengah jam. Betapa tidak, ia harus memperhitungkan waktu tetesan air keras dari langit-langit yang bergantian, rapat dan cepat seperti hujan rintik-rintik, baru melangkah tanpa harus ketetesan zat yang entah beracun atau korosif itu.


Zet berhasil lewat sampai hampir di ujung lorong yang jalurnya berkelok. Namun ia salah perhitunngan. Saat lewat di ambang pintu keluar lorong, lengan bawah Zet terkena tetesan air keras. Ia mengerang kesakitan, perihnya bukan kepalang. Serasa ada sesuatu yang membakar dirinya hidup-hidup.


“Kau kenapa, Zet?” Nina lewat di depan Zet yang memegangi lengannya. “Wah, lenganmu kena! Cepat, itu harus disembuhkan sebelum lukanya makin lebar dan dalam!”


Nina sendiri menggunakan perisai sihir yang membentuk semacam payung di ujung tongkat sihirnya, memayungi dirinya sendiri sehingga aman dari air keras.


Singh yang sudah amat sakti tentu kebal dari air keras. Ia lewat dengan lincahnya ke hadapan Zet dan berseru, “Tunggu apa lagi? Gunakan arcanum kayu untuk menyembuhkan lenganmu, Zet! Pakai sihir penyembuhan dari kampus!”


“Oh, ya!” Itulah masalah Zet. Sejauh ini pun pengalamannya, ia masih bisa lupa atau melakukan pelbagai kesalahan dan mengambil pelbagai keputusan bodoh, yang adalah manusiawi. Namun, adanya teman dan guru yang mengingatkan dan menegur Zet adalah berkah tersendiri. Mungkin dewa-dewa memang mendukung dirinya di jalan menuju Master of Arcana ini.


Zet lantas mengaktifkan arcanum kayu dan merapal mantra, “Delmetr!” Mantra Pemunah Racun dan Sihir seketika menawarkan dan menetralisir efek air keras. Disusul mantra kedua, “Vitali!”. Giliran Mantra Penyembuh Luka menyatukan kembali jaringan pada lengan Zet yang terluka. Pendaran sinar hijau dari energi arcanum kayu memperkuat daya sihir sehingga luka itu merapat dengan amat cepat dan lengan Zet utuh seperti sedia kala.


“Bagus,” kata Singh sambil terus berjalan. “Itu tadi jebakan tingkat dasar. Yang berikutnya akan lebih berbahaya lagi. Usahakan jangan memboroskan energi arcanum lagi ya, Zet!”


Tak sempat protes, Zet hanya bisa melongo, lalu pontang-panting menyusul Singh dan Nina yang sudah jauh di depannya.


Setelah jebakan air keras tadi, Zet dan Nina harus menghadapi serentetan jebakan lain.


Lubang-lubang di lorong-lorong yang harus dilompati, pasak-pasak runcing yang muncul dan menghilang sendiri, juga lantai-lantai jebakan sudah amat melelahkan fisik si kandidat arcanum tanah dan rekannya. Belum lagi para goblin dan troll yang sewaktu-waktu menyerang mendadak.


Hanya saja, karena sudah mulai memahami lawan, Zet dapat lebih mudah menjatuhkan dan menghalau mereka. Tentunya dibantu sihir Nina juga.


Karena Singh bukan kandidat dan adalah musafir antar ranah, atas kesepakatan dengan “tuan rumah” dan sesama musafir, Ahmed, ia dilarang ikut campur dan membantu. Kecuali jika si kandidat atau rekannya jatuh dalam jebakan atau terluka parah sehingga tak berdaya, barulah Singh boleh turun tangan semampunya. Selebihnya, ia hanya boleh memberi petunjuk dan peringatan saja. Hal ini sudah dikomunikasikan dengan Zet dan Nina dan keduanya tak keberatan. Sebenarnya, mau keberatan pun tak bisa, menentang musafir dewata itu bodoh.


Kabar baiknya, makin banyak dan makin sulit jebakan dan musuh yang muncul, Zet justru makin mahir mengatasi itu semua. Ia lebih mengandalkan gerakan yang makin lincah dan tenaga dalam dari tubuhnya sendiri saja, sehingga ia tak perlu memboroskan energi arcanum air dan kayu miliknya lagi.


Seakan tak mau membiarkan Zet lulus dengan mudah, ujian yang dihadapi tidak melulu ujian fisik. Halangan yang terpampang di depan matanya kali ini adalah sebuah dinding batu raksasa. Tak kelihatan celah, ceruk atau apa pun yang menyerupai pintu di dinding itu, sehingga zet sempat menyangka itu adalah jalan buntu.


Satu-satunya petunjuk yang Zet lihat adalah tiga baris pahatan yang masing-masing berbentuk bujursangkar sempurna, semuanya berjumlah sembilan. Pada masing-masing bujursangkar itu terpahat pula gambar-gambar abstrak yang cukup indah di mata orang yang awam seni.


“Seperti yang kalian lihat, pahatan-pahatan ala runik kuno itu bukan hiasan belaka,” kata Singh. “Ada sembilan gambar yang bisa digeser, yang harus disusun sampai membentuk satu gambar besar. Gambar itu dimaksudkan dalam syair Bahasa Runik Kuno yang terpahat di atas lambang pintu. Coba, Nina, apa kau bisa membaca huruf-huruf runik itu dan mengartikan maksudnya?”


Nina mengangguk. “Ya. Beda dengan yang di gerbang tadi, yang terpahat di sini adalah huruf-huruf runik Eirienne yang kupelajari di kampus. Teka-tekinya adalah ‘Aku kecil dan hidup dalam pasir. Namun bila berkumpul, kami lebih mematikan daripada badai pasir. Apakah aku?’”


“Oh ya, aku tahu!” Zet menjentikkan jarinya. “Karena kita baru saja menghadapi salah satunya, maka jawabannya ada dua. Yang pertama adalah kalajengking, dan yang kedua adalah Scarab!”


“Bagus. Coba susun bagian-bagiannya, siapa tahu itu jawaban yang benar,” kata Singh. “Kau boleh membantunya, Nina.”


Zet dan Nina lantas mulai menggeser-geser gambar-gambar pahatan dinding. Nina yang lebih cerdas daripada Zet bisa menggeser lebih cepat dan tepat, sehingga akhirnya mereka berdua berhasil membentuk gambar seekor Scarab. Pintu batu lantas bergeser terbuka di sisi kiri dan kanan dan bagian tengahnya tetap tertutup.


“Nah, bagus itu!” kata Singh. “Silakan lanjutkan!”


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-