
Universitas Langit Angkasa memiliki sedikitnya delapan belas fakultas, yang ditata berdasarkan bidang-bidang profesi yang hendak dituju para mahasiswanya.
Ada fakultas-fakultas umum seperti Ekonomi, Kedokteran, Teknik, Sains, Politik, Hukum, dan lain sebagainya. Ada pula fakultas-fakultas khusus untuk profesi-profesi yang dianggap tidak lazim dalam masyarakat.
Ironisnya, ada satu fakultas yang jumlah mahasiswanya jauh lebih banyak daripada di fakultas-fakultas umum termasuk Fakultas Ekonomi. Itu adalah Fakultas Supranatural, tempat Zet kini menuntut ilmu.
Atas rekomendasi dari raja Negeri Empat Musim dan mengingat jasa besar Zet dalam perang yang lalu, Zet kuliah di dua jurusan sekaligus, yaitu Jurusan Sihir dan Jurusan Kependekaran. Akibatnya, jadwal kuliahnya jadi amat padat. Jangankan mencari arcanum kayu, melatih tenaga dalam tingkat empat pun ia harus kerap mencuri waktu.
Minggu demi minggu terus berlalu, akhir-akhir ini Zet selalu tampil di pagi hari dengan bayangan hitam di bawah matanya alias “mata panda”. Sesekali ia menguap, tapi ia tetap memaksa diri melangkah. “Gila, sudah cuci muka tiga kali pun aku masih mengantuk,” rutuknya dalam hati.
Supaya tak mengantuk lagi, Zet menengok ke kanan dan kiri, mencari-cari apakah ada orang yang ia kenal yang bisa ia ajak bicara. “Aduh, mana pula Filian, Nina? Siapa saja!” batinnya. Tetap saja, kedua orang yang muncul dalam benaknya itu tak kunjung muncul. Zet menguap.
Langkah Zet tiba-tiba terhenti. Ia cepat-cepat berbalik, reaksinya cepat seperti hendak menangkis atau membalas serangan mendadak. Ia lantas terpaku sejenak, lalu bahunya turun dan ia terbungkuk lemas. “Ya ampun, aku sampai terlewat tiga ruangan dari ruang kelas yang seharusnya kumasuki. Beginilah kalau kurang tidur, Zet.”
Yang lebih memalukan lagi, beberapa mahasiswa yang kebetulan lalu-lalang di koridor itu menatap Zet sambil mengerutkan dahi atau geleng-geleng kepala. Terpaksa Zet berjalan kembali ke kelas yang benar dengan kepala tertunduk.
Tiba di depan pintu “kelas yang benar”, Zet baru menyadari sesuatu. Pintu berdaun dua itu letaknya cukup jauh dari pintu sesudahnya dan sudut koridor. Zet berkesimpulan, mata kuliah yang satu ini akan lebih banyak melibatkan kegiatan fisik daripada ceramah. Sifatnya lebih condong ke arah praktik daripada teori.
Maka, Zet menghela napas dan menepuk-nepuk pipi dengan dua tangan. Lalu dengan dua tangan pula didorongnya kedua daun pintu itu ke dalam. Entah karena jarang diminyaki, pintu jadi berdecit cukup keras. Tahu kedatangannya pasti bakal menarik perhatian, Zet tertunduk lagi.
“Aduh, kacau deh!” pikir Zet.
Benar saja, sudah banyak orang dalam “ruang kuliah” yang ekstra luas itu. Mereka semua menatap sebal ke arah Zet. Satu mahasiswi bahkan berceletuk, “Aduh, mengganggu sekali, sih! Sudah terlambat, masuknya pakai gaya pula!”
Zet melangkah maju sambil tertunduk malu-malu. Apalagi sudah ada Filian di sana, memalingkan wajah dari Zet seolah-olah ia sedang berpura-pura tidak mengenal sepupunya itu.
Puncaknya, seorang pria bertubuh tinggi besar dan kekar melangkah maju dan menegur Zet. “Kamu terlambat! Push-up enam puluh kali, sekarang!”
Meskipun Zet tahu ini mata kuliah apa, ia tetap melakukan push-up tanpa banyak tanya. Toh ia memang sudah terlambat dan mengganggu teman-teman sekelas yang lain. Jadi, hukuman ini memang pantas menimpanya.
Repotnya, kekuatan fisik Zet tidak lebih besar daripada rata-rata remaja ceking berusia sembilan belas tahun. Walaupun telah digembleng oleh Yun Lao, ayah dan ibunya, setelah enam puluh kali push-up itu, napas Zet terengah-engah. Bisa jadi faktor kurang tidur juga berpengaruh pada performa fisiknya saat ini.
“Payah! Kehabisan napas setelah push-up! Apa kamu yakin kamu tidak salah masuk kelas, anak muda?” cerca pria yang sepertinya adalah seorang pelatih olah raga itu. “Siapa namamu?”
“Oh, Dionisos! Pantas saja sikap berdirimu seperti prajurit.” Si pelatih lantas memeriksa kertas catatannya. “Hm, ya. Selain Filian Dionisos, namamu ada dalam daftar. Baiklah, saya Gordon Bleumont, Dosen Ilmu Tenaga Dalam di kampus ini. Dan kamu harus memanggil saya Pak atau Pak Gordon, paham?”
“Paham, Pak!” sahut Zet. Sebenarnya ia tergelitik hendak mengatakan “Paham, Pak atau Pak Gordon”, tapi gagasan lelucon garing itu ia urungkan karena ujung-ujungnya ia pasti akan kena hukuman lagi. Dari namanya, Pak Bleumont ini sepertinya warga dari salah satu kerajaan dekat Negeri Empat Musim, tapi Zet yang lupa nama negeri itu lebih baik tidak berasumsi macam-macam dulu agar tidak membuat kesalahan konyol.
Lagi-lagi Gordon memelototi Zet. “Ada apa kamu menatap saya seperti itu? Itu tidak sopan!”
Yang dipelototi jadi gelagapan. “Ma-maaf, Pak! Bukan maksud saya lancang, tapi semula saya mengira kalau Dosen Ilmu Tenaga Dalam biasanya berasal dari...”
“... Negeri Naga Nirwana.”
Zet terdiam oleh kata-kata Gordon itu, begitu pula dengan para mahasiswa lain di ruangan itu.
Keringat dingin Zet menitik di dahi dan pelipis. Jangan-jangan ia telah salah bicara dan Pak Gordon tersinggung.
Sesaat kemudian, tawa keras Gordon meledak, memekakkan telinga. “Hahaha! Bernyali juga kamu, Amazeta! Baiklah, kalau begitu sebagai lanjutan kuliah kita yang baru saja dimulai tadi, saya akan meluruskan dulu satu hal yang amat penting. Silakan duduk!”
Seperti halnya di dojo atau perguruan ilmu bela diri pada umumnya, para mahasiswa duduk bersila dan para mahasiswi bersimpuh di sisi luar lapangan tanding. Sedangkan sang dosen berdiri di tengah-tengah lapangan untuk mengajar, memberi petunjuk atau berceramah.
Gordon berdeham, lalu mulai bicara, “Seperti yang kalian lihat, Ilmu Tenaga Dalam kini telah berkembang dan tersebar di seluruh dunia. Memang, di zaman kuno hanya negeri-negeri yang kini jadi bagian dari Kubah Malam seperti Naga Nirwana dan sekitarnya saja yang menguasai ilmu yang dahsyat ini. Namun, seiring dengan meluasnya pemerataan teknologi dan atas prakarsa pendiri Universitas Langit Angkasa, yaitu Alistair Kane, kini para calon pendekar dari negeri apa pun dari seluruh dunia dapat mempelajari Ilmu Tenaga Dalam pula.”
Salah seorang mahasiswa mengangkat tangan. “Pak Gordon, bukankah negeri-negeri selain Naga Nirwana, Sakura Ungu, dan Ginseng Putih sudah memiliki Ilmu Pengendalian Elemen Alam? Bukankah kekuatan para Elementalis setanding dengan para pengguna tenaga dalam?”
“Bisa jadi. Faktanya, kekuatan alam bisa saja lebih kuat daripada tenaga dalam yang berasal dari tubuh seseorang. Ada Elementalis yang lebih kuat dari pengguna tenaga dalam, bahkan ada pula Elementalis yang diakui sebagai sosok terkuat dan tersakti di dunia. Yang terakhir itu bergelar Penguasa Arcana. Namun, pengendali elemen juga memiliki kekurangan dibanding pendekar tenaga dalam. Nah, adakah di antara kalian yang tahu apa kekurangannya?”
Filian yang memang adalah seorang Elementalis mengangkat tangan dan menjawab, “Kalau seorang pengendali elemen kehabisan amunisi, ia harus pergi mendekati sumber elemen yang ia kuasai itu agar bisa mengendalikannya dan bertarung lagi. Kalau tidak, ia pasti akan kalah.”
“Benar sekali, Filian. Rupanya kau ini seorang Elementalis, ya. Itu pasti jawaban yang berasal dari pengalaman tarungmu.”
“Ya, Pak.” Filian sengaja melirik ke arah Zet yang pernah mengalahkannya dalam Pertandingan Semarga dulu. Tapi Zet hanya bergeming, matanya tak lepas menatap Gordon.
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-