
Zet berdiri dengan pedang panjang dan perisai berbentuk bulat. Mata ungu di balik pelindung kepala itu menatap tajam Filian, yang berjarak sekitar lima meter di depan sana. Filian menyeringai sambil mengencangkan tali kacamata, saat Zet maju dengan pedang perak yang mengilat di tangan kanannya. Filian menangkis serangan Zet dengan dua bilah yang terbuat dari emas. Senjata pemuda itu menyatu dengan sarung tangan di lengan kanan dan kiri, membuatnya punya kemudahan untuk menusuk ke depan, samping, maupun atas, dengan lebih luwes, layaknya seorang petinju. Kini saatnya ia memukul mundur Zet. Senjata keduanya beradu, berdesing, dan di setiap sabetan, Filian maju selangkah demi selangkah, membuat Zet kelabakan. Dan terakhir, Filian berhasil menusuk pelindung kepala milik Zet, hingga pakaian besi itu terlepas dari kepala pemiliknya.
Zet tak mungkin menunjukkan tanda kekalahan di awal pertandingan. Deon pernah bilang, jika kau sampai membiarkan lawan terlalu sering unggul dalam gerakan penting, ia akan benar-benar mengalahkanmu. Permainan psikologis. Zet meloncat dan mengambil jarak, lalu diam-diam ia mulai mengaktifkan kekuatan arcanum di balik pakaian besinya.
“βαρύ κύμα!”
Air di belakang Zet terangkat ke atas seperti ombak. Alih–alih terintimidasi, Filian mentertawakannya. “Kau bodoh atau bagaimana? Coba baca tentang Wuxing. Air tidak akan menang melawan logam!”
Kedua sarung tangan emas di tangan Filian berubah menjadi bilah yang lebih panjang dan lebar. Pemuda itu berjalan mengadang hantaman ombak yang berusaha mendorongnya menuju tembok belakang, tetapi tancapan sepatu, dan beratnya pakaian solid yang ia kenakan membuat air sebanyak itu hanya terbuang sia-sia. Saat tubuh Zet mengisi ulang mana, Filian meloncat hampir seperti terbang dan hendak menghunjamkan bilahnya ke wajah Zet. Beruntung pemuda itu sempat menarik perisai bundar guna melindungi diri.
Kini Filian mengunci tubuh Zet ke tanah. Sementara tangan kiri Filian memegang perisai bundar Zet, mengubahnya menjadi lelehan logam tak berarti. “Hehhehe, tak akan kubiarkan kau menang dan mendapat perhatian dari Putri Catriona.”
Sejenak Zet melirik ke arah Tuan Putri yang sedang berbincang di kursinya. Sang putri bahkan tidak tampak menaruh ketertarikan terhadap pertandingan itu. Zet menggertakkan gigi, masih berusaha menahan agar bilah pedang Filian tidak menyentuh kulit. “Aku cuma ingin perhatian dari Kerajaan Kubah Malam, agar diterima di Perguruan Langit Angkasa.”
Wajah Filian mengendur, dan kini saatnya Zet memusatkan kekuatan untuk mendorong tubuh Filian menjauh, mengancamnya dengan pedang perak. Zet membuang perisainya yang sudah tidak berbentuk. Deon menyoraki Zet, memberinya semangat. Namun itu tidak perlu. Mata Zet kini berapi-api, ingin menghabisi si mesum satu ini, yang pikirannya cuma ingin bermesraan dengan Tuan Putri Catriona di akhir pertandingan.
Ujung pedang Zet berhasil menggores rahang Filian selebar lima senti. Pemuda itu menyapu darahnya sendiri, sembari tersenyum remeh. “Jadi kau bahkan tidak percaya diri dengan kemampuanmu sendiri, sampai harus mengemis dari kerajaan lain? Hahaha, kau sangat menyedihkan, Zet!”
Filian melemparkan tombak berantai yang ia buat dari sarung tangan emas. Tombak itu berubah menjadi bola berduri yang menyerempet dada Zet. Beruntung Zet mengenakan baju zirah. Zet berusaha jalan lagi dari posisi menghindar, saat bola duri itu ditarik dan dilempar ulang oleh pemiliknya. Tanah bekas lemparan bola itu pun hancur. Zet, yang berhasil menghindar, membayangkan jika kepalanya sampai kena, ia pasti akan berakhir di kuburan keluarga Dionisos. Mungkin saja itu cara efektif untuk menghentikan omong-kosong tradisi mengadu domba anggota keluarga ini.
Zet merunduk dan berguling saat bola berduri itu kembali dilontarkan. Kemudian ia menggapai mata rantai, menariknya, membuatnya beku dengan air, dan memotong mata rantai itu dengan pedang.
“Siapa bilang air tidak bisa mengalahkan logam?” tanya Zet sambil menyunggingkan senyum. “Kau akan tenggelam dan berkarat, emas imitasi!”
Mata rantai pun terputus, dan Zet segera melemparkan bola berduri itu jauh-jauh dari jangkauan Filian, agar si kacamata itu semakin kehabisan amunisi. Filian geram, lalu membuat cakar yang panjang dari sarung tangan dan logam di baju zirahnya yang tersisa. Zet sendiri masih berpikir bahwa ia bisa memanfaatkan kelemahan mata Filian, yang sebenarnya payah ketika harus melakukan serangan jarak jauh. Namun trik tahun lalu tentu tidak akan berhasil dilakukan dua kali. Sekarang, Zet punya arcanum. Jadi ia harus berpikir lebih tinggi, dan memanfaatkan keuntungannya sebaik mungkin.
Dibiarkannya Filian berlari mendekat. Zet hanya berusaha mengikuti arah pukulan dan cakaran lawan, sampai merasakan kekuatannya mulai bertambah. Arcanum telah bekerja. Filian bersikeras melawan Zet, yang jelas-jelas menipunya dalam setiap gerakan. Semakin besar usaha Filian mengalahkan Zet, sebanyak itu pulalah mana yang ia sumbangkan.
“Kau dengar sendiri dari ayahku, kan, kalau Kubah Malam sedang mencari prajurit bintang?” ucap Zet, sembari memukul lengan Filian, membuat sarung tangan itu terpental jauh, lalu merobohkan tubuhnya yang kini menjadi lemah. Tanpa pengendalian logam, Filian bukan apa-apa. Bahkan sepertinya Zet tak harus susah payah menggunakan pengendalian air untuk mengalahkan si kacamata ini. Apalagi berkat percakapannya di kamar semalam, Zet jadi tahu sisi lemah dari si Filian. Sabetan pedang terakhir Zet berhenti di atas jakun pemuda berkacamata tersebut.
“Stop, aku menyerah!”
[...]
Baru kali ini Zet melawan tradisi. Biasanya setelah bertanding di babak pertama, ia hanya akan menonton pertunjukan selanjutnya, sambil mengudap kue kering dari dapur. Akan tetapi, sekarang ia telah menjadi bagian dari pertandingan secara utuh. Justru, ia harus mempersiapkan diri untuk menghadapi Oxi.
“Ingat, Zet. Aku membiarkanmu menang, cuma gara-gara katamu tadi. Aku malas pergi ke universitas, apalagi sampai menjadi prajurit bintang,” ucap si pemuda berkacamata. Agaknya Filian masih saja ingin mempertahankan harga diri, terutama di hadapan rivalnya sejak kecil.
“Oh, jadi aku harus berterima kasih?” Zet melanjutkan latihan pedangnya di ruang belakang. Suara sorakan dari lapangan pertandingan masih terdengar sampai sini. Ia sengaja melewatkan pertandingan Deon dengan Rylon, semata-mata karena tak mau pikirannya terbebani. Jika Zet berhasil mengalahkan Oxi, Zet akan bertarung dengan salah satu dari mereka. Baik Deon maupun Rylon tidak ada yang bisa dipilih.
Filian mendengus sinis. “Naif sekali. Keinginanmu seperti anak kecil saja, tahu. Hanya ingin menjadi yang terhebat dan terkuat di dunia. Supaya dipandang keren oleh orang lain.”
Zet tak mengindahkan. Ia terus menyabetkan pedang sambil mengatur kuda-kuda. Filian tidak tahu apa-apa soal tujuan Zet. Karena sejak lahir, hidup Filian sudah bergelimang harta. Apa pun yang ia inginkan selalu terpenuhi.
“Pernah tidak kau memikirkan, apa yang benar-benar menjadi keinginanmu?” tanya Filian lagi.
Pedang Zet berhenti bergerak. Pemuda bermata ungu itu terengah-engah dengan keringat yang mengucur di pelipis. Ia tampak merenungkan sesuatu. Pikirannya melanglang buana menuju masa lalu yang tak pernah ingin ia ungkapkan ke siapa pun. Tentang rasa sakit itu. Rasa kehilangan kekuatan yang sampai saat ini membuatnya tak berdaya. Zet kecil selalu bertanya tentang kapan Sang Ibu akan pulang. Ayahnya menjawab, ia akan kembali pada waktunya. Dan sayang sekali, hingga saat ini, Zet tak tahu ke mana lagi rimbanya sumber kekuatan itu. Zet selalu ingin melupakannya, dan mencari kekuatannya sendiri.
“Aku heran, yang patut marah adalah dirimu dan juga ayahmu, Zet. Bukan kami. Tahu sendiri kan, Kubah Malam memiliki hubungan yang kurang baik di masa lalu dengan ibumu.”
Zet hanya bergeming menyapu keringat di dahi.
“Oke, kurasa aku akan tiduran di kamar saja,” kata Filian canggung mendapati Zet cuma bengong tanpa berbuat apa-apa lagi. Saat punggung pemuda berkacamata itu menghilang, Zet melempar pedang dengan penuh amarah, lalu menancap di boneka kayu.
[...]
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-