The Master Of Arcana

The Master Of Arcana
92: TIGA ARCANUM



Ketika posisi kepala banteng raksasa sudah masuk jarak jangkauan tangan, tanpa pikir panjang Zet mengulurkan tangan untuk meraih kristal arcanum tanah dari dahi Behemoth.


“Eits, tak semudah itu, Amazeta!” sambil mengatakannya, Behemoth perlu menggeser kepalanya sedikit, mencondongkan tanduk-tanduk raksasanya.


Mata Zet terbelalak saat melihat tanduk terpendek tertuju lurus, hendak menghunjam ke arahnya. Dengan refleks yang telah terlatih. Zet mengangkat kedua kakinya tinggi-tinggi, lalu ia menjejak dan menolakkan tubuhya dari tanduk tiu ke arah dahi Behemoth yang telah bergeser.


Memanfaatkan kesempatan emas, tangan Zet yang terulur menyentuh kristal kuning arcanum tanah, dan hendak mencabutnya dengan tenaga dalam Zet sendiri. Gilanya, kristal itu tak tercabut karena tersemat terlalu keras dan kuat, seolah-olah menyatu dengan dahi itu


Zet terkesiap karena gagal dan salah langkah. Bagai sudah jatuh tertimpa tangga, tubuhnya terhantam salah satu tanduk besar Behemoth. Pegangan Zet pada tali akar rambat terlepas dan ia terjun bebas ke tanah bagai terjatuh dari atap dinding pertahanan benteng.


Untunglah Singh sudah sigap dan menangkap tubuh ramping Zet itu. Kalau sampai membentur tanah, bisa jadi tulang-tulang Zet bakal remuk.


“Cukup sudah!” teriak Nina sambil memegangi perutnya. Darah membasahi satu sisi sudut bibirnya, tanda ia baru saja muntah darah. Ia lantas merapal mantra, “Inferno!”


Yang dimaksud Nina adalah ia tak sudi didikte oleh Behemoth. Melihat Zet tak bisa melepaskan arcanum tanah dari dahi si raksasa dengan tenaga dalam biasa, terpaksa Nina menggunakan cara terbaik yang ia bisa, yaitu sihir pamungkas dari jarak jauh, Hujan Api Neraka.


“Jangan, Nina!” Sia-sia Kimiko mencoba mencegah Nina. Api bertekanan amat tinggi tercurah tegak lurus dari udara, mengguyur tubuh dan terutama kepala Behemoth tanpa ampun.


Si banteng sebesar benteng meraung dengan suara amat keras, bergema di seantero kubah gua. Getaran suaranya bahkan membuat gempa tersendiri yang mengguncang amat keras dan kuat. Akibatnya, ada beberapa stalaktit besar dan kecil berjatuhan dari langit-langit kubah gua.


Zet, Kimiko dan Singh kerepotan menghindar atau menepis hujan guyuran stalaktit runcing.


Yang paling parah, satu stalaktit besar jatuh tepat ke arah Nina yang masih bergeming karena tengah merapal sihir. Melihat itu, Zet yang posisinya paling dekat dengan Nina dan baru pulih dari hantaman tanduk tadi terpaksa mengaktifkan energi arcanum air.


Zet menembakkan semacam meriam air. Semburan air bertenaga besar itu berhasil menepis stalaktit hingga melenceng ke arah lain dan menghantam tanah hingga pecah berkeping-keping.


Meskipun tak terkena stalaktit, kejutan tadi membuat konsentrasi Nina buyar seketika. Akibatnya, sisa energi dari rapalan sihir yang terhenti tiba-tiba balik menyerang si perapal. Lagi-lagi Nina muntah darah dan jatuh terpelanting ke belakang, lalu roboh di tanah, tak bisa bangun.


Giliran Kimiko yang dengan sigap mengalirkan tenaga dalamnya ke dalam tubuh Nina yang kejang-kejang, berusaha memulihkan orang yang sudah beberapa kali ia tolong tapi tetap menganggapnya musuh itu.


“Beraninya menyerangku dengan sihir pamungkas?” teriak Behemoth dengan murka. ‘Ini keterlaluan! Akan kukubur kalian semua bersamaku di gua ini dengan jurus pamungkasku, Bencana Maha Kuasa!”


Menyadari keadaan sangat gawat dan para petarung sudah gelap mata, Singh berteriak dengan suara menggelegar, “Hentikan aksimu, Behemoth! Dalam ruang tertutup seperti ini, jurusmu akan meruntuhkan seluruh kubah gua ini! Gunakan akal sehatmu, hei titisan Ahriman!”


“Tak apa-apa!” hardik Behemoth. “Biar semua penantang dan aku binasa di sini! Biar arcanum tanah tetap terkubur selamanya dalam gua ini, tak akan dapat direbut oleh kandidat lain lagi!”


“Kalau sikapmu seperti itu, kau tak pantas lagi menjadi musafir antar ranah titisan dewa! Kalaupun kau selamat dari reruntuhan gua ini, ketua semua musafir, Alistair Kane pasti akan turun tangan dan mengutus para musafir lain untuk memburumu! Titisan Zeus atau titisan Thor di Terra Revia ini pasti lebih dari cukup sakti untuk membasmi dirimu!”


“Mengapa tidak kamu saja, Musafir Singh? Coba saja hentikan aku kalau bisa!”


Narayanan Singh malah tersenyum lebar. “Oh, tentu saja aku punya peluang untuk menghentikan dirimu, walaupun aku bukan titisan mahadewa. Tapi yang kulakukan sekarang lebih penting lagi, karena sekarang perhatianmu sudah teralihkan olehku.”


Behemoth mendelik ke arah Singh. “Perhatianku teralihkan? Dari apa? Jangan mengada-ada!”


Terkesiap, Behemoth baru menyadari keberadaan Zet yang sudah bertengger tepat di atas kepalanya, berpegangan pada salah satu tanduk kecilnya di posisi paling atas dan paling tengah di kepala banteng raksasa itu.


Ternyata sejak tadi Zet sudah mengeluarkan tali akar rambat lagi dari arcanum kayunya, lalu memanjat tubuh Behemoth tanpa menggunakan tenaga dalam sama sekali agar tak dapat dideteksi oleh duri-duri raksasa gaib di punggung banteng benteng itu. Zet lalu mengendap-endap sampai ke posisi yang pas di kepala Behemoth yang serba batu.


Setelah Singh memberitahukan keberadaannya pada lawan, Zet mengulurkan tangannya dan menempelkan telapak tangan itu tepat di atas arcanum tanah yang tesemat di dahi Behemoth. Ia lantas memompakan energi air bertekanan tinggi dari arcanum airnya, membanjiri setiap celah di sekitar dahi itu dan merasuk terus sampai ke dalam kepala banteng raksasa itu.


“Lepaskan arcanum tanah, Behemoth,” ancam Zet. “Atau air gaib arcanum akan meledakkan otakmu dari dalam.”


Suara Behemoth yang semula meninggi kembali agak datar. “Oh, begitu rupanya. Cerdas sekali kau Zet, menggunakan satu-satunya cara yang tepat untuk melepaskan arcanum dari kepalaku, yaitu dengan energi arcanum air.”


“Maksudmu?”


“Sifat air adalah mengikis tanah dan bebatuan. Air dari arcanummu cukup kuat untuk mengikis dan melarutkan tanah liat perekat yang sudah mengeras di sekitar arcanum. Begitu tanah perekat terkikis sepenuhnya, arcanum tanah akan terlepas dari dahiku dan bisa kauambil dengan mudah.”


Sebagai bukti Behemoth tidak bohong, beberapa saat kemudian air kental yang sudah bercampur tanah perekat meleleh dari tengah dahi si banteng raksasa. Kristal kuning arcanum tanah sejati terlepas sendiri dari celahnya, tapi bukannya jatuh, kristal itu membubung ke arah si pewaris baru, yaitu Zet. Kristal itu menampilkan wujud wadahnya, yaitu sebuah gelang emas yang agak tebal, lalu gelang itu terpasang sendiri dengan pas di pergelangan tangan Zet.


Berayun pada tambang sulur dari arcanum kayu, Zet turun dan mendarat dengan mulus di lantai gua bawah tanah. Ia lantas disambut oleh Singh, Nina dan Kimiko.


“Wah, selamat, Zet!” kata Singh. “Aku tahu, sebenarnya kau banyak akal seperti ibumu, Rhea dan ide cemerlangmu pasti bisa terbit di saat-saat yang tepat!”


“Ya, kau kini punya tiga arcanum sekarang!” Kimiko menambahkan. “Sudah lebih dari setengah jalan telah kau lewati untuk menjadi Master of Arcana.”


Sebaliknya, Nina malah protes, “Tapi kita tak bisa membiarkan Behemoth alias Ahmed atau Titisan Ahriman itu melenggang tanpa diberi pelajaran! Ia tak boleh bersikap semena-mena, walau dalam rangka ujian dan pertunjukkan sekalipun!”


“Aku dengar itu,” kata Behemoth yang dengan cepat telah menyusut dan berubah wujud kembali menjadi si pewaris, Ahmed. “Sekarang jaga kata-katamu, Nina Gnossis. Jangan memaksa diriku untuk ‘membela diri’ lagi dari kelemahan dan kesalahanku, atau imbas yang lebih parah dari yang sudah-sudah akan kau cicipi sebelum berangkat ke neraka.”


“Ya sudahlah, tak usah diperpanjang lagi,” kata Zet yang lalu berpaling pada Ahmed. “Kumohon tunjukkanlah jalan keluar dari gua bawah tanah ini, Sesepuh.”


“Baiklah,” kata Ahmed. Ia lantas membimbing Zet, Nina, Kimiko dan Singh ke sebuah ruangan gua berikutnya, yang jauh lebih sempit daripada ruang kubah raksasa tempat pertarungan tadi.


Ahmed lantas meminta Zet untuk mengaktifkan arcanum tanah sejati dengan membayangkan sederetan anak tangga yang berulir panjang terus ke sebuah cahaya yang menyusup dari sebuah celah yang cukup besar bagai ambang pintu keluar gua. Seketika, undakan-undakan batu bertonjolan dari dinding dan berputar terus sampai ke atas.


“Itu baru satu dari seribu kegunaan arcanum batu sejati. Karena arcanum tanah telah memilih dirimu yang telah lolos uji, kunyatakan kau kini adalah pewaris tiga arcanum. Gunakan mereka dengan baik dan jangan terlalu cepat mengembalikannya padaku.”


“Lho, mengapa begitu?” kata Zet.


“Saat Singh terakhir kali mengembalikan arcanum tanah dari Rhea padaku, aku menghela napas karena bakal kembali dari libur panjangku untuk menjalani pekerjaan yang membosankan dan hari-hari kesepian seperti ini. Itu bisa membuatku gila, tahu, seperti kenekadanku yang tadi itu.”


Singh hanya tertawa, lalu berkata, “Kalau begitu ayo kita keluar sekarang dari gua bawah tanah.”


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-