The Master Of Arcana

The Master Of Arcana
24 : RHEA



Malam itu, seseorang menjenguk Zet. Sosok yang memakai jubah biru bertudung yang membuatnya bingung. Baru setelah ia membuka tudung itu, Zet terkejut sekaligus terkesima. “T—tuan putri.” Zet menunduk seketika. Suatu kehormatan bahwa perempuan ningrat itu sudi mendatangi selnya.


“Tidak apa, Zet.” Terkadang Zet merasa begitu naif karena telah melupakan beberapa keindahan dalam hidup, dan memutuskan untuk mengakhirinya. Akan tetapi, melihat putri itu tersenyum, ia pun ikut tertular rasa nyaman. Tak lama, sebelum kebahagiaan itu surut kembali. “Aku ke sini hanya untuk bicara padamu. Topeng putih itu adalah milik kakakku, dan memang benar bahwa aku yang memberikannya saat dulu masih kecil. Aku tidak mungkin lupa.”


Pengakuan itu meremangkan rambut di tangan Zet. Tak ia sangka fakta itu akan keluar langsung dari sang putri. Perempuan itu meraih tangan Zet, membuatnya salah tingkah. “Kau tak seharusnya di sini, Zet. Tenanglah, aku akan mencari cara untuk mengeluarkanmu dari sini.”


Jantung Zet rasanya ingin meledak. Ia mengucapkan terima kasih, dan membiarkan tuan putri meninggalkannya dalam perasaan riang. Saat Zet melonjak kegirangan, lalu menari di atas lantai penjara, Yun Lao tiba-tiba muncul dari balik bayangan lampu. Zet langsung jengah, dan pura-pura menepuk nyamuk.


“Jangan lekas percaya dengan keluarga Lewis.”


Kelopak mata atas Zet pun turun mendatar. “Ah, kau merusak suasana sekali, Yun Lao!”


“Aku hanya roh pembimbing. Wajib mengingatkanmu supaya tidak lengah.”


“Tuan Putri tampak baik.”


“Kau menyukainya. Makanya ia jadi tampak baik.”


Pipi dan kuping Zet seketika memanas karena malu. “Blablablabla. Aku tidak mau dengar.” Zet meloncat ke ranjang, menutupi pelipisnya dengan bantal, walaupun perkataan Yun Lao tersebut telah merasuk ke pikirannya. Hatinya pun jadi goyah.


 


 


[...]


Kubah Malam tak bisa diajak kompromi sama sekali. Mereka tetap mengotot dan ingin menghancurkan Kerajaan Ular Pasir, sebelum mereka bisa bangkit dan malah menyerang Kerajaan Kubah Malam karena telah melindungi musuh mereka, Padang Sabana. Siapa pun yang menghalangi Kubah Malam akan dibuat menyingkir, tak terkecuali Rhea dan para pasukan elit dari Empat Musim.


Empat Musim tak bisa menarik diri lagi, karena jika itu dilakukan, Ular Pasir akan luluh lantak menghadapi mesin dan senjata pemusnah masal dari negeri adikuasa itu. Lalu, sisa dari kerajaan mereka akan menaruh dendam kepada Kubah Malam, dan perang besar akan terjadi terus-menerus seperti rantai yang tak pernah putus.


Pertarungan itu berlangsung selama tiga hari tiga malam. Kekuatan mereka setara. Banyak pejuang berguguran. Naga para penyihir berhasil ditumpas seluruhnya oleh Barhlar, naga Rhea. Kini tersisalah hewan itu saja yang terbang di udara, setelah balon terbang terakhir dari Kerajaan Kubah Malam berhasil dirobek. Dari ketinggian itu, Rhea menyaksikan tanah-tanah yang menghitam di bawah sana. Asap dan debu yang menggerombol ke langit. Juga suara jeritan yang berganti-ganti dengan dentam meriam. Kubangan darah menjadi bukti, bahwa perang sungguh membuat nyawa manusia tak ada harganya lagi.


Lengah, sebuah panah mengenai ketiak Barhlar. Naga itu memekik, dan kepakan sayapnya menjadi tak seimbang. Rhea menempelkan badan ke punggung Barhlar, atau ia akan terjun bebas. Sayangnya, ada beberapa rantai yang menyusul. Rantai-rantai itu secara sinergis menghentikan gerakan Barhlar di udara. Lantas tubuh naga itu ditarik paksa ke bawah. Enam buah traktor segera menyebar, membuat tali rantai itu menegang dan Barhlar pun terkunci di tanah. Moncongnya pun segera diikat kuat-kuat sehingga tak bisa menyemburkan api. Rhea membekukan rantai, mencoba membakarnya dengan api, menjepitnya dengan tanah, tetapi semua usahanya tak berhasil. Rantai itu terlalu kuat, bahkan tak bisa dibengkokkan dengan mudah, sekalipun Rhea telah menggunakan kekuatan arcanum emas.


Penyihir dari Sekte Salju Putih menyerang Rhea hingga wanita itu berguling ke tanah. Ia melihat suaminya tengah kalah bertarung juga.


“Lihatlah sekelilingmu!” perintah Komandan Panthera, yang kala itu lambang di seragamnya masih bergambar dua bintang. “Kalian telah kalah, jadi menyerahlah! Dan kita akan sudahi perang ini.”


Rhea berpikir bahwa ia masih memiliki senjata pamungkas.


Komandan tidak menjawab apa-apa. Ia hanya memperlihatkan kepada Rhea sekali lagi kondisi Aeron yang telah diborgol, dan naganya yang meringkuk di tanah. “Jika kau mencoba melawan lagi, kami tak segan akan mengakhiri hidup mereka.”


Aeron menggeleng. Rhea masih ingat perkataan suaminya sebelum mereka berangkat ke medan perang. “Sekali pun, jangan pernah pikirkan apa pun tentangku, atau yang lain selama pertempuran. Kau adalah pengendali arcanum, maka jadilah itu. Lakukan apa yang harus kau lakukan. Tujuan utama kita adalah menghentikan perang ini sekarang. Fokus!”


Air mata Rhea menggenang di pelupuk. Kelima arcanum terpasang di badan, angin berputar semakin membesar seperti tornado mengeliling tubuh Rhea yang mulai naik ke atas. Panthera siap memberi komando untuk menarik busur yang mengarah ke jantung Barhlar, dan pedang yang menyilang di atas jakun Aeron.


Liontin air dan api sempat menyala sebentar, tetapi melindap kembali saat keputusan Rhea bulat. Kedua kaki wanita itu kembali menapak bumi, dan ia pun akhirnya melepaskan satu per satu arcanum yang ia kenakan, dan melemparnya ke depan, di antara dirinya dan Panthera.


“Lepaskan mereka. Itu semua adalah yang tersisa dari kami,” ucap Rhea lirih, kemudian ia bersimpuh di hadapan musuh.


Aeron berteriak kepada Rhea agar tak melakukannya. Namun wanita itu punya pendapat sendiri. “Bunuhlah aku, sembunyikan kelima arcana. Tapi dengan satu syarat, hentikan peperangan ini. Biarkan Ular Pasir kembali ke utara dengan tenang, dan biarkan Padang Sabana hidup di antara kerajaan lain. Sampaikan kepada rajamu, aku meminta atas nama perdamaian. Kumohon, jangan rusak ia hanya karena kau ingin menjadi penguasa dan menindas yang sudah tak punya apa-apa.”


Jujur, Komandan Panthera kehabisan kata-kata. Wanita itu telah membuat segala angan miliknya tersungkur.


Sultan Ular Pasir yang ikut menyaksikan dari kejauhan tiba-tiba menyeru. “Serang para bedebah itu! Selamatkan pemimpin kalian!”


“Ini sudah selesai!” teriak Rhea dari tempatnya duduk. Menghentikan seluruh pasukan yang ada di belakangnya. “Kembalilah ke rumah, temui keluarga kalian.”


“Ini tidak benar!” Sultan itu masih saja bicara di belakang. “Musnahkan mereka sekarang, atau Kubah Malam akan menghabisi kami, dan kerajaanmu juga. Pikirkan keluargamu di rumah!”


“Tidak, aku percaya masih ada kebaikan di hati mereka. Begitu juga denganmu, Sultan Yang Agung.”


Komandan Panthera hanya bergeming, sementara Sultan makin merengut. “Bodoh! Kau adalah pengendali arcana! Lakukan yang sudah menjadi tugasmu!”


“Masa-masa arcana telah berakhir. Kekuatan ini tidak akan digunakan lagi sebagai mesin penghancur peradaban.”


Sultan masih terus meracau. Aeron menangis tatkala tangannya dilepas, tetapi hatinya tidak. Dan naga pun terbang bebas, sementara Panthera menaikkan Rhea ke dalam kereta.


Cerita itu membuat Zet tak bisa tidur semalaman, memikirkan hubungan antara Ayah dan Ibu yang berubah menjadi canggung gara-gara akhir dari pertempuran tersebut. Itulah mengapa Ayah tak pernah sekali pun berkunjung ke sel milik Ibu, walaupun Zet selalu menyuruhnya untuk mampir. Zet memejamkan mata, menunggu waktu yang tak tahu kapan akan menunjukkan jalan keluar.


[...]


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-