The Master Of Arcana

The Master Of Arcana
12 : PERTARUNGAN MARGA [2]



Pertandingan babak kedua pun dimulai. Oxi dihadapkan dengan Zet. Gadis itu melempar senyum licik kepada kakaknya. Semua orang tampak mendukung dan menyerukan nama Oxi. Zet hanya memutar bola mata seraya mendengus kesal melihat kenarsisan itu. Karena Oxi tak kunjung mulai, Zet yang memutuskan untuk menyerang duluan. Tanpa basa–basi, Zet segera menghunuskan pedang, mencari cara untuk mendekati lawannya.


“Kau menggunakan kalung itu, kan? Sepertinya aku sudah memikirkan kelemahannya,” ujar Oxi setengah berbisik, kemudian melempar badan ke belakang. Badan es segera menghantam tubuh Zet dari depan, sampai ia terpelanting menjauh. Tentu saja, Oxi akan selalu menjaga jarak. Zet mau tak mau harus mengontrol air dari jarak jauh, walaupun ia tak yakin akan sanggup melampaui kemampuan Oxi yang sudah berlatih selama bertahun-tahun. Guru Florentia di tribun atas tentu akan menilai pertandingan ini sebagai bahan evaluasi.


Zet mengejar Oxi. Tidak mungkin anak itu akan menghindar terus-terusan. Mereka berdua hanya memutari lapangan, sambil sesekali melempar umpan. Zet menyabet pedang untuk menghalau es yang beterbangan ke muka. Ia juga harus mencairkan bekuan yang membuat kakinya lengket dengan tanah. Zet harus menghentikan Oxi dengan segera, atau permainan ini tidak akan ada habisnya.


“Νερό στροβιλισμού!”


Vorteks air terbentuk dari empat arah, mengepung Oxi dan memojokkannya ke tepi.


“Hmmm, style–mu lumayan juga,” komentar gadis tersebut, “seperti anak kecil!” Dengan lompatan dan putaran badan, Oxi menghancurkan pilar-pilar air milik Zet. Namun seolah alirannya terus ada, terus diregenerasi. Sayangnya Oxi yang lincah tetap berhasil lolos. Tidak seperti adiknya, Zet masih kesulitan untuk membuat es yang sangat besar, sehingga ia tak bisa mendiamkan Oxi barang sebentar.


Pilar itu kini berubah menjadi semacam ular yang sangat banyak, membuat Oxi harus menghindarinya, atau tubuhnya akan terseret atau tercambuk. Air dengan momentum sebesar itu tetap saja akan membuat kulit lebam.


Perisai dari es tercipta dari tangan kiri, sementara tangan kanan Oxi menodong ke arah Zet. Seketika saja, tubuh pemuda itu terperangkap oleh jeruji es dari dua arah. Zet meronta, termasuk berusaha untuk mencairkan es, yang membuat sekujur tubuhnya langsung ngilu. Es meleleh lalu membeku kembali—Oxi tidak akan membiarkannya begitu saja. Zet menyadari bahwa sebenarnya Oxi masih mencari cara agar membuat kakaknya dinyatakan kalah. Hanya saja, gadis itu tidak tahu bagaimana ia bisa menghabisi Zet tanpa harus mendekati arcanum.


Oxi masih bisa melakukan trik lain, yang patut ia coba. Dengan cepat, gadis itu mengunci kembali tangan Zet dengan es, kemudian kedua kaki, dan terakhir badan Zet, seperti yang ia lakukan kepada Asmodius tadi. Bedanya, kali ini Oxi menyergap Zet dari belakang, membuat belati dari es yang cukup besar, dan sesegera mungkin ia lintangkan senjata tersebut di depan leher kakaknya. Jika dalam pertarungan sungguhan, Zet pasti sudah terpenggal kepalanya. Namun kali ini Oxi harus menunggu, sambil mengatur napas, sampai wasit menyatakan berhenti.


Para pendukung Oxi sempat bersorak sejenak. Harusnya ia menang. Akan tetapi belati besar tersebut segera mencair, dan di belakang Oxi kini tumbuh bergulung–gulung ombak air. “Hehhehhe, kau pikir bisa menghindari efeknya hanya dengan main belakang seperti itu?”


“B–bagaimana bisa? Tanganmu saja sudah tidak bisa bergerak!”


“Kau bisa menghentikan badanku. Tapi pikiranku tidak, sayang.” Zet menyeringai menang.


Kesalahan Oxi benar-benar fatal. Ia terbukti tidak tahu apa-apa tentang arcanum air, sekaligus apa saja yang bisa dilakukan Zet dengan benda pusaka itu. “Sialan, kau benar–benar curang, Zet!”


“Lalu, kau mau mengadukan ke Ayah? Akan kuadukan kalau kau mencuri uangnya.” Jelas itu cuma gertakan. Uang Ayah tidak pernah benar-benar hilang.


Tak hanya belati, kini bongkahan es yang menyelimuti tubuh Zet juga ikut mencair. Oxi kehilangan banyak mana dalam sekejap. Jiwanya seolah telah disedot habis, seperti terakhir saat keduanya bertarung di taman belakang. Oxi meringkuk terpaku ketakutan melihat perubahan yang terjadi pada kakaknya. Pemuda itu seperti kerasukan monster atau sejenisnya. Kedua matanya secara harfiah bersinar, bahkan di bawah sinar matahari yang terang. Namun Oxi tak yakin semua orang bisa melihatnya.


Di detik berikutnya, Oxi menjerit. Bocah itu tersapu gelombang besar. Bahkan Zet tidak harus mengarahkan tangannya ke depan; air bah tersebut seperti punya nyawa sendiri, membawa badan Oxi memutar-mutar di udara. Penjara berdinding es tebal segera mencuat dari tanah dan mengepung Oxi dari empat arah. Anak itu pun tak bisa kabur, hanya bisa menggedor-gedor dinding tembus pandang itu dengan pukulan lemah. Dengan meminjam kekuatan dari Oxi, Zet bisa membuat es sehebat itu. Zet tentu tak akan membiarkan dirinya lengah. Oxi tak mampu menjaga jarak lagi, seluruh kekuatannya amblas ketika Zet berdiri di sampingnya.


“Si gadis itu kecapekan?”


“Tidak, dia sengaja mengalah!”


“Cih, kakak macam apa itu yang tidak membiarkan adiknya menang?!”


Oxi kini berdiri kaku, melihat Zet yang pura-pura tuli, tak mengindahkan orang-orang yang sesuka hati memaki. Kini pemuda itu membuat tombak dari es. Tatapan mata Zet benar-benar membuat persendian di kaki Oxi seperti mau putus.


“Baiklah, kita sudah mendapatkan pemenangnya!” Paman Josen akhirnya menutup babak semifinal yang jadi menegangkan tersebut. Bahkan Putri Catriona tampak nanar memandang Zet dari kejauhan. Beberapa orang berseru menang, barangkali karena berhasil mendapat uang taruhan, sementara sisanya masih tidak terima kalau jagoannya kalah—atau mengalah, mereka tak paham apa-apa. Seusai penjara es turun, Oxi pergi dengan pakaian basah dan memalingkan muka dari Zet.


[...]


Putaran final akan dilaksanakan pada jam dua. Deon ternyata kalah melawan Rylon. Dan setelah selesai makan siang, pemuda itu membocorkan semua trik dan kekuatan Rylon kepada adiknya. Zet setengah-setengah memerhatikan. Yang jadi perhatiannya sekarang adalah Putri Catriona, yang tahu-tahu menghampiri meja mereka.


Putri itu merunduk sekilas sembari tersenyum. Zet masih berdiri kikuk, sampai harus digocoh oleh kakaknya agar membalas salam tersebut. “Kau ternyata pengendali air yang hebat, ya.”


Zet hanya tertawa rikuh sambil menggaruk belakang kepalanya, melirik kakaknya. Deon ingin pergi saja, tetapi mau tak mau ia harus memosisikan diri sebagai “pembantu” di sini. “Oh, dan Tuan Putri harus tahu kalau Zet ini baru belajar beberapa hari, tapi sudah bisa sehebat itu.”


“Wah, begitukah?” Catriona tersenyum miring. “Kalau begitu, kapan-kapan aku ingin tahu rahasianya.”


Saat Catriona pergi, pikiran Zet berhenti pada satu kata: “rahasia”. Apakah Putri Catriona tahu-menahu soal rahasia miliknya? Sementara di sisi lain, Deon terus membuat wajah yang memuakkan.


[...]


 


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-