
Zet belum sempat menjelajahi seluruh kompleks Universitas Langit Angkasa yang seluas kota pedesaan ini. Jadi, saat Rick memperlihatkan lapangan lempar cakram yang sesungguhnya, Zet terkejut bukan kepalang.
“I-ini bukan lapangan lempar cakram seperti dalam olahraga atletik!” seru Zet sambil membelalakkan mata. “Ini olahraga cakram macam apa?”
“Yang pasti ini jenis yang hanya bisa dimainkan oleh atlet-atlet berkemampuan khusus,” kata Rick. “Memangnya kau belum pernah mendengar tentang ‘Odyscus’ sebelumnya, ya?”
Filian yang ikut ke dekat lapangan berusaha menjelaskan, “Zet tak pernah menonton pertandingan olahraga, apalagi olahraga khas macam ini. Mungkin berita tentang Odyscus ada di surat kabar atau radio, tapi Zet tak pernah peduli sama sekali pada berita olahraga.”
Zet mengangguk. “Ya, aku hanya tahu tentang olahraga-olahraga populer saja, bukan yang khas atau yang ekstrem seperti ini.”
Mendengar itu, Rick tertawa lepas dan merangkul Zet. “Kau pasti terlalu sibuk berlatih penguasaan arcana dan membela negaramu, Empat Musim. Pantas saja kau tak sempat menikmati hiburan, olah raga atau rekreasi. Aku salut padamu, Zet! Kau pantas jadi pahlawan!”
Zet makin merasa risih disanjung seperti itu. “Ah, aku hanya kebetulan saja berada di tempat yang tepat, waktu yang tepat dan mendapatkan benda yang tepat sehingga aku bisa membela negeriku. Padahal yang kuinginkan hanya belajar di sini, di Universitas Langit Angkasa.”
Ia lantas menjentikkan jari. “Oh ya, kau tadi bilang Empat Musim itu negeriku. Apa kau bukan berasal dari Empat Musim juga?”
“Bukan, aku dari Negeri Fajar Emas,” kata Rick. Ia lantas cepat-cepat mengubah topik pembicaraan. “Ayo cepat kita masuk lapangan, teman-temanku sudah tak sabar, tuh.”
Melihat beberapa pemuda lain berkacak pinggang dan pasang ekspresi wajah tak sabar, Zet hanya bisa ikut masuk lapangan tanpa bertanya lebih jauh lagi. Padahal ia penasaran karena Fajar Emas termasuk dalam keempat negeri adidaya yang sedang bersitegang.
Saat itu pula Zet tercekat. Kerutan-kerutan dahi para atlet itu juga menyiratkan satu makna. Mungkin sekali, teman-teman setim Rick itu berasal dari negeri yang sama, yaitu Fajar Emas. Ada firasat, bakal terjadi pembulian di sini terhadap diri Zet. Tapi siapa takut? Zet adalah pemegang arcanum air, bukan?
Filian yang rupanya baru menyadari ada sesuatu yang tak beres berseru, “Hentikan, Zet! Jangan main Odyscus dengan mereka!”
Namun Zet malah menoleh dan memberi isyarat kedipan mata pada sepupunya itu, seolah minta Filian agar tak kuatir. Ia harus tahu, apakah rasa permusuhan yang selama ini timbul tenggelam terbawa pula ke lingkungan kampus.
Filian hanya bisa menutup wajah dengan dua tangan, tak ingin membayangkan apalagi menyaksikan langsung separah apa latih tanding ini jadinya nanti.
“Lihat, teman-teman, ini Zet yang terkenal itu,” kata Rick.
“Oh ya, kami sungguh merasa ‘terhormat’ bisa berlatih tanding denganmu, Zet,” ujar salah seorang anggota tim Rick yang lain.
“Mohon bimbingannya,” kata Zet.
Rick mulai menerangkan, “Nah, coba kau lihat baik-baik cakram Odyscus ini. Berbeda dengan cakram atletik yang terbuat dari besi, cakram ini terbuat dari kulit dan berisi kapas. Jadi cakram ini ringan dan tak terlau sakit bila terkena kepala.”
“Iya juga ya,” kata Zet sambil memegangi kepalanya sendiri.
Rick melanjutkan, “Cara memainkan cakram ini juga beda dengan yang biasa. Kita tak membawa cakram ini dengan menggenggamnya atau mengapitnya agar tak direbut lawan lewat kontak fisik langsung. Kita membawanya dengan menggunakan sihir levitasi alias ilmu pengangkat benda, atau dengan menggunakan kemampuan telekinesis atau memindahkan benda-benda dari jarak jauh yang kita miliki. Kau tentu sudah menguasai itu kan, Zet? Itu sihir paling dasar yang diajarkan di tiap perguruan sihir dan kependekaran, lho.”
“Ya, tentu saja aku punya, kalau tidak aku akan sulit mengendalikan arcanum air,” tanggap Zet.
“Bagus. Nah, cara permainannya adalah, dua tim yang masing-masing terdiri dari empat orang saling berusaha melesakkan cakram ke dalam gawang di kedua sisi lapangan. Tim pertama yang memasukkan lima cakram ke dalam gawang, disebut pula mencetak lima gol, dialah pemenangnya. Dalam pertandingan ada batas waktunya. Bilamana waktu telah habis dan belum ada tim yang mencetak lima gol, pemenang ditentukan dari gol terbanyak. Kau paham kan? Ayo kita mulai latih tandingnya sekarang!”
“Tunggu, Rick! Aku...!” Zet mengangkat tangan tapi sia-sia. Rick sudah terlanjur lari dan bergabung dengan teman-temannya di sisi seberang lapangan. Beberapa saat kemudian, tiga pemain yang mengenakan sabuk kain merah untuk membedakan seragam mereka dengan seragam regu Nick bergabung dengan Zet.
Dengan sopan Zet berkata, “Mohon petunjuk kalian ya, teman-teman.”
Anehnya, yang ia terima sebagai balasan hanya delikan sinis dari ketiga pemain Odyscus itu. Salah satu dari mereka bahkan menyeringai bagai tiga ekor serigala yang menyambut seekor domba yang masuk dalam liang mereka.
Zet memutar bola matanya. Ia sudah menduga gelagat para pemuda dari Fajar Emas itu, tapi ia tetap ikut dalam permainan yang bakal berlangsung kasar ini.
Lagi pula Zet adalah pengguna arcana, apa lagi yang harus ia takutkan? Niatnya adalah untuk memberi pelajaran pada para pembuli ini, hanya caranya saja yang belum ia tahu.
Kedua tim yang semuanya berjumlah delapan orang itu mengambil posisi. Satu orang teman Rick yang tak ikut dalam permainan karena “digantikan” oleh Zet bertindak sebagai wasit dan berseru, “Waktunya lima belas menit. Latih tanding, mulai!”
Kedua tim itu maju serentak ke arah cakram yang tergeletak tepat di titik tengah lapangan. Zet yang belum pernah bermain Odyscus melambatkan larinya untuk melihat dulu tindakan para pemain lainnya, apakah cakram itu dipungut, ditendang atau digerakkan dengan cara lain sebagai kontak pertamanya.
Benar saja, setelah dekat, semua pemain mengulurkan tangan dan cakram terlontar dengan sendirinya dari tanah, membubung tegak lurus ke udara. Itulah efek dari penggunaan sihir levitasi dan telekinesis secara serempak pada satu benda, arah gerakannya jadi tegak lurus.
Sebagai kapten tim yang rupanya bukan tim seleksi inti Universitas Langit Angkasa, Rick Oakes tentu berlari paling cepat. Karena itulah posisinya paling dekat dengan cakram dan ia dapat “mengambil” cakram itu di udara. Lelu ia menggiringnya dengan posisi cakram melayang di atas telapak tangannya yang teracung tinggi di udara.
“Cepat rebut cakram itu!”
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-