
“Awas, Zet!” seru Nina sambil mengacungkan tongkat sihirnya lurus-lurus. “Agnios!” Nina menembakkan selarik bola api ke arah si kera. Rapalan mantra sihir Aliran Langit Angkasa yang diajarkan oleh Guru Kashmir ini jelas jauh lebih sederhana, lebih cepat dan lebih mudah diingat daripada mantra Elementalis Aliran Pilar Pualam yang selama ini Zet kuasai.
Refleks, Zet berkelit ke satu sisi. Cakar si kera yang menyerangnya secara mendadak itu menerpa udara. Di saat bersamaan, bola api Nina telak menghantam tubuh kera itu. Tak ayal, si sosok kera terpelanting dan jatuh tersuruk di tanah.
Didorong rasa ingin tahu, Zet menghampiri sosok kera yang terkapar tak bergerak itu. Zet terkejut, kedua tangan, kaki dan ekor si kera jauh lebih panjang daripada kera biasa. Tapi yang paling luar biasa adalah wajah si sosok kera itu bukan wajah kera, melainkan wajah laba-laba.
Nina berseru, “Itu pongid, siluman kera laba-laba! Minggir Zet, biar kulihat keadaannya!”
Zet memberi jalan pada Nina. Ia sendiri sempat sekilas melihat sebagian tubuh pongid itu sudah membusuk sebelum ada bagian yang hangus terbakar bola api.
“Wah, sihirmu kejam juga, Nina. Selain menghanguskan, apimu juga bisa membuat tubuh si sasaran membusuk,” kata Zet tanpa pikir panjang.
Tentu saja Nina protes, “Itu tadi sihir api biasa! Tubuh pongid itu sudah lama membusuk! Gunakan penciumanmu, Zet! Bau busuknya itu sudah amat pekat!”
“Hah? Kukira bau di sekitar sini yang memang terlalu menyengat! Ternyata itu bau dari... Nina, awas! Makhluk itu masih hidup!”
Nina menengok ke arah yang ditunjuk Zet. Benar, si pongid yang seharusnya sudah mati hangus itu bangkit. Anehnya, walau tubuhnya masih sebagian membusuk dan sebagian hangus, ia bergerak cepat. Bukan menyerang Nina dan Zet, pongid itu malah melarikan diri.
“Kejar! Dia akan memanggil teman-temannya untuk menyerang kita!” seru Nina sambil mengejar dan menembakkan bola-bola api lagi. Sayang, semuanya meleset dan hanya menerpa pepohonan.
Zet juga mengejar, tapi karena ia hanya membawa satu botol air, akan bodoh bila ia memboroskan amunisi untuk sasaran yang terlalu lincah itu. Akhirnya, si pongid menghilang dari pandangan mata.
“Aduh, ini gawat!” seru Nina. “Aku salah, seharusnya kubakar dia sampai seluruh badannya hangus, kalau perlu jadi arang!”
Zet mengerutkan dahi. “Memangnya segawat apa? Kera laba-laba tak terlalu berbahaya, kan?”
“Kalau sendirian atau berkelompok kecil, kita bisa saja mengalahkan mereka. Tapi coba bayankan segerombolan pongid berjumlah dua puluh ekor atau lebih bergerak amat lincah, mengeroyok kita dari segala arah. Apa kau pikir kau akan bisa keluar hidup-hidup dari Hutan Regenerasi, kembali ke lingkungan kampus yang dilindungi segala macam medan sihir?”
Zet terpana. Ia dan Nina belum tentu bisa bertahan hidup dengan hanya bermodalkan setetes tenaga dalam, teknik seadanya, ilmu sihir api dan ilmu elemental air. Bahkan kalaupun ia terpaksa mengerahkan arcanum air lagi, kemenangan Zet belum pasti.
“Bisa bagaimana lagi? Mau tak mau kita harus ambil langkah seribu kembali ke kampus, sekarang! Penyelidikan ini sudah gagal total, tak ada bukti yang bisa dibawa pulang!”
“Ya, baiklah!” Zet cepat-cepat berbalik dan lari bersama Nina kembali ke arah kampus. Jauh di lubuk hatinya ia sorak-sorak bergembira, karena ia bakal bisa menghemat waktu dan tenaganya untuk studinya, istirahat yang cukup dan urusan-urusan lain.
Saat berlari cepat, Zet merasakan angin berdesir menerpa wajahnya. Namun terasa ada desir angin yang tak terlalu kuat dari beberapa arah lain.
Refleks, Zet menoleh ke arah datangnya salah satu desir angin itu. Matanya terbelalak dan ia berteriak, “Nina, awas!” Nina yang sepertinya juga waspada tak menoleh, rupanya dia pun sudah siap dengan tongkat sihirnya untuk merapal sihir ke arah yang berbeda dari Zet.
Ternyata kekuatiran Nina yang tergila terjadi sudah. Sedikitnya dua puluh pongid berayun dari pohon ke pohon dari tiga arah, seakan hendak mengepung Nina dan Zet. Suara-suara teriakan mereka yang melengking, penuh amarah terasa lebih menusuk daripada bau busuk yang mereka tebarkan. Tapi, apa benar semua pongid yang menyerang itu terkena “wabah tubuh membusuk” yang sama dengan si satu pongid pertama yang memanggil mereka tadi?
Tak sempat berpikir lebih jauh, kedua mahasiswa itu kembali berlari, kali ini sambil menyerang para musuh. Nina menembakkan bola-bola apinya berkali-kali, sedangkan Zet melecut-lecutkan pecut air yang ia bentuk dari “amunisi” dalam botolnya.
“Polyagnios!” Itu mantra untuk merapal sihir Hujan Bola Api. Seperti namanya, puluhan bola api dari tongkat sihir Nina memberondong gerombolan pongid terdekat. Gilanya, walau banyak dari mereka yang terkena sihir, hanya dua ekor pongid saja yang jatuh ke tanah dengan tubuh hangus seluruhnya. Sisanya entah beregenerasi atau baru jatuh, entah bagaimana hasil akhirnya.
Pecut air Zet berhasil memukul jatuh tiga pongid, tapi ia butuh lebih banyak energi elemental agar bisa benar-benar menghabisi musuh yang dapat beregenerasi itu. Sepertinya hanya elemen api Nina saja yang bisa benar-benar menghabisi musuh.
Parahnya, beberapa pongid lain yang terkena pecut Zet tak langsung pingsan di tanah. Mereka terlontar sedikit, berhenti sedikit di udara dan maju melesat lagi dengan murka. Terdorong naluri, para pongid jadi tahu sasaran mereka yang terlemah adalah Zet sehingga lebih banyak yang menyerbu Zet daripada Nina.
Diserbu lebih banyak pongid, Zet lari makin cepat dan makin sedikit menyerang. Pecut airnya dilecut-lecutkan untuk menghalau musuh. Gilanya, sedikitnya dua pongid berhasil melewati pertahanan Zet yang serampangan itu dan mencakar Zet dengan cakar-cakar mereka yang panjang. Darah menyembur dari luka-luka barunya, Zet berteriak kesakitan.
Tanpa sadar, dirundung rasa sakit itu lari Zet jadi melamban. Melihat kesempatan itu, lebih banyak pongid maju menyerbu ke arah Zet dari beberapa arah. Terkepung, wajah Zet pucat-pasi karena bakal dirubung pongid sampai tewas atau yang lebih parah, membusuk hingga menjadi zombie alias mayat hidup. Akhirnya, Zet terpaksa harus merapal mantra lagi untuk mengaktifkan arcanum air. “Vare Jokul’me...!”
Sebelum kata terkahir mantra Zet terucap, tiba-tiba seorang pemuda menyeruak maju sambil menyabet-nyabetkan pedang emasnya. Ternyata dia Filian.
“Tangkap pedangnya, Zet!” Sambil menyerukan itu, Filian melemparkan sebilah pedang perak ke arah Zet. Itu adalah pedang Zet sendiri.
Zet menangkap pedang itu pada gagangnya, lalu berseru, “Baguslah kau datang, Fili! Tapi kok bisa kau membawa pedangku?” Pedangnya mulai menari, bilahnya menyayat dua pongid sekali sabetan. Zet bagai burung yang baru mendapatkan sayap.