
Perjalanan dari Empat Musim menuju Kubah Malam memerlukan waktu sehari semalam. Zet tampak anteng di kursi, dan hanya berbicara seperlunya saja. Bukan hanya karena ia masih sungkan dengan Putri Catriona dan Jendral Pan, melainkan lebih karena ia terus memikirkan cara agar nantinya tidak mempermalukan diri di hadapan Raja Taraghlan dan para penonton dari Kubah Malam. Ayahnya malah menjadi beban tersendiri di sini, walaupun sebenarnya ia juga terus berusaha mencairkan suasana dan mencari banyak kenalan. Zet curiga satu-satunya tujuan ayahnya ikut ke Kubah Malam adalah agar ia bisa memantau apakah Zet akan curang dan memakai arcanum lagi atau tidak. Biar dia punya alasan memarahi Zet tentunya.
Rombongan itu sempat berhenti di lembah pegunungan Tianyu ketika malam datang. Besoknya, pagi-pagi sekali, kereta kuda mereka bergerak lagi ke arah Utara. Dan beberapa jam kemudian rombongan tersebut akhirnya sampai di dinding terluar kerajaan. Dari jauh, mata Zet langsung disambut oleh bentukan kubah yang sangat besar, terbuat dari ranting dan dahan pohon Sycamore raksasa yang bahkan sebagian ujungnya tertutup awan, saking tingginya. Pohon berumur ribuan tahun itu tampak seperti jamur raksasa yang memayungi Kerajaan Kubah Malam. Sekilas tidak akan terbayangkan bagi siapa pun, bahwa kubah tersebut menyembunyikan satu buah situs peradaban yang sangat maju.
Zet berusaha mengingat-ingat buku geografi dan sejarah yang ia baca di perpustakaan. “Itu pohon kehidupan, kan, ya?”
“Yap,” jawab Tuan Putri singkat. “Pohon itu melindungi negeri kami dari terik matahari yang terlalu panas di khatulistiwa.”
“Itu juga alasan kenapa nama kerajaannya Kubah Malam. Karena pohonnya berbentuk seperti kubah secara harfiah, dan membuat kota-kota di bawahnya jadi tampak gelap, seolah-olah seperti malam hari,” sahut Zet.
Putri Catriona mengangguk. Senyumnya semanis buah persik yang telah ranum. Otak Zet memikirkan informasi apa yang bisa ia ingat kembali, agar Tuan Putri itu tersenyum lagi. Namun kereta segera berhenti dan orang-orang pun disuruh turun. Mereka harus menggunakan kapal untuk menyeberangi Teluk Rembulan.
“Konon kabarnya, ada monster air yang akan memangsa siapa pun yang lewat sini pada malam hari.” Tuan Putri menjelaskan lagi, kemudian ia tersadar satu hal. “Ah, ya, kau pasti sudah pernah baca tentang itu.”
Perasaan Zet sebenarnya bercampur antara malu dan bangga. Ia sekarang malah jadi takut Tuan Putri menganggapnya terlalu kutu buku dan kurang pergaulan.
“Apakah legenda masyarakat itu sudah terbukti?”
“Entahlah, lagi pula aku tidak pernah benar-benar menyaksikannya secara langsung. Kesaksian orang-orang yang bertemu monster teluk, bisa saja cuma cara agar mereka disangka hebat.”
Namun nyatanya mitos itu begitu berkesan bagi masyarakat luas. Itu alasan ketua rombongan tidak mau tergesa-gesa, dan memilih istirahat dulu di lembah pegunungan Tianyu tadi malam.
Jika Zet boleh simpulkan, Kerajaan Kubah Malam sudah memiliki keuntungan yang berlapis-lapis, bahkan jika hanya dilihat dari lokasi geografisnya saja. Barangkali itu salah satu alasan mengapa negeri ini sangat aman dan paling sulit ditembus oleh serangan dari kerajaan luar mana pun. Pertama, deretan pegunungan Tianyu yang tinggi-tinggi bisa membantu menyembunyikan kerajaan dari dunia luar. Agak sulit memang menemukan tempat ini bahkan dengan peta sekalipun, jika tidak terbiasa melintasi jalanan tersebut.
Zet sudah sampai di pulau utama dan masuk ke kereta lain, yang khusus untuk mengantarnya ke kerajaan. Semenjak masuk ke gerbang Kerajaan Kubah Malam, Zet tak henti-henti terpukau melihat kondisi kota. Sudah lama sekali ia tidak diajak pergi jalan-jalan ke sini. Dan sekarang, bahu jalan, pemukiman, serta taman-taman sudah berubah menjadi susunan beton-beton rapat. Kompleks bangunan di kiri kanan dibangun tinggi dan bertumpuk-tumpuk. Atap genting meruncing, dengan asap hitam tipis mengepul di atasnya. Zet melongok ke luar jendela, demi melihat balon udara berbentuk seperti mata peluru. Balon-balon udara itu beterbangan di atas sana, bergabung dengan kawanan burung dan kupu-kupu.
Orang-orang menurunkan topi kabaret mereka, dan merunduk hormat begitu melihat pasukan kuda putih. Bahkan orang terkaya di Empat Musim pun tidak akan mengenakan baju sehari-hari mereka—yang tampak berlapis-lapis—dengan sebagus dan serapi ini. Mode pakaian yang baru Zet temui di sini sekarang. Zet pun diwanti-wanti agar memakai mantel tambahan, karena sejuknya kerajaan Kubah Malam sudah hampir setara dengan awal musim dingin di tempat Zet. Itu terbukti sekarang. Semakin dekat dengan pohon kehidupan, akan semakin dingin rasanya.
Putri Catriona menjawab pertanyaan Zet, bahwa di sini sudah sangat susah menemukan kuda. Begitu ada kuda, hampir sudah dipastikan itu punya istana kerajaan. Masyarakat lebih senang menggunakan kendaraan pribadi jenis baru. Ada kendaraan yang dinamakan sepeda, yang harus menggunakan tuas yang diinjak agar bisa melaju. Ada pula jenis kereta beroda tiga atau pun empat, yang mana uap panas sesekali menyembur dari sela-sela mesin mereka.
Kereta kuda Zet melewati jam dinding besar dengan gir dan mekanisme lingkaran yang tampak sangat kompleks di alun-alun kota. Tak ayal kalau Kubah Malam dijuluki sebagai kerajaan dengan peradaban paling maju di seluruh dunia. Kemampuan mereka untuk mengolah uap panas dan membangun benda-benda dari logam telah menciptakan semua kemewahan abad ini.
Di dalam dinding tengah, ksatria dan prajurit tampak berjajar rapi di sepanjang jalan, memberikan sambutan hormat menggunakan pedang dan perisai. Zet membayangkan betapa keren dirinya jika memakai seragam perang tersebut, dan berdiri di antara mereka suatu saat nanti.
Sampailah rombongan kereta itu di kastel utama. Kaki bukit dan akar dari pohon kehidupan tampak menjulang di belakangnya sebagai lukisan latar belakang. Hampir semua benda tampak mengilap dan terkesan mahal di tempat itu. Perpaduan dinding dan pilar beton berwarna putih kecokelatan, tertutup dengan struktur logam berbentuk lingkaran berwarna merah perunggu. Tak terkecuali ruang makan kerajaan, tempat Zet diantar seusai ia bersih diri dan istirahat sebentar di kamar tamu.
Putri Catriona bergabung di tempat duduk keluarga Lewis, sederet dengan Raja Taraghlan, Ratu Maire, dan juga Pangeran Barra. Agak berlebihan memang, jika jamuan sebanyak ini hanya untuk menyambut dua orang tamu. Kecuali jika ternyata Kubah Malam tidak hanya mengundang Zet dan ayahnya saja. Ada sebanyak sepuluh anak seumuran Zet yang ternyata dipilih dari beberapa tempat dari Kerajaan Kubah Malam. Raja Taraghlan tersenyum di balik kumisnya yang lebat, lalu tangannya mempersilakan untuk para tamu menyantap hidangan.
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-