
Suara kiang-kiut engsel pintu mengusik keheningan. Zet terbangun mengetahui ayahnya masuk melalui pintu kamar. Kekhawatiran di wajah pria tersebut sangat kentara, bahkan melebihi rasa letihnya sendiri. “Kau baik-baik saja, kan?” tanyanya saat duduk di samping tempat tidur. Zet mengangguk sedikit, karena jika terlalu banyak kepalanya akan berkunang-kunang. Pemuda itu berusaha bangun dan menengok sebentar ke luar jendela. Bulan bersinar malu-malu di langit kelabu. Ternyata Zet harus menyesuaikan lagi jam biologisnya yang kacau selama dua hari kemarin. Ia mengira ini masih siang. Peristiwa-peristiwa itu benar-benar mengacaukan pikirannya.
“Maaf, Yah, aku kehilangan kudaku.”
Ayahnya tertawa kecil. “Pipimu luka, badanmu lebam semua, dan kau masih memikirkan itu? Kau bisa pulang dengan tulang yang utuh saja aku sudah sangat bersyukur, Zeta. Oh ya, kau masih ingat tidak wajah pelakunya? Mungkin suatu saat kita bisa melaporkan mereka.”
Zet sedikit kaget dan tidak menyangka kebohongannya akan berhasil menipu semua orang. Siapa memang yang akan ia laporkan? Yang jelas tidak mungkin seekor kura-kura yang bisa bicara di dalam hutan terlarang. “Ah–haha, t–tidak perlu, Ayah. Aku sudah memaafkan perampok itu. Mereka mungkin sedang sangat butuh uang saja. Lagi pula betul, mereka membiarkanku pulang dengan tenang, itu yang terpenting,” ucap Zet dengan tawa yang dipaksakan.
Ayahnya tersenyum lega. “Baiklah, istirahat dulu kalau begitu. Jangan banyak pikiran, oke?” Pria itu kemudian beranjak dari tempat duduk menuju pintu.
“Keluarga Dionisos dan Kerajaan Kubah Malam akan datang minggu ini, kan?” tanya Zet lesu, membuat ayahnya berhenti dan menoleh.
“Tak perlu memikirkan itu, Zeta. Kau masih punya cukup waktu untuk masuk universitas dengan jalur reguler.”
“Tidak, Ayah tidak mengerti.” Zet bergerak terlalu banyak, dan itu membuatnya harus meringis kesakitan memegangi bahu. “Aku tidak akan lolos dengan jalur ujian biasa. Rekomendasi dari Kubah Malam sangat aku butuhkan.”
“Hmmm, setidaknya cobalah yang terbaik dulu. Lagi pula ayah bisa membantumu jika memang kau nantinya gagal dalam ujian reguler.”
“Tidak, tidak. Ayah tidak boleh menggunakan kedudukan atau pun untuk memasukkanku ke universitas. Itu hanya akan membuatku jauh lebih buruk lagi.”
Aeron merenung sejenak. Tidak mungkin ia memenggal impian putranya sendiri dengan mengatakan bahwa sebaiknya Zet tidak usah memaksakan diri untuk masuk ke perguruan tinggi. “Zeta, kau harus yakin pada kekuatanmu sendiri. Setiap keinginan pasti menemukan jalannya.”
Zet tersenyum simpul. Saat ayahnya benar-benar keluar dari kamar, dirogohnya laci di samping kasur. Sinar bulan membuat kalung tersebut kehilangan pendar. Zet menangkupkan jemarinya, mendekap liontin biru muda tersebut ke dada. Mungkin Zet memang masih punya jalan.
[...]
Masih di atas tempat tidur, Zet menyiapkan baki berisi air, menggenggam liontin dengan erat, kemudian memfokuskan pikirannya untuk menarik air tersebut ke udara. Tak terjadi apa-apa. Ia bahkan sudah mencoba merapal semua mantra-mantra yang tertulis di gulungan yang ia sendiri tidak mengerti bagaimana cara mengejanya.
“Sepertinya kau masih butuh guru, Zet.”
Zet menatap Yun Lao dengan muka masam. “Kalau begitu jadilah guruku, dan jangan cuma duduk-duduk saja!”
“Jadi guru apa?” Suara Oxi yang mirip anak perempuan usia delapan tahun membuat Zet geragapan dan segera menyembunyikan kalungnya di balik selimut. “Kau bicara sama siapa? Kau sudah gila, ya?”
Zet terkekeh sambil menggaruk kulit kepalanya yang tidak gatal. “Aku mungkin butuh jalan-jalan.”
“Ayo, kuantar kau keluar, dasar pemalas.”
Baru kali ini Oxi bersikap sedikit manis, dan mau bersusah payah membantu Zet bangun dari tempat tidur menuju taman belakang rumah. Barangkali hanya karena empati, tetapi apakah iya Zet harus memukuli diri sendiri supaya adiknya menjadi “sedikit normal”?
Udara segar di pagi hari memang terasa sangat nikmat. Zet sangat bersyukur karena pernah berpikir tidak akan lagi bisa menghirupnya. Selama beberapa menit, Zet hanya menghabiskan waktu di pinggir kolam, memberi makan ikan, sementara Oxi menumpuk batu dari besar ke kecil menyerupai pagoda, sambil bernyanyi.
Ternyata melihat tanpa melakukan apa pun itu sangat membosankan. Zet hampir saja ketiduran. Ia putuskan untuk membuat hiburan. Zet menyodoki batu yang disusun dengan susah payah oleh Oxi menggunakan tongkat jalannya, kemudian tertawa puas begitu gadis itu menggeram dan menjerit kesal.
“βαρύ κύμα,” gumam Oxi, membuat air dari kolam seakan tumbuh menjadi satu gulungan ombak, cukup besar sehingga kakaknya bisa basah kuyup. Akan tetapi, alih-alih berhasil, air tertolak seperti kutub magnet searah, menjauhi tubuh Zet dan terpencar ke mana-mana. Justru Oxi yang kena guyuran senjatanya sendiri. Sementara kedua tangan Zet masih tertahan di udara, saat air itu habis dengan sendirinya.
“K–kau mengendalikan air!” seru Oxi sambil mengusap mulutnya yang terasa amis, bau ikan.
“Itu! Apa itu yang menyala?!” tunjuk Oxi ke paha Zet. Zet seperti diingatkan akan sesuatu. Buru-buru ia menyembunyikan saku bajunya yang tampak bersinar terang. “Bukan apa-apa, ini cuma—Oxi, kembalikan!”
Rasa keram di otot Zet membuatnya kalah telak. Terlambat sudah, gadis itu berhasil menarik kalung tersebut dan mengangkatnya tinggi–tinggi.
Tahu-tahu Deon muncul dari dalam rumah. “Hei, pagi-pagi sudah berisik. Kalian bertengkar kenapa lagi, ha?”
Zet hanya bisa memasang muka memelas kepada adiknya yang kurang ajar itu agar dia tidak bilang apa-apa ke Deon. Setelah berpikir dua kali, Oxi pun akhirnya menyembunyikan kalung biru itu di balik punggungnya, seraya tersenyum manis. “Kami tidak bertengkar, kok. Tadi aku melompat kesenangan, sampai tercebur di kolam, karena Zet bilang makan malamnya selama satu minggu ini buat aku.”
“Ha?!” Zet buru-buru mau meralat, tetapi tangan Oxi bergerak keluar perlahan-lahan. Jika Zet tidak memutuskan untuk memihak kepada adiknya dalam waktu tiga detik, kalung itu akan tampak jelas oleh Deon. Zet hanya bisa berdecap kesal. “Iya ..., aku sedang diet.” Kalung itu pun kembali diamankan oleh tangan Oxi.
Sementara Deon sendiri tampak tidak peduli. Ia pun beranjak, hendak masuk kembali. “Oke ..., bagus kalau Zet akhirnya sadar kenapa dia masih jomlo.”
“Aku tidak segendut itu!” teriak Zet seperti halilintar, sementara Oxi cekikikan puas.
“Jadi ...?” Oxi kemudian berbisik, meminta penjelasan tentang kalung yang bersinar saat Zet mengendalikan air.
“Hati-hati. Itu benda pusaka. Kalau sampai pecah, kepalamu yang akan pecah berikutnya.”
“Kau tidak pernah cerita!” protes Oxi sambil menggembungkan pipi. “Sejak kapan? Dari mana? Kau bahkan tidak pakai mantra saat mengendalikan air! Bagaimana caranya?!”
“Oxi, ini bukan mainan,” ucap Zet merebut kembali kalung biru muda itu dan menyimpannya ke dalam saku. “Kau tidak perlu tahu.”
“Kalau begitu aku akan tanya ke Ayah, barangkali dia tahu!”
Zet bersumpah, kalau dia sudah bisa mengendalikan air, hal pertama yang akan dia lakukan adalah membekukan lidah adiknya ini. “Duduk! Dengarlah, aku berbohong soal kemarin. Aku tidak diserang oleh perampok di jalan. Bahkan aku sama sekali tidak ke kota untuk mencari buku. Aku mencari ini di hutan terlarang.”
“Demi Neptunus! Bagaimana kau bisa ke sana? Ceritakan apa saja yang terjadi di dalam hutan terlarang?” tanya adik perempuannya itu dengan wajah berapi-api.
Tangan Zet buru-buru menutup mulut adiknya. “Bisakah kau tidak berteriak dan membuat seluruh warga prefektur tahu?”
“Sori,” bisik Oxi.
Zet memutar bola mata, ia sebetulnya sangat enggan untuk mengingat-ingat pengalaman itu lagi. Namun jika tidak dituruti, Oxi jelas akan membocorkan rahasia tersebut ke mana-mana. Lagi pula, Zet punya firasat lain. Adiknya mungkin bisa dijadikan guru pengendali air yang tepat.
Dan begitulah yang terjadi selama satu minggu ke depan. Tubuh Zet juga berangsur-angsur mulai pulih. Namun jadwalnya mendadak menjadi padat. Pagi hingga siang, ia akan berlatih pedang bersama kakaknya. Siang hari, ia mengamati Oxi dan terkadang belajar teori dari Guru Florentia. Malamnya ia akan melanjutkan latihan sendiri.
Deon terengah-engah di tengah pertempuran. “Hah, sepertinya aku kurang pemanasan hari ini. Istirahat dulu!”
Pemuda itu bergelimpang di lantai dengan peluh membanjir. Sementara Zet masih berdiri dengan tenang, seolah staminanya tak berkurang sedikit pun. Ia mengintip liontin air yang kembali redup di balik baju zirahnya.
“Kau curang, Zet!”
Zet hampir tersedak minuman. Apakah Deon tahu tentang liontin air?