
Tak larut dalam keterkejutan, Zet cepat-cepat berbalik dan menoleh ke arah sumber suara yang baru saja ia dengar. Ia tercengang, suara tadi jelas-jelas ia kenal, namun sosok di depan dirinya ini sungguh berbeda jauh dari perkiraannya.
Amat, sangat jauh.
Alih-alih seorang wanita manusia, itu adalah sosok bagai ular berkaki seribu raksasa. Yang amat mengerikan adalah, seluruh tubuh monster itu terdiri dari banyak kepala dan tubuh pelbagai macam hewan yang terkena pembusukan sehingga semuanya melebur menjadi satu tubuh. Peleburan itu tidak merata, sehingga letaknya tak beraturan dan tak seimbang.
Di bagian puncak tubuh monster itu saja sosoknya terlihat seperti tubuh wanita, tapi tubuh itu seakan terbalut oleh tulang dan bagian tubuh hewan yang melebur, sehingga seakan-akan sedang mengenakan baju zirah. Bagian yang paling banyak kepala hewannya adalah bagian pinggang dari si tubuh wanita, sedangkan bagian bawahnya melebar, seakan-akan wanita itu sedang mengenakan gaun raksasa. Tak hanya itu, kedua tangan si sosok wanita seakan memanjang dan membesar tiga, empat kali lipat dengan cakar yang amat panjang bagai pedang di setiap jarinya.
Zet cepat-cepat bergabung dengan Nina, Kimiko dan Filian untuk merapatkan barisan. Setelah keempatnya berkumpul, barulah Zet berseru ke arah si monster, “A-apa yang telah terjadi padamu, Bu Minerva? Apa jangan-jangan ibu adalah...?”
“Oh, jadi namanya Minerva ya,” kata si sosok wanita monster sambil tertawa dibuat-buat. “Apa ia adalah orang penting? Pantas saja ia tak mau menyebutkan namanya dan terus ngotot memberi perlawanan sampai aku melemahkan dirinya, menyerap raganya dan memenjarakannya di dalam sana.” Ia menunjuk ke bagian gaun raksasa dengan tangan raksasanya.
Zet mendelik dan mengernyit jijik melihat tempat yang ditunjuk si monster. Tapi ia tetap berusaha untuk bersikap diplomatis. “Setidaknya ia penting bagi kami berempat dan kedatangan kami kemari adalah untuk menyelamatkannya,” katanya. “Katakan saja siapa namamu, kalau kau punya nama, monster busuk!”
“Namaku Fasid’afa, anak muda tak tahu diri! Karena kalian sudah melihatku dan membunuh banyak sekali dari ‘pasukan’ yang telah ‘kutanami benih’ pembusukan ini dan kukembangkan selama satu tahun terakhir ini, kalian jelas harus mati!”
Nina menghardik, “Oh, jadi kau biang keladi pembusukan yang terjadi di Hutan Regenerasi ini ya, nenek sihir busuk! Baguslah, kami jadi tak perlu mencari jauh lagi untuk menyelamatkan Bu Minerva dan menumpas si biang pembusukan sekaligus!”
Fasid’afa balas berujar, “Aha! Rupanya si Minerva ini amat penting, sehingga empat orang sakti diutus untuk menyelamatkannya! Kalau tidak, mungkin tugas kalian hanya membunuhku saja. Kalau begitu, biar aku ‘mencerna’ wanita itu dan berubah wujud menjadi dirinya saja! Dengan demikian, aku bakal bisa melenggang keluar-masuk wilayah Langit Angkasa ini dengan bebas!”
Zet melotot ke arah Nina yang telah merusak taktik diplomasinya. Yang dipelototi menutup mulut, tanda ia baru sadar telah salah bicara. Kalau sudah begini, usaha untuk menyelamatkan Minerva bakal jauh lebih sulit daripada perkiraan semula.
Ratu Monster Pembusukan, Fasid’afa akan menyerang setiap saat. Menyadari hal itu, Zet berbisik pada para anggota regunya, “Nina, siapkan sihir yang mampu menembus tubuh dan kulit yang tebal! Filian, jagalah Nina sambil bertahan dari musuh! Aku dan Kimiko akan mencari titik lemah raksasa itu!”
“Baik, Zet!” “Serahkan pada kami.” Nina dan Fili menyahut serempak.
“Kurang ajar! Beraninya kalian mengacuhkanku! Kuhukum mati kalian dengan Cambuk Selaksa Satwa!” Sambil berteriak nyalang, Fasid’afa melesatkan cambuk raksasanya, yang terbuat dari jalinan ekor pelbagai macam hewan.
Zet dan kawan-kawannya pontang-panting menghindari lecutan cambuk raksasa. Nina dan Filian menjaga jarak yang cukup jauh dari jangkauan cambuk, tapi tak terlalu jauh supaya tembakan sihir Nina lebih akurat. Toh si penyihir bisa menghimpun energi mana sambil bergerak terus, asal ia tak mengerahkan sihir atau menyerang saja.
Yang paling rentan kali ini adalah Zet, yang posisinya paling dekat dengan si monster dan bergerak lebih lamban dari si gadis ninja. Ia membatin, “Aduh, sulit sekali mencari celah untuk diserang, apalagi mencari titik lemah si raksasa ini. Tapi tunggu... ada apa yang berpendar hijau di dalam sana itu?”
Dari sela-sela celah-celah sempit tubuh bawah monster yang tampak seperti gaun itu, Zet melihat satu titik hijau yang berpendar cukup cerah. Pantas saja demikian, tubuh jadi-jadian yang terbentuk dari banyak monster itu tidak bisa merapat dengan sempurna. Ada titik-titik bagian tubuh yang tebal, ada pula yang agak tipis sehingga pendaran di dalamnya kelihatan dari luar.
Saat Zet sedang terpana itu, tubuhnya terlecut telak dan melayang hingga membentur pohon terdekat. Zet mengerang kesakitan, luka baru di punggungnya mulai berdarah. Itulah efek dari lecutan cambuk Fasid’afa, tak hanya menghantam tapi juga menyayat.
Kimiko cepat-cepat menghampiri Zet dan menumpangkan telapak tangannya di punggung pemuda itu, langsung menyembuhkan luka dengan tenaga dalam.
Namun sebelum proses itu tuntas, Zet berujar, “Cukup, Kimi. Kau bantulah Nina dan Fili, sekalian beritahu mereka agar menyerang titik yang berpendar hijau di tubuh bawah monster.”
“Apa? Maksudmu itu titik lemahnya?” tanya Kimiko.
Zet menggeleng. “Aku tak tahu, tapi pendaran hijau itu seolah tengah memanggilku, hendak memberitahuku kalau ia punya cara terbaik untuk mengalahkan Fasid’afa, sekaligus mengatasi sumber masalah di hutan ini.”
“Jangan-jangan... yang menghubungimu adalah jiwa Bu Minerva!”
‘Bisa jadi,” jawab Zet sekenanya. “Cepat, Kimiko! Yang penting kita sudah tahu Bu Minerva di mana dan kita harus membebaskannya terlebih dahulu!”
Kimiko mengangguk dan melesat pergi.
Walau lukanya tak lagi berdarah, Zet terhuyung-huyung saat memaksa diri untuk bangkit. Seluruh tubuhnya gemetar. Kalau satu lecutan saja sudah membuat dirinya jadi seperti itu, bagaimana andai ia terkena serangan yang lebih dahsyat?
Zet bergerak, tangan kanan memegang pedangnya dan tangan kirinya memegangi punggungnya yang masih terasa ngilu. Zet melihat si ratu monster raksasa Fasid’afa sedang memunggungi dirinya, sibuk menangani ketiga rekannya.
“Ini kesempatan,” pikir Zet. “Memang cara ini kurang terhormat, tapi aku terpaksa karena Fasid’afa jauh lebih kuat dari diriku.”
Zet mengendap-endap hendak menikam Fasid’afa dari belakang. Tapi di punggung atas sasarannya itu ada kepala singa yang ternyata masih hidup dan meraung saat melihat Zet. Zet terkesiap, apalagi ketika tentakel-tentakel belakang si monster di samping kepala singa itu melesat dan hendak membelit tubuhnya. Terpaksa Zet mengayunkan pedang lagi. Pedang itu berhasil menebas putus dua tentakel, namun dua tentakel lain berhasil membelit sekaligus menjepit tubuh Zet. Lagi-lagi Zet berteriak kesakitan.
Untunglah Zet sempat mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, sehingga yang terbelit hanya tubuhnya saja. Memanfaatkan kesempatan, Zet memotong kedua tentakel itu hingga putus.
“Mau membokong aku? Tak semudah itu, hei anak kemarin sore!” Sambil mengatakannya, Fasid’afa berbalik dan hendak menyerang Zet.
Tak mungkin menghindar, Zet ambil ancang-ancang hendak menangkis entah cambuk, cakar raksasa si monster atau keduanya.
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-