
Keringat dingin dan kecanggungan Zet kembali muncul saat mereka berjalan hanya berdua melewati jembatan. Tuan Putri Catriona barang kali sudah mulai hafal dengan perilakunya. Makanya sedari tadi ia terus mengajak Zet bicara, tentang kehidupan sehari-harinya di kastel yang membosankan. Bagaimana ia bisa bertahan dengan rutinitas mengikat rambut yang harus berjumlah tiga puluh empat, sebelum memulai hari. Rok dan luaran yang dipilih dengan warna cukup kontras, tetapi mesti seimbang, dan tetap terlihat anggun. Minyak wangi yang harus diurap ke rambut, lengan, dan badan, minimal setiap habis mandi.
“Apa orangtuamu tidak akan mencarimu?” tanya Zet menyisip di antara celoteh Putri Catriona.
“Ah, tidak, tidak. Aku sudah pamit ke mereka kalau main ke rumah Kakek. Mereka tidak akan peduli.”
“Orangtuamu dengan mudah membiarkan seorang putri berangkat sendirian?”
“Biasanya juga memang begitu. Awalnya aku sendiri yang menolak kalau ke mana-mana harus diantar oleh arakan prajurit dan kereta—berlebihan sekali. Jarak rumah Kakek dan Nenek cukup kalau hanya dengan berkuda saja. Yah, walaupun sebagai titik tengahnya, Jenderal Panthera harus ikut ke mana-mana aku pergi. Tak apalah, malah bagus, kita bisa minta pendapatnya sebagai orang tua di sini.”
Zet mengakui kecerdasan, kesederhanaan, dan kebaikan hati Tuan Putri Catriona. Membuatnya makin tak pantas jika dia berpikir untuk jadi lebih dari sekadar kenalan biasa. Lagi pula siapa Zet, anak payah dari Empat Musim.
Mereka berhenti di depan papan pengumuman. Zet melihat potret dirinya sendiri dilukis dengan cat air, dipajang di bawah tulisan besar-besar, yang terbaca “dicari”. Ia memandangi kertas tersebut sebentar, sebelum merenggut dan meremasnya. Di sampingnya terdapat banyak sketsa wajah lain, termasuk ibunya. Zet menyobek sisanya, walaupun tahu masih ada banyak di depan sana.
Putri Catriona menepuk pundak Zet. Sengaja tidak memaksanya untuk berjalan lebih jauh jika memang tak ingin. Gadis itu membiarkan Zet sendiri yang mendahuluinya. Mereka berdua merapatkan tudung kepala menutupi dahi. Setelah beberapa kilometer, ujung tepian pasar terlihat. Suara riuh rendah dan aroma khas mewarnai sibuknya orang yang menawarkan dagangan.
Zet hanya memandangi sekitar. Sebelum orang lain menganggapnya aneh dan mencurigakan, Putri Catriona menyodok lengan Zet. “Kau mau kubelikan manisan keju, tidak?”
Walaupun terdengar seperti makanan anak kecil, Zet tidak bisa menolak. Ia cukup penasaran karena biasanya yang dijadikan manisan di Empat Musim adalah buah-buahan. Tuan Putri segera menyeretnya ke depan sebuah kedai. Sambil menunggu, Zet menoleh dan menemukan bahwa tak jauh dari sana, seorang pedagang tua, dengan tangan gemetar, tengah memberikan setangkup roti ke hadapan tiga orang pria. Dilihatnya salah satu pria itu membentak, merasa tak cukup. Sayup-sayup Zet mendengar suara percakapan mereka.
“Eh, memangnya kau pikir bank kami bisa menyimpan roti itu di brankas?!”
“K—Kami hari ini belum dapat pembeli sama sekali, Tuan.” Suara pedagang itu sama goyahnya dengan tubuh renta yang ia miliki.
Zet beringsut, tetapi Putri Catriona menahannya. Namun saat si pria yang punggungnya masih tegap dan tampak lebih berpendidikan itu menyuruh bawahannya untuk mengacak-acak toko, Zet tidak terima.
Tak punya uang sepeser pun di kantong, Zet hanya bisa menyerahkan badan. Kedua pria berotot pun berhenti, lalu memandangi Zet. “Maaf, Tuan. Jika Anda menghancurkan kedai ini, penjualnya tidak akan bisa membayar selamanya. Tapi kalau Anda beri dia kesempatan, mungkin ia akan membayar akhir minggu nanti.”
Pria yang tampangnya bundar sempurna seperti bola itu mengernyih, lalu menggerutu dengan cepat. “Ha? Kau tahu apa, anak muda? Si badung dari Padang Sabana ini sudah utang banyak sekali ke bank kerajaan! Cih, dasar orang-orang Padang Sabana. Cara berpakaian saja mereka tidak tahu, apalagi cara berterima kasih.”
Zet sebisa mungkin menahan emosinya. “Saya mohon, setidaknya perlakukan dia dengan baik. Kakek ini jauh lebih tua dari Anda, bukan?”
“He, kau ini banyak omong sekali, ya. Kau sendiri tidak tahu sopan santun. Kalau bicara sama orang tua, bukalah tudungmu! Kau ini jangan-jangan anak Sabana juga, ya?” Si pria berwajah bundar berusaha menyibak penutup kepala Zet. Salah satu penjaga membantu dengan mengangkat badan Zet ke atas. Mau tak mau, wajah Zet terekspos. Kedua mata bankir itu membulat, sebulat kepalanya, begitu mendapati bahwa sketsa di dinding cocok dengan wajah Zet. Sekarang ia jadi tahu alasan Zet menutup-nutupi identitas.
“Kejar mereka! Kalian ... siapa pun! Anak itu buronan kerajaan!” Si pria berwajah bundar menyeru sambil mengibarkan selebaran berwarna cokelat muda. Zet menyadari kesalahannya. Seluruh warga kini seolah menganggapnya sebagai koin emas yang menggelinding. Berkali-kali ia meminta maaf kepada para pedagang yang lapaknya terbengkalai. Belanga berceceran, ayam yang diikat terbang, tumpukan telur pecah begitu saja. Benar-benar kacau! Zet tak bisa berhenti karena orang-orang ini semakin dekat.
Putri Catriona mengajaknya berbelok dan berhasil melompati pagar, tetapi sayang sekali Zet di belakangnya malah terpeleset genangan air. Lelaki itu bangun sambil menahan bau pesing, lantas berusaha meraih tangan Putri yang mengulur dari atas tembok. Namun orang-orang berhasil menarik Zet lebih dulu. Jelas saja, Putri Catriona tak bisa berbuat apa-apa. Zet dipukuli massa.
Kecuali ada satu cara yang bisa Putri Catriona lakukan. “Hentikan!”
Suara lantang tersebut tak juga membuat para bedebah menghentikan aktivitasnya. Hanya segelintir orang yang menaruh perhatian. Orang-orang itu menyaksikan Putri Catriona membuka jubah, lantas membuat isyarat kepada kawan-kawan mereka supaya berhenti dan menoleh.
“Aku memerintahkan kalian untuk melepaskan Zet!”
“Siapa kau?!” tanya seorang pria, yang segera disodok ulu hatinya oleh temannya yang menunduk hormat. Ia berbisik mengatakan siapa Putri Catriona.
Merasa tak perlu menjelaskan lagi, Putri Catriona melanjutkan, “Kalian akan aku laporkan ke Ayah, kalau berani menyentuh kulit Zet sekali lagi!”
“M—maaf, Tuan Putri, t—tapi—.” Giliran pria berwajah bulat mencoba protes. Ia tentu masih ingin mendapat bagian dari hadiah tertulis pada selebaran yang ia pegang.
“Zet berada di bawah lindunganku sekarang. Kalian semua boleh pergi.”
Rasa sakit dan perihnya luka lecet terbayar oleh kekaguman. Orang-orang mulai meninggalkan tempat itu dengan muka kecewa. Putri Catriona membantu Zet berdiri. “A—aku minta maaf.”
“Kau rupanya gegabah sekali, Zet!” tukas Putri Catriona sambil menahan tawa. “Tidak. Aku yang salah karena mengajakmu ke tempat ramai. Kupikir tadi bisa menyegarkan otak dengan pergi beli camilan. Ayo, kau butuh mandi sekarang.”
“Cih, kau berusaha terlihat heroik di depan mata Catriona, tapi malah berakhir seperti ini. Menyedihkan sekali.”
Zet pura-pura tidak mendengar komentar Yun Lao dan hanya ketawa jengah. Walaupun memalukan, setidaknya Zet punya alasan agar dibopong oleh seorang Tuan Putri Kerajaan. Suatu pengalaman yang langka. Yun Lao terbang di belakang mereka sambil mengurut kening. Ia merasa perlu menjalankan suatu rencana sekarang.
[...]
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-