The Master Of Arcana

The Master Of Arcana
50: SERAHKAN ATAU KEMBANGKAN



“Astaga, jadi nyawaku dalam bahaya!” seru Zet dengan mata terbelalak. “Apakah ibu punya saran agar saya bisa terhindar dari bahaya ini?”


Minerva mengacungkan dua jari tangannya. “Ada dua cara. Pertama, serahkan saja arcanum air milikmu pada Universitas Langit Angkasa. Kami, para musafir penjaga perdamaian dan keseimbangan di Terra Revia akan mengerahkan segala kesaktian, bahkan rela bertaruh nyawa untuk menjaganya dari tangan-tangan pengacau.”


Separuh diri Zet sudah melompat kegirangan. Zet sudah terdorong untuk menyerahkan arcanum air yang menyebalkan itu saja pada Minerva, memenuhi amanat ibunya, Rhea agar Zet menjauh dari godaan untuk mengumpulkan kelima arcanum dan mendapatkan kekuatan paling digdaya di Terra Revia, menjadi Master of Arcana.


Namun bagaimana dengan janji Zet pada Yun Lao? Janji untuk mengembangkan diri agar dapat menjadi Master of Arcana yang ideal? Menjadi sosok perawat kestabilan dan perdamaian dunia juga dengan dukungan para musafir antar-ranah termasuk Minerva.


“Hm, melihat raut wajahmu, kamu pasti ingin mendengar cara kedua. Baiklah, ini cara kedua agar kamu aman, atau setidaknya mampu melawan dengan imbang dan mempertahankan diri dengan sebaik-baiknya bila kamu sampai harus berhadapan dengan para musafir pengacau. Caranya, kamu harus terus mengembangkan dirimu sehebat-hebatnya dengan mendayagunakan arcanum yang kau miliki saat ini, berlatih ilmu tenaga dalam dan ilmu sihir, sekaligus mematangkan ilmu elementalis dengan mencampur itu dengan ilmu sihir Aliran Langit Angkasa. Para dosen di sini akan terus menggembleng dan membantu usahamu itu sampai taraf maksimal.”


Zet menghela napas lega. Bukankah itu yang sedang ia perjuangkan selama ini dan terus selama ia masih kuliah di Universitas Langit Angkasa? Ia hanya harus berlatih lebih fokus dan lebih keras, ditambah pelatihan tingkat lanjutan dari Yun Lao juga. Karena dengan cara itulah Zet memiliki pertahanan terbaik untuk menghadapi segala tantangan gila yang akan mengadangnya di masa depan.


Jawaban Zet sudah pasti, tak perlu dipikirkan panjang-lebar lagi. Harap saja ibu Zet, Rhea tak akan menyusul ke universitas untuk membunuh Zet andai dia tahu Zet mengandalkan arcanum air lagi.


“Baiklah, saya memilih cara kedua, yaitu mengembangkan diri dan memperkokoh pertahanan dengan menggunakan arcanum saya.”


“Bagus,” kata Minerva sambil mengangguk mantap. “Lakukan itu, raih bintang setinggi-tingginya. Suatu hari nanti, saya akan mengujimu. Bila kamu lulus dalam semua ujian dari saya itu, saya akan mempercayakan Pusaka Langit Angkasa ini padamu.”


Sambil mengatakannya, Minerva melambai-lambaikan telapak tangannya. Tampak asap hijau mengepul dan berpendaran di atas telapak tangan musafir itu. Di tengah asap itu, tampaklah sebentuk permata kristal hijau yang ukurannya sama dengan kristal biru yang kini terkalung erat di dada Zet.


Kristal hijau itu berbentuk seperti sehelai daun, aura yang dipancarkannya beresonansi dengan aura dari arcanum air Zet, seolah-olah mereka adalah dua saudara yang telah lama berpisah dan kini saling sapa.


Mata Zet terbelalak selebar-lebarnya. “A-astaga...! I-itu... arcanum kayu...!”


“Benar sekali,” ujar Minerva sambil menyunggingkan senyum mempesona. “Sekarang kamu tahu jalan yang harus kamu tempuh untuk sampai di tingkat berikutnya. Lakukan itu, dan mungkin... mungkin saja kamu akan benar-benar menjadi Master of Arcana kelak.”


Zet terenyak. Pilihan teramat berat telah ia ambil tanpa pikir panjang. Kecuali Zet menyerahkan arcanum air itu dan berubah pikiran, tak akan ada jalan lain lagi kecuali maju dan meraih tujuan tertinggi... atau kehilangan segalanya di tengah perjalanan. Apapun itu, ini memang perjalanan yang layak dijalani agar hidup jadi lebih hidup – seperti kata orang.


Suara Minerva menyela lamunan Zet, “Nah, Zeta. Kamu bisa mengendalikan air tanpa arcanum, ‘kan?”


Zet gelagapan. “I-iya, bu.”


Menebak maksud sang rektor, Zet menoleh ke arah lantai. Benar saja, tangan monster Arachmian yang membusuk sejak tadi itu kini telah luluh sepenuhnya menjadi kubangan lendir. Dan baunya itu masih sama menyengatnya seperti tadi, atau malah lebih parah. Pantas saja Minerva yang adalah musafir sakti itu saja sudah tak tahan, apalagi Zet. Rasanya seperti hendak pingsan di tempat saja, sekarang juga.


Apalagi membawa lendir sebesar itu dengan kemampuan pengendalian air, rasanya malam ini akan jadi malam yang sangat panjang, melelahkan dan memuakkan.


\==oOo==


Yang membuat Zet heran pada dirinya sendiri, rupanya membawa segumpal bola lendir sebesar kepala gajah itu tak sesulit bayangan di benaknya semula.


Walau memang butuh waktu lama untuk berjalan sambil menjaga bola lendir tetap melayang di udara dengan kemampuan elemental mirip telekinesis untuk pengendalian air, Zet tak perlu jadi terlalu lelah walau rasanya ia sudah amat-sangat mengantuk.


Gawatnya, Zet tak tahu di mana tempat pelimbahan di lingkungan kampus, yang seharusnya ada di setiap fakultas termasuk di bagian tengah kompleks Universitas Langit Angkasa ini, tempat Fakultas Supranatural dan Kompleks Rektorat berada.


Zet lalu mendapat akal gila, apa ia buang saja di mulut Hutan Regenerasi? Toh sumber segala bau busuk di kampus ada di sana, bukan?


Tiba-tiba satu seruan terdengar, “Tahan! Ada apa kau berkeliaran di malam-malam buta begini? Semua mahasiswa harus berada di asrama masing-masing!”


Zet menoleh dan melihat seorang pria petugas jaga universitas berkacak pinggang. Ia menjelaskan, “Maaf, pak. Saya baru dari Ruang Rektorat. Bu Minerva menyuruh saya membuang lendir ini di pelimbahan, apa bapak tahu pelimbahan terdekat?”


Melihat yang Zet lakukan itu, si petugas berujar, “Oh, begitukah? Saya maklum kalau begitu. Mari, saya langsung antar kau saja ke sana.”


“Baiklah, tolong ya pak.”


Sambil berjalan di samping Zet, si petugas berkata lagi, “Ngomong-ngomong, telekinesismu bagus sekali. Apa kau ingin masuk tim Odyscus kampus untuk mewakili negaramu? Uji cobanya empat hari lagi, lho!”


Zet terpana. Tak disangka, si petugas jaga malam itu memberinya satu gagasan bagus. Gila, tapi bagus.