The Master Of Arcana

The Master Of Arcana
27 : TERDAMPAR



Hangat mulai merayap. Kobaran api menari-nari di bawah naungan langit yang masih gelap. Putri Catriona terbangun dengan mata lemah dan badan terasa jeram. Ia melihat sekeliling yang hanya merupakan lahan luas menyerupai pantai, dengan kerakal dan batu-batuan besar. Air sayup-sayup terdengar mendebur sesekali membentuk ombak. Baru ia sadari, ia tak sendirian di tempat itu. Zet yang bertelanjang dada sedang mengatur api supaya tetap menyala. Pemuda itu tahu-tahu menoleh kepadanya. Sementara tangan Catriona meraba pakaiannya sendiri. Ia seketika menjerit dan menarik kain longgar yang tak genap membungkus badannya. Beruntung, baju dalamnya masih lengkap. “Apa yang kau lakukan?!”


“Maaf, maaf, maaf. Saya tak bermaksud tidak sopan.” Zet menyingkir dan memunggungi perempuan itu. Kupingnya terasa mendidih. Walaupun ia sudah mengantisipasi kejadian ini, tetap saja rasa canggung itu membuatnya ingin mati saja. “Tapi kalau memaksa pakai baju basah, Anda akan masuk angin, Yang Mulia.”


Mata cokelat Catriona menangkap jemuran yang Zet buat dari batu seadanya di samping mereka. Ditata bersisian menghadap api. Tuan Putri itu pun menghela napas panjang, seraya merapikan kain yang ia kenakan, “Di mana kita?”


“Saya juga tidak tahu. Saya tadi berenang tak tahu arah, yang penting ketemu daratan.”


Putri Catriona tersenyum. “Kita seumuran Zet, jangan bicara seolah aku lebih tua seratus tahun darimu. Juga, panggil aku dengan namaku, jangan pakai embel-embel paduka, yang mulia, tuan putri, aduh,” ucapnya sambil mengibaskan tangan di udara.


Zet melirik Tuan Putri sebentar, kemudian membalik badannya dengan kaku. “Tapi Anda—kau, kan memang ... ah, sudahlah.” Pemuda itu langsung terdiam dan tampak murung. Catriona paham betul bagaimana perasaannya sekarang. Kehilangan benda kesayangan, jauh dari keluarga, dan yang paling menyedihkan adalah ia baru saja terpisah dari ibunya.


“Kau akan baik-baik saja, Zet,” hibur Tuan Putri dengan suara lirih.


“Bagaimana aku bisa baik-baik saja?!” Zet sedikit membentak. “Aku bahkan tak tahu kita sekarang ada di mana, setelah ini harus ke mana, dan melakukan apa! Semua yang kumiliki sudah dirampas!”


Putri Catriona tampak mau menangis. Zet kemudian luluh dan menyesali perbuatannya barusan. “Aku minta maaf. Tak seharusnya aku marah kepadamu. Kau sudah susah payah mau menolongku.”


“Tidak, Zet. Kau memang pantas untuk marah kepadaku. Aku justru ingin sekali minta maaf, atas apa yang telah keluargaku lakukan kepadamu, terutama Barra. Walaupun kurasa kau tak akan pernah sudi menerima permintaan maaf ini.”


“T—tapi kenapa? Kenapa juga kau menolongku?”


Putri Catriona tak lantas menjawab. Ia melihat bara kemerahan yang sesekali membuat kayu bergemeretak di dekat kaki telanjangnya. “Kau mengingatkanku dengan kakakku, Barra.”


“Dahulu kami berdua selalu bermain bersama. Tertawa, bersenda gurau, seolah tak pernah mengenal waktu. Barra sebenarnya adalah anak yang baik dan pemberani, mungkin kurang lebih sama sepertimu. Walaupun tidak terlalu pintar, tetapi ia tetap rajin dan juga mau berusaha untuk bisa membuat ayah dan ibu bangga. Aku masih ingat sewaktu dia mencoba naik kuda untuk pertama kali, tapi malah berakhir dengan menggelantung di perut hewan itu, dan terantuk-antuk selama satu menit perjalanan.” Tuan Putri menyelingi ceritanya dengan tawa sebentar. Zet menaruh empati padanya, walaupun ia tak lantas ikut tersenyum.


“Tapi Barra menjadi semakin berubah, ketika Ayah melatih dan memaksanya untuk menjadi penerus dan pewaris takhta kerajaan. Semenjak itu pula, kami pun jarang sekali bertemu. Paling hanya beberapa bulan sekali. Padahal dulu kami tidak pernah absen untuk melihat pesta kembang api dan mengunjungi pasar malam bersama-sama. Tapi lama kelamaan, Barra selalu menolak dengan alasan sibuk dengan tugas ini itu, pertemuan ini itu. Sampai aku akhirnya berinisiatif untuk membelikannya kenang-kenangan berupa topeng putih dari pasar malam yang dulu sering kami datangi. Berharap ia akan ingat, dan rindu dengan masa-masa itu. Namun sayang sekali tidak, bahkan ia tak mengakui topeng bodoh itu.”


Zet ikut merasakan sakit. Tuan Putri melempar kerikil ke arah api, sambil berkata lagi, “Semakin tumbuh dewasa, Barra menjadi semakin dingin dan lebih sering memerintah daripada mendengarkan. Tak cukup sampai di situ, ia juga memiliki obsesi terhadap kekuatan. Ia selalu bilang padaku, bahwa semua hal di dunia ini hanyalah tentang kekuatan. Siapa saja yang memiliki kekuatan, ia akan hidup nyaman karena akan disegani orang lain. Apalagi untuk seorang raja dari negara yang sangat besar seperti Kubah Malam, kekuatan sangat mutlak diperlukan. Barra tak bisa bermalas-malasan terus dan menjadi orang lemah seperti aku. Atau dia akan mengecewakan Ayah.


“Barra tak terlalu mahir berpedang. Ia pun akhirnya ingin menjadi seorang penyihir. Namun dari keluarga kami memang tak ada darah penyihir sama sekali, sehingga Barra tidak mungkin bisa menguasai sihir sama sepertimu, Zet. Barulah akhir-akhir ini aku merasa bahwa ternyata dia itu sedang mencari-cari sesuatu. Dan ternyata aku sadar bahwa ternyata itu adalah arcanum. Legenda yang ternyata masih ada. Dengan begitu, ia masih punya harapan, arcanum bisa membuatnya menjadi seorang penyihir yang kuat.”


Penuturan Catriona tersebut jelas adalah keterangan seorang saksi yang benar-benar relevan dan valid apabila dibacakan di hadapan hakim. Namun Raja Taraghlan sebagai penentu kebijakan tentu akan lebih memilih untuk mendengarkan putra mahkota daripada putrinya, Catriona. Zet merasa yang ditunjukkan Catriona barusan tadi sesungguhnya adalah jalan terang, tetapi seketika berakhir menjadi jalan buntu.


“Aku ingin membantumu, karena kau layak untuk mendapatkan kembali apa yang menjadi hakmu. Lagi pula, yang kudengar, senjata itu tidak bisa digunakan sembarang orang, dan hanya ada satu orang yang bisa mengendalikannya.”


Zet menatap mata Catriona yang tampaknya begitu tulus. “Walaupun itu berarti kau akan menghianati keluargamu sendiri?”


Gadis itu tak menjawab, dan hanya menatap wajah api yang nyalanya mulai redup.


[...]


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-