
Zet juga sempat menoleh pada Filian. Walau tampaknya serangannya lebih stabil dan kaku, Fili tetap bisa bertahan dengan stabil di balik perisai bulatnya. Sayangnya, musuh yang ia penggal jauh lebih sedikit daripada “korban” Zet.
Suara teriakan Kimiko terdengar dari atas pohon, teriring teriakan pilu para monster terbang yang terpenggal oleh hawa pedang tajam penuh tenaga dalam dari kedua wakizashinya. Juga tampak monster-monster yang jatuh seperti buah-buah yang terlalu matang berguguran dari pohonnya.
Yang paling miris adalah Nina, yang sejak pertarungan dimulai belum merapal satu mantra pun. Padahal di misi sebelumnya ia sering menyerang dengan bola-bola api nan dahsyat. Mungkin karena kali ini jumlah musuh amat banyak, Nina ingin melibas semuanya sekaligus dengan satu kali serangan sihir tingkat tinggi saja.
Namun proses penghimpunan energi Nina terlalu lambat. Setelah jurusnya rampung, Zet yang belum sempat menghimpun energi untuk mengerahkan jurus berikutnya kembali dikeroyok dan terdesak. Terpaksa Zet berteriak, “Tolong, Nina! Kerahkan sihirmu sekarang!”
“Tapi energiku belum cukup!” sanggah Nina. “Nanti sihirku percuma saja kalau tak bisa menghanguskan mereka semua!”
“Kalau kami tumbang sekarang, kau tak akan sempat merapal sihir sama sekali! Lakukan sekarang juga!”
“Oh, baiklah! Zet dan Filian, menyingkir!” seru Nina. Ia lalu merapal mantra, “Severagnios!”
Zet dan Filian cepat-cepat menyingkir ke sisi kiri dan kanan Nina.
Yang tampak kemudian oleh Zet adalah hujan bola api yang tak terhitung banyaknya menerpa, mencakup daerah yang luas. Tanpa ampun, tubuh para monster yang terkena bola-bola api itu terbakar dan terpanggang sampai hangus mengabu. Percuma saja menumbuhkan kembali tubuh bila tubuh itu sudah seluruhnya luluh-lantak.
Sekali lagi, sihir api menunjukkan keunggulannya sebagai yang paling ampuh memusnahkan makhluk-makhluk yang memiliki kemampuan menumbuhkan kembali tubuh sendiri atau regenerasi.
Setelah hujan bola api reda, yang tampak adalah bangkai hewan hangus yang terhampar di mana-mana. Kabar buruknya, ternyata masih jauh lebih banyak hewan yang tak terbakar sampai hangus, sehingga mereka sempat beregenerasi dan bisa bergerak menyerang lagi.
Lebih parahnya, banyak pula hewan-hewan yang tak terpapar atau hanya terserempet bola api saja. Ditambah gelombang penyerang baru yang terus berdatangan, bahaya untuk regu Zet masih jauh dari reda.
Zet dan Fili terluka lagi oleh keroyokan musuh. Kimiko hampir jatuh dari pohon karena diseruduk oleh segerombolan burung monster dari belakang. Untunglah ia sempat berpegangan dan bergelantungan pada satu ranting yang cukup kuat. Lalu ia berayun ke cabang tebal terdekat.
Hanya Nina yan seakan-akan tak tersentuh karena ia dilindungi oleh rekan-rekannya selagi ia kembali menghimpun energi untuk merapal sihir berikutnya.
Untunglah kali ini Zet, Fili dan Kimi tak perlu menunggu lama. “Menyingkirlah lagi!” seru Nina.
“Pyroagnios!”
Zet dan Fili cepat-cepat beringsut, bahkan menjatuhkan diri dan berguling ke samping.
Nina di tengah menembakkan selarik Sambaran Api Besar dari tongkat sihirnya. Dengan energi berlebih, ia dapat menggeser arah tembakannay dari sebelah kirinya ke sebelah kanannya.
Hasilnya, hampir semua musuh di sebelah kiri Nina hangus terbakar habis. Namun makin ke tegnah daya tembakan apinya makin berkurang. Sampai di kanan, daya itu habis dan hanya sedikit musuh terdepan saja di sana yang terbakar.
Walaupun sihir kali ini lebih rendah tingkatannya dari sihir pertama tadi, Hujan Bola Api, musuh yang berhasil dibakar habis kira-kira tak jauh beda jumlahnya. Kalau dihitung-hitung, jumlah musuh yang hangus kini hanya sedikit lebih banyak daripada jumlah total bila merapal dua kali Sambaran Api Besar dengan energi lebih sedikit dan waktu perapalan yang lebih singkat daripada Hujan Bola Api.
“Ayo kita lindungi Nina lagi!” Kali ini, suara seruan Zet bertambah serak, tandanya ia mulai kelelahan. Sabetan-sabetan pedangnya melamban walau kelihatannya tak begitu kentara.
Walau musuh kini tak sebenyak sebelumnya, tetap saja mereka terlalu banyak untuk dilawan oleh empat pendekar yang relatif minim pengalaman. Perlahan tapi pasti, keadaan mulai berbalik. Zet, Filian dan Kimiko jadi bulan-bulanan musuh. Bahkan Nina pun mulai terluka akibat serangan satu-dua monster nyasar.
Terpaksa Nina merapal sihir tercepat dan paling sederhana. Satu per satu bola-bola apinya menerpa, membakar hangus monster-monster yang sempat menyerangnya atau berada cukup dekat dengan dirinya.
Karena sudah amat terdesak, Kimiko akhirnya mengerahkan jurus pamungkasnya. Tubuhnya berkelebat terlalu cepat sehingga bayangannya saja tak kelihatan melayang dari cabang ke cabang pohon, bahkan turun sampai ke tanah. Yang terdengar hanya bunyi-bunyi tebasan sepasang wakizashi, serta raungan puluhan monster yang berguguran dengan kepala dan tubuh terpisah-pisah.
Sayangnya, jurus Laskar Selaksa Bayangan Kimiko itu hanya sedikit mengurangi jumlah monster darat yang terus berdatangan, seolah-olah tak ada habisnya.
Puluhan monster lantas merubung Zet, yang mungkin mereka anggap adalah ancaman terbesar dan terkuat bagi mereka.
Dengan tubuh berdarah-darah, di ambang batas ketahanannya Zet berteriak, “Apapun takdirku, aku tak mau mati sekarang di sini!”
Teriring raungan keras membahana, Zet terpaksa mengerahkan energi arcanum air yang telah tersimpan dan ditabung selama kurang lebih setengah tahun. Yang terjadi ini hampir sama dengan saat ia mengamuk menghadapi Pangeran Barra, namun lebih dahsyat.
Langit tengah hari yang semula cerah berawan tiba-tiba mendung. Melihat itu, Filian berteriak memperingatkan rekan-rekannya, “Cepat lari ke pepohonan rimbun! Jangan sampai tersambar hujan petir!”
Fili, Nina dan Kimiko berlari bersama menerobos kepungan musuh. Petir mulai menggelegar, energi arcanum air Zet mulai bergelora seiring kelebatan pedangnya yang memenggali musuh lebih cepat, lebih ganas dan lebih akurat daripada sebelumnya. Petir lantas menyambar-nyambar ke tanah. Seharusnya yang jadi sasaran pertama adalah pohon besar tunggal yang menjulang sendirian di lapangan terbuka.
Namun, sebagai pengguna arcanum air, ditambah tenaga dalam dan energi sejati miliknya yang telah mencapai tahap tanah tingkat kelima, Zet mengendalikan semua petir itu sehingga hanya menyambar dan menghanguskan musuh saja. Bahkan dalam keadaan “kesetanan” pun Zet masih tahu membalas budi pada pohon yang telah melindunginya dari kepungan musuh.
Pada prinsipnya, di jurus pamungkas ini, Hujan Badai Halilintar Digdaya musuh dibuat basah dulu dengan air hujan. Jadi saat tersambar petir, daya petir yang dihantarkan air lebih cepat menjalar ke seluruh tubuh. Dayanya jadi lebih besar daripada bila tubuh tersambar petir begitu saja sehingga tubuh lebih cepat hangus dan tak bisa beregenerasi lagi.
Itulah yang terjadi dengan para monster saat ini. Proses penghangusan kali ini kalah cepat dari api yang lebih langsung menjalar. Jumlah musuh yang hangus dan terpenggal lebih sedikit daripada satu kali rapalan sihir Nina tadi. Namun keganasan jurus itu lebih berhasil membuat nyali para monster ciut seketika.
Akibatnya, para monster yang tersisa dan jumlahnya masih amat banyak melarikan diri dengan kacau ke segala arah. Nina, Filian dan Kimiko tak mengejar mereka karena tak ingin terpisah dari regnya. Lagipula, pada dasarnya para monster itu hanyalah korban penyakit pembusukan. Di antara mereka banyak yang buas, tapi buas tak berarti jahat.
Melihat semuanya itu, Zet berhenti bergerak. Namun, bukan senang ia malah berlutut dan meraung, pipinya basah dengan air mata. Ia berseru sekuat suara, “Oh, para dewa! Mengapa? Mengapa harus begini? Aku kemari dengan niat untuk menyembuhkan hewan-hewan malang di hutan ini, bukan membantai mereka!”
Yang terdengar oleh Zet kemudian adalah suara seorang wanita yang menyela, “Wah, wah. Harusnya kau biarkan saja kami berkembang makin banyak, lalu menulari kalian semua, wahai kaum perusak alam!”
Zet bagai tersambar petir. Walau agak sedikit berbeda, ia tetap bisa mengenali suara itu.
Itu adalah suara Minerva Kaleos, Rektor Universitas Langit Angkasa.
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-