The Master Of Arcana

The Master Of Arcana
90: B E H E M O T H



Zet terlalu tercengang, baru menyadari pertolongan dan bantuan tak terduga itu.


Ternyata, selama di gurun maupun di dalam gua bawah tanah, Kimiko si ninja selalu menguntit rombongan Zet dari jauh dan Zet dan Nina tak menyadarinya.


Itu karena sebagai ninja, Kimiko sudah terbiasa bergerak cepat, ringan dan diam-diam. Kalaupun ia menggunakan tenaga dalam, pergerakan luar biasa cepat dan luwes yang dihasilkannya membuat pancaran tenaga dalam itu sulit dideteksi.


Di sisi lain, Singh sangat mungkin sudah mengetahui keberadaan Kimiko itu. Tapi sang musafir antar ranah sengaja membiarkan si ninja karena Zet sudah memberitahunya tentang Kimiko sebagai teman yang setia di kapal menuju Ular Pasir waktu itu.


Kelelahan karena memapah Nina sambil bergerak amat lincah, Kimiko jatuh terduduk di tanah, berusaha mengatur napasnya yang memburu dan meregangkan otot-ototnya sejenak. Namun, si gadis ninja bertubuh mungil itu terkesiap melihat tongkat sihir yang ditodongkan ke lehernya.


“A-apa maksudmu, Nina?” tanya Kimiko. “Bukankah aku baru saja menyelamatkan nyawamu?”


“Tak usah banyak alasan, hei antek Kalajengking Hitam!” hardik Nina sambil mengerutkan dahi. “Kau sengaja menyelamatkanku agar aku berutang budi dan bersimpati padamu. Padahal kau sedang mencari kesempatan untukj menikamku dari belakang saat aku lengah, menunaikan kewajibanmu pada klan dan sektemu dan meraup jasa besar!”


Kimiko cepat-cepat beringsut mundur lalu bangkit, menghunus sepasang kunai, belati lempar ala ninja dan menggenggam keduanya erat di kedua tangan.


“Huh! Fanatisme Sekte Salju Putih telah membutakan matamu, Nina! Sudah entah berapa kali aku hendak berdebat denganmu, tapi kau masih tetap keras kepala!” teriak Kimiko, memberi tekanan lebih pada kata-kata yang ingin ia tegaskan maksudnya. “Sudah kubilang aku sedang bertindak untuk diriku sendiri, membalas budi pada Zet yang telah menjadi sahabat yang baik selama tahun pertama kuliah!”


“Ah, bohong itu! Pasti ada maksud lain.” Nina berpangku tangan.


“Kami di Sakura Ungu menjunjung tinggi kehormatan dan kesetiaan, dan kesetiaan pada sahabat adalah salah satunya!”


Zet mencoba menengahi keduanya dengan logis. “Bukankah kesetiaan pada sekte, pada negara biasanya lebih tinggi derajatnya daripada pada sahabat? Karena menurut pepatah, ‘sahabat datang dan pergi, namun musuh tetap abadi’?”


Kimiko terbawa oleh pemikiran logis Zet. “Selama itu tak menyinggung langsung kepentingan sekte, mempertaruhkan nyawa bagi sahabat itu wajar-wajar saja menurutku.”


“Benarkah? Aku tak percaya Kimiko bisa jadi semulia itu,” cibir Nina. “Ayo Zet, sebaiknya kau bantu aku membasmi bakal duri dalam daging itu.”


“Maaf, tapi aku bukan anggota Sekte Salju Putih, apalagi yang sefanatik dirimu, Nina.” Zet mengangkat satu telapak tangan. “Aku sangat senang kalian berdua mau ikut membantuku jauh-jauh kemari, bahkan mempertaruhkan nyawa seperti tadi.


Tapi kurasa ujian terberat sedang menanti ita di balik pintu itu, dan firasatku berkata aku tak akan dapat mengatasinya sendirian. Sungguh ironis bila kalian berdua harus adu nyawa sia-sia di sini dan tak bisa membantuku saat aku amat membutuhkan bantuan kalian, bukan?”


Nina menghardik, “Jangan bertele-tele, Zet! Katakan apa maumu!”


“Aku hanya minta untuk kali ini saja, tolong kesampingkan dulu kepentingan sekte dan bantulah aku mendapatkan arcanum tanah sejati dulu. Setelah kita keluar dari gua bawah tanah ini, baru kalian buat perhitungan satu sama lain, masuk akal, bukan?”


Kimiko tentu menyambut usul Zet itu. “Tentu saja. Toh aku sudah lama menyisihkan kepentingan sekte sejak aku mulai kuliah.”


Sebagai penasihat dan pengamat, giliran Singh turun tangan dengan menegur Nina. “Nah, apa jawabanmu, Nina?” tanyanya. “Ingat, keselamatan Zet dan dirimu sendiri bergantung dari jawabanmu itu.”


Nina berpangku tangan sambil satu telunjuknya membetulkan letak kacamata pada pangkal hidungnya. “Kalau begitu, aku tak punya pilihan lain,” katanya.


Zet melangkah dalam ruangan berikutnya di Gua Bawah Tanah Ahriman dengan perasaan yang campur-aduk.


Antara gembira dan bersemangat karena menurut Ahriman ini adalah ujian terakhir untuk mewarisi arcanum tanah. Juga ujung ekstrim perasaannya yang satu lagi, yaitu jantung yang berdebar makin keras dan keringat yang bercucuran makin deras, mengingat ujian ini digadang-gadang bakal paling berat dan paling mematikan daripada semuanya.


Satu hal yang melegakan sekaligus menyesakkan, kali ini Zet dibantu oleh dua teman sekampusnya, yaitu Nina Gnossis si penyihir dan Kimiko Maru si ninja. Yang menyesakkan, walaupun keduanya telah bersumpah untuk mengesampingkan pertentangan di antara mereka berdua sebagai anggota dua sekte yang saling berseteru, tetap saja masih ada potensi kedua gadis muda itu bakal terpancing emosi dan saling serang satu sama lain.


Di atas semua itu, tatapan mata dan pikiran Zet kini terpusat pada pemandangan di sekitarnya. Yang tampak adalah ruangan semacam kubah yang amat luas. Kubah itu tak terlalu luas, namun terlihat lebih lapang, beralaskan lantai batu yang datar tanpa tebing, jurang dan semacamnya.


Baru saja Zet maju beberapa langkah, ia sudah disambut oleh Ahmed alias Ahriman. Sosok monster kelabang capung raksasa itu melayang di tempat, persis di titik tengah balairung beratap kubah.


“Selamat, Amazeta Dionisos, kandidat pewaris arcanum tanah sejati,” kata Ahriman. “Berkat usahamu sendiri, bantuan teman-temanmu dan petunjuk dari pemandumu, kau berhasil tiba di tempat ini. Tapi ujian terakhir menantimu di tempat ini. Dan yang mengujimu adalah penjaga utama arcanum tanah sejati sendiri.”


“Siapakah dia?” tanya Zet, curiga karena tak melihat orang atau makhluk lain selain Ahriman di sekitar ruangan ini.


“Dia adalah aku dalam wujud yang berbeda. Tetaplah di tempat dan perhatikan baik-baik.”


Setelah mengatakannya, Ahriman mulai berubah wujud. Ukuran tubuhnya makin besar, seakan membengkak dan menggelembung. Kedelapan tangan kelabangnya berganti menjadi empat kaki raksasa yang tebal seperti pilar atau tiang gedung. Kepala belalangnya yang bermata faset berubah menjadi semacam kepala banteng bertanduk lima dan lebih besar daripada sebelumnya.


Tubuh Ahriman terus menggelembung menjadi makin besar dan tebal, sehingga akhirnya memenuhi sekitar sepertiga ruangan lantai kubah. Tubuhnya juga makin tinggi, menjangkau sedikitnya sepertiga jarak ke langit-langit gua dari tanah.


Kulitnya yang semula berzirahkan cangkang berganti seperti seluruhnya terdiri atau terbuat dari batu, dengan duri-duri raksasa yang bertonjolan bagai stalgmit-stalagmit dekat dinding gua di sekitarnya. Di bagian bawah perut si banteng raksasa itu juga muncul duri-duri mirip stalaktit, yang juga bertebaran dalam gua ini.


Zet tercengang bukan kepalang. Makhluk mirip banteng berkulit batu itu jelas adalah makhluk paling besar yang pernah ia lihat seumur hidupnya. Kalau dihitung-hitung, besarnya kira-kira setara dengan dua ekor ikan paus yang bertumpukan di atas tanah.


Si banteng batu maha raksasa berkata, “Akulah Behemoth, wujud penjaga sejati gua suci arcanum tanah. Aku akan mempertahankan arcanum tanah di tubuhku ini sampai ada pewaris baru yang layak mengambilnya.”


Nina memberanikan diri angkat bicara, “Apa maksudmu? Apa kau akan membunuh kami semua demi mempertahankan pusaka yang kaujaga itu?”


“Tidak secara langsung, karena seperti yang kukatakan tadi, aku akan mempertahankan pusaka jadi aku akan terus bertahan dan hanya menyerang bila nyawaku yang terancam. Tapi bila aku bergerak dan ada dari kalian yang mati terinjak olehku, itu tetap dalam rangka bertahan dan yang terjadi itu adalah kecelakaan.”


Zet berkomentar, “Jadi, apa aku harus membunuhmu untuk mendapatkan arcanum itu?”


Ahriman yang kini disebut Behemoth menjawab, “Tidak harus, karena kau tak akan mau membayangkan bagaimana jika aku yang maha raksasa ini menyerang kalian. Begini aturan mainnya. Kalian lihat arcanum tanah, kristal kuning di tengah dahiku ini? Arcanum itu tersemat di bagian kulit batuku yang paling tebal seperti helm tentara. Cukup cungkil dan lepaskan saja arcanum itu dari dahiku, dan itu akan jadi hak milikmu seutuhnya, Amazeta Dionisos.


Itulah aturan mainnya. Sekarang, coba ambil arcanum tanah dariku kalau bisa.”


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-