The Master Of Arcana

The Master Of Arcana
3 : A R C A N A



*) Arcanum (dibaca: arkaenum) (jamak: arcana) = diambil dari Bahasa Latin arcānus (“tersembunyi, rahasia”), arcēre (“menahan”), arca (“peti”). Yang dapat diartikan misteri atau segala sesuatu yang bersifat rahasia. Bisa juga berupa ramuan atau obat rahasia.


 


 


“Wah, rajin sekali, adikku ini. Belum sarapan sudah pergi ke perpustakaan,” kata Deon sambil meregangkan sendi-sendi bahunya di selasar rumah. Ia baru saja selesai berlarian di halaman belakang dengan bertelanjang dada. Walaupun Zet cukup iri dengan badan kakaknya, ia bersumpah, bau badan dan keringat Deon di pagi hari bukanlah aroma yang ia harapkan untuk membuka hari.


Zet juga merasa kikuk karena sebetulnya ini baru pertama kalinya ia menyentuhkan tangan di pintu perpustakaan keluarga. “Eeee ..., ya, ya. Kau terlalu lama meninggalkan rumah, sampai tidak tahu kebiasaanku ini. Dan ... kupikir karena sebentar lagi masa penerimaan murid baru, aku harus lebih giat membaca.”


Deon tercengir lebar sembari mengacak rambut hitam Zet dengan tangan kekarnya. “Bagus! Mungkin kau tidak perlu pintar bermain pedang. Tapi tunjukkan kepada mereka bahwa buku pun juga menyakitkan kalau mengenai kepala.”


Zet merapikan rambut dengan sebal sambil menatap punggung Deon yang pergi menjauh sembari bersenandung ria. Menurut praktis Deon, buku hanyalah sekumpulan kalimat kompleks dan membosankan untuk menjelaskan sebuah maksud yang sederhana. Zet sebenarnya setuju dengan itu. Ia sendiri muak dengan perpaduan bau perkamen lama dan tinta garam besi yang ditumpuk, dilem, dan dijahit menjadi bau yang menyerupai orang tua. Namun apa boleh buat, Yun Lao pun juga tidak tahu banyak soal Arcana, jadi ia harus berusaha menggali petunjuknya sendiri.


“Sebelum terbentuk kehidupan manusia di muka bumi, bintang pijar menyimpan seluruh energi semesta raya dalam satu titik kesatuan. Ketika ia mulai meledak, energi itu berubah menjadi bentuk yang baru, mengisi rongga-rongga kehampaan dengan bintang, matahari, bumi, kubah, komet, meteor, dan planet-planet. Rumah surga dan singgasana dipahat, diukir agar dewa-dewi bisa bekerja dengan penuh suka cita dan kebahagiaan. Dari sanalah, benda–benda alam terus ditempa. Air adalah elemen pertama. Air merupakan sumber kehidupan utama di bumi, yang dibentuk dan dicurahkan ke seluruh alam untuk pertama kali. Dari air, tunas-tunas yang baru lekas tumbuh menjadi hutan perkasa. Di dalamnya, tercetak monumen dari memori kuno yang tidak akan hancur bahkan berabad-abad lamanya. Akar, batang, ranting, bunga, dan akhirnya buah, menjadi satu kesatuan yang menyusun pohon kehidupan. Basis dari rantai makanan ini pun tersedia berlimpah ruah di bumi. Kayu, adalah elemen benda yang kedua.


“Namun sampai tahap penciptaan ini, masih belum ada makhluk hidup yang mengisi. Setiap musim dingin usai, bintang panas membakar kayu-kayu hingga menjadi abu. Kekuatan ketiga adalah api, yang sebenarnya sudah lahir bersamaan dengan ledakan bintang pijar yang pertama. Mengimbangi kekuatan air yang tenang dan pasif, api adalah energi aktif, memutar roda kehidupan, sekaligus merombak dan mengadakan pembaruan. Abu dan debu hasil pembakaran berkumpul menjadi suatu endapan yang semakin bertumpuk, kita sebut sebagai tanah. Saat itulah hewan dan manusia mulai dibentuk, dari berbagai macam tanah di bumi: hitam, merah, kuning, putih, semua adalah hasil koleksi alam yang tak ternilai harganya. Makhluk terpilih inilah yang kemudian diberi kecerdasan luar biasa, hingga mampu mengolah elemen kelima, sekaligus elemen terakhir: logam.


“Energi di seluruh alam raya jumlahnya tetap. Tapi mereka tidak tersebar secara merata. Orang dahulu menemukan cara bagaimana mengonsentrasikan energi murni sejumlah lima tadi, ke dalam lima buah benda pusaka yang disebut Arcanum. Benda pusaka inilah yang dipercaya membantu manusia berikutnya agar berevolusi dan bisa mengimbangi dewa. Sayangnya, tidak semua orang bisa mengendalikan satu Arcanum, apalagi lima Arcana sekaligus.


“Selama ratusan tahun, tumpah darah terjadi, hanya untuk memperebutkan kuasa atas kekuatan agung tersebut. Menjadi magi yang terpilih adalah suatu kehormatan tertinggi di sebuah kerajaan. Dunia hampir hancur ketika lima kekuatan ini digunakan sembarangan oleh raja-raja yang hanya peduli akan kejayaan mereka sendiri. Lahirlah penentang para tirani, yang dijuluki Master of Arcana. Takdirnya adalah untuk merebut seluruh Arcana dan menjadikannya ke dalam satu kekuatan tunggal—bintang pijar yang pertama. Sejak saat itu, hampir tak ada perang yang berarti.


“Saat Master of Arcana meninggal, kekuatan tersebut diwariskan secara turun–temurun, hingga sampai ke ibumu. Namun, melihat ancaman bahaya yang akan terus terjadi dari generasi ke generasi, mereka pun akhirnya memutuskan untuk mengakhiri tradisi tersebut. Lantas menyembunyikan kelima Arcana, agar tidak ada lagi timbul konflik yang mengatasnamakan kekuatan alam.”


Selama hampir dua minggu, ia pun menghabiskan berpuluh tumpukan buku sampai matanya pedih. Mulai dari sejarah kuno, kitab-kitab lama, sampai dunia masa kini. Mulai dari penjelasan jenis ikatan rambut kepang yang tak penting, sampai teknologi perang. Akan tetapi, tak ada sedikit pun yang memuaskannya. Arcanum benar-benar dibiarkan menjadi remah-remah sejarah.


Suatu hari, Zet mendapat ide brilian. Saat ayahnya meninggalkan rumah karena ada tugas mendadak dari kerajaan, pemuda itu meminta penatu menyerahkan pakaian dan kunci kamar sang ayah. Zet hanya beralasan bahwa ia sedang menyiapkan kejutan kecil untuk ayahnya sewaktu pulang nanti.


Zet membawa setumpuk baju dan masuk ke dalam kamar utama. Aeron tidak pernah menurunkan foto pernikahan itu dari dinding kamar. Dari potret raksasa tersebut, Zet jadi bisa melihat dengan jelas gurat wajah ibunya yang teduh dan membuat rindu. Ia bahkan hampir lupa tujuannya ke mari. Setelah beberapa saat, mulai dibukalah lemari, rak, dan laci. Dicarinya kotak, buku, atau benda apa pun yang sekiranya aneh. Tiba-tiba saja, kepalanya terkena bongkahan es dari belakang.


“Auw, hei!” Zet berdiri sambil mengurut kulit kepalanya yang terasa ngilu. Dia keheranan saat yang datang adalah Oxi. Gadis berambut kepang melingkari kepala itu berkacak pinggang.


“Kau mau mencuri uang ayah, ya?!”


“I–i–iya.” Zet tak punya alasan yang lebih masuk akal. Mana mungkin ia mengaku bertemu hantu yang datang dari masa lalu? “Memangnya kenapa? Adukan saja, dasar bocah ingusan!”


“Oke...,” kata Oxi dengan nada menggantung sambil pura-pura berjalan menuju pintu kamar. “Deon akan senang mendengarnya.”


Menyadari sebuah kesalahan, Zet langsung panik. “K–kau akan dapat sepertiga bagian jika aku berhasil menemukan brankasnya.”


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-