The Master Of Arcana

The Master Of Arcana
48: RATU PONGID



“Kau lupa bawa pedang, Zet!” Filian ikut menghalau para monster lain dengan pedangnya. “Terpaksa tadi aku kembali ke asrama mengambil pedangnmu, lalu adu mulut dengan si penjaga menyebalkan itu. Untunglah dia mengizinkanku lewat setelah aku bilang aku bersama Nina. Aku mencari-cari kalian sejak tadi, suara-suara ramai para monsterlah yang memanduku kemari.”


Filian terus menyerang. Sesekali, pedangnya memenggal kepala seekor pongid. Anehnya, tubuh si pongid yang semula membusuk sebagian saja kini malah membusuk seluruhnya sampai seakan-akan meleleh. Rupanya selama ini proses pembusukan para pongid itu diredam oleh daya regenerasi sebagai warga Hutan Regenerasi. Setelah kepala terpisah dari tubuh, daya regenerasi hilang dan proses pembusukan kembali terjadi seperti seharusnya.


Melihat itu, Zet berseru, “Kau ini jenius, Filian! Penggal kepala para pongid itu, dengan begitu mereka tak bisa beregenerasi!”


“Aku tak paham maksudmu, tapi baiklah!”


Tercerahkan oleh pengetahuan baru ini, Zet juga mengincar kepala pongid. Ia lari cukup jauh, berbalik dan melihat pongid terdekat menyerbu sendirian ke arahnya. Zet berdiri siaga, matanya menatap tajam. Si pongid mendekat, lalu dengan konsentrasi penuh Zet menebaskan pedang dan berhasil memenggal kepala musuh.


Sambil terus berlari, Zet menghalau pongid kedua dan memenggal pongid ketiga.


Tiba-tiba, satu pikiran membuat Zet tersentak. Mengapa tadi Nina tak memberitahunya kalau pongid tak bisa beregenerasi bila kepalanya dipenggal? Apakah Nina lupa mengenai informasi penting itu, atau sebenarnya ia sengaja?


Kalaupun memang sengaja, apa maksud sesungguhnya Nina bertindak begitu? Atau yang lebih penting, siapakah sebenarnya Nina Gnossis?


Seperti berharap si orang yang dipikirkan panjang umur, tiba-tiba terdengarlah mantra Aliran Langit Cahaya lainnya. “Pyroagnios!” Saat berikutnya, tampaklah selarik besar sihir Sambaran Api Besar melesat, menerpa tepat ke arah para pongid yang bergerombol. Alhasil, sebagian gerombolan pongid hangus total, sebagian lagi melarikan diri dan sisanya tetap mengejar.


Si perapal sihir tadi, Nina muncul di samping Zet dan menegur, “Kau ini bagaimana, Zet? Tunggu aku dong! Kita ‘kan melarikan diri bersama-sama!”


Tak menoleh, Zet hanya berkata, “Aku dikejar segerombolan besar pongid, tentu saja aku lebih memilih mempertahankan diri sendiri daripada menunggu dan mati konyol. Tapi kelihatannya kau cukup santai.”


“Tidak juga, setidaknya aku masih sempat menyelamatkanmu tadi! Agnios!” sanggah Nina sambil menembak satu pongid lainnya dengan bola api. “Setidaknya beri aku kata ‘maaf’ dan ‘terima kasih’!”


“’Maaf’, ‘terima kasih’. Puas?” Kali ini tebasan Zet kurang akurat. Apa ia benar-benar ingin membunuh musuh atau ingin mengarahkan mereka ke Nina?


“Kok sikapmu jadi begitu, sih?” hardik Nina. “Oya, kok bisa kau membawa pedang?”


Zet memilih untuk tidak menjawab. Itu sikap yang kekanak-kanakan tapi ia sendiri memang sedang sibuk berusaha untuk memenggal kepala pongid.


Nina menoleh ke kiri-kanan dan terkesiap. “Oh, kau mengajak Filian? Dasar keras kepala! Sudah kubilang ini misi rahasia, hanya kita berdua saja yang boleh tahu...!”


“Kau tak bilang begitu...!” Sebelum Zet sempat mendebat Nina lebih lanjut, ia dikejutkan oleh sesosok makhluk raksasa yang mengadang di depan keduanya.


Beda dengan pongid, makhluk itu bertubuh atas kera, separuh bawah laba-laba. Tangan keranya amat panjang dan berkuku sepanjang pedang. Kedelapan kaki laba-laba yang tipis namun kokoh menempel erat pada bagian tubuh laba-laba.


Seperti halnya para pongid, wajah yang seharusnya wajah kera di kepalanya adalah wajah laba-laba, lengkap dengan tiga mata hitam dan mandibel, capit besar di moncong sebagai ganti mulut.


Nina berseru, “Itu Arachmian, Ratu Pongid! Lihat, sebagian tubuhnya juga membusuk seperti rakyatnya!”


Tampak para pongid yang tersisa menyerang makin ganas, seakan mereka sedang menjalankan sabda sang ratu untuk membasmi semua pengganggu... atau menjadikan ketiga manusia di hutan itu sebagai mangsa dan santapan.


“Dengan tubuh sebesar itu, aku kurang yakin kekuatan kita cukup untuk mengalahkannya seperti mengalahkan pongid. Begini saja, ayo kita coba pancing dia ke satu sisi dan menyerangnya bergantian, menyelinap lalu terus lari sampai ke lingkungan kampus!” Sambil mengatakannya, Zet lari ke arah Arachmian.


Lalu, dengan nekad Zet mengacung-acungkan pedangnya sambil berseru, “Hei, kemari kau kera salah jodoh! Tangkap aku kalau bisa!”


Ditantang seperti itu, naluri Arachmian terangsang dan monster raksasa itu mulai berbalik ke arah Zet. Lantas, ia melesatkan kedua tangan raksasanya beserta dengan sepuluh kuku cakar mematikan ke arah si “pemancing”.


Karena gerakan Arachmian agak lamban, Zet sempat berkelit dari hunjaman cakarnya dan balas menyabetkan pedangnya. Bilah pedang menyayat lengan panjang si raksasa, darah hitam tersembur keluar dan Arachmian meraung keras.


Tapi anehnya, dengan cepat luka di lengan itu mulai merapat lagi oleh daya regenerasi. Walau lebih lamban daripada pongid yang bertubuh jauh lebih kecil, perlahan tapi pasti lengan Arachmian berangsur pulih seperti sediakala.


Giliran Arachmian yang mendapat angin lagi. Ia berbalik kesana-kemari, berusaha menginjak-injak Zet dengan kaki-kakinya yang semampai. Zet jadi pontang-panting menghindar, namun satu kaki itu menyerempet tubuhnya hingga darahnya tersembur.


Tak hanya itu, Zet terjatuh dan mengerang kesakitan di tanah. Itu posisi yang amat rentan, bahkan hewan monster semacam Arachmian pun tahu memanfaatkan kesempatan emas ini. Ia  menghunjamkan lagi lengan panjangnya tepat ke arah Zet yang terkapar.


“Pyroagnios!”


Namun riwayat Zet belum akan tamat di sini. Pasalnya, di waktu yang tepat Nina mendekat dan menembak tubuh kera Arachmian dengan sihir Sambaran Api Besar.


Si Ratu Pongid sontak menghentikan serangannya dan meraung dengan suara melengking, kesakitan luar biasa. Gilanya, ada lubang besar di tubuh bagian kera itu. Monster biasa pasti sudah tewas karena itu menunjukkan daya tahan tubuhnya yang relatif lemah terhadap serangan sihir. Tapi tentunya Arachmian mulai beregenerasi lagi, daging dan tulang di tubuhnya yang tak sepenuhnya hangus itu mulai terbentuk lagi secara ajaib.


Mengantisipasi hal itu, Filian cepat-cepat membantu Zet berdiri. “Ada kesempatan! Ayo kita lari menuju titik selamat!” Keduanya mulai berlari. Langkah-langkah Zet agak tertatih-tatih, jadi terpaksa Filian memapahnya.


Nina pun ambil langkah seribu di sebelah kedua pemuda Marga Dionisos itu. “Ayo Zet, berlarilah lebih cepat! Arachmian sebentar lagi pulih!”


Lebih cepat dari dugaan semua orang, suara raungan Arachmian terdengar lagi. Namun nadanya lebih terkesan murka daripada pilu. Sosok si raksasa lari cepat, makin lama makin dekat pada ketiga manusia “kerdil” sasarannya.


Menyadari itu, Zet melepaskan papahan Filian, memaksa diri mempercepat larinya.


“Lihat, kampus sudah kelihatan!” seru Nina. “Cepat, cepat!”


Secepat apapun kaki mereka melangkah, ternyata si raksasa sudah menyusul amat dekat. Bahkan Arachmian menghunjamkan satu cakarnya sambil membungkuk, menjangkau sejauh mungkin ke arah sasaran terdekat, yaitu... Zet.


 


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-