
Mungkin kekuatiran Singh agak berlebihan. Selama satu minggu jatah latihan Zet di kota itu, ia telah menguasai beberapa pose yoga, dari yang sederhana sampai ke tingkat yang agak rumit.
Sebut saja pose Menjunjung Matahari dan Bulan, Dewa Laut Meniti Ombak, Terbang Tanpa Sayap dan yang nama-namanya lebih fantastis lagi. Meskipun tak sampai pose yoga tingkat puncak, setidaknya yang ada saja sudah cukup untuk mencapai tenaga dalam tingkat tujuh bumi dalam waktu yang telah ditentukan, sebelum libur musim panas berakhir.
Namun yang paling mengherankan dari Zet adalah, sejak insiden yang melibatkan dirinya di atas kapal Ular Pasir, terutama sejak Singh memutuskan muncul lebih cepat dari rencana semula, Yun Lao si guru hantu tak pernah satu kali pun menunjukkan batang hidungnya di hadapan muridnya, yang katanya adalah dirinya sendiri yang telah bereinkarnasi.
Sudah sepantasnya Zet mempertanyakan itu kelak bilamana ia bertemu kembali dengan roh yang selama ini telah membimbingnya itu. Memang, bahkan di Universitas Langit Angkasa frekuensi pertemuan antara Zet dan Yun Lao tak lebih banyak daripada frekuensi pertemuan untuk “les privat timbal balik” antara Zet, Kimiko dan Filian.
Tapi Yun Lao masih hadir sewaktu-waktu, untuk memastikan bahwa proses pengembangan diri Zet menuju Master of Arcana masih terus berlangsung dan memberikan pengarahan dan latihan agar Zet agar benar-benar berkembang, tenaga dalamnya meningkat dan mendapatkan arcanum kayu sebagai tujuan utama misinya di Langit Angkasa.
Tapi, mengapa Yun Lao malah menghilang kali ini? Sebenarnya Zet tak perlu ambil pusing tentang itu, karena sudah ada Singh yang melatihnya dengan amat intensif saat ini. Keberadaan Yun Lao justru malah akan mengganggu Zet, karena metode pelatihan dan cara mengajar antara kedua guru itu jelas bertolak belakang.
Jadi, segalanya kini justru berjalan lancar. Setidaknya sampai Zet, Nina dan Singh berjalan di tengah hamparan pasir di Gurun Kaktus Kuning yang terbentang amat luas sejauh mata memandang dari segala penjuru.
“Inikah Gurun Kaktus Kuning?” keluh Nina sambil menyeka peluh yang bercucuran membasahi kening dan kacamatanya dengan selendang. “Yang ada hanya pasir dan pasir saja, tak ada kaktus, apalagi oase atau apa pun yang lain. Apa bapak yakin kita sudah di jalur yang benar?”
Si pemandu merangkap pemimpin rombongan, Singh menjawab, “Sebenarnya mudah saja menentukan jalur yang benar, bila kita memahami Astronomi, Ilmu Perbintangan. Di hari pertama saat hari terang, kita sudah berjalan ke arah matahari terbit. Baru saat malam kita pastikan lagi arah perjalanan dengan melihat formasi rasi bintang di langit. Apa kau mempelajari Astronomi di kampusmu, Nina Gnossis?”
“Tentu saja! Sebenarnya aku mengambil semua mata kuliah di Jurusan Supranatural dan tak satu pun dari jurusan-jurusan lain. Hampir semua mata kuliah itu, termasuk Astronomi mendapat nilai Istimewa.”
Mendengar itu, Zet terkesiap. Pantas saja Nina bersikap seperti nenek sihir tulen atau orang yang serba tahu mengenai ilmu supranatural, selalu ingin jadi pemimpin dan menjadi anggota andalan Sekte Salju Putih cabang Langit Angkasa. Karena memang tak suka pada Nina, ia entah tak peduli atau lupa dengan hal-hal pribadi yang detil mengenai teman seperjalanannya ini.
“Bagus, jadi kau bisa membantuku menentukan arah. Begitu hari gelap, carilah Rasi Bintang Lumba-lumba Melompat yang menunjukkan arah Timur Laut di langit. Lalu, setelah dua hari perjalanan, cari Rasi Bintang Gajah Duduk arah utara. Ingat-ingatlah arah itu dengan batu petunjuk atau semacamnya. Tetaplah pakai arah itu, nanti aku akan menunjukkan gua bawah tanah itu bila kita sudah tiba di sana.”
“Eh... baiklah,” kata Nina sambil berjalan agak lamban, di belakang rombongan.”
Setelah yakin Nina cukup jauh di belakang, Singh berbisik ke telinga Zet. “Baguslah, itu akan membuat Nina sibuk waktu malam. Jadi ia tak akan mengganggu saat aku mengajarkanmu pose-pose yoga yang baru. Sebenarnya aku hapal betul arah ke gua bawah tanah, dan aku bisa tahu arah baik di waktu malam maupun siang karena aku tahu betul topografi gurun ini bagai rumahku sendiri.”
Ingin rasanya Zet tertawa geli, tapi ia menutup mulut menahan tawanya itu, takut ketahuan Nina.
Makin lama rombongan Zet berjalan, matahari makin terik. Mulut Zet terasa kering dan bibirnya mulai terasa seperti pecah-pecah karena kehausan.
Walaupun mereka membawa unta yang dibimbing oleh Singh di depan, penuh dengan muatan botol-botol air dan sebagainya, tetap saja ketiganya harus berhemat, menahan haus sebisanya dan baru minum bilamana memang rasa haus dan lelah sudah tak tertahankan lagi.
Karena memang napasnya mulai sesak, Zet terpaksa minum lagi dari jatah botol airnya. Sambil menarik napas lega, ia mulai berjalan lagi makin cepat.
Sebenarnya Zet bisa saja mengaktifkan arcanum airnya untuk mendatangkan air sungguhan agar ia dan teman-temannya bisa menyegarkan diri. Tapi Singh telah mewanti-wanti Zet agar ia menghemat energi arcanum, karena itu pasti akan jauh lebih dibutuhkan di gua bawah tanah nanti, atau melawan monster yang bisa saja menghadang mereka tiba-tiba di gurun ini.
Tiba-tiba Singh berteriak, “Awas Zet, Nina! Scarab raksasa menyerang kita!”
Terkesiap, Zet menghunus pedang dan Nina menggenggam tongkat sihir, siap beraksi.
Benar saja, sedikitnya dua Scarab raksasa, yaitu monster semacam kumbang gurun bermunculan dari dalam pasir. Tubuh mereka hitam kecoklatan dan bentuk mereka bulat seperti mangkuk.
Tak perlu memperhatikan lama-lama, Zet menyabetkan pedang ke arah Scarab terdekat. Itu langkah yang keliru, karena Scarab itu menghindari sabetan sederhana Zet dengan mudah.
Tak berhenti di sana, Scarab raksasa kedua menyodok maju dan hinggap di tubuh Zet bagai mangkuk yang menempel di perut. Ditambah pula Scarab pertama tadi melompat dan hinggap di punggung Zet.
Zet mulai merasa nyeri dan mengerang. Rupanya kaki-kaki di bawah tubuh Scarab yang runcing mulai mencungkili baju luar sampai ke zirah kulit Zet, hendak merobek sampai ke kulit dan ke dalam tubuh korban mereka.
Melihat kondisi Zet yang “tergaruk”, Singh yang sudah biasa melawan Scarab berseru, “Zet, ledakkan mereka dengan energi arcanum air, cepat!”
Zet baru sadar, para Scarab berkulit tebal ini tak bisa dikalahkan dengan pedang saja. Ia cepat-cepat memompakan energi air dari arcanumnya yang telah bercampur tenaga dalam. Sontak air merasuki seluruh tubuh kedua serangga yang menempel di tubuh Zet itu. Dengan cepat kedua Scarab menggelembung dan pecah berserakan.
Lendir kental sebagai pengganti darah Scarab melumuri bagian depan dan belakang tubuh Zet. Pemuda itu mengernyit jijik sesaat, namun saat berikutnya sedikitnya empat Scarab raksasa lagi menyerang ke arahnya.
Akal Zet cepat bekerja. Dalam sekejap mata ia mengalirkan energi arcanum kayu ke bilah pedangnya. Sekejap mata kemudian, pedang Zet yang kini dapat memotong besi seperti memotong kue itu berkelebat ke sepuluh arah berbeda. Jurus Sabetan Pedang Sepuluh Penjuru ajaran dosen Ilmu Pedang Universitas Langit Angkasa itu mencacah tubuh keempat Scarab raksasa hingga mereka tak bergerak lagi.
Mungkin takut pada keganasan serangan Zet, Nina dan Singh, semua Scarab yang masih hidup mendadak berbalik arah dan melarikan diri lewat bawah pasir seperti cara mereka datang.
“Haha, dasar makhluk-makhluk pengecut,” cibir Nina. “Baru sedikit saja yang hangus oleh sihir apiku, yang lain lantas melarikan diri saja. Payah!”
Singh yang bertangan kosong baru saja ******* tiga Scarab sekaligus dengan tiga batu besar yang ia datangkan dengan ilmu penguasaan elemntalnya. Dengan tenang ia berkata, “Jangan remehkan para Scarab, Nina. Dibanding kalajengking, Scarab justru lebih berbahaya di padang pasir semacam ini. Apalagi kalau mereka bertubuh kerdil seperti aslinya dan datang dalam jumlah ribuan, seperti yang bisa kalian lihat di sana itu.”
Zet dan Nina menoleh ke arah yang ditunjuk Singh dan keduanya pucat-pasi seketika. Benar saja, seakan ada gelombang ombak hitam tengah melanda ke arah mereka dengan kecepatan tinggi. Ingin melarikan diripun sudah tak sempat lagi, mereka bertiga pasti akan terkejar dan riwayat mereka akan tamat di tempat ini, Gurun Kaktus Kuning.
Harus bagaimana ini?
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-