The Master Of Arcana

The Master Of Arcana
9: KELUARGA DIONISOS



Sore itu, halaman rumah Aeron dipenuhi kereta dan kuda. Rombongan turun, kemudian saling sapa, sambil berkelakar keras-keras. Zet mendadak jadi cemas melihat orang-orang ini, para spektator yang akan menilainya berlaga di lapangan pertandingan. Biasanya Zet tidak akan ambil pusing, karena ia sudah jelas akan kalah pada babak pertama. Dan semua orang sudah mafhum dengan itu. Namun tahun ini beda. Zet harus menang agar bisa mendapat perhatian dari Raja Kubah Malam. Anak itu deg-degan sampai terbatuk–batuk, rasanya ingin muntah saja.


“Gideon!” seru Paman Gorn sambil memeluk keponakannya dengan bangga. “Kau tampak gagah seperti ayahmu!”


“Selamat ya, sudah resmi jadi prajurit kerajaan.” Sekarang Bibi Iana ikut-ikutan memuji. Paman Josen dan Bibi Wia pun bahkan mungkin tidak melihat kalau Zet juga ada di sana. Mereka mengerumuni Deon, membuat pemuda itu semakin besar kepala.


Di sisi lain, Oxi pun juga mendapat sambutan hangat tersendiri. Bibi Iana mencubit pipinya sampai melar. Paman Josen terkesima dengan bola kristal air buatan Oxi. Dasar tukang pamer, pikir Zet. Bola kristal itu langsung direbut oleh Dius dan dibuat mainan sepak lantai. Oxi tidak terima, dan seperti yang sudah bisa ditebak, mereka akan bertengkar dan ditertawakan seperti anak manja. Tidak banyak yang berubah.


Tiba-tiba ada yang memeluk dan mengangkat Zet dari belakang. “He-hei, sepupu!”


“Rylon—!” pekik Zet dengan susah payah. Setelah badan bongsor itu melepaskannya, barulah ia bisa bernapas lega, lantas segera meninju perut Rylon yang seperti bantal. “Kau bawa senjata baru apa lagi?”


Rylon menggoyang tas ranselnya yang tampak berat. “Sebenarnya, masih pakai yang tahun lalu. Hanya saja aku sudah menambah beberapa efek kejutan,” ucapnya sembari tersenyum cerdik.


“Ya, aku tidak sabar melihatnya.” Zet pura-pura bersemangat. Sebenarnya ia tidak yakin, apakah harus benar-benar mengalahkan semua sepupunya, termasuk Rylon. Pria itu sudah seperti kakak kandungnya sendiri, bahkan melebihi Deon.


“Hai, lembek, apa kabarmu?!” tukas Filian, sambil memukul lengan Zet. Filian si kacamata suka sekali berpakaian nyentrik dan kelihatan mencolok. Ia selalu mengecat rambut, kali ini berwarna kuning cerah, senada dengan satin kuning gadingnya. Dia tampak seperti matahari berjalan. “Kau lumayan berotot juga sekarang. Sudah dapat cewek belum?”


Zet menarik lengannya secara kasar, menghentikan pemuda mesum itu melakukan hal yang memalukan. “Iya, sengaja, biar aku bisa memukul gigimu sampai rontok.”


Filian tersenyum lebar, sambil menunjuk giginya sendiri. “Gigiku sudah aku lapisi emas. Kalau ada yang rontok, itu pasti tulang-tulang jarimu. Ah ..., badanku pegal semua gara-gara kereta sempit itu. Aku ingin mandi air panas. Apa sudah disiapkan?”


Rylon menoyor kepala adiknya itu, “Kau harus bersikap sopan. Ini bukan rumahmu, tahu!”


Zet hanya bisa menghela napas. Saudara dan sepupunya memang tidak ada yang benar, kecuali Rylon. Aeron segera menginstruksikan para tamunya untuk masuk alih-alih hanya bergerombol di depan. Suasana rumah mendadak jadi ramai. Bukan hanya Deon yang semakin cerewet menceritakan pengalamannya bekerja di barak prefektur, tetapi semua orang melakukannya, seolah berebut untuk menjadi bintang utama di meja makan malam ini. Mulai dari Bibi Iana yang sedang hamil lagi, Asmodius menang lomba kejuaraan panah tingkat kerajaan, Rylon akan segera menikah, dan lain sebagainya. Semua tampak merayakan keberhasilan-keberhasilan tersebut, sementara Zet semakin terkucilkan.


“Tahun ini, Zet akan mendaftar ke perguruan tinggi Langit Angkasa.” Aeron tiba-tiba menepuk pundak Zet dan membuat seisi ruangan tertuju kepadanya. Pemuda itu tak tahu harus merespons apa, kecuali hanya tersenyum rikuh. Ayah hanya membuat Zet merasa semakin malu jika ternyata Zet gagal.


“Wah, Filian juga mau masuk tahun ini. Kalian nanti bisa sekelas kalau begitu!” Bibi Wia menggamit lengan putranya. Zet berdoa dalam hati agar tidak sekelas dengan anak manja itu.


“Asmodius pasti akan menyusul, enam tahun lagi tapi, haha.” Kali ini Paman Gorn yang duduk di antara Bibi Iana dan bocah berwajah malas, seolah tak mau kalah. Ayolah apakah sekali saja keluarga ini tidak bisa berhenti berkompetisi?


“Nah, menariknya lagi,” Aeron berdeham sambil membuka segulung surat, “aku dapat kabar dari kerajaan Kubah Malam, bahwa perwakilan mereka akan datang ke sini untuk menyaksikan pertandingan secara langsung.”


“Jelas untuk memperbaiki hubungan dengan kerajaan kita,” jawab Aeron. “Selain itu, mungkin juga mencari calon Prajurit Bintang.”


“Maka mereka tidak akan mendapatkannya dari keluarga Dionisos!” geram Gorn. Bibi Iana mengelus lengan suaminya tersebut.


Paman Josen mengurut ujung cambangnya. “Kalau begitu, pertandingan keluarga Dionisos kali ini akan sangat menarik.”


[...]


Karena lantai atas masih belum selesai dibersihkan, dan dialokasikan khusus untuk tamu dari Kubah Malam, terpaksa Zet berbagi kamar dengan Rylon dan Filian. Kakak beradik ini memang sangat kontras. Zet menduga saat mengandung Rylon dulu, Bibi Wia bermimpi tentang mata air pegunungan yang tenang dan damai, sedangkan ketika mengandung Filian, wanita itu bermimpi mengunjungi hutan kering yang dipenuhi roh jahat. Rylon pembawaannya selalu tenang, teliti, tidak terburu-buru. Sedangkan Filian, si kacamata mesum itu, akan mencari cara termudah untuk melakukan sesuatu. Namun keduanya memiliki kesamaan. Sama-sama pemalas. Buktinya kamar Zet sudah berubah menjadi base camp mereka. Rylon segera membuka tas dan perlengkapannya yang tampak rumit. Filian langsung mencari kasur di atas, dan Zet bersikeras menyuruh Rylon tidur di tempat yang lebih besar. Sudah seharusnya, sebagai tuan rumah Zet mengalah dan mendapat kasur tambahan yang saking jarang dipakai, baunya seperti lumut basah.


“Zet, apa kau yakin mau masuk ke perguruan Langit Angkasa?”


Suara Filian mengganggu. Zet pikir seharusnya mereka tidur lebih awal supaya besok bisa bangun pagi dan banyak pemanasan sebelum bertanding.


“Iya, kenapa?” jawab Zet seadanya. Pasti Filian akan mengejek bahwa Zet tidak mungkin lolos, atau dia mau menyombongkan diri karena sudah ikut kursus prasekolah yang mahal.


“Kalau aku sih sebenarnya malas, dan ingin langsung menikah, punya anak, pergi dari ibukota, bepergian....”


Rylon yang juga belum tidur pun menceletuk. “Memangnya kamu bisa hidup sehari tanpa beli cat rambut baru? Hadapi saja, uang dari pekerjaan yang layak hanya bisa kita dapatkan dari perguruan tinggi.”


Filian terdiam sejenak, lalu tertawa sendiri. Zet pikir anak itu sudah tidak waras.


“Cih, hanya gara-gara universitas itu terkenal. Padahal ayah juga bisa kaya raya, walaupun bukan lulusan dari sana. Kau sudah jadi budak masyarakat, Rylon. Lagi pula apakah kau betul-betul mencintai Gwen, tunanganmu? Terus mantanmu yang cuma pelayan kedai itu kau ke manakan?”


“Jaga mulutmu, gigi karatan!” Rylon memukulkan bantalnya berkali-kali ke arah Filian di kasur atas. Paman Josen, ayah mereka, bisa dikatakan sebagai pria tersukses di keluarga Dionisos, karena bisa mendirikan pabrik tekstil di beberapa prefektur, dan kabarnya baru saja ikut dalam lingkaran pertambangan di Kerajaan Fajar Emas. Namun sekarang, Zet mulai merasa empati dengan mereka. Hidup tidak selalu seperti kelihatannya. Rylon dan Filian punya masalah di level yang berbeda. Entah apa pun yang terjadi besok, Zet tidak mau memikirkannya sekarang. Semakin ia rasakan, akan semakin rumit.


 


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-