The Master Of Arcana

The Master Of Arcana
84: TITISAN AHRIMAN



Perjalanan selanjutnya melintasi Gurun Kaktus Kuning tidak lagi diwarnai pertarungan gila-gilaan. Kalaupun ada yang harus dilawan, itu adalah hawa panas matahari dan hawa dingin padang pasir yang menyengat. Ditambah deraan rasa lapar dan dahaga akibat perbekalan makanan dan air yang harus dihemat.


Siksaan iklim gurun sendiri berdampak lebih pada Zet yang pada dasarnya berasal dari negeri beriklim agak dingin dan belum beradaptasi sepenuhnya dengan kondisi yang sama sekali asing bagi dirinya ini.


Seharusnya itu membuat tubuh Zet terasa lemas dan tak bertenaga, tak bersemangat apalagi untuk latihan tenaga dalam ala yoga. Namun, berkat adanya arcanum air yang menyegarkan dan arcanum kayu yang membantu menutrisi tubuh, iklim jadi bukan hambatan besar bagi Zet untuk beraktivitas dan mengembangkan diri dalam situasi serba terjepit ini.


Jadi, wajar saja bila arcanum kayu dan arcanum air adalah prasyarat utama yang harus ada bagi setiap kandidat Master of Arcana yang hendak mendapatkan arcanum tanah sejati.


“Air membersihkan dan menyegarkan, kayu menutrisi dan tanah memperkokoh pertahanan tubuh. Setelahnya, api menyalakan energi serangan dan logam menghantarkan dan menjadi wadah energi tersebut,” papar Singh pada Zet dan Nina. “Karena itulah urutan-urutannya jangan diputar balik dan harus pas. Percuma saja mendapatkan arcanum misalnya api dan logam lebih dahulu dan datang ke gurun ini, karena ia akan terlalu kepanasan dan kehausan sehingga tak bisa berlatih tenaga dalam sepanjang perjalanan dan lolos dari segala ujian.”


“Aku mengerti, Guru,” ujar Zet.


Nina bertanya, “Jadi karena aku tak harus repot-repot berlatih tenaga dalam, aku hanya perlu mengembangkan sihir apiku saja, bukan?”


“Tentu saja,” jawab Singh. Ia tak mau berpanjang-lebar lagi, seolah-olah hendak memancing Nina untuk mengungkapkan motivasi sebenarnya ia membantu Zet. Dan itu bukan karena tugas dari Sekte Salju Putih semata-mata.


“Nah, karena kalian sudah paham tentang situasi dan kondisi ini, dan karena Zet sudah cukup latihan dengan metode yoga, sekalian kukatakan bahwa sebentar lagi kita akan tiba di gerbang masuk gua bawah tanah.”


“Mana guanya, Pak Singh? Yang tampak hanya gunung tebing berbatu-batu saja jauh di depan sana,” tanya Nina.


“Justru di sanalah letak gerbang ke gua itu. Carilah titik di mana rumpun kaktus kuningnya paling jarang, di sanalah pintu batu raksasa penutup gerbang berada.”


“Nah, tunggu apa lagi? Ayo kita cari gerbang itu sekarang, jangan buang waktu lagi!” Sebelum siapa pun sempat mencegah, Zet melangkah cepat setengah berlari ke arah gunung tebing. Nina juga berjalan lebih cepat di belakang Zet.


Tinggal Singh yang tertinggal di belakang. Sambil terus menggiring untanya ia menggeleng dan bergumam sendiri, “Dasar anak muda.”


\==oOo==


Berkat petunjuk Singh, Zet dengan cepat menemukan gerbang berpintu batu. Ia bahkan sempat mengagumi rumpun-rumpun pohon kaktus kuning yang amat langka, yang berjajar bagai sepasukan prajurit yang membentuk pagar betis, menjaga pusaka apapun yang tersimpan di balik pintu batu.


Namun, lebih terperangah lagi Zet saat menatap batu raksasa yang sepenuhnya menutupi ambang pintu masuk. Batu itu tampak mengerucut di bagian atasnya seperti batu menhir atau obelisk. Dan di dekat puncak obelisk itu ada pahatan pelbagai simbol yang tak bisa dimengerti dan dibaca oleh Zet.


“Itu Bahasa Runik,” kata Nina sambil menyusul dan menghampiri Zet. “Aku pernah mempelajarinya di kampus, tapi Bahasa Runik yang digunakan di sini tak kukenal. Mungkin terlalu kuno atau langka.”


“Kalau kalian tak bisa membacanya, biar aku yang membacakannya untuk kalian.” Suara pria itu membuat Zet dan Nina terperanjat. Pasalnya, itu bukan suara Singh.


Zet menoleh dan melihat seorang pria muda nan tampan sedang berjalan dari sela-sela rumpun kaktus kuning. Pria itu berambut hitam, panjang dan berombak, dengan mata yang menyorot tajam seperti mata burung hantu, penuh kebijaksanaan dan pengetahuan.


“Siapa kau?” tanya Zet.


Pria muda itu membungkuk penuh hormat dan tak berlebihan, layaknya penduduk lokal Ular Pasir. “Perkenalkan, namaku Ahmed Al-Muzakir. Aku adalah seorang Musafir yang menjaga tempat suci ini. Apakah kalian adalah kandidat untuk diuji oleh penjaga arcanum tanah sejati?”


Nina yang menjawab, “Hanya dia kandidat untuk arcanum tanah, yaitu Amazeta Dionisos. Aku hanya mendampingi dan membantunya saja.”


Mata Ahmed mendelik. “Benarkah itu?” sergahnya. “Entah rekanmu itu gagal atau berhasil, kau akan pulang dengan tangan kosong. Apa kau yakin betul dengan pilihanmu itu?”


“Silakan terawang mataku dan nilailah sendiri, apakah aku berbohong atau sungguh-sungguh.”


Mendengar kata-kata itu, Ahmed tertawa. “Baiklah, kalau begitu, biar kuterjemahkan saja arti kata-kata huruf runik di batu pintu gerbang itu.


Agar aku terbuka sendiri, silakan telaah ke dalam diri


Lalu jawablah, bila sesuatu itu menghilangkan orang tersayang


Apakah sesuatu itu akan terus atau berhenti kausayang?


Nah, itulah pertanyaan ujian untuk masuk lewat pintu batu raksasa ini. Kecuali tentunya si kandidat sudah sangat kuat sehingga bisa menggeser batu raksasa itu sendirian. Tapi ingat, hanya yang memiliki kekuatan setara dewa atau musafir antar ranah seperti diriku saja yang dapat menggeser batu raksasa itu hingga ada celah terbuka. Nah, apa jawabmu, Amazeta?”


Amazeta mengerutkan dahi. Tampaknya ia butuh waktu untuk berpikir keras sejenak.


Tepat saat itu pula, Singh datang sambil berjalan dengan cukup santai. Ia berkata, “Wah, kuharap kau tak terlalu keras terhadap kandidat kita, Ahmed.”


“Ah, aku hanya membacakan apa yang terpahat di batu saja, seperti biasa,” tanggap Ahmed sambil tersenyum penuh pesona. “Ini bagian yang paling mudah dari pekerjaanku, tapi setidaknya aku tidak akan sampai mati karena kebosanan karena sudah lama tak ada kandidat Master of Arcana yang berkunjung. Untuk itu, aku berterima kasih padamu, Singh.”


“Jangan lupa berterima kasih pada Minerva juga.”


“Ya, ya. Sampaikan juga salamku padanya. Kapan-kapan kalau sudah ada kandidat yang lolos dari sini lagi, aku akan mengunjunginya di Kampus Langit Angkasa.”


“Yah, aku tak bisa menjamin apa pun, sobat, tapi setidaknya aku sudah mencoba membantu sebisaku. Ingat kan kandidat terakhir kita dulu, Rhea Galfinakis? Sebelum ia mengundurkan diri, ia telah menikah. Dan ini adalah putranya, Amazeta. Kau boleh memanggilnya Zet kalau kau mau. Kau tak akan keberatan kan, Zet?”


Zet hanya mengangguk cepat saja dan kembali larut dalam pikirannya.


“Haha, dia memang seperti ibunya, agak polos tapi kadang terlalu serius menanggapi sesuatu. Tapi itu berarti si Zet ini memang punya sesuatu dan seseorang yang paling disayanginya,” kata Ahmed. “Yang mana itu wajar bagi tipe orang baik-baik seperti dia.”


Singh menepuk pundak Ahmed. “Nah, Zet akan bicara. Ayo kita dengarkan apa jawabannya.”


“Nah, Zet, apa jawaban dari pertanyaan ujian tadi?” tanya Ahmed.


Dengan agak takut-takut, Zet menjawab, “Terus terang, sesuatu yang paling kusayangi saat ini adalah arcanum dan seseorang yang paling kusayangi saat ini adalah ibuku, Rhea. Tapi kurasa aku agak keberatan bilamana yang menghilangkan seseorang itu melulu adalah sesuatu.”


“Oh? Jadi apa maksudmu?”


“Kecuali yang terjadi itu adalah bencana atau karena perkenan dari Yang Maha Kuasa, kurasa hanya ‘seseorang’ saja yang bisa menggunakan ‘sesuatu’ untuk menghilangkan orang lain. Jadi, bilamana sampai arcanum digunakan oleh siapapun, termasuk ibuku sendiri yang menghilangkan entah nyawa atau apapun dari ibuku, bilamana aku menyayangi orang itu, aku hampir pasti akan berhenti menyayanginya. Mungkin bukan langsung membencinya, tapi mungkin aku takkan bersimpati lagi padanya.”


“Bagaimana kalau arcanum itu bertindak sendiri, seperti tiba-tiba menolak lalu mencelakai ibumu?” tanya Ahmed.


“Maka yang berhenti kusayangi adalah entitas apa pun yang ada dalam arcanum itu, kalau ada. Kalau tidak, berarti itu adalah kecelakaan dan resiko yang harus dihadapi seorang Master of Arcana dan aku harus menerimanya dengan lapang dada. Aku tak harus berhenti menyayangi arcanum, tapi yang pasti aku bakal takut pada arcanum. Trauma atau apalah. Ya, aku akan takut sehingga bertekad menjauh dari benda berbahaya itu selamanya.”


“Tapi kalau arcanum itu mencelakai ibumu dan malah memilihmu?”


“Maka aku akan menggunakannya dengan hati-hati, memahami sifat masing-masing sebaik mungkin. Aku tak akan terlalu banyak menyayangi arcanum lagi selain sebagai alat dan wadah untuk pengembangan diriku sendiri saja.”


Mendengar semua itu, Ahmed terdiam dan melipat tangan di depan dadanya. Dahinya berkerut dan ia menatap tajam pada Zet. Entah apa yang dipikirkan pria tampan tapi aneh itu.


“Kalau itu jawabanmu, terpaksa aku harus menampilkan wujud asliku sebagai titisan Dewa Ahriman,” kata Ahmed.


“A-apa?!” Mata Zet terbelalak bukan buatan.


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-