
Menyusul teriakan Filian, “Hei, monster bodoh! Jangan lupa, masih ada kami!” Sepupu Zet itu menghunjamkan pedangnya langsung ke arah pendaran hijau di tubuh bawah si raksasa. Sasaran terkena telak, tapi pedang belum berhasil menembus terlalu dalam karena ternyata pusat pendaran hijau itu ada di balik lapisan kulit yang amat tebal. Jadi tikaman Filian itu hanya sekadar pembuka jalan saja. Kibasan ekor si raksasa memukul mundur Fili.
Perjalanan menuju sasaran masih jauh. Menyadari itu, Zet lagi-lagi mengaktifkan arcanum air dan tubuhnya berpendar biru. Anehnya, pendaran biru itu beresonansi dengan arcanum hijau di tempat Minerva berada, seolah-olah mereka ada dua bersaudara yang sedang saling sapa, saling mendukung dan saling memperkuat.
Sesaat kemudian, Zet melihat Nina yang telah mengambil posisi siap menyerang. Tapi penyihir itu belum melakukannya, mungkin karena takut serangan sihir itu mengenai Zet.
Berpikir lebih jauh, Zet urung menyerang dan mudur sambil berseru, “Nina, giliranmu!”
Nina berseru, “Baik! Pyroagnios!”
Sihir Sambaran Api Besar yang berenergi amat dahsyat menerjang ke arah Fasid’afa. Tapi si monster, entah bodoh, nekad atau terlalu lambat untuk menghindar malah merunduk sambil mengangkat kedua tangannya. Alhasil, api melanda tubuh atasnya. Yang paling parahnya, api langsung menerpa lengan-lengan raksasa itu. Cambuk raksasa terlepas dari tangan si monster.
Karena kekuatannya tak berlebih, larik api Nina hanya terpancar sebentar saja, tak bisa dialihkan arahnya ke sasasran lain. Hasilnya cukup lumayan, tubuh atas dan kedua tangan Fasid’afa agak menghitam dan menebarkan bau hangus.
Parahnya, Fasid’afa tidak tumbang oleh sihir dahsyat itu.
Lebih parahnya lagi, siluman manusia monster raksasa terkuat di Hutan Regenerasi itu kini meraung murka.
“T-tubuhku! Zirahku yang indah, mahakaryaku!” teriak Fasid’afa kalap. “Baik, kalian yang minta ini terjadi. Cicipilah serangan pamungkasku, Selaksa Satwa Membusukkan Dunia!”
Memanfaatkan arcanum kayu dalam tubuhnya, Fasid’afa menebar, menembakkan jarum-jarum sepanjang belati ke segala arah bagai landak yang menembakkan semua duri di punggungnya.
Walau semua jarum itu terbuat dari kayu, energi dari arcanum kayu membuatnya jadi lebih keras daripada besi. Ditambah gerakan tiap jarum yang berpusar seperti bor, jarum-jarum itu mampu menembus zirah atau lapisan pertahanan tenaga dalam atau sihir dari sasarannya.
Untunglah energi perlindungan tenaga dalam Zet terhitung amat kuat, hasil latihan keras selama tahun pertamanya di Universitas Langit Angkasa. Ditambah energi arcanum air, ia berhasil menangkis hampir semua jarum. Sisanya dihalau dengan pedang dan perisai bundar.
Dua jarum berhasil menembus lapisan pelindung tenaga dalam Zet di bagian yang agak tipis, dan menancap di paha dan satu menyerempet lengan atas Zet. Berteriak kesakitan, Zet cepat-cepat mencabut jarum di pahanya. Parahnya, bekas luka dari jarum itu menghitam dan lambat tapi pasti mulai menyebar, makin membesar.
Seketika, Zet sadar ada yang amat tidak beres. Ia berteriak ke arah rekan-rekannya, “Cepat pulihkan diri kalian dengan tenaga dalam kalau terkena jarum! Ada racun pembusuk dalam tiap jarum itu!” Ia menoleh dan melihat Filian, Kimiko dan Nina mulai menumpangkan tangan dan menyalurkan tenaga dalam pada luka masing-masing. Luka-luka di kulit mereka mulai menghitam pula, tanda mereka juga terinfeksi racun pembusukan yang sama.
Malang, luka dan pembusukan yang terjadi membuat keempat pejuang itu jadi lemah dan roboh, terkapar di tanah. Yang paling parah adalah Filian, yang memiliki tenaga dalam terlemah. Ia mulai kejang-kejang dan mulutnya berbusa. Hanya Zet yang bisa bangkit dan berdiri terhuyung-huyung, berkat arcanum air miliknya yang menghambat pembusukan yang terjadi.
Namun kenyataannya “menghambat” saja tak cukup. Bilamana zat pembusuk tidak dihilangkan atau dinetralisir, pembusukan akan terus menjalar di tubuh. Kalaupun tidak tewas, Zet dan teman-temannya bakal jadi monster busuk pula. Tapi zat atau energi apa di sini yang dapat menetralisir zat pembusuk selain dari arcanum kayu sejati?
Zet tersentak. Ia baru saja teringat pada sasaran utamanya, yaitu cahaya hijau yang berpendar dari arcanum kayu. Ia mengerahkan seluruh energinya ditambah arcanum air, memaksa diri mengangkat pedangnya sambil melemparkan perisainya ke tanah, lalu menghampiri si raksasa.
Melihat itu, Fasid’afa tertawa dibuat-buat. “Apa? Masih ada saja yang berani maju untuk melawanku? Aku, calon penguasa dunia yang baru ini? Baik, biar kubuat kau mati tersiksa!”
Satu tangan raksasa si wanita monster yang masih utuh menyapu tanah dan merenggut tubuh Zet yang masih terhuyung-huyung. Ia lantas mengangkat Zet tinggi-tinggi dan meremasnya kuat-kuat, seakan hendak meremukkan semua tulang pemuda malang itu.
“T-tidak... bisa!” suara teriakan Zet tercekat, tanda ia mulai sesak napas.
Yun Lao tertegun sedetik, lalu berkata, “Aih, terpaksa! Biar kubuka jalur energi nadimu, supaya bercampur dengan energi arcanum air. Mulai sekarang, tenaga dalammu adalah arcanum air, entah kau mengaktifkan liontin itu atau tidak!”
“T-tidak, Guru! Jangaan!”
Sia-sia teriakan Zet. Sang “guru spiritual” telah melaksanakan aksinya dalam sekejap.
Habislah sudah, Zet tak bisa lagi menjalankan pesan Rhea, ibunya karena kini ia telah terikat paksa dengan arcanum air. Andai Zet nkad hendak memisahkan diri dari arcanum air, andai ia punya kekuatan yang cukup untuk melakukannya, arcanum air akan menghancurkan dirinya, bukan ia yang menghancurkan arcanum air sejati.
Karena itulah, Zet melampiaskan rasa frustrasinya yang telah memuncak dan jenuh ini dengan berteriak melengking, meledakkan tenaga dalamnya yang kini sarat energi arcanum air. Otot-ototnya menegang, kedua telapak tangannya terkepal. Ia lantas mengentak keras dengan merentangkan kedua lengannya.
Gilanya, energi kombinasi baru antara tenaga dalam tanpa unsur dan arcanum air itu berhasil memaksa telapak tangan raksasa Fasid’afa dari menggenggam Zet keras nan erat jadi terbuka, seperti mematahkan belenggu rantai yang membelit sekeliling tubuh.
“M-mustahil! Kok bisa, pemegang arcanum air sekuat itu? Aku ini penunggu hutan yang telah hidup berabad-abad! Akulah yang pantas mengerahkan kekuatan sejati arcanum kayu! Tapi mengapa pemegang arcanum air berhasil melepaskan diri dariku? Mengapaa?”
“Karena aku telah menyatu dengan arcanum air dan arcanum kayu telah menolakmu, Fasid’afa si pembusuk! Sekarang, rasakan akibat segala perbuatanmu!” Sambil mengatakannya, Zet yang semula melayang-layang di udara terjun sambil menikamkan pedangnya yang sarat energi arcanum air ke posisi pendaran hijau di tubuh bawah Fasid’afa.
Karena kedua tangannya telah lumpuh, Fasid’afa membungkukkan tubuhnya, hendak menggigit Zet sambil menyuntikkan zat atau virus pembusuk ke dalam tubuh musuhnya itu. Walaupun ia adalah pemegang arcanum air, Zet tetaplah manusia biasa dan bisa dilumatkan lewat pembusukan untuk menjadi zombie, abdi terkuat Fasid’afa bersama Nina, Filian dan Kimiko.
Tapi niat busuk si pembusuk itu takkan pernah kesampaian. Pasalnya, kini bilah pedang Zet sudah menghunjam dan terbenam jauh ke dalam tubuh Fasid’afa. Tak berhenti di sana, Zet mengoyak titik yang ditikam itu. Semburat darah hitam nyaris menciprati tubuhnya, tapi karena tak mau ambil resiko Zet cepat-cepat melompat mundur.
Yang dilihat Zet kemudian adalah sebuah liontin kristal hijau berbentuk pohon merayap keluar dari celah tikaman yang baru dibuat Zet. Anehnya, liontin zamrud itu tersemat di sebuah sabuk berwarna cokelat. Liontin kristal berbentuk tetesan air berwarna biru Zet lantas melayang keluar dari leher baju Zet, masih tersemat di kalung emasnya lalu bergetar, beresonansi dengan liontin pohon hijau. Sabuk melayang dan terikat erat dan rapi sendiri di pinggang Zet, di depan sabuk asli Zet yang seperti kain polos.
Namun Zet sudah terlanjur mengamuk. Kelebihan energi akibat ledakan dalam tubuhnya harus disalurkan. Satu-satunya cara penyaluran yang tepat adalah lewat jurus pamungkas. Karena sasaran Zet hanya satu, ia tinggal menyabet-nyabetkan pedangnya dengan jurus Hujan Badai Halilintar Digdaya. Tanpa ampun, Zet menyayat-nyayat tubuh atas Fasid’afa sampai tak terhitung banyaknya. Setelah posisi Zet sudah saling memunggungi dengan si monster raksasa, barulah Zet mendarat di tanah dengan setengah berlutut, jurusnya rampung.
Di sisi lain, Fasid’afa tumbang teriring teriakannya yang lirih dan melengking.
Zet lantas bangkit berdiri dan menoleh ke satu sisi. Kebetulan Nina, Filian dan Kimiko juga sudah pulih dan berdiri di hadapan wajah Zet. Tapi wajah-wajah mereka seketika pucat pasi melihat ekspresi wajah Zet itu. Pasalnya, gigi-gigi Zet gemeletak dan petir seakan menyambar-nyambar dari kedua matanya.
Apakah Zet telah menjadi sosok yang lain?
Seorang... dewa kematian?
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-