The Master Of Arcana

The Master Of Arcana
38: TANTANGAN DALAM TANTANGAN



“Cepat rebut cakram itu!”


Dua anggota tim sabuk merah berusaha meraih ke arah cakram dengan kekuatan masing-masing, namun tak satupun dari mereka berhasil merebut cakram dari si pentolan “Dream Team” Langit Angkasa itu.


Rick melenggang ke arah gawang sambil menghela napas, mengira ia akan mencetak gol dengan mudah lagi.


Melihat itu, dengan cekatan Zet maju dan mengadang Rick laksana penjaga gawang. Ia tahu, Rick pasti bakal mempermaluakn dirinya yang tak berpengalaman ini. Tapi toh itu jauh lebih terhormat daripada tak melakukan apa-apa.


“Nah, apa kau bisa merebut cakram ini dariku?” tantang Rick.


Saat Rick hendak melewati hadangannya, barulah Zet mengerahkan kekuatan telekinesisnya yang telah ditempa keras saat berlatih mengendalikan arcanum air. Tapi apakah itu cukup kuat untuk mengungguli kekuatan telekinesis Rick?


Tangan Zet makin dekat ke cakram....


Cakram bergetar, seolah-olah tengah goyah.


Akhirnya, cakram itu berubah arah dan melayang searah dengan arah lari Zet.


Rick ternganga. “Apa?!” Matanya mengerjap sesaat, seolah ia tak percaya penglihatannya sendiri. Bagaimana bisa seseorang yang belum pernah bermain Odyscus sama sekali merebut cakram dari dirinya yang memiliki kekuatan telekinesis terbesar di kampus ini?


“Demi Thor, rebut cakram itu kembali, teman-teman!” teriak Rick.


Dua anggota tim Rick berlari cepat untuk mengadang Zet.


Zet mendapat akal. Tepat saat kedua pengadang itu mengulurkan tangan, ia justru mengibaskan tangannya seolah-olah melemparkan sesuatu. Benar saja, cakram Zet melayang lebih cepat, melesat di udara ke satu sasaran.


“Tangkap!” seru Zet.


Si “sasaran” ternyata adalah teman setim Zet yang bersabuk merah. Ia sempat ternganga, tak menduga sama sekali kalau Zet bisa mengumpan cakram padahal belum pernah tahu, belajar, apalagi berlatih teknik Odyscus apapun sebelumnya. Namun pemuda itu bereaksi cepat dengan mengulurkan tangan, “menangkap” cakram itu dengan sihirnya.


Si penjaga gawang tim Rick sempat berseru, “Hei, ini kan bukan rencana...!” Namun ia cepat-cepat menutup mulut dengan tangan dan memutuskan maju untuk merebut cakram dari tim lawan.


Rick sendiri juga berbalik hendak merebut cakram, tapi Zet menghalanginya. “Eit, tak semudah itu, Bung!”


“Jangan harap kau bisa mengadangku!” Rick dengan amat cepat berputar di tempat dengan bertumpu pada satu kaki, seperti gerakan pivot pada pertandingan bola basket modern. Merasa telah melewati hadangan Zet, ia hendak lari lagi. Tapi lagi-lagi Zet pasang badan di depannya.


Tepat saat itu pula terdengarlah seruan, “Gool!”


Zet menoleh ke belakang dan Rick ternganga. Ternyata si pembawa cakram tadi mengumpankan cakram itu pada rekannya yang lain. Si penjaga gawang mati langkah dan ingin berputar, namun terlambat. Cakram telah lebih dahulu melesak dalam gawang tim Rick.


Si wasit dadakan mengangkat tangan. “Satu lawan nol untuk tim Zet!”


“Wah, keberuntungan pemula! Ini bagus sekali, Zet!” seru Rick. “Tampaknya kau berbakat alam untuk olah raga Odyscus.”


Rick tersenyum lebar, namun pemuda senaif Zet pun tahu senyum Rick itu dibuat-buat. Rick hanya pura-pura menyanjung Zet agar Zet jadi besar kepala, kata-katanya tadi tak murni dari hati yang tulus.


“Haha, baiklah,” ujar Rick sambil berbalik untuk kembali ke posisi awal. “Kurasa kini kau siap untuk latih tanding Odyscus yang sesungguhnya.”


Zet tak sengaja mendelik. Apa maksud Rick berkata begitu? Jadi sejak tadi mereka baru pemanasan saja? Atau memang mereka sengaja main-main dengan Zet tadi?


Zet kembali pula ke posisinya. Kali ini ia diberi tempat di ujung tombak. Mungkin mereka ingin melihat apakah Zet bisa mencetak gol sebaik sebagai pemain bertahan.


“Mulai!” seru wasit.


Lagi-lagi kedua tim maju, memperebutkan cakram di tengah lapangan. Sebagai pemain terdepan, Zet jadi yang pertama mengangkat dan menggiring cakram dengan telekinesis.


Tapi anehnya, Rick tak langsung mengadang Zet, apalagi merebut cakram di tengah lapangan. Zet seakan dibiarkan melenggang sendirian di depan dan para anggota tim Zet yang lain tertinggal di belakang, sehingga Zet tak bisa mengumpankan cakramnya lagi.


Karena memang belum pernah main Odyscus, Zet tak curiga dan terus saja lari sambil berkonsentrasi pada cakramnya.


Tiba-tiba sekali, dua pemain tim Rick sengaja menabrakkan tubuh mereka pada tubuh Zet dari samping kiri dan kanan. Zet berteriak kesakitan, konsentrasinya buyar dan cakramnya jatuh ke tanah. Sebelum menyentuh tanah, cakram itu kembali membubung. Ternyata Ricklah yang menggiring cakram itu.


Zet protes, “Hei, itu kasar sekali! Itu pelanggaran, kan?” Ia berbalik dan mengejar Rick.


“Tidak dalam Odyscus. Kecuali membunuh, cara apapun sah! Ini kuberi contoh lagi!”


Kali ini, Rick dengan sengaja mengibaskan tangannya kuat-kuat ke belakang. Akibatnya, cakram berubah arah dan dengan amat keras menghantam perut Zet. Zet mengerang dan jatuh meringkuk di lapangan, memegangi perutnya yang sakit luar biasa.


“Latihan selesai!” seru Rick sambil menghampiri Zet dengan sikap bermusuhan. “Sudah kuduga, pahlawan yang katanya amat sakti dan disanjung di Negeri Empat Musim ternyata tak lebih dari seorang pecundang yang beruntung saja. Yah, minimal kau cukup jujur, Zet. Tapi coba jawab, apa kau pikir cakram nyasar yang menghantammu itu suatu kecelakaan?”


Masih meringkuk, Zet malah memaksakan senyum getir. “Sejak awal aku tahu kau sengaja melempar cakram itu ke arahku. Aku tahu kalau para mahasiswa di kampus ini ada yang berasal dari negeri-negeri yang bertikai. Jadi aku pura-pura ikut dalam permainan kalian, untuk mencari tahu apakah kebencian di medan perang juga kalian bawa kemari. Ternyata dugaanku benar dan rasanya sungguh miris sekali seperti nyeri yang kurasakan ini.”


Rick lantas berbalik dan melabrak Zet, “Lantas apa yang akan kau lakukan dengan itu, hah?” Sikapnya menunjukkan bahwa ia sudah siap adu jiwa dengan Zet. Walaupun itu bisa mengakibatkan terjadinya kekacauan berdarah antar mahasiswa Universitas Langit Angkasa.


Namun Zet hanya duduk di lantai lapangan sambil menghela napas. “Entahlah, aku belum tahu. Tapi aku lebih berharap Negeri Empat Musim, Negeri Fajar Emas, Negeri Ular Pasir, dan lain sebagainya tak berperang sejak awal. Dengan demikian, mungkin kita akan bisa menjadi sahabat.”


Rick terenyak. “A-astaga...! Dari mana kau mendapatkan pemikiran semacam itu?”


Zet berbohong, “Itu pendapatku sendiri.” Padahal ia mengutip kata-kata Yun Lao, tapi ia tak mungkin memberitahu Rick ada roh dari “kehidupan Zet yang lalu” yang menjadi roh pembimbingnya. Yang menuntunnya mendapatkan arcanum air dan entah apa lagi selanjutnya.


Entah karena malu atau terketuk hatinya, Rick berbalik dan pergi untuk bergabung dengan teman-temannya, tanpa menoleh lagi sekali pun ke arah Zet.


Zet juga hanya bisa menghela napas lega. Ia tak tahu pemikirannya itu tepat atau keliru, tapi yang pasti ia telah berhasil menahan diri dan mencegah Rick untuk mengobarkan api kebencian di daerah yang seharusnya netral dari segala kepentingan politik atau ketegangan militer, bahkan pertumpahan darah yang terjadi.


Filian lantas menghampiri sepupunya. “Sudah kubilang, tindakanmu tadi amat berbahaya. Satu kesalahan saja dan segalanya bakal berantakan... selamanya.”


Zet hanya mengangkat bahu.


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-