
“Selamat, Zet. Baru hari pertama di Universitas Langit Angkasa, kau sudah mendapatkan musuh baru,” sindir Filian sambil tertawa renyah.
“Yah, mau bilang apa lagi.” Zet mengangkat bahu. “Setidaknya kini aku tahu betul tentang situasi yang sebenarnya. Lagi pula, siapa pun yang normal biasanya ingin berteman dan bukan menambah musuh, begitu.”
“Memangnya kau pernah normal, Zet?”
“Entahlah, aku tak yakin kapan. Selama ini aku kan ‘ajaib’, selalu ‘menghilang’ dari pergaulan dan sama sekali tak kekinian.”
Filian dan Zet tertawa bersama-sama. Walaupun lelucon Zet itu termasuk “garing”, setidaknya rasa persaudaraan antara kedua pemuda bersepupuan inilah yang mencairkan “kegaringan” itu.
“Zet! Hei, Zet! Yuhuu!”
Satu suara wanita yang memanggil-manggil Zet dengan kurang sopan membuat Zet menoleh ke belakang. Namun wajah sebal Zet berganti takjub. Itu adalah gadis berambut keriting dan berkacamata yang Zet temui tadi.
“Ada apa?” kata Zet dengan malas.
Si gadis keriting menegur, “Tindakanmu itu tadi bodoh dan nekat sekali, uh... Zet, bukan?”
“Bukan,” goda Zet. “Namaku Amazeta Dionisos dan aku hanya sedang main-main saja tadi.”
“Berarti tambah ‘kekanak-kanakan’ untuk ulahmu itu, Zet. Oya, bocah di sampingmu itu anak baru jugakah?”
“Ya, dan namaku Filian...” Filian mengulurkan tangan untuk menjabat tangan si gadis.
“Hmph, baiklah kalau begitu.” Gadis itu malah berpangku tangan, membuat Filian pasang wajah cemberut. “Kenalkan, namaku Nina Gnossis. Yah, aku jelas dari Empat Musim juga sepertimu.”
Zet pasang wajah sebal. Ia jelas masih ilfil pada gadis yang telah merusak mood-nya tadi.
Ditanggapi seperti itu, Nina malah menyerocos, “Begini, Zet. Aku ingin minta maaf sekaligus berterima kasih padamu. Setelah kulihat lagi di cermin tadi, aku baru sadar kalau rambutku tadi terbakar. Untunglah kau menyiramku dengan air, kalau tidak aku tak akan berani tampil di depan umum lagi dengan rambut entah separuh utuh atau bahkan... botak.” Di kata terakhir itu wajah Nina mengernyit, tak berani membayangkan akibatnya kalau sampai itu terjadi.
Barulah Zet tersenyum dengan memiringkan sudut bibirnya. “Nah, begitu, dong. Setidaknya kau tak memalukan negeri sendiri di depan saudara-saudara sebangsa.”
“Masalahnya, saat aku hendak menemuimu tadi, aku menemukan dirimu sedang dikerjai oleh tim Odyscus Langit Angkasa, Divisi Fajar Emas itu. Walau sepertinya kau tak sampai babak belur, tadi itu kau terhitung sangat beruntung.”
“Jadi, apa maksudmu mengatai aku bodoh tadi?”
“Sudah jadi rahasia umum kalau para mahasiswa dari negeri-negeri yang bertikai saling menghindar dan menjauh untuk mencegah konflik. Tindakanmu tadi itu seperti menyiram api dengan minyak, memukul air tenang hingga beriak, atau semacam itu. Entah apa lagi yang bakal terjadi setelah insiden tadi itu.”
Zet justru bersikap tenang-tenang saja. “Yah, cepat atau lambat pasti akan terjadi gesekan. Aku hanya perlu tahu seberapa sensitifnya situasi yang ada sehingga aku bisa mengambil sikap.”
Nina hanya mengusap mukanya, hampir saja kacamatanya jatuh tersapu tangannya sendiri. “Ya ampun, keras kepala sekali orang ini...”
“Kamu sendiri kenapa sih? Dasar aneh,” tegur Zet.
“Wah, bagus sekali! Apa ini berarti kau akan memanduku juga, Kak Nina?” celetuk Filian.
“Cari saja sendiri!” hardik Nina. “Satu pemandu untuk satu mahasiswa baru, itu aturannya!”
“Ya sudah, aku tak akan mengganggu kalian lagi. Selamat bersenang-senang ya, Zet!” Sambil berkata begitu, Filian melangkah cepat meninggalkan Zet dan Nina.
Zet berseru pada Filian, “Oi, tunggu, Fili! Ini kan jam istirahat, kita ke kantin dulu saja...!”
“Sudahlah, biar kita berdua saja yang ke kantin,” kata Nina sambil melangkah meninggalkan Zet juga. “Kalau ingin menanyakan sesuatu, cepatlah tanyakan sebelum jam kuliah selanjutnya dimulai.”
Giliran Zet yang menutupi wajahnya dengan telapak tangannya.
[…]
“Wah, masakan kantin ini lumayan enak juga, ya!” kata Zet sambil melahap ayam goreng.
“Untunglah kau suka, karena di lingkungan kampus ini tak ada warung, apalagi restoran dari luar,” tanggap Nina. “Nah, apa yang ingin kau tanyakan, Zet?”
“Bagaimanakah asal-usul Universitas Langit Angkasa?” Itu pertanyaan yang lugas, singkat dan bisa didengarkan jawabannya sambil makan.
Nina terdiam sejenak, seolah-olah tengah menimbang-nimbang sesuatu. Lalu gadis berkacamata itu menatap Zet lurus-lurus dan mulai bicara.
“Universitas Langit Angkasa, disebut pula dengan nama Perguruan Tinggi Langit Angkasa Agung Semesta didirikan berabad-abad silam. Aku lupa tahun persisnya, tapi masanya jelas setelah Zaman Dewa-Dewa berlalu.”
Zet teringat pelajaran di sekolah dulu. Konon, setelah para dewa menunaikan tugas mereka membimbing manusia di keempat penjuru bumi yang bernama Terra Revia ini, mereka seakan menghilang begitu saja dan tak pernah lagi muncul terang-terangan, apalagi di depan umum. Yang tertinggal dari mereka hanya ajaran-ajaran, doktrin-doktrin keagamaan dan kuil-kuil penyembahan saja untuk setiap dewa itu.
Anehnya, segala sesuatu masih berjalan seperti saat para dewa ada di sunia. Doa-doa terkabul, tokoh-tokoh baik hati yang mengabdi bagi sesama makin banyak bermunculan. Seakan-akan para dewa itu tak pernah pergi, melainkan masih hadir di dunia ini dengan cara-cara yang misterius, melampaui segala akal dan logika.
Nina melanjutkan penjelasannya. Pendiri Universitas Langit Angkasa adalah Alistair Kane. Alistair menyebut dirinya sebagai seorang musafir, utusan langsung dari Sang Pencipta, yaitu pencipta Semesta Omnia. Konon, setelah mungunjungi keempat penjuru Terra Revia dan keempat negara besar yaitu Empat Musim, Fajar Emas, Kubah Malam dan Ular Pasir, beliau mendapat kesimpulan akhir bahwa dunia ini masih harus ditata lebih lanjut.
Empat kelompok dewa yang masing-masing dipimpin oleh Zeus di Empat Musim, Odin di Fajar Emas, Kaisar Langit di Kubah Malam dan Ahura Mazda di Ular Pasir ternyata telah meninggalkan banyak sekali masalah di Terra Revia. Salah satu masalah utamanya adalah ada oknum-oknum dari keempat kelompok dewa itu yang tak dapat menahan diri, bertindak semaunya sendiri dan saling berkompetisi dengan kelompok-kelompok lainnya.
Para oknum itu dengan sengaja mengungkapkan dan menyebarkan pelbagai teknologi dari Zaman Modern di zaman yang seharusnya masih dipenuhi dengan ksatria berkuda, busur panah, kereta kuda, kastel batu, dan naga-naga ini.
Contohnya, Thor dengan petirnya mengajarkan cara untuk menghantarkan listrik, sehingga memicu penemuan listrik. Loki lalu menambahkan inspirasi lain untuk penemuan teknologi-teknologi canggih termasuk radio dan telepon di Negeri Fajar Emas. Melihat gelagat itu, Zeus, Ahura Mazda dan Kaisar Langit juga tak tinggal diam dan mengajarkan teknologi modern pula untuk mengimbangi kemajuan teknologi futuristik di Fajar Emas. Maka, jangan heran bila orang-orang yang sudah mendengarkan radio masih berperang dengan tombak dan berkuda di planet unik di Semesta Omnia ini.
Satu lagi imbas yang parah dari zaman yang tumpang-tindih ini, sihir dan penyihir makin banyak dibasmi dan harus diawasi dan dikendalikan penyebarannya dengan amat teliti.
Menyadari kekacauan zaman yang ada, Alistair Kane bertindak. Ia mendirikan Universitas Langit Angkasa dan menunjuk seorang dewi atau Valkyrie yang ia sebut dengan musafir pula, yaitu Ygrid sebagai Rektor pertamanya. Misi awal universitas ini adalah untuk menata persebaran teknologi, sihir dan ilmu olah energi elemen alam di Terra Revia agar teratur dan merata, sehingga dapat dinikmati baik oleh keempat negeri adidaya maupun semua negeri lainnya di dunia. Dengan demikian, potensi dan resiko konflik, perang antar negara apalagi pecahnya Perang Dunia akan dapat dihindarkan sejauh mungkin dan diperkecil seminimal mungkin.