The Master Of Arcana

The Master Of Arcana
53 : RICK OAKES



Masih ada waktu tiga bulan antara seleksi tim Odyscus Empat Musim dengan penyelenggaraan Kejuaraan Odyscus Antar Mahasiswa Langit Angkasa.


Di waktu sesingkat itu, latihan-latihan dilaksanakan secara intensif, yaitu tiga kali dalam seminggu. Setiap latihan berdurasi dua jam dan dilaksanakan mulai jam lima pagi.


Karena waktunya berbenturan, les tenaga dalam dua arah antara Zet, Filian dan Kimiko dihentikan dulu untuk sementara. Masing-masing sudah cukup paham teori dan metode-metode latihan yang benar, baik itu Ilmu Elementalis maupun Ilmu Tenaga Dalam Sakura Ungu.


Mereka tinggal berlatih masing-masing bila ada waktu. Sedangkan les dua arah bilamana perlu atau ada kesulitan dapat dilanjutkan kembali setelah Kejuaraan Odyscus selesai.


Kini, di bulan kedua pelatihan, baik teknik Odyscus maupun kemampuan kerja sama tim Zet meningkat pesat. Walaupun istilah “berbakat alam” mungkin berlebihan, kemajuan itu cukup untuk membuat Zet terpilih masuk tim utama bersama ketiga seniornya.


“Wah, selamat, Zet!” kata Yun Lao dalam sesi pelatihan tenaga dalam dan arcana malam itu. “Tapi kuingatkan kau sekali lagi, Odyscus saja tidak cukup untuk dijadikan sebagai sarana untuk membina perdamaian dunia. Kau butuh sesuatu yang lebih dari itu, yaitu kekuatan digdaya sebagai Master of Arcana.”


“Dan hanya kelima arcanum dewata itulah kunci untuk membuka jalan menuju kekuatan tanpa batas. Ya, aku masih ingat itu, Guru.” Tapi nada suara Zet tak menyiratkan cukup antusiasme dan tak terlalu bersemangat seperti saat ia baru mengenal “guru spiritual”-nya itu dulu.


Yun Lao, orang yang mengaku sebagai Zet di kehidupan terdahulu tentu bersikap seolah-olah paling kenal gelagat Zet itu. “Aku serius,” katanya. “Mengumpulkan dan menguasai kekuatan arcanum harus jadi prioritas tertinggi, lebih penting daripada semua hal lain yang kau pelajari di universitas ini, termasuk olahraga Outikuse itu.”


“Odyscus, Guru,” Zet membetulkan. “Tenang saja, kalau aku menemukan petunjuk di mana arcanum kayu berada, kita akan bergerak untu mendapatkannya.” Tentu saja ia berbohong.


Entah pura-pura tak tahu atau memang tak bisa membaca pikiran “wujud reinkarnasi”-nya sendiri, Yun Lao mengangguk. “Baiklah, berusahalah terus. Kutunggu kabar baik darimu. Nah, kita lanjutkan latihan tenaga dalam untuk penguasaan arcanum...”


Sepanjang latihan itu, pikiran Zet melayang. Ibunya, Rhea adalah seorang Master of Arcanum. Tapi Rhea tak pernah memiliki kekuatan digdaya karena tingkat energi dan penguasaan arcanumnya tak lebih dari tingkat tiga. Kalau sampai Zet mencapai tingkat sepuluh atau Tingkatan Maha Dewa, akan sekuat apakah ia nantinya?


\==oOo==


Keesokan harinya...


Zet terduduk sambil menegadah di bangku pinggir lapangan Odyscus. Walau sudah mengatur napas, tubuhnya masih terasa berat untuk melangkah.


Baru saja Zet minum, seseorang mendekat ke hadapannya dan menegur, “Amazeta dari Negeri Empat Musim. Kita bertemu lagi.”


Zet menegadah perlahan, lalu mengangkat badan dan bersandar di bangku panjang. Walau samar, ia mengenali pemuda di hadapannya itu. “Rick Oakes!” seru Zet. Zet ingin berdiri saja dan pasang kuda-kuda waspada, tapi kelelahan dan sesuatu yang lain dalam dirinya malah membuatnya tetap bergeming saja.


Melihat sikap dan bahasa tubuh Zet, Rick jadi makin berani. “Begini, Zet. Itu nama panggilanmu, kan?”


Zet ingin menjawab, “Hanya temanku saja yang memanggilku Zet,” tapi ia mengurungkan niat itu dan hanya mengangguk saja.


“Dengar, aku ingin minta maaf atas sikap kasar aku dan teman-temanku terhadapmu dulu. Sungguh tak pantas kami membawa-bawa sentimen politik Fajar Emas terhadap Empat Musim dalam ranah olahraga, apalagi dalam interaksi sosial antar mahasiswa di kampus ini.”


“Baguslah kalau kau paham.” Zet tersenyum tipis, lalu mengerutkan dahi lagi. “Jadi sekarang, katakanlah apa yang kau inginkan, Rick.”


“Wah, wah, tak usah curiga berlebihan padaku, Zet.” Rick mengangkat kedua telapak tangannya, bahunya sedikit terangkat. “Aku hanya ingin meluruskan kesalahpahaman antara kita, terutama dari pihak kami. Selain itu, aku ingin menawarkan satu hal padamu.”


“Apa itu?”


“Bukankah aku hanya cukup bertanding dalam kejuaraan yang akan datang dan meraih prestasi sebaik-baiknya?”


“Ya, tapi kenyataannya tak akan semanis itu. Lawan-lawan yang akan kau hadapi nanti adalah pemain-pemain yang amat tangguh dan berpengalaman. Dan yang terbaik dari semuanya adalah tim dari... Negeri Kubah Malam.”


Zet terkejut. “Negeri tempat Putri Catriona dan Pangeran Barra berada? Negeri yang mensponsori aku masuk Universitas Langit Angkasa?” batinnya. “Benarkah itu? Atau si Rick ini sedang mengadu domba antara dua negara bersekutu, Empat Musim dan Kubah Malam?”


Mau tak mau Zet bertanya, “Kok bisa? Bukankah kau disebut-sebut sebagai pemain Odyscus terbaik di kampus?”


“Secara individual mereka mungkin menganggapku demikian,” jawab Rick. “Tapi secara tim, Tim Fajar Emas satu tingkat di bawah Tim Kubah Malam. Kami kalah saat melawan mereka di final tahun lalu, tapi posisiku sebagai kapten tim utama Langit Angkasa tetap aman. Itu karena Fajar Emas juara di tahun sebelumnya dan aku masuk tim utama Langit Angkasa.”


“Oh, begitu rupanya. Lalu apa yang akan kau lakukan? Memberitahuku letak kekuatan dan kelemahan Tim Kubah Malam?”


“Tidak juga. Hanya ada satu pemain baru masuk tim inti mereka tahun ini. Percuma saja kalau aku hanya memberitahumu tentang titik lemah dan keunggulan Kubah Malam, padahal itu pun belum tentu sepenuhnya akurat dan agak kurang sportif. Aku hanya ingin kau lebih bersemangat lagi meningkatkan teknikmu, supaya kau bisa terpilih masuk tim inti Langit Angkasa, itu saja.”


“Itu saja?”


“Ya, tak lebih, tak kurang.”


“Baik, kalau begitu sampai bertemu lagi di Kejuaraan Mahasiswa bulan depan,” ujar Zet sambil mengulurkan tangan, hendak menjabat tangan Rick Oakes.


Rick menyambut uluran jabat tangan Zet itu. “Ayo kita bertanding secara sportif dan adil,” katanya.


“Oh ya, terima kasih kau telah merekomendasikan aku untuk seleksi Tim Empat Musim waktu itu,” kata Zet, kali ini tersenyum tulus.


“Sama-sama. Rekomendasi dariku itu juga dalam rangka agar kau masuk tim utama Langit Angkasa. Kami benar-benar membutuhkan pemain dengan cara pikir sepertimu dalam tim. Terus terang, aku sudah bosan harus bersikap kurang ramah pada orang-orang yang berasal dari negara-negara yang sedang berada dalam kondisi ‘perang dingin’ dengan Fajar Emas.


Kata-katamu waktu itu terus terngiang dalam benakku. Jadi kalau lewat Odyscus cita-citamu itu bisa menjadi kenyataan, aku tak keberatan untuk memperjuangkannya bersamamu.”


“Ya, kebencian antar negara itu tak perlu, karena pada dasarnya kita sama-sama adalah sesama umat yang hidup di Terra Revia. Jadi, ayo buat hidup kita lebih berarti.”


“Setuju.”


Jabat tangan keduanya berubah menjadi genggaman erat antar telapak tangan, berbagi tekad bersama.


Saat itu, terbit pikiran di benak Zet. Mungkin Rick itu seorang pembuli dan agak angkuh. Namun, mungkin saja Rick sebenarnya tidak jahat. Mungkin saja.


\==oOo==


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-