
Zet mungkin sudah menduga-duga siapa pelakunya. Tapi, daripada salah menebak atau menuduh tanpa dasar, ia memilih menjawab, “Aku tak tahu siapa pelakunya. Tapi kurasa sebabnya adalah karena aku kini adalah pemegang dua arcanum. Si pelaku takut aku akan menyalahgunakan kekuatan dewata arcanum air dan kayu dan menjadi pengacau dunia, atau ia ingin merebutnya.”
“Alasan yang tepat, masuk akal dan agak mudah ditebak,” ujar Kashmir sambil mengangguk. “Karena itulah aku akan memberitahumu pelakunya berasal dari Sekte Kalajengking Malam.”
Zet tersentak bukan karena tebakan Kashmir sama dengan tebakannya, tapi lebih condong ke pengambilan kesimpulan yang terlalu cepat. “Mengapa Guru begitu yakin?” tanyanya “Bukankah banyak orang dan pihak yang mengincar arcanum sejati?”
“Memang demikian. Tapi orang yang memakai cara percobaan pembunuhan dengan diam-diam, mendadak dan tanpa sepengetahuan korbannya adalah tipe pembunuh gelap. Dan organisasi yang punya jaringan yang cukup luas, pendanaan yang tak terbatas dan anggota-anggota yang cukup mumpuni untuk menyusup dalam lingkungan Universitas Langit Angkasa dan melakukan aksi senekad itu tak lain adalah Sekte Kalajengking Hitam.”
Menyadari satu hal lain, Zet berkeringat dingin. Mungkinkah si pelaku adalah Kimiko Maru? Apa karena Nina sudah mengenali Kimiko sebagai anggota Kalajengking Hitam lewat tatonya, lantas Kimi bertindak untuk membungkam Zet?
Tapi kalau benar demikian, siapa yang menaruh surat peringatan di meja? Kemungkinan besar itu Kimi, tapi apa dia sengaja menaruh surat, lalu memanjat ke gedung sebelah dan melemparkan bom? Apa maksudnya melakukan itu?
Bom yang meledak itu bom alkimia, bukan mesiu. Apa iya Sekte Kalajengking Hitam menerima anggota ahli kimia tak hanya pembunuh gelap saja? Semua kemungkinan itu terlalu rumit untuk diurai dan disimpulkan. Hanya ada satu cara untuk mengetahui jawabannya. Zet harus mencari Kimiko dan menanyakan langsung tentang kasus itu padanya.
Melihat Zet agak larut dalam kepusingan, Kashmir berujar lagi, “Mengingat kejadian tadi, aku menyarankan agar kau tak kembali ke Universitas Langit Angkasa untuk sementara waktu. Siapa pun pelakunya, ia akan mencoba membunuhmu lagi bila ia tahu percobaan pertama telah gagal.”
“Tapi kalau aku pulang ke Empat Musim, keluargaku juga bakal terancam bahaya,” kata Zet.
“Benar sekali pemikiranmu, Zet.” Kashmir tersenyum kagum. “Karena itulah, kusarankan agar kau mengatasi sumber masalahnya sekaligus menambah kekuatan sendiri. Itu ibarat sambil menyelam minum air.”
“Apa maksud Guru?”
“Kudengar Rektor Minerva Kaleos telah mempercayakan arcanum kayu sejati padamu, Zet. Selamat. Nah, kau tak bisa pulang ke kampung halaman. Kalaupun kau sembunyi, Kalajengking Hitam bisa menemukanmu di segala sudut dunia. Jadi, satu-satunya hal yang dapat kau lakukan adalah terus maju mencari arcanum ketiga, yaitu arcanum tanah. Apa kau sudah mendapatkan petunjuk tentang keberadaan arcanum itu?”
“Ya, arcanum tanah kini berada di Negeri Ular Pasir.”
“Wah, ini menarik.” Kashmir bersedekap lagi. “Tidak seperti arcanum kayu, arcanum tanah ternyata dikembalikan ke tempat asalnya. Kami, lewat jaringan kami yang luas sudah tahu letak kuil kuno tempat arcanum tanah itu tersegel. Jadi, salah satu anggota kami akan menemani dan membantumu di sana. Nanti sekalian kita bisa memancing para pembunuh gelap Kalajengking Hitam, lalu meringkus dan mengorek keterangan dari mereka perihal kasusmu.”
Kashmir menyambung, “... anggota Sekte Salju Putih. Tepatnya aku adalah ketua Sekte Salju Putih Cabang Langit Angkasa. Dan yang akan membantumu adalah Nina Gnossis.”
Zet terdiam. Ia tak terlalu heran kalau Pinkesh Kashmir adalah anggota atau ketua cabang Sekte Salju Putih. Toh Sekte Salju Putih adalah organisasi terang-terangan, terhormat dan terkenal.
Salju Putih meninggalkan statusnya sebagai sekte rahasia setelah kemenangannya dalam membela hak-hak dan eksistensi para penyihir di Terra Revia. Para penyihir kini tidak diburu lagi dan malah bisa hidup berdampingan dengan manusia biasa, asalkan mereka merahasiakan identitas mereka. Bahkan, para anggota elit Salju Putih bisa hidup dan tampil mewah, meraup banyak kekayaan lewat keunggulan sihir.
Tambahan pula, percobaan pembunuhan mendadak yang dialami Zet seolah-olah menjadi sebuah peringatan keras agar tidak melenceng dari arah takdir yang harus ia penuhi. Seakan-akan seluruh semesta sedang mengarahkannya kembali ke jalan semula, yaitu perjalanan untuk mengembangkan diri, menumbuhkan kekuatan sampai menjadi Master of Arcana.
Karena itulah, hanya ada satu pilihan jawaban yang tersisa bagi Zet. “Baiklah, aku bersedia pergi ke Ular Pasir untuk mendapatkan arcanum tanah. Dengan dukungan Sekte Salju Putih, tentu.”
Pinkesh Kashmir tersenyum lagi. “Bagus. Apa kau mau sekalian menjadi anggota Sekte Salju Putih, Amazeta Dionisos?”
“Kurasa aku harus pikir-pikir dulu apa aku memang pantas untuk bergabung dengan sekte para penyihir paling elit dan terkenal di Terra Revia,” jawab Zet sambil mengangkat satu tangannya. “Anggaplah misi di Negeri Ular Pasir menjadi ujian dan prasyarat untuk diakui dan diizinkan bergabung secara resmi dalam Sekte Salju Putih, itu saja.”
“Tak apa, aku akan pastikan kau terus mendapat dana dan segala yang kau perlukan dari sekte kami, yang penting kau berkonsentrasi saja pada misi di depan mata,” ujar Pinkesh Kashmir. “Kau cepatlah kemasi barang-barangmu. Kau akan Nina akan berangkat besok pagi menumpang kapal layar terbang yang akan menuju Ular Pasir.”
“Oh ya, aku punya satu permintaan, Guru Kashmir,” kata Zet.
“Apa itu?”
“Bolehkah yang jadi pemanduku nanti itu siapa saja, asal bukan Nina Gnossos?”
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-