The Master Of Arcana

The Master Of Arcana
97: RIVAL AMAZETA



Pangeran Barra Therion Lewis.


Walaupun Zet sempat bermasalah, bertarung dan akhirnya menang telak melawan Barra, pemuda yang sempat mencuri arcanum air milik Zet itu masih jadi orang terakhir yang ingin ia hadapi dalam pertarungan di mana pun.


Apalagi di tempat paling berbahaya ini, pusat pertumbukan antara dua sekte paling berbahaya di Dunia Terra Revia, yaitu Kalajengking Hitam dan Salju Putih.


Seribu pertanyaan seketika membanjiri benak Zet. Namun pertanyaan yang paling penting tentunya adalah, bagaimana bisa Pangeran Barra terlibat dalam pertempuran ini? Lagipula ia menyerang dan berhasil mendesak Giovanni. Apa itu berarti Barra sudah menjadi anggota Sekte Salju Putih? Karena tampaknya ia lebih kuat dari ketua Kalajengking Hitam, apakah Barra adalah pendekar terkuat, atau bahkan ketua Sekte Salju Putih?


Yang jelas, tak hanya dari gaya rambut dan penampilannya saja, Barra yang sekarang berbeda amat jauh dibandingkan dulu. Ekspresi wajahnya dulu cenderung lugu, tipikal pangeran manja yang mudah gugup dan panik bila terdesak. Tapi kini wajah tampan itu berubah beringas, penuh amarah dan nafsu untuk menghabisi lawannya.


Yang tak lepas juga dari pengamatan Zet pada Barra yang bergerak cepat itu adalah kilatan-kilatan batu kristal merah dan jingga, masing-masing pada cincin emas dan gelang perak yang dikenakan Barra. Zet terkesiap. “Jangan-jangan... itu arcanum api dan logam?!” pikirnya.


Tentunya yang paling mencolok adalah gaya bertarung Barra yang unik dan cenderung aneh. Semula ia memegang gagang sebuah pedang besar polos berwarna emas dengan dua tangan.


Tiba-tiba saja aura api merah terpancar jadi kedua pergelangan dan telapak tangannya. Energi api menjalari pedang besar dari pangkal ke ujung bilahnya. Dalam sekejap, pedang emas besar berubah wujud menjadi cairan kental bagai emas yang baru lebur, lalu mewujud kembali menjadi sepasang pedang yang lebih kecil tergenggam erat di kedua tangan Barra.


Saat berikutnya, Pangeran Barra menyabet-nyabetkan pedangnya dengan ganas ke arah Giovanni. Energi arcanum api yang dipancarkan lewat jurus kombinasi sabetan dan tusukan Barra itu membentuk Sayap Api Phoenix.


Giovanni mencoba mengimbangi jurus Barra dengan jurus andalannya sendiri, Tarian Selaksa Bayangan, menghindar dengan terlalu lincah sambil mencecar celah kelemahan lawan sebagai serangan balik. Gilanya, beberapa sabetan phoenix api sempat menyayat tubuh pria berwajah carut-marut bekas luka itu. Ditambah imbas pertumbukan energi api, akibatnya tubuh Giovanni terpelanting sampai roboh, terkapar di lantai. Setangguh apa pun si pembunuh gelap itu, ia tetap berteriak amat kesakitan.


“Habislah kau, Ketua Kalajengking Hitam!” Tak berhenti di sana, Barra menyusulkan tusukan terakhir tepat ke arah jantung Giovanni, yang tubuhnya dalam posisi berbaring telentang.


Mata Giovanni terbelalak melihat maut yang hampir pasti menjemputnya di depan mata. Namun tak sedikit pun terbersit rasa takut dari kedua mata dan keseluruhan ekspresi wajahnya. Ia bukan takut pada maut, melainkan hendak menyambutnya bagai kawan yang lama tak bersua.


Namun, “penjemputan kawan lama” itu harus tertunda. Itu karena Zet sudah dengan amat cepat menangkis tusukan pedang Barra dengan pedangnya sendiri.


“Huh, mengganggu saja!” Barra menusukkan pedang kedua ke arah Zet. Kali ini, Zet menjatuhkan diri sambil mendorong Giovanni menjauh, berhasil menghindari tusukan itu.


Di posisi yang agak aman, barulah Zet membantu Giovanni berdiri.


“Terima kasih... kurasa,” kata sang ketua. Dari kerutan di dahinya, ia jelas-jelas terkesan tak menyangka dan tak mengharapkan “orang luar” yang menolong dirinya. Sekaligus ia juga bingung, bagaimana bisa orang yang telah ia perlakukan dengan buruk dalam penjara tak mendendam, malah menolongnya.


Zet hampir ditanyai Giovanni tentang alasan sesungguhnya ia menolong dan terkesan berpihak pada Kalajengking Hitam. Namun si pemegang tiga arcanum itu menjauhi dan membelakangi si pembunuh gelap terkuat dan berjalan dengan pedang terhunus, menghadapi Barra.


“Aku lebih tak menduga dirimu menggunakan arcanum api dan logam,” tukas Zet tanpa ekspresi. “Dalam pertarungan terakhir kita, kau bilang ingin mengembangkan dirimu untuk menjadi lebih baik. Rupanya kau juga menempuh jalan Master of Arcana dan malah langsung mendapatkan arcanum api dan logam. Kuakui, itu mengagumkan. Tapi apa itu berarti pada akhirnya kelak, kau akan menghadapiku untuk merebut ketiga arcana yang lain?”


“Tentu saja, itu jawaban yang sudah jelas, bukan?” ujar Barra sambil tertawa. “Inilah saatnya kita mengadakan perhitungan dan penentuan terakhir, siapa yang akan menjadi Master of Arcana  yang berikutnya. Satu hal yang pasti, pertemuan kita di sini bukan kebetulan belaka.”


“Apa maksudmu, Pangeran?”


“Asal kau tahu saja, selama ini kami dari Sekte Salju Putih telah memantau semua pergerakanmu di Negeri Ular Pasir. Nina Gnossis hanya pengalih perhatian yang membuatmu sama sekali tak memperhatikan siapa mata-mata Salju Putih yang sebenarnya.”


“Siapa orang itu?” Zet mengerutkan dahi. Ia merasa tak akan menyukai jawabannya.


“Ia adalah dosenmu di Langit Angkasa, yaitu Pinkesh Kashmir.”


“A-apa?” Mata Zet terbelalak, ia tak mempercayai pendengarannya. “Bukankah Pak Kashmir tak ikut menumpang kapal udara dari Langit Angkasa ke Ular Pasir?”


Barra menggeleng. “Tentu saja dia ikut menumpang kapal dengan menyamar, dasar bodoh. Dialah yang dengan diam-diam memperalat, menggunakan mata dan pikiran Nina Gnossis untuk memantau apa pun yang kau lakukan sampai ke tempat ini. Dia pula yang telah mengatur tempat perhitungan terakhir ini dengan penjaga arcanum tanah, titisan Dewa Ahriman bernama Ahmed, dan Ahmed sengaja membimbing kalian kemari semata-mata agar bisa langsung ada penentuan siapa yang bakal menjadi Master of Arcana berikutnya, kau atau aku. Dan kini, di sinilah kita.”


“Lalu, apa kedudukanmu di Sekte Salju Putih?”


“Ketua Umum, tentunya. Walau kedudukan itu sempat lowong beberapa lama, aku datang setelah mendapatkan dua arcanum, ikut ujian, lulus dengan gemilang, lalu terpilih menjadi Ketua Umum Sekte Salju Putih dengan keputusan bulat. Inilah modal pertamaku. Sebagai langkah pertama, kami akan membasmi satu-satunya sekte yang bisa menandingi Salju Putih, yaitu Kalajengking Hitam! Dan inilah prestasiku yang paling gemilang, mendesak Ketua Umum Kalajengking Hitam dalam markasnya sendiri. Semua berjalan sesuai rencana, dan kini aku akan menuai hasil sebesar-besarnya!”


“Setelah kau berhasil di sini, apa rencanamu selanjutnya?”


“Aku akan menjadi Master of Arcana baru. Lalu aku akan membuat negeriku, Kubah Malam menjadi negara yang mendominasi semua negara lain di dunia termasuk Empat Musim, Fajar Emas dan Ular Pasir! Lalu aku akan menerapkan tatanan dunia yang baru dan disembah sebagai dewa tertinggi! Apalah itu Zeus, Odin, Kaisar Langit! Apalah itu Alistair Kane, Sang Sumber dan para musafir! Biar mereka urus dunia-dunia yang lain saja! Tak ada yang bisa menghentikan aku sekarang, termasuk kamu, Amazeta Dionisos!”


“Jangan terlalu yakin, Pangeran,” sergah Zet sambil pasang kuda-kuda. “Masih ada aku yang akan menghentikan ambisi gilamu itu. Apa pun itu, memancing di air keruh, menuai kekuasaan dan kekuatan tak terbatas dengan membuat kekacauan, itulah yang harus kulawan demi melindungi seluruh kehidupan dan kedamaian di Terra Revia, dunia yang kucintai ini.”


Barra menyatukan kedua pedangnya menjadi pedang besar lagi, lalu pasang kuda-kuda juga. “Huh, bisanya hanya sesumbar! Kita buktikan saja, siapa di antara kita yang akan menjadi pilihan zaman. Pemikiran siapa yang akan terpilih, Tatanan baru yang ideal atau tatanan lama yang sudah usang! Mulai!”


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-