The Master Of Arcana

The Master Of Arcana
49: MINERVA



Masih di Hutan Regenerasi...


"Gawat!" Menyadari maut yang tinggal sepelemparan batu dengan tubuhnya, Zet berlari secepat mungkin tanpa menoleh ke belakang.


Cakar raksasa Arachmian melesat cepat, tinggal beberapa jengkal lagi sebelum menghunjam punggung Zet, sasarannya.


Anehnya, tiba-tiba cakar itu menembus semacam medan transparan. Detik berikutnya, lengan bercakar si monster raksasa terpenggal putus seperti sosis yang dipotong dengan pisau.


Arachmian cepat-cepat menghentikan larinya sambil menarik kembali lengannya, tapi terlambat. Darah lendir hijau tersembur deras dari lengan yang sudah kutung itu, si empunya lengan meraung pilu.


Mendengar itu, secara refleks Zet berbalik dan menoleh ke belakang. Ia lantas melihat Arachmian masih bergeming, meraung pilu sambil memegangi lengannya yang kutung dengan lengan yang utuh.


Nina ikut berbalik, lalu menegur Zet, "Tak usah pedulikan dia! Ingat, lengan itu bisa tumbuh kembali lewat kekuatan regenerasi! Lebih baik kita cepat-cepat melapor pada Rektorat dan membawa barang bukti itu, biar mereka yang menentukan dan memutuskan tindakan selanjutnya."


Zet baru sadar, tak ada gunanya menyerang Arachmian saat monster itu kesakitan. Mungkin sadar tak ada yang menanggapi “pancingan”-nya, si raksasa lantas berbalik dan pergi melarikan diri sambil terus meraung kesakitan.


Saat itu pula, Zet mendapat kesan bahwa raungan itu menyiratkan ancaman. Kalau sampai Zet datang ke Hutan Regenerasi lagi, Arachmian akan menunggunya dan melanjutkan tarung yang tertunda ini dengan cakar-cakar yang sudah utuh kembali.


\==oOo==


Larut malam, di Ruang Rektorat, Kantor Rektor Universitas Langit Angkasa.


Zet, Nina dan Filian berdiri dalam ruang kantor berdinding dan berperabot serba putih.


Di hadapan mereka tampak potongan tangan dan cakar raksasa Arachmian yang sudah membusuk dengan cepat, tergeletak di atas selembar kain lusuh yang digelar di lantai.


Lebih jauh lagi dari mereka duduklah seorang wanita berambut ungu panjang dan tergerai lurus di balik sebuah meja besar yang bagai disangga empat pilar pualam.


“Inilah salah satu penyebab bau busuk dari Hutan Regenerasi,” ujar Nina Gnossis, menyampaikan laporannya. “Seperti yang ibu lihat, sebenarnya tangan itu sudah lama membusuk. Namun daya regenerasi Arachmian membuatnya tetap utuh sampai terpenggal putus tadi.”


“Astaga, ternyata ini jauh lebih parah daripada dugaanku.” Si wanita cantik berambut ungu bersedekap, wajahnya mengernyit dan ia menutup hidungnya dengan sapu tangan. “Kalau sampai Arachmian saja dibuat jadi busuk seperti itu, ini berarti ada kekuatan kegelapan yang amat besar yang mencemari Hutan Regenerasi, menjangkiti para penghuninya bagai penyakit menular.”


Zet angkat bicara, “Maafkan kelancangan saya, Bu Minerva. Kami hanya membawa pulang sedikit bukti. Tapi apakah itu cukup untu mengambil kesimpulan akhir dari kasus ini?”


Rektor Universitas Langit Angkasa, Profesor Minerva Kaleos malah tersenyum alih-alih marah. “Kurasa itu cukup, berdasarkan sejarah dan seluk-beluk Wilayah Langit Angkasa. Baiklah, laporan kalian saya terima. Tugas kalian selesai, biar pihak universitas yang akan menangani selebihnya.”


“Terima kasih, Bu Rektor,” tanggap Nina. “Kami pamit dulu untuk kembali ke asrama masing-masing.”


Saat Zet, Nina dan Filian berbalik hendak meninggalkan Ruang Rektor, Minerva berucap, “Tunggu sebentar. Saya ingin bicara empat mata dengan Amazeta Dionisos.”


Nina dan Filian terus melangkah meninggalkan ruangan, tinggal Zet saja yang tetap berdiri di tempat.


“Silakan duduk, Amazeta,” kata Minerva, telapak tangannya menunjuk ke kursi di depan meja Rektor yang paling jauh dari tangan raksasa berbau busuk di lantai.


“Panggil saya Zet atau Zeta saja, Bu Rektor,” ujar Zet sopan setelah duduk dengan sopan pula.


“Saya tidak tahu, setidaknya sampai seorang atlit Odyscus bernama Rick dari Negeri Fajar Emas mengatakan itu pada saya.”


Minerva mengangguk. “Lalu, bagaimana sikapmu terhadap ketenaranmu itu?”


Zet tertunduk sebentar sambil berpangku tangan. Lalu ia menjawab, “Entahlah, bu. Saya terlalu sibuk dalam hal studi dan pengembangan diri. Bisa dibilang saya benar-benar lupa pada urusan memanfaatkan ketenaran demi keuntungan pihak manapun atau semacamnya.”


Sang rektor tetap bergeming, memancarkan wibawa besar bagai seorang dewi tanpa terkesan angkuh. Di bawah tekanan hawa kewibawaan itu, Zet tak melawan dan malah tertunduk makin rendah.


“Itu sikap yang mengambang, tapi amat manusiawi,” kata Minerva. “Walau demikian, karena kau telah memilih jawaban itu tadi, saya akan mengungkapkan satu rahasia besar padamu.”


“Rahasia apakah itu?” Ekspresi wajah Zet juga datar. Itu bukan berarti “rahasia besar” itu tak menarik, melainkan ia sudah terlalu kelelahan setelah bertarung melawan banyak monster sambil berlari tadi.


Memperhitungkan kelelahan Zet, Minerva berusaha menerangkan dengan singkat, padat dan jelas. “Sebenarnya saya adalah seorang musafir antar ranah, seperti halnya semua rektor sebelum saya. Bahkan pendiri kampus ini, Alistair Kane adalah ketua kami, musafir amat digdaya yang telah malang-melintang di pelbagai dimensi dan semesta, terutama Semesta Omnia ini. Apa kamu pernah mendengar tentang musafir antar ranah, Zeta?”


“Ya, dari Nina,” jawab Zet.


“Jadi kau sedikit-banyak paham satu hal penting ini. Ada dua macam musafir, yaitu mereka yang berusaha memelihara keseimbangan dan kestabilan dunia dan mereka yang hendak mengacaukannya.”


“Maksud ibu, kasus pembusukan di Hutan Regenerasi itu akibat ulah musafir pengacau?”


“Tepat sekali. Atau lebih tepatnya, musafir pengacau yang bertindak lewat kelompok atau sekte tertentu yang mendukungnya atau bahkan... menyembahnya.”


“Lho, siapakah dia? Apa dia itu dewa... atau iblis?”


“Saya belum tahu,” jawab Minerva. “Kecurigaan sementara kebanyakan tertuju pada dua sekte besar, yaitu Kalajengking Hitam dan Salju Putih. Kalajengking Hitam adalah sekte pembunuh gelap yang rela menghalalkan segala cara untuk menegakkan apa yang mereka anggap baik.


Sedangkan Sekte Salju Putih, seperti yang mungkin pernah kau pelajari dari Guru Kashmir adalah kumpulan para penyihir gaya kuno yang kini sudah menganut aliran sihir baru dari Langit Angkasa. Tapi tentunya ada penyihir jahat, ada penyihir baik hati yang tak semuanya sempurna.”


“Lantas, apakah hubungan antara pembahasan tentang musafir dan sekte-sekte ini denganku?” Zet jelas tak akan menyebut soal arcanum air, biar sosok sakti bagai dewi itu saja yang menebaknya.


“Sekali lagi, jawaban resminya adalah ‘saya tidak tahu’,” jawab Minerva. “Saya hanya dapat berasumsi bahwa tujuan utama aksi para musafir pengacau itu – beberapa dari mereka adalah mantan ‘dewa jahat’ di Terra Revia ini – adalah meletupkan bencana, teror, penyakit, perang dan perang dunia. Bila gara-gara perang dunia itu satu dunia jatuh dalam kiamat, itu akan membuat dendam para dewa yang dulu pernah musnah karena Kiamat Ragnarok di dunia lain itu terpuaskan.”


“Kiamat Ragnarok di dunia lain? Apa maksud semua itu?” Kali ini Zet sama sekali kebingungan.


“Nanti saya akan menerangkan tentang itu lebih jauh di kesempatan berikutnya,” kata Bu Kaleos. “Menyambung hal tadi, untuk memicu terjadinya perang dunia, mereka butuh kekuatan besar. “Repotnya, di Terra Revia ada sedikitnya lima kristal arcanum yang mengandung kekuatan tak terbatas. Maka dimulailah perebutan arcanum oleh empat negara adi daya dan sekte-sekte – entah oknum-oknumnya atau secara keseluruhan – ditunggangi atau didalangi oleh para musafir pengacau.”


Zet terenyak. Jangan-jangan semua pihak yang disebut oleh Minerva itu kini tengah mengincar dirinya. Aksinya dulu saat malang-melintang dengan arcanum air, serta ketenarannya pasti telah menarik perhatian pihak-pihak tertentu. Entah mereka ingin merekrut Zet dalam kelompok atau sekte mereka, atau menyingkirkan salah seorang kandidat Master of Arcana itu untuk memberi jalan pada kandidat jagoan negeri atau sekte mereka sendiri.


 


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-