The Master Of Arcana

The Master Of Arcana
14 : KEPUTUSAN AERON



Namun itu tadi adalah waktu yang cukup untuk membuat arcanum milik Zet terisi kembali. Stamina Zet bertambah drastis. Ditusukkannya pedang itu kuat-kuat pada salah satu ruas kaki laba-laba, dan Zet berhasil menghancurkannya. Robot laba-laba itu kini pincang, dan Zet ikut terhuyung-huyung. Walaupun begitu, ia tak sedikit pun mengendurkan pegangannya, malah berusaha merusak ransel punggung milik Rylon. Namun sayang, ransel besar itu mengeluarkan roket dan meledak, membuat Zet terlempar sangat jauh. Tubuhnya menukik turun dan jatuh dari ketinggian sekitar lima meter.


Debu pasir mengerubungi Zet. Rylon mengamati sepupunya yang terkapar dan tak bergerak selama beberapa detik. Raut mukanya berubah jadi khawatir. Rylon segera menonaktifkan mode laba-laba, kemudian turun dan mengecek kondisi sepupunya yang dipenuhi jelaga hitam.


“Zet, bangun, hei! Sori, aku tidak berrr—”


Mendadak saja, aliran air yang sangat besar menghantam tubuh Rylon dan membuatnya berdiri terpaku. Ia tak bisa bergerak ke mana-mana akibat aliran air yang mengalami turbulensi menuju satu arah. Zet tersenyum licik. Sementara Rylon merasakan ada air yang mulai masuk menggerayangi rongga baju logamnya. Tangan kanan Zet akhirnya mengepal, dan membuat aliran air itu seketika berhenti dan memadat menjadi es. Zet menghabiskan mana-nya sendiri untuk serangan terakhir. Ia harap tidak akan ada lagi yang bisa dilakukan Rylon setelah ini.


“Sori, sepupu. Kau pasti bisa membuatnya lagi, kan?”


Jika Zet tidak bisa merusak baju robot itu dari luar, ia harus punya siasat untuk menghancurkannya dari dalam. Begitulah yang ia lakukan. Saat kelima jarinya membuka, pakaian yang melekat di tubuh Rylon terbang ke segala arah. Menyisakan Rylon, si pemuda gendut yang bertelanjang dada, dan hanya memakai celana dalam. Perutnya yang besar berguncang keluar. Seluruh penonton langsung tertawa serentak, sementara Rylon refleks menutupi bagian depan tubuhnya dan lari terbirit-birit dengan rasa malu yang luar biasa.


Zet pun ikut tertawa, terutama saat orang-orang secara ritmis meneriakkan namanya. Sorakan kemenangan itu membuat Josen hanya bisa menggeram di kursi. Sementara sang adik, Aeron, tercengang atas perubahan yang terjadi pada putra kandungnya. Ia memiliki firasat yang tidak baik dan harus segera memastikan sesuatu.


[...]


Sore itu Aeron bergegas menuju kamar, dan menguncinya dari dalam. Saat ia hendak menggeser pigura besar itu, ia menemukan dua buah bekas tangan yang tercetak di antara debu rumah. Alis Aeron bersatu, dan dengan langkah lebar-lebar ia menyusuri lorong gelap tersebut. Dan benar saja, Aeron tidak menemukan gulungan yang ia cari di meja.


Ia memutuskan untuk memberitahukannya kepada Josen yang semula bercengkerama dengan Jenderal Panthera.


“Apa kau bilang?!” Josen menyadari ia sedang berada di tempat terbuka, kemudian melanjutkan dengan suara berbisik, “Aku tahu ada yang aneh dengan Zet! Jadi benar kan, kalau Rylon dan Filian sebenarnya lebih hebat dari anakmu?”


Wajah datar Aeron membuat Josen buru-buru tertawa meminta maaf. Tak seharusnya ia bercanda. “Oke, oke. Ini masalah serius. Apa yang harus kita lakukan?”


Aeron berpikir sejenak. “Anak itu sudah berusia delapan belas tahun. Tidak seharusnya kita menyembunyikan rahasia ini lagi. Kita harus memberitahunya yang sebenarnya.”


[...]


Pada pesta makan malam kali ini, Zet merasakan perbedaan yang sangat luar biasa besar. Yang semula ia hanya menjadi patung di sudut ruangan, kini ia diseret ke tengah-tengah sorot lampu. Ia merasa menjadi seperti Bumi—semua orang berputar mengelilinginya seperti planet-planet. Para warga yang menyaksikan dan kini ikut menimbrung makan pun memberinya selamat, memuji kehebatan dan kecerdikannya, meminta untuk diajari kapan-kapan, mendaftar menjadi calon istri, dan lain sebagainya. Zet hanya berusaha ramah, walaupun tawanya terdengar tidak wajar. Ia hanya tak biasa diperlakukan begini. Ia bukan Deon atau Oxi yang akan dengan mudah menjawab semua kata-kata itu dengan lelucon dan gurauan.


Paman Josen mendenting-dentingkan gelas menggunakan sendok, meminta perhatian dari seluruh ruangan. “Terima kasih atas kehadiran para tamu dan juga hadirin sekalian dalam perayaan sederhana ini. Pertandingan keluarga Dionisos telah usai, dan kita sudah mendapatkan pemenangnya. Nah, untuk itu, Jenderal Pan, sebagai perwakilan dari Kubah Malam memiliki sepatah dua patah kata yang ingin disampaikan kepada kita. Silakan.”


“Baik, terima kasih atas waktu yang diberikan.” Jenderal itu berdiri di deretan tempat duduk utama para tamu. “Kedatangan kami kali ini bukanlah semata-mata hanya untuk jalan-jalan atau menonton pertunjukan keluarga Dionisos—yang ternyata sangat luar biasa. Lebih dari itu. Kerajaan kami memiliki misi untuk memperbaiki hubungan dengan Kerajaan Empat Musim. Yang mana, remaja-remaja berbakat seperti Amazeta ini merupakan contoh sasaran yang sangat baik. Kerajaan kami bermaksud untuk mengundang para putra-putri berbakat dari Kerajaan Empat Musim, siapa saja, untuk masuk ke dalam jajaran para Prajurit Pelindung Bintang. Pada akhirnya, kita semua akan senantiasa saling bekerja sama sebagai sekutu, dan tak lagi berjalan sendiri-sendiri seperti sebelum-sebelumnya.”


Josen dan Aeron saling berpandangan. Wajah keduanya sama-sama ragu dan berkeberatan, tetapi Josen membiarkan Aeron sendiri yang berbicara. “Mohon maaf sebelumnya, bukan bermaksud tidak sopan, tapi Zeta masih berusia 18 tahun dan tentunya belum siap untuk langsung terjun ke sana.”


“Anda tidak perlu khawatir, Tuan Aeron.” Kali ini Putri Catriona sendiri yang berbicara. “Zet akan kami biayai untuk masuk ke perguruan tinggi favorit sebelum menjabat menjadi Prajurit Bintang. Zet bisa memilih sendiri universitasnya.”


Aeron menoleh dan memandang wajah putranya yang tampak semringah. Namun keputusan itu masih belum bisa ia utarakan untuk saat ini. “Kami sangat berterima kasih atas kehormatan yang Anda berikan tersebut, Tuan Putri Catriona dan juga Jenderal Panthera. Namun, kami masih harus mendiskusikan lebih lanjut mengenai tawaran ini bersama keluarga kami dulu.”


Tuan Putri Catriona tersenyum simpul dan mengangguk. “Baiklah kalau memang begitu. Tapi tolong dipikirkan baik-baik. Karena saya rasa Zet juga memiliki keinginan kuat untuk mengembangkan dirinya, sehingga suatu saat kemampuannya itu bisa berguna bagi banyak orang.”


Wajah Zet menunjukkan kekecewaan yang besar terhadap sang ayah. Bahkan Tuan Putri Catriona saja mengerti isi hatinya. Ini adalah satu-satunya kesempatan emas bagi Zet. Semua yang diharapkannya seolah akan terkabul. Apa yang dipikirkan Ayah sampai-sampai membuatnya harus menunggu lagi?


[...]


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-